
"Acha, kamu kenapa?" sambil meraih tangan Shasha yang sedang tertidur diatas bed.
"Maaf anda siapa?” tanya Shasha yang pura-pura tidak mengenal.
Mendengar pertanyaan Shasha membuat Dion mendekati Shasha dan mengesampingkan rambut Shasha ke sisi kiri dan menurunkan baju Shasha yang menutupi pundak.
“Dion! Berhenti!” teriak Shasha sambil mengibaskan tangan Dion dan membetulkan baju yang menutup pundaknya.
“Maafkan aku harus seperti tadi, karena hanya cara itu bisa membuatmu marah.” dengan penuh penyesalan Dion berucap.
“Kenapa harus menurunkan bajuku! Kenapa kamu berubah menjadi tak sopan!” Shasha masih terlihat jengkel dengan kelakuan Dion yang menurutnya tidak sopan dan kurang ajar.
“Di pundak-mu sebelah kanan ada tahi lalat kecil.” ucap Dion lirih. Dirinya masih menyesal telah melakukan tindakan bodoh seperti tadi hingga membuat wanita yang dicintainya marah.
Shasha sendiri tak mengetahui jika ia memiliki tahi lalat kecil di pundaknya.
“Lain kali jangan seperti itu, aku tak suka.” ucap Shasha sambil kembali terbaring dan membelakangi Dion.
“Kamu tak pernah berubah, selalu begini jika sudah memaafkan orang. Ingat memaafkan itu harus benar-benar jangan setengah-setengah.” sambil tersenyum Dion berucap.
“Apaan sih, aku berubah. Aku sudah bertambah umur.”
“Ia kamu berubah semakin cantik.” “Aku merindukanmu, Cha. Ku harap kamu juga merindukan-ku.”
“Jujur aku merindukanmu. Kamu lelaki baik yang pernah aku kenal. Aku menyesal pernah menyakiti dan mengkhianatimu.” batin Shasha
“Hadap-lah sini, kenapa kamu membelakangi-ku!”
“Tidak, aku lebih nyaman begini.”
“Kamu masih sama seperti yang dulu. Menggemaskan.” ucap Dion sambil tersenyum.
“Kamu balik sana. Aku mau sendiri.”
“Tidak, aku mau menemanimu.”
“Kamu kan sama kayak aku. Kita ini karyawan baru jangan buat masalah. Ada pertemuan di aula lebih baik kamu kesana.” perintah Shasha.
“Gak, aku mau disini.” “Melihat tempat seperti ini mengingatkan saat pertama kali kita bertemu. Di sebuah UKS sekolah. Dan sekarang kita bertemu lagi disini di ruang P3K kantor.” “Ini seperti takdir, bukan?” jelas Dion yang masih membayangkan masa-masa indah mereka saat pertama kali bertemu.
Semua ucapan Dion membuat Shasha mengingat masa-masa sekolah disaat mereka saling belum mengenal satu sama lain. Dirinya tak menyangka jika Dion masih mengingat semuanya.
“Kenapa diam? Kamu rindu saat-saat itu kan? Aku juga merindukannya.”
“Tidak, aku tidak ingat.”
“Kalau begitu hadap-lah kesini dan katakan jika memang kamu tak mengingatnya.”
Shasha mencoba memejamkan matanya dan memantapkan hatinya untuk berkata TIDAK agar Dion tak menganggu dan mengharapkan dirinya lagi.
“Tidak. Aku tidak ingat.” sambil mencoba bangun dari tidurnya dan hendak berdiri dari tempat tidurnya.”
“Mau kemana? Kamu belum sembuh.” sambil menahan Shasha yang hendak berdiri dari bed.
“Lepaskan!” bentak Shasha.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak akan melepas-mu untuk yang kedua kalinya.”
Rianda masuk ke ruangan P3K yang pintunya tidak tertutup, tak sengaja mendengar percakapan terakhir antara lelaki yang menabraknya tadi dengan Shasha. Tak ingin terlalu ikut campur dengan permasalahan mereka berdua segera Rianda memanggil Shasha seakan tak mendengar pembicaraan keduanya
“Sha, gimana kondisimu? Apa sudah baikan?”
Shasha hanya mengangguk dan berusaha berdiri sambil menahan rasa sakit pada perutnya yang masih terasa dan pusing.
“Sudah kubilang, jagan beranjak dari tidurmu.! Kenapa kamu tak mau menurut.”
Shasha tertegun, ia tak menyangka jika Dion masih sama seperti dulu. Begitu perhatian terlebih saat dirinya sakit ia selalu menjaga dan berusaha untuk merawat Shasha.
“Sha, kamu disini saja jika masih tak enak badan. Biar nanti aku ijin ke pak Arie kalau kamu masih tak enak badan.”
“Ia Kak. Maafkan Shasha merepotkan.”
“Kamu bicara apa sih, gak repot. Kamu itu sakit.” ucap Rianda dengan khawatir.
“Kakak kembali aja ke aula. Kakak belum makan, kan?”
“Kakak ke kantin dulu biar kaka ambilkan makanan untukmu.” ucap Rianda.
“Jangan, biar saya saja nanti yang mengambil makanan untuk nya. Lebih baik kamu kembali ke ruangan-mu. Sebentar lagi acara di aula akan segera selesai.” dengan nada datar dan dingin Dion berucap tanpa melihat lawan bicaranya. Ia hanya fokus melihat ke arah Shasha.
Rianda dibuat heran dengan kelakuan lelaki di depannya.
“Maaf, kamu siapa? Dari departemen mana, kenapa saya baru lihat?”
“Nanti kamu juga pasti akan tahu saya. Segera kembalilah ke atas. Biarkan saya yang menemani Shasha.
“Oke, gue titip adik gue. Jangan lu apa-apain dia. Lu pegang dia, artinya lu hadapin gue!” ancam Rianda dengan gaya betawinya hingga membuat Shasha menahan tawa.
Gue bukan cowo bejat seperti yang ada dipikiran lu!
Rianda pun meninggalkan Shasha di ruang P3K, dalam hati dirinya bertanya-tanya siapa lelaki yang berada di ruangan tersebut.
Dilihat dari cara bicaranya dia seperti bukan staf biasa. Kira-kira dia siapa ya, kenapa aku tak pernah melihatnya. Apa dia orang lama dari cabang lain yang ditugaskan disini untuk audit menemani CEO nanti?
Ada hubungan apa antara Shasha dengan lelaki tersebut? Ah sudahlah, biarkan saja.
Rianda pun kembali ke dalam aula dan menemui teman-temannya yang sudah makan siang.
“Telat lu, lu gak tahu gimana cakepnya CEO kita.” ucap Manda dengan antusias.
“Oiya, se-cakep apa sih? Apa lebih tampan dari Kevin?” goda Rianda kepada Manda.
“Kenapa jadi bawa-bawa nama gue? Jangan banding-bandingkan ya. Gue ya gue.” ketus Kevin yang tak terlihat tak mau kala saing dengan ketampanan sang CEO.
**
Di Ruang P3K
“Sampai kapan kamu disini Dion?” tanya Shasha lirih
“Sampai kamu merasa enakan.”
__ADS_1
“Sudah lah, kita ini karyawan baru. Aku kan lagi sakit sedangkan kamu, kamu kan cuman duduk disini. Kamu balik gih ketempat keja kamu.”
“Gak, aku gak mau.”
“Dion, aku gak mau ditungguin. Aku gak bisa tidur kalau kamu disini.”
“Bagus dunk, kalau gitu kita ngobrol saja.”
“Aku gak mau ngobrol, aku mau tidur.”
“Yasudah tinggal tidur.”
“Aku gak bisa tidur, aku lapar.” bohong Shasha.
“Yang benar yang mana? Tadi bilang gak bisa tidur karena ada aku, sekarang bilangnya gak bisa tidur karena lapar.” “Hayo yang mana yang benar?”
“Ckck, yasudah awas aku mau ke kantin cari makan dulu.”
“Jangan …, jangan berdiri aku saja yang ambil kan makanan kesini.” “ Tunggu, aku akan kembali.”
Dion keluar dari ruangan P3K dan menelfon asistennya untuk menanyakan apa makanan di kantin masih ada. Shasha yang bangun dari bed segera berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut dengan memanfaatkan kelengahan Dion.
Gue harus jalan cepat. Gue gak mau kelamaan disana. Bisa mati gaya rasanya. Mana Dion jagain banget kayak anak ayam yang jagain anaknya biar gak diambil elang.
Setelah menelpon asistennya Dion kembali ke ruangan tersebut dan tersenyum saat melihat ternyata Shasha sudah tak ada di ruangan itu.
Kamu selalu seperti ini, bersikap ke kekanak-kanakan. Aku tak akan melepas-mu untuk yang kedua kalinya.
Saat ini Shasha berada di toilet untuk mencuci mukanya yang terlihat lusuh sambil merapikan rambutnya dengan tangannya.
Kenapa dia menjadi posesif? Apa perasaanku saja ya?
Ah sudahlah, yang penting aku sudah sampai disini. Urusan ketemu Dion nanti saja dipikirkan lagi, yang penting aku harus segera masuk dan mengerjakan tugasku.
Kruk..
Kruk..
Haduh kenapa perut ini bunyi, tolong dunk jangan lapar sekarang.
Ayo perut kuat ya. Kuat … Kuat …
Nanti saja kita makan yang banyak ya.
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1