TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 61. SALAH SANGKA.


__ADS_3

"P--pak mau apa? jjj---angan terlalu dekat.!" suara Shasha terbata-bata saat wajah Daniel tepat berada di depan wajah Shasha.


"Kenapa?"


"S--saya tak biasa begini."


"Ckckck, yakin? bukannya waktu itu kita juga pernah melakukannya? apa kamu mau lagi" goda Daniel.


"Kapan ya pak saya lupa." Shasha yang salah tingkah karena Daniel menatapnya menjadi tak konsen sambil berusaha mengelak dan sesekali menatap mata indah Daniel yang begitu menyejukkan jika dipandang.


Melihat ketampanan Daniel dari dekat membuat Shasha diam dan berucap dalam hati, 'kenapa sikapnya berubah tadi ketus sekarang lembut? Kenapa mata itu begitu indah? God ap benar dia jodohku?'


Daniel melihat jika Shasha sama sekali tidak berkedip melihat dirinya.


'Apa dia mulai terpesona denganku? aku memang tampan dan dia juga cantik. Tapi ... aku ragu dengan kesetiaannya.' batin Daniel.


"Mana cincinnya, pak?" tanya Shasha yang berusaha tenang dan mengalihkan matanya ke lain tempat guna menetralkan hati yang berdegup kencang bak sebuah dinamit yang hendak meletus.


"Mana tanganmu?" Daniel berucap sambil meminta tangan Shasha.


Shasha tak percaya jika Daniel dapat bersikap manis tanpa ragu Shasha mengangkat dan memberikan tangan kanannya ke arah tangan Daniel.


"Pakai sendiri." ucap Daniel sambil memberikan sebuah cincin emas yang dibagian tengahnya terdapat berlian baguette dengan membentuk teardrop.


Shasha yang sudah mengangkat tangannya merasa malu karena ia salah sangka. Ia mengira jika Daniel akan menyematkan cincin di jari manisnya sebelah kanan tapi ternyata tidak.


"Pas atau tidak?" tanya Daniel kepada Shasha.


"Iya." jawab Shasha singkat.


Setelah mendengar jawaban Shasha segera Daniel menghampiri Oscar yang sedang bermesraan dengan kekasihnya.


Ehhem(suara deheman Daniel memecah suasana keromantisan.)


"Cincinnya pas, aku balik dulu." Daniel berucap sambil melambaikan tangannya. "Thank's." diikuti Shasha yang berjalan di belakangnya.


"Daniel Habibie, jaga calon istri cantikmu jangan sampai dia lepas dan aku ambil." teriak Oscar keras diiringi renyah tawa yang terbahak-bahak. Ia sengaja menggoda Daniel.


Mendengar itu Daniel menarik tangan Shasha agar berjalan di depannya sedangkan Daniel kembali keruangan dimana Oscar berada sambil menutup pintu dengan keras yang sengaja dia buat terbuka.

__ADS_1


Mendengar pintu tertutup keras membuat Oscar kaget dan mengumpat, "**** , dasar lelaki tua."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan hendak melanjutkan perjalanannya menuju butik. Sepanjang perjalanan tak terdengar suara diantara mereka meskipun banyak pertanyaan diantara keduanya. Mereka memilih untuk disimpannya dalam hati.


Shasha yang setia menatap pemandangan dari dalam kaca sedangkan Daniel yang konsen dengan setirnya.


Shasha merasakan ada yang tak beres perutnya, perutnya terasa perih karena sedari tadi belum ada sedikit makanan masuk kedalam perutnya. Ia coba menahan laparnya dengan minuman, diliriknya botol berisi air putih yang tersisa bekas Daniel. Ingin rasanya minum namun ia takut Daniel merasa jijik namun karena tak tahan dengan rasa lapar dan haus akhirnya ia memberanikan untuk minum di botol tersebut.


"Bukannya itu bekas punyaku?" tanya Daniel memecah keheningan di dalam mobil.


"Kenapa jika itu bekas bapak? Lagi pula saya sedang haus." tanya Shasha balik.


"Kamu tak keberatan dengan bekas ku?" Daniel bertanya heran karena selama ia berpacaran dengan mantan kekasihnya tak pernah sekalipun Asia mau minum di gelas ataupun sendok bekasnya meski dalam keadaan haus sekalipun dengan alasan tidak higenis dan akan tertular penyakit padahal menurut Daniel itu adalah momen romantis.


"Saya haus pak, lagipula kita saling kenal bukan? kecuali kita tak saling kenal saya pasti keberatan."


"Bagaimana jika tidak haus?" tanya Daniel lagi karena masih penasaran.


"Tetap diminum pak, kan saya haus dan sudah kenal bapak."


"Saya rasa bapak tidak sakit justru yang sakit itu mental bapak. Uuppss ...." Shasha keceplosan bicara ia pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan tak berani melihat Daniel.


Mendengar itu Daniel terbelalak kaget karena baru ini Shasha berani mengolok dirinya. Rasa jengkel menyelimuti dirinya namun entah apa yang membuat mulutnya untuk diam seribu kata dan tidak membalas olokan Shasha.


Shasha yang merasa tak enak mulai tak nyaman duduk. Sedari tadi ia berusaha mencuri-curi pandang kepada Daniel.


Daniel tahu jika Shasha sedang mencuri-curi pandang kepadanya, ia tetap bersikap santai dan cuek seakan tak tahu jika sedang diperhatikan. Hati kecil Daniel tertawa riuh karena membuat Shasha merasa bersalah. Paling tidak wibawanya telah kembali gara-gara suara perut lapar dan sendawa sehabis makan tadi.


Shasha yang tak enak hati karena ucapannya tadi membuat dirinya memberanikan diri untuk menegur Daniel dengan suara termanisnya.


"Pak ... maafkan saya, saya tak bermaksud bicara seperti tadi." tatap Shasha dalam sambil memelas dan melihat ke arah Daniel.


"Turun!" bentak Daniel sambil memberhentikan mobilnya.


"Kug turun pak, saya kan minta maaf."


"Kalau saya bilang turun ya turun. Sudah sampai. Keluar." ketus Daniel berucap agar Shasha paham jika sekarang mereka sudah sampai ditempat tujuan.

__ADS_1


"Kenapa harus membentak! apa tidak bisa bicara lembut setidaknya baik-baik. Tidak tahu apa saya ini lapar mau makan." gerutu Shasha.


Shasha yang lapar berusaha menahan emosinya. Agar emosinya tak terlihat, segera ia keluar dari mobil dan dilihatnya sebuah minimarket tepat berada disamping butik. Dengan langkah cepat ia pergi menuju minimarket.


Sedangkan Daniel yang tak menghiraukan gerutuan Shasha ia memilih untuk masuk ke butik sendiri. Kedua orangtuanya dan calon mertuanya bertanya-tanya kenapa hanya Daniel seorang yang masuk.


"Shasha kemana?" tanya Melly sambil melihat kebelakang Daniel berharap Shasha akan segera muncul.


"Disebelah mi, ada yang sedang dibeli." Daniel menjawab sambil duduk disamping pak Idris yang juga terlihat mimik wajahnya ingin bertanya namun telah diwakili oleh calon besannya.


Belum juga setengah jam Melly kembali bertanya kepada Daniel.


"Minimarket disebelah mana?" tanya Melly tak tenang karena calon menantunya itu tak kunjung datang.


"Disebelah mi, mungkin masih antri." jawab Daniel berusaha tenang padahal ia merasa malas karena maminya terlalu berlebihan bertanya.


Melly dan Sally sudah berada di dalam ruang fitting sedangkan pak Idris, Joshka dan Daniel masih berada di ruang tunggu. Sudah lewat 30 menit Shasha tak kunjung kembali hingga membuat Joshka dan Idris khawatir kecuali Daniel.


"Permisi saya keluar sebentar." pamit pak Idris yang hendak berdiri untuk menyusul Shasha karena hatinya merasa tak tenang.


Melihat itu Daniel segera menghentikan langkah pak Idris.


"Ayah disini saja, biar saya yang menyusul Shasha di sebelah." ucap Daniel manis hingga membuat pak Idris kembali duduk.


Daniel yang berjalan keluar untuk menyusul Shasha merasa jengkel karena tak kunjung datang.


"Belanja apa saja sampai selama itu." gumam Daniel dengan jengkel.


Masuk ke dalam minimarket ia melihat Shasha sedang melepaskan tangan seorang lelaki yang ingin berusaha memegang pergelangan tangannya sepertinya ingin meminta maaf.


Penasaran siapa lelaki tersebut Daniel berjalan disebalah rak lain dan berusaha mengintip serta mendengar pembicaraan mereka.


"Lepas! jangan sentuh aku.!" bentak Shasha lirih karena tak ingin suaranya terdengar.


to be continued .....


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...

__ADS_1


Terima kasih banyak


__ADS_2