TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 144. JEBAKAN KAMAR 369.


__ADS_3

Setelah kedatangan Erza yang meminta agar dia dan Daniel menemui nya di sebuah hotel tempat nya menginap membuat Shasha pusing mencari cara bagaiamana ia harus menghubungi Daniel.


Sambil melihat ke kiri dan kanan, kemudian mengetuk-ngetuk-an jarinya pada meja, Shasha berfikir. Ditundukkan kepala nya sambil memegang keningnya, Ia masih mencari berusaha mencari ide.


Sambil mengingat-ingat sebuah email bahwasannya dulu Shasha pernah berkomunikasi lewat group chat yang ada pada email. Dimana saat itu Johan pernah membuatkan sebuah grup agar mereka bertiga dapat berkomunikasi lewat email.


Shasha mulai membuka emailnya lalu melihat chat grup tersebut. Disana terlihat jika Daniel dan Johan sedang online.


Begitu juga dengan Johan dan Daniel, mereka berdua melihat jika Shasha sedang online. Johan yang lama tidak menyapa wanita yang dianggapnya sebagai seorang adik mulai merasa rindu ditambah dengan rasa bersalahnya beberapa bulan terakhir ini karena dirinya terbawa suasana dan perasaan sebelum mengetahui kebenaran. Ia pun segera menyapa Shashsa.


Johan : "Apa kabar, Sha? Abang kangen, ada yang ingin Abang bicarakan."


Mendapatkan pesan dari Johan seperti itu Shasha pun menjawab.


Shasha : "Baik," ketik Shasha dengan jawaban singkat, tanpa Shasha bertanya kembali kabar dari Johan.


Mendapatkan jawaban singkat dari Shasha, jujur membuat Johan merasa kecewa. Namun dirinya menyadari jika Shasha kecewa kepada dirinya, karena dirinya memperlakukan Shasha dengan tidak baik.


Ditempat lain, Daniel yang juga membaca percakapan antara Johan dan Shasha membuat dirinya juga ingin menyapa dan mengetahui sebuah kalimat apa yang akan di ketik oleh istrinya itu jika dia menanyakan sebuah kabar.


Daniel : "Ayo kita bertemu?”


Shasha yang melihat dan membaca jika Daniel sedang mengirimkan pesan lewat grup chat membuat Shasha kegirangan. Girang bukan karena senang ditanya oleh Daniel, namun girang karena bukan dia dulu yang mengirimkan chat di grup untuk mengajaknya bertemu.


Shasha : "Malam ini jam tujuh.”


Daniel : “Dimana?”


Shasha : “Hotel puncak.”


Daniel tak menyangka jika istrinya itu mengajaknya bertemu di hotel puncak. Begitu juga dengan Johan.


Setelah percakapannya dengan Daniel, ia segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia tak sabar untuk menemui kakaknya, agar dia mengetahui apa sebenarnya penyebab kakak nya marah. Setidaknya dengan kehadiran dirinya dan Daniel maka Erza akan luluh dan tidak lagi marah kepadanya.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan sore hari, jam pulang kerja pun tiba. Shasha segera membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya kemudian pamit pulang kepada Riko, karena kebetulan Dion sedang tidak ada ditempat.


“Aku pulang dulu ya,” pamit Shasha kepada Riko.


“Hati-hati ya, salam buat Kakak mu yang galak.” Ucap Riko sambil tertawa.


Mendengar itu Shasha hanya mengerucutkan bibirnya lalu keluar dari ruangan.


Shasha yang berjalan melewati ruangan Rianda kebetulan berpapasan dengan Rianda yang baru saja dari pantry dan hendak masuk ke ruangannya.


“Sha, tumben jam segini mau pulang?” tanya Rianda.


“Ada perlu Kak.” Jawab Shasha tanpa semangat.


“Perlu apa? Kenapa gak semangat.” Bisik Rianda.


“ Mau ngurus surat cerai?” tanya Rianda asal.


“Bukan. Tapi mau ketemu Tyrex.” Jawab Shasha asal.


“Tyrex? Siapa lagi?”


Shasha tidak menjawab dan mengalihkan dengan pertanyaan lainnya. “Kak, perjalanan ke puncak itu berapa jam?”tanya Shashsa kepada Rianda.


“Kamu mau kesana bertemu Tyrex?


“Iya.”


“Aku antar. Tunggu ya”

__ADS_1


Rianda segera berlari ke ruangannya dan merapikan berkas-berkasnya yang ada di meja. Selesai merapikan ia keluar ruangan dan menghampiri Shasha yang sudah menunggunya.


“Ayo,” ajak Rianda kepada Shasha.


Kini mereka berdua berada di mobil dan melakukan perjalanan ke puncak. Didalam mobil Shasha bercerita kepada Rianda tentang apa yang terjadi siang tadi.


“Jadi Tyrex itu kakak mu? Sakit kamu, Kakak sendiri dibilang Tyrex.”


“Kak, aku bingung, bagaimana jika nanti aku bertemu dengannya? Apa yang harus aku bicarakan?”


“Bicara seperlunya saja, yang pasti jangan seperti anak kecil. Bersikaplah elegan.”


“Iya Kak. Kakak ikut turun ya?” rengek Shasha, seperti anak kecil yang menangis meminta dibelikan coklat kinderj*y kepada ibunya


“Gak. Masa iya aku ikut nimbrung masalah keluarga?”


“Apa kakak langsung pulang?”


“Tidak, aku akan mencari kamar disana Lagi pula ini sudah malam, belum lagi perjalanan yang lumayan melelahkan. Kita menginap saja semalam, paginya kita kembali. Bagaimana?”


“Iya Kak, setuju.”


Tak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul tujuh. Kini mereka telah tiba disebuah pelataran parkiran hotel. Rianda yang baru saja menyetir dengan jarak lumayan jauh ditambah sehabis pulang kerja membuat dirinya lelah.


“Neng, sudah sampai ni. Abang lelah ni.” Ucap Rianda menirukan suara abang-abang angkot.


“Makasih banyak ya Kak.”


"Makasih aja dari tadi, bayarannya mana Neng," goda Rianda menirukan Abang-abang angkot yang biasanya sedang menggoda penumpangnya.


Kini mereka berjalan menuju Lobi, disana Rianda untuk memesan kamar sedangkan Shasha berpesan kepada resepsionis jika ada seorang tamu yang mencarinya agar menelfon dirinya yang berada di kamar 369. mengekor karena sebentar lagi mereka berdua akan berpisah arah. Rianda berjalan ke arah barat sedangkan Shasha sebaliknya.


Dicarinya sebuah kamar dengan no yang dimaksud.


No 369, ini kamarnya.


Semoga saja Daniel datang tepat waktu.


Saat Shasha hendak mengetuk tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang menabraknya tak tahu apa yang disuntikan nya ke tubuh Shasha sehingga membuat Shasha seketika pingsan dan dengan sigap seseorang tersebut menggendong Shashsa menuju kesebuah kamar.


Tok!


.


Tok!


"Bagaiamana apa dia sudah tertidur?" tanya Rianda.


"Sudah. Tenang saja obat bius ini tidak memiliki efek samping, ini hanya akan membuatnya tertidur. Aku yakin besok pagi dia akan bangun dan tak ingat apapun.”


“Iya pak. Pak boleh saya bertanya apa yang sebenarnya terjadi?”


\=\=\=\=\=\=\= FLASH BACK ON \=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dion merasa aneh setelah melihat bagaimana perlakuan Erza kepada Shasha. Setahu Dion, Erza begitu menyayangi adiknya, baginya Shasha adalah segalanya. Jadi sangatlah aneh jika Erza datang menemui Shasha hanya untuk marah padahal mereka sudah lama tak bertemu.


Melihat keanehan itu segera Dion menghubungi anak buahnya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan setelah mengetahui kebenarannya ia begitu terkejut bahwasannya jika Erza masih berada di Jerman untuk menempuh pendidikan. Disana ia tinggal bersama keluarga kecilnya.


Jika Kak Erza masih di sana lalu pria yang berbicara bersama Shasha tadi siapa? Kenapa wajahnya begitu mirip ?


Apa ini hanya akal-akalan Daniel? Tapi mengapa sampai dia begitu tega berbuat demikian?


Dion mulai menyebarkan mata-matanya, bahkan ia mencari tahu siapa nama Rianda yang pernah disebutkan oleh Shasha. Ternyata nama tersebut adalah nama karyawannya sendiri. Dia pun menyusun rencana bahkan Riko dan Rianda pun dilibatkan agar terlihat rencana menjadi mulus.

__ADS_1


Setelah menunggu kabar dari anak buahnya akhirnya Dion tahu bahwa dalang dibalik ini semua adalah wanita yang berdiri disamping Daniel beberapa minggu yang lalu saat acara ulang tahun perusahaan rekan bisnisnya, dan wanita itu yang menampar Shasha kala itu.


Dion merasa geram mengapa hanya karena masalah lelaki wanita ini sampai tega ingin mencelakai Shasha dengan cara melecehkan.


Informasi yang Dion miliki belum semuanya ia dapatkan, dia masih belum mengetahui bahwa antara Shasha, Daniel dan Asia memiliki masalah di masa lalu. Dion saat ini berfokus untuk dari sebuah penjebakan.


\=\=\=\=\=\=\= FLASH BACk OFF \=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah mendengar penjelasan dari Dion, Rianda merasa iba dengan sahabatnya itu, dia tak menyangka jika Shasha yang ia kenal riang dan pintar memiliki musuh seorang pelakor.


“Pak , lebih baik bapak kembali ke kamar bapak. Biar saya yang menjaganya disini.”


“Baiklah jika ada apa-apa dengan Shasha tolong hubungi aku.”pamit Dion lalu keluar dari kamar Rianda.


Didalam kamar, Rianda memandangi wajah Shasha yang sedang tidur dengan pulas karena pengaruh obat bius yang di suntikan oleh Dion yang tak lain adalah bosnya.


Dibelainya kening Shasha dengan penuh kasih sayang,


Aku salut sama pak Dion, instingnya begitu kuat mengalahkan seorang suami.


Aku jadi bingung siapa sebenarnya suami Shasha? Dion atau Daniel.


Dion yang hanya sebagai mantan kekasih bisa melindungi sedangkan Daniel sebagai suami hanya bisa menyakiti.


Huhh …. Cinta memang rumit.


**


Daniel yang tiba di hotel puncak segera berjalan ke arah resepsionis, segera resepsionis tersebut menelfon kamar 369 seperti yang disampaikan Shasha tadi. Berulang kali dihubunginya namun tetap tidak diangkat.


Daniel pun memutuskan untuk menemui Shasha langsung disana. Ketika Daniel berjalan menuju kamar yang dimaksud ia melihat seseorang lelaki yang tak kalah tampan dari dirinya, bahkan Daniel sempat melihat lelaki tersebut di acara pesta ulang tahun perusahaan sedang berdiri di samping istrinya.


Ia pun berusaha mengingat, siapa lelaki itu.


"Kenapa lelaki itu juga ada disini?" batin Daniel.


Daniel berjalan mendekati Dion dan tak sengaja mendengar perkataan Dion Acha sedang tidur. Terimakasih obatnya.


Mendengar itu Daniel marah, ia tahu Acha yang dimaksud adalah Shasha, dan hanya krang-orang tertentu saja yang memanggilnya dengan panggilan Shashsa.


"Dimana istriku? Obat apa yang kamu berikan padanya! Aku akan membunuhmu jika istriku sampai tergores kulitnya." ucap Daniel sambil memegang kencang pindah Dion dari belakang lalu ditinjunya wajah Dion.


Dion yang tiba-tiba mendapat pukulan dari belakang merasa kaget.


"Istri? Shasha maksudnya?" tanya Dion sambil mengusap sedikit darah yang keluar dari pojok bibirnya yang terluka.


Ucapan Dion membuat Daniel terpancing emosi


Dion tak memperdulikan ekspresi Daniel dan rasa sakit dari pukulan yang diberikan Daniel padanya.


"Sejak kapan kamu menganggap dia sebagai seorang istri?" lanjut Dion yang masih bermain kata-kata kepada Daniel dengan sengaja.


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.


Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2