TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 47. SALAH SANGKA.


__ADS_3

Tempat duduk Shasha berada didekat jendela. Daniel sengaja memilihkan Shasha untuk duduk disana sedangkan dirinya berada di pinggir tujuannya agar Shasha lebih nyaman.


Sebelum duduk Shasha berusaha menaruh kopernya sendiri di rak bagasi atas tempat duduk, tubuhnya yang masih sakit dipaksakan untuk mengangkat koper. Pakaian Shasha yang tak terlalu panjang membuat bagian tubuhnya terekspos. Daniel yang berada tepat dibawah Shasha berdiri merasakan sebuah desiran menggelitik yang muncul pada hati dan syahwatnya. Gila, apa-apaan ini kenapa jantungku berdegup kencang. Belum sempat Shasha selesai menaruh koper segera Daniel berdiri sambil memegang bagian tubuh Shasha yang terlihat yaitu area perut.


"Duduklah, biar aku yang menaruhnya," bisik Daniel lembut. Dan sontak membuat bulu romanya berdiri karena bibir Daniel menyentuh tepat di leher belakang dan telinga Shasha.


Tak ingin terlihat gugup segera Shasha duduk sambil menyandarkan kepalanya pada kaca. Tak ada yang tahu jika hati mereka berdua sama-sama berdetak kencang layaknya seperti balapan motor GP.


"Gimana lukamu?" tanya Daniel untuk melepas keheningan.


Shasha yang mendengar pertanyaan dari Daniel diam saja dia sengaja tak menjawab.


"Kamu gak dengar saya tanya?"


Shasha hanya melirik tanpa menjawab pertanyaan Daniel.


"Ooo saya tahu, kamu tak ingin kehilangan bekas ciuman Arden tadi saat di lift kan?"


Shasha hanya mendelik sambil mengerutkan dahinya mendengar ucapan Daniel.


"Iya kan benar kamu tadi ciuman sama Arden? ayo jawab!" bentak Daniel.


"Sssst .... bapak jangan keras-keras bicaranya! "


"Kenapa daritadi kamu diam padahal saya tanya baik-baik?!"


"Bukannya tadi bapak bilang saya disuruh diam!"


"Iya tapi sekarang aku sedang bicara, jawab pertanyaanku!"


"Pertanyaan yang mana? pertanyaan bapak terlalu banyak." balas Shasha cuek.


"Ciuman tadi."


"Kenapa dengan ciuman pak? jika saya berciuman kenapa?"


"Jadi kamu ciuman tadi?"


"Jika iya kenapa jika tidak kenapa?" tanya Shasha balik.


"Ya cuman tanya, jika tidak tak apa ..."


"Jika iya kenapa?" ucap Shasha yang memotong perkataan Daniel.


"Ya berarti kamu ... kamu tak tahu diri!"


"Maksudnya gimana?"


"Kamu itu baru putus setidaknya jangan seperti haus kasih sayang apalagi sampai seperti itu di depan umum. Memalukan!"


"Terus kalau ciumannya sama bapak gak papa ya pak?"


"Ya ... iya ... Ehm maksudku gak."


"Gak apa? gak papa ato gak boleh?"


"Gak boleh lah."


"Masa? buktinya waktu kita sama-sama belum putus bapak cium saya dan saat saya berontak bapak malah semakin erat mencium saya. Apalagi itu ciumannya ditempat umum." ucap Shasha sambil melihat mata Daniel.


Daniel semakin salah tingkah saat mendengar perkataan Shasha. Gila ni cewe pintar banget bicara. God tolong kuatkan imanku kenapa bibirnya yang basah itu begitu seksi.


"Iya kan pak?"


"Sudah lupakan, cepat minum obatnya sebentar lagi jam makan." ucapnya sambil menyalakan internet TV pada LCD di bagian belakang tiap-tiap kursi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Malam pun tiba, pramugari kereta membagikan makanan kepada para penumpang. Tiba giliran Shasha makanan yang diterimanya beda dengan milik Daniel.


"Pak, kenapa saya bubur dan bapak nasi?"


"Kamu sakit makanan sementara bubur selama tiga hari."


"Begitu ya pak." ucap Shasha tanpa banyak bicara karena saat ini Shasha sedang merasa tak enak badan. Dirinya merasa badannya kembali hangat dan mual mulai menyerangnya.


Segera Shasha menghabiskan bubur yang ada dihadapannya tanpa banyak bicara karena dia merasakan mual.


Selesai makan Shasha segera menuju ke toilet disana dia mengeluarkan semua isi makanan dalam perutnya tanpa tersisa. Selesai muntah badannya terasa lemah, entah apa yang membuat dirinya mengalami mual berlebihan.


Saat keluar dari pintu toilet dia melihat seseorang yang dia kenal yaitu pak Ibnu, dosen penguji skripsinya.


"Bapak?" sapa Shasha dengan ramah.


"Kamu ternyata ada di dalam. Saya kira siapa."


"Iya pak, bapak sendri?" tanya Shasha lagi.


"Iya, aku sedang seminar." jawab pak Ibnu. Sebenarnya pak Ibnu ingin bertanya kenapa wajah Shasha terlihat ada beberapa bekas lebam termasuk mual-mual hebat yang tadi dia dengar diluar kamar mandi tapi nyalinya untuk bertanya tak sebesar Miss Rina.


"Baiklah pak, kalau begitu saya kembali dulu."


"Jangan! tunggu saya sebentar!" ucap pak Ibnu segera masuk kedalam toilet dan benar ternyata beliau hanya sebentar berada di toilet.


Kini mereka berdua sama-sama berjalan. Saat berjalan pak Ibnu masih penasaran dengan kondisi Shasha yang tak lazim. Hingga Shasha sampai di tempat duduknya.


"Saya berhenti disini. Bapak duduk dimana?" tanya Shasha sopan.


"Selisih 5 bangku dari tempatmu duduk." ucapnya sambil melihat seseorang yang duduk disamping bangku Shasha.


Daniel yang melihat keduanya berbincang membalas lirikan Daniel dengan pandangan tak bersahabat.


"Sayang, dia siapa?" tanya Daniel sambil mengambil tangan Shasha yang sedang bersedekap.


"Oke kalau begitu saya kembali dulu kalian selamat istirahat." ucap pak Ibnu lalu berjalan menjauhi tempat duduk Shasha.


Setelah kepergian pak Ibnu Daniel hanya bersifat biasa dan kembali duduk lalau memejamkan mata, dia bersikap cuek setelah memanggil Shasha dengan sebutan sayang.


Shasha yang sedang duduk merasa tak nyaman dengan panggilan yang diucapkan Daniel. Tak hanya itu dia juga merasakan tak enak badan dan juga merasakan lapar. Dia hanya melirik Daniel sekilas yang dilihatnya sudah memejamkan mata.


Daniel sendiri sebenarnya tidak tidur dia hanya memejamkan mata karena dia melihat ada yang tak beres dengan keadaan Shasha saat kembali dari toilet. Wajahnya yang masih terlihat pucat membuat dirinya merasa khawatir.


"Kamu mulai naksir saya?gak usah pandangi saya tidur bisa tidak!" ucap Daniel sambil memejamkan matanya.


Shasha yang tertangkap basah sedang memandangi wajah Daniel hanya menghela nafas kemudian membuang pandangannya ke arah jendela lagi. Dalam diam dirinya menahan rasa mual dan lapar. Memandangi pemandangan malam membuat dirinya teringat akan perjalanan dirinya menemui Abra dengan hati yang begitu riang gembira hingga momen dimana kebohongan Abra terbongkar sampai dirinya merasakan sebuah kekerasan fisik yang telah dilakukan Abra.


Dalam heningnya malam membuat dirinya tak sadar air bahwa matanya tumpah. Shasha berusaha menahan agar suara tangisnya tidak pecah terdengar oleh orang-orang disekitarnya terutama Daniel. Dirinya mengelap air mata dengan telapak tangan hingga dia tertidur sambil bersandar pada sandaran kursi.


Daniel yang awalnya memejamkan mata dan pura-pura tidur sebenarnya sudah mulai merasa kantuk namun suara tangisan yang ditahan menggangu pikirannya. Dibukanya kecil mata miliknya dan dilirik Shasha, dan benar ternyata itu adalah suara tangis milik Shasha.


'Apa kamu memikirkan kekasihmu itu?apa kamu menyesal sekarang. Wanita di dunia ini sama saja ternyata.' ucap Daniel dalam hati.


Daniel kembali melanjutkan tidurnya. Selama beberapa menit dirinya kembali membuka mata, pikirannya tak tenang karena tiba-tiba terlintas dan teringat wajah Shasha yang sedang menangis. Dengan berat mata dia mencoba membuka mata, kali ini dilihatnya Shasha yang sedang tertidur sambil meneteskan air mata. Entah rasa apa yang muncul dalam dirinya, dirinya yang membenci Shasha namun juga terkadang menyimpan sebuah rasa.


Tanpa disuruh tangan Daniel mendarat di wajah Shasha dan membelai rambut Shasha yang hitam dan panjang, dengan perlahan tangan tersebut menyentuh tetesan air mata yang hampir jatuh membasahi pipi.


'Cantik, andai waktu bisa diputar aku akan mencintaimu tanpa ragu. Dan saat ini kita berdua sama-sama tersakiti oleh seseorang yang kita sayangi.' batin Daniel.


Saat sedang memandangi Shasha Daniel dikagetkan dengan langkah pramugari yang menghampiri tempat duduknya.


"Selamat malam, maaf pak apa istri bapak sedang sakit?" tanya pramugari.


"Kondisinya sedang tidak sehat." jawab Daniel sedikit bingung.


"Apa setelah makan malam tadi istri bapak sempat ke kamar mandi?"

__ADS_1


"Iya."


"Kalau begitu istri bapak adalah yang saya cari daritadi."


"Maksudnya?"


"Tadi saya mendengar dia mengeluarkan makanannya di toilet pak. Dan saya perhatikan sejak tadi istrinya sangat lemas. Apakah istri bapak telat datang bulan?"


Daniel yang mendapat pertanyaan itu malah membuatnya makin bingung harus menjawab dan menjelaskan. Belum sempat dirinya menjawab si pramugari langsung berkata dan mengambil kesimpulan.


"Selamat ya pak istri bapak hamil. Mungkin istri bapak ingin memberi kejutan kepada bapak. Baiklah pak, saya hanya menyampaikan saja. Selamat malam ya pak." ucapnya kemudian berlalu meninggalkan kursi milik Daniel.


"Pramugari stress, hamil apaan asam lambung iya, habis di gebukin iya." gumam Daniel sedikit emosi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tak terasa perjalanan sudah hampir sampai Daniel yang sedari tadi sudah mencoba membangunkan Shasha namun tak kunjung bangun hingga akhirnya Daniel mulai menggoda Shasha dengan coba menempatkan wajahnya tepat di depan wajah Shasha dan seketika juga Shasha membuka matanya.


"Bapak? mau apa pak?" tanya Shasha kaget sambil menutup mata dan membungkam mulutnya dengan jarinya.


"Menurutmu?"


"Cium." jawab Shasha singkat.


"Ckck ... kamu mau saya cium? sorry ya gue gak mau bekas Arden." ucapnya ketus.


Shasha menelaah perkataan Daniel.


"Bapak keterlaluan, saya gak pernah berbuat seperti itu." ucap Shasha penuh pembelaan.


"Kejujuran dalam suatu hubungan itu penting."


"Memangnya kita menjalin hubungan pak?"


Deg ... "Tidak maksud saya kemarin saya melihat kalian sedang ciuman di lift saat pintu lift terbuka."


"Ckckck, bapak salah sangka."


Tak lama kemudian kereta pun berhenti. Shasha dan Daniel sengaja tak keluar terburu-buru. Pemikiran mereka berdua sama, mereka paling tak suka berdesakan dan mengantri.


Dirasa sudah tak berdesakan dan antri Daniel mulai berdiri mengambil koper milik Shasha. Didekat pintu keluar berderet beberapa orang berdiri menyambut mereka. Dilihat dari pakaiannya sepertinya merek adalah pramugari, pramugara, masinis dan satu orang lagi tidak Shasha kenal. Salah satu dari mereka memberikan sebuah buket bunga kepada Shasha sambil berucap, "Selamat ya Bu atas kehamilannya. Semoga bayi dan ibunya sehat."


Tak hanya satu orang yang berkata beberapa dari mereka juga mulai menghampiri Shasha. "Pasti anak kalian tampan-cantik."


Kemudian salah satu dari mereka yang sepertinya seorang masinis pun mengucapkan, " Selamat ya bapak dan ibu. Kebetulan sekarang adalah hari ulang tahun dari kereta ini."


Begitu juga dengan manager tampan yang hendak menyalami Shasha namun dengan sigap Daniel membalas salaman tersebut.


Shasha yang sedari tadi berusaha menjelaskan dan hendak bicara selalu dipotong hingga pengucapan terakhir selamat itu dibalas oleh Daniel dengan ucapan singkat "terimakasih."


Kini mereka berdua berjalan dan berlalu menjauhi kereta.


"Pak, tunggu ... saya kan gak lagi hamil. Kenapa harus memberi selamat."


"Yasudah kalau gak merasa hamil gak usah dipikirkan."


"Mereka salah sangka. Begituan saja tak pernah apa lagi sampai hamil." gerutu Shasha.


to be continued .....


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak


Salam sayang 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2