
Setelah hampir setengah hari ia berada di kamar Shasha untuk menghabiskan waktunya, kini Daniel berada didalam kamarnya sendiri dengan hati riang dihiasi senyum yang sedari tadi tak kunjung hilang. Sesekali ia tertawa sendiri saat mengigat apa yang telah ia dan Shasha lakukan tadi saat dikamar. Sebuah percakapan santai namun sangat berkesan. Dirinya tak menyangka jika sang istri begitu pintar, asyik dan seru. Tak hanya itu, ia juga memuji istrinya yang juga tangguh.
Ketangguhan Shasha sepertinya memang turun menurun. Kakeknya yang merupakan seorang Purnawirawan, dan kakaknya yang merupakan seorang Jendral. Bagi Daniel sekeluarga, keluarga Himalaya adalah penyelamat. Dimana saat itu Yusuf Himalaya yang tak lain kakek dari Shasha pernah menyelamatkan kakeknya yang bernama Richard J dari serangan ranjau. Begitu juga dirinya telah diselamatkan Shasha dari penculikan yang dilakukan oleh Leon Sanjaya.
Saat di dalam kamar tadi mereka berdua juga bercerita tentang momen saat keduanya berada di Finlandia, dimana Shasha yang merupakan seorang mahasiswa penerima beasiswa dan merupakan satu-satunya orang Indonesia, sehingga membuat Daniel yang merupakan seorang Diplomat dari Indonesia harus memberi perhatian lebih. Bahkan mereka membicarakan tentang peristiwa ketika Shasha dituduh telah memakai dan menyembunyikan obat terlarang dibalik ponselnya bahkan dua orang tersebut menodongkan pistol ke arah Shasha.
Dia benar-benar mengesankan.
Benar perkataan Johan, aku akan menyesal jika sampai melepas Shasha. Terimakasih ya, Mi. Aku tak menyangka pilihan Mami memang yang terbaik.
Sampai saat ini bayangan tentang dirinya dan sang istri tak dapat sirna di otaknya. Bahkan suara tawa Shasha masih terngiang di telinganya.
Saat sedang enak-enaknya mengingatkan momen tadi seketika sirna saat terdengar suara berdering yang berasal dari ponselnya.
Rasanya malas untuk berdiri dan mengambil ponselnya yang ia taruh di atas nakas dekat tempat tidur, namun lebih malas lagi jika suara panggilan tersebut berbunyi terus menerus.
Huh,,, harusnya gue silent atau dimatikan saja, biar tak menganggu hari liburku.
Dilihatnya ponsel tersebut ternyata muncul sebuah nama Black Panther. Segera Daniel mengambil ponsel dan menerima panggilan tersebut.
Daniel : “Gimana, Jo?”
Johan : “Apanya yang gimana?”
Daniel : “Lu, benar-benar nyebelin ya!”
Johan : “Hihihih, lu mau berita yang mana dulu?”
Daniel : “Bunga, bunga itu siapa pengirimnya?”
Johan : “Dia seorang polisi, dia saingan berat lu. Karena dia tampan dan kaya.”
Daniel : “Gue gak takut, Shasha bukan tipe wanita matere', selain it, gue yakin Shasha tipe wanita setia. Meski status kami masih belum satu identitas namun hati kamu sudah menjadi satu atas nama Yang Maha Esa.
Johan : “Ciye, gue curiga sama kalian berdua. Jangan-jangan …., kalian berdua benar-benar sudah melakukannya?”
Daniel : “Mau tahu aja, yang pasti lebih dari yang lu bayangkan.” sambil terkekeh Daniel mengatakannya hingga ia berniat Johan menjadi penasaran.
Johan : “Bagus, pepet terus istri lu jangan biarkan ada yang hinggap sekalipun masa lalunya yang indah datang menyapanya.”
Daniel : “Maksudnya?”
Johan : “Udah …, yang penting lu percaya sama istri lu. Jangan pernah dengarkan apa kata orang. Gimana misi lu?”
Daniel : “ Gue ada rencana, lu setuju atau tidak gue harus ngelakuinnya agar cepat selesai.”
Johan : “ Artinya, lu gak butuh persetujuan gue. Go a head, bro.”
Setelah pembicaraannya dengan Johan usai segara Daniel keluar kamar untuk menemui istrinya yang tak tahu sendang dimana dan melakukan apa.
__ADS_1
Kenapa sepi? Dimana dia?
Tanpa banyak berfikir segera ia menuju ke kamar Shasha.
Mungkin dia sedang di dalam untuk rebahan.
Daniel mencoba mengetuk pintu kamar namun tak ada jawaban dari dalam. Rasa penasarannya mulai muncul, dibukanya pintu tersebut.
“Kemana dia?” sambil mencari keberadaan Shasha yang mungkin berada di balkon. Hasilnya pun sama, tak ada tanda-tanda keberadaannya.
“Mungkin dia di kamar mandi.” ucapnya sambil keluar dari kamar dan menuju ke kamar mandi.
Belum sempat mengetuk pintu kamar mandi, ia melihat pintu di ruangan wardrobe yang terbuka sedikit.
Daniel pun melangkah ke sana dan benar ia melihat Shasha yang sedang merapikan pakaian yang sudah beberapa hari tidak dirapikan nya. Dilihatnya dengan detail ia pun mulai memuji keseksian istrinya itu. Meski tak memiliki tubuh yang tinggi seperti mantan kekasihnya namun dari postur tubuh dan look, wajah Shasha lah pemenangnya.
Melihatmu dari belakang saja sudah membuatku terpesona apalagi melihatmu dari depan dengan jarak yang cukup dekat.
Daniel tak tahan jika hanya melihat istrinya itu dari jarak jauh, ia pun mulai memanggil istrinya.
“Ay, kamu sedang apa?”
Shasha yang di panggil pun menoleh kebelakang ke arah seseorang yang memanggilnya.
“Sedang membereskan pakaian,” sambil menjawab Shasha melempar senyum kepada suaminya.
Daniel mendekati Shasha dan memegang pundak lalu diputarnya tubuh Shasha hingga menghadap kepada dirinya. Kini mata mereka saling mengunci dan mereka saling berpandangan.
“Ada apa, Bie?” tanya Shasha lembut.
“Jangan pernah tersenyum secara cuma-cuma.”
‘Kenapa?”
“Karena, aku yang sudah membeli senyummu langsung ke orangtuamu. Jadi hanya aku yang boleh melihat dan memiliki senyummu.
Shasha tak menjawab ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan kembali menata pakaian.
“Kenapa kamu hanya tersenyum? Apa kamu takut fansmu sedikit demi sedikit mulai berkurang.”
“Ucapan bapak benar-benar membuat saya tak tahu harus berkata apa."
“Kenapa memanggilku dengan panggilan bapak!”
“Maaf … maaf …”
“Setiap kesalahan harus diberi hukuman.”
“Hukuman? Hukuman apa?” tanya Shasha dengan sedikit takut
__ADS_1
“Hukumannya, adalah kamu harus menuruti semua kemauanku.”
“Tidak, aku tak mau.”
“Kenapa? Apa yang kamu takutkan?”
“Hukumannya tentang apa? Tanya Shasha dengan sedikit takut.
“Nanti malam kita akan menghabiskan waktu bersama. Jangan pernah menolak karena aku akan melipat gandakan hukumannya.” ucap Daniel sambil mengerlingkan matanya kepada Shasha.
**
Malam hari.
Saat yang dinanti Daniel telah tiba, ia sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari snack kesukaan Shasha hingga hidangan minuman untuk menemani berdua menghabiskan waktu.
Tepat pukul tujuh Daniel mengetuk pintu kamar Shasha, setelah diketuk Shasha pun keluar dengan menggunakan pakaian casual yaitu crop knit cardigan berwarna pink yang dipadupadankan dengan celana jeans. Ia tak tahu jika yang direncakan Daniel bukan nonton di luar melainkan hanya disinj.
Melihat Shasha berpakaian kasual seperti ini saja telah membuat Daniel menjadi semakin tertarik dan tanpa pikir panjang Daniel menggandeng tangan Shasha untuk diajak ke suatu tempat.
“Kita kemana, Bie?” tanya Shsasha
“Tempat favorit kita yang ketiga.”
“Memang tempat favorit pertama dan kedua dimana?”
“Aku akan menjelaskannya nanti. Sebentar lagi kita sampai.”
“Sampai? Memang kita kemana?”
“Tara … duduklah disini,” Daniel mempersilakan Shasha untuk duduk.
Ruang tv yang biasanya hanya terdapat TV, foto dan sofa kini terlah berubah menjadi nuansa seakan-akan seperti gedung bioskop.
“Maafkan aku, aku masih belum bisa mengajakmu jalan-jalan normal seperti pasangan lainnya.”
“Tak apa, ini lebih dari cukup. Siapa yang ngedekor ruangan ini hanya hitungan jam saja sudah terlihat bagus.” Ucap Shasha membuat Daniel bahagia mendengar ekspresi Shashsa.
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak.
__ADS_1