TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 96. GITU-GITUAN.


__ADS_3

Shasha mengubah pikirannya untuk tidak segera pulang ke apartemen, ia memilih untuk pulang ke kosan Secil kebetulan dirinya mendapat pesan singkat dari sahabatnya itu. Sebelum menuju kosan Shasha turun di sebuah mini market untuk membeli beberapa cemilan kesukaan dirinya dan sahabatnya.


Masuk ke dalam mini market dengan niat ngadem namun malah sebaliknya. Kali ini hatinya semakin panas kala melihat Daniel sedang berjalan dengan Asia sedang mendorong belanjaan. Shasha berusaha untuk menghindar agar dirinya tidak berpapasan dengan Daniel maupun Asia. Ia pun dengan cepat memilih snack dan segera membayarnya. Tanpa ia sangka saat hendak menuju ke kasir ia berbarengan dengan Daniel yang juga sedang mengantri di kasir sebelah tempat Shasha. Pandangan mereka saling bertatapan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Apa benar itu Shasha? Buat apa dia berada di tempat ini? Ini kan jauh dari kampus dia.” batin Daniel.


Daniel yang masih sibuk dengan pikirannya tak mengindahkan ucapan Asia, hingga Asia mencoba mengambil alih perhatian Daniel dengan mencium bibir Daniel di depan banyak orang.


Cup...(suara kecupan)


“Kamu apaan sih? Gak enak dilihat orang.” ucap Daniel dengan nada agak risih.


“Kamu sih gak dengerin aku bicara. Emang kamu lihat siapa sih.” tanya Asia sambil menengok kanan-kiri berusaha mencari sesuatu yang membuat Daniel tak fokus.


“Sorry, lagi banyak pikiran. Nanti setelah belanja aku langsung ke kantor ya.” pinta Daniel kepada Asia.


“Habis dari kantor mampir ketempatku ya sayang,” ucap Asia dengan nada manja yang sebenarnya membuat Daniel muak.


Selesai membayar mereka berdua langsung menuju ke parkiran mobil dan memasukkan belanja. Selesai memasukkan belanja Daniel pamit kepada Asia untuk pergi ke toilet sebentar.


Daniel beralasan ke toilet karena ingin menemui Shasha yang ia yakini sedang antri di kasir.


“Dimana dia?” sambil celingukan Daniel mencari keberadaan Shasha.


Shasha yang tahu jika dirinya sedang dicari oleh Daniel memilih sembunyi.


Daniel tak menyerah mencari keberadaan Shasha ia menuju ke masing-masing kasir guna memastikan wajah dari para pengunjung. Beruntung Shasha sudah berada di tempat penitipan barang-barang sehingga ia memilih keluar saat Danil sedang berjalan masuk.


Dengan langkah cepat Shasha berjalan ke kosan Secil, beruntung jarak yang ditempuh antara mini market dan tempat Secil sekitar 5 meter sehingga tenaganya tak terlalu terkuras dengan berjalan cepat ditengah teriknya matahari.


Sesampai di kos, Shasha disambut dengan hangat oleh sahabatnya itu.


“Shasha, ayo masuk.” ajak Secil masuk kedalam kosannya.


“Ada apa ? Kamu mau tanya apa tentang bang Jo.”


“Emm.... Tepatnya yang mau aku tanyain gimana rasanya nikah muda?”


“Kenapa emang? Mau nyusul?”


“Tergantung, enak gak?”


“Maksudnya enak itu gimana?”


“Ya yang lu rasain gimana? Apa aja? Apa tiap pagi lu dapat morning kiss gitu dan tiap malam apa harus main pedang dan kupu-kupu, Sha?”

__ADS_1


Mendengar itu Shasha mendelik dan tak percaya dengan perkataan sahabatnya itu.


“Apa itu pedang dan kupu-kupu? Istilah apa lagi?”


“Iya itu pedang dan kupu-kupu?”


“Tunggu-tunggu dapat kata-kata itu dari mana? Karena setau aku yang ada itu ular kecil dan ular besar.”


“Itu sih ucapan Dirga CS. Kamu aja yang gak pernah dengerin mereka cerita. Lha yang ini aku dengernya dari – ”


Ucapan Secil terhenti saat ia menerima panggilan dari seseorang menuju balkon dan meninggalkan Shasha yang berada didalam kamar.


Shasha yang melihat sikap Secil sedikit aneh merasa bahwa ada yang tak beres dengan sahabatnya itu. Hampir satu jam lebih Shasha berada di dalam kamar sendirian, dirinya tak masalah namun ia penasaran siapa yang sedang menelpon sahabatnya itu mengapa cukup lama padahal yang ia tahu Secil adalah tipe wanita yang paling anti bertelepon lama.


Penasaran dengan siapa sahabatnya itu bertelepon ia sedikit mengendap-endap berjalan menuju balkon, namun mata Secil yang tajam bagaikan elang melihat kehadiran Shasha pun mulai menyudahi telponnya.


“Ngapain jalan-jalan mengendap-endap gitu?”


“Kebangetan kamu Ciel. Aku tinggalin sendirian di kamar, kayaknya diriku lebih baik pulang aja ya,” dengan nada kesal dan sedikit memanyunkan bibirnya.


“Jangan dunk. Sorry dory busway. Kayak lu gak pernah mudah Sha.”


“Gila lu pikir sekarang gue tua. Gue masih muda juga kali.”


“Hem. Lu temenan ma gue berapa lama si Ciel. Lu tahu sendiri gimana kisah cinta gue dulu. Kisah cinta gue semenjak 2 SMA sudah berubah kelam dan untuk nikah pun gue gak ada rasain jatuh cinta dulu.”


“Ya tapi kan sekarang lu nikah ma orang yang tepat. Kata bang Jo, Lu dan pak Daniel itu kayak Adam dan Hawa. Lama terpisah akhirnya bersatu. Dan kalian sekarang sedang belajar saling mencintai dan menjaga bukan? Itu seru kali Sha. Ada ribut-ributnya, habis ribut baikan, sayang-sayangan lalu gitu-gituan.”


“Haduh Secil kenapa sih di otak lu selalu ada kata GITU-GITUAN. Emang apaan sih gitu-gituan itu? Gue yang uda nikah gak paham.”


“Coba lu tanya suami lu pasti dia paham.”


“Gak akan gue tanya.” sambil menyedekapkan tangannya.


“Oya, pedang dan kupu-kupu itu apa ya Sha?”


“Huh …. Itu lagi yang ditanyain. Apa gak ada pertanyaan lain gitu yang gue ngerti. Kayaknya lu salah kalau nyuruh gue kesini buat tanya itu.”


“Ah Shasha. Lu kan udah nikah.”


“Ya tapi apa hubungannya udah nikah sama pedang dan kupu-kupu.”


“Emang siapa yang beritahu lu pedang dan kupu-kupu itu. Biar gue tanya ke dia.”


“Ja—ja--jangan dunk.”

__ADS_1


“Cerita dunk siapa laki-laki yang bikin temenku cantik ini jatuh cinta?”


“Kamu kenal kug siapa dia? Bahkan dia itu udah anggap kamu sebagai adiknya.”


“Ohhhh, jadi bang Johan? Pantas setiap ketemu dia yang ditanyakan selalu luuuuuuuuuu terus. Jadi dia yang bikin sahabat aku yang anti telponan lama sekarang jadi telponan terus.”


“Hehehehe,” Secil terkekeh mendengar ledekan Shasha.


“Biasanya ya ucapan bang Johan kalau lagi otaknya gak pas gak jauh-jauh dari kata-kata gak jelas gitu, yang pasti ada hubungannya sama begituan pokoknya.”


“Oh gitu.” sambil tersenyum sendiri Secil membalas ucapan Shasha.


“Udah sore nih, aku pulang ya. Mau masak dulu besok aku uda mulai kerja.”


“Beneran? Ih keren banget sih sahabat gue ini. Pinter, cantik, mandiri. Kapan gue ditraktir ni?”


“Gak kebalik ni, yang harus traktir itu lu. Uda jadian kan sama bang Jo?”


“Jangan gue aja dunk. Mutia tuh juga jadian sama bang Arden.”


“Oh bagus kalau begitu berarti gue double dari kalian.”


“Sha, gue punya ide. Gimana kalau kita ngedate bertiga? Lu suami pak Daniel, gue sama bang Johan dan Mutia sama bang Arden. Seru kan? Kita nginep gitu ke Bogor. Kita camping. Seru Sha!”


“Gak. Gue sibuk gue uda mulai kerja. Lagian pak Daniel pasti sibuk juga.”


“Ya Minggu dunk kita jadwalkan. Bang Jo kan asisten suami lu, dia akan handel itu.”


“Coba aja, pasti gak akan bisa.” ucap Shasha yakin. “Gue pamit pulang dulu ya, takut kesorean.”


“Gue anterin aja Sha. Sapa tahu di apartemen nanti ketemu bang Johan.”


“Boleh.” Shasha menyetujui ajakan Secil yang mengantar dirinya.


.


.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak

__ADS_1


__ADS_2