
Shasha terdiam tanpa kata setelah mendapat kecupan di kening. Kecupan itu bukan kecupan biasa bagi Shasha kecupan kening merupakan sesuatu yang istimewa, namun harus diakuinya bahwa Daniel melakukan itu tanpa ada rasa hanya sebuah keharusan dimana selepas ijab qobul sangatlah pantas mencium pasangan di depan banyak pasang mata yang melihat.
Kini keduanya mulai meminta restu kepada kedua orangtua dan kemudian dilanjut bersalaman dan berfoto. Daniel dan Shasha merasa canggung untuk foto berdua apalagi dengan bergaya mesra.
"Muka kalian kenapa datar begitu?" ejek Johan.
"Harusnya bagaimana bang?" tanya Shasha pasrah.
"Sini aku kasih contoh," Johan mulai menarik dan mendekap erat Shasha
Shasha hanya menahan tawa melihat kelakuan Johan yang menurutnya usil namun tidak bagi Daniel. Ia merasa tak suka dengan kelakuan Johan.
"Sudah-sudah! lagian kamu juga tinggal bergaya saja tak bisa." emosi Daniel kepada Shasha.
Tanpa banyak bicara segera ia menggendong Shasha ala bridal style dengan menempelkan hidung mancungnya ke hidung Shasha. Dimana kedua hidung mereka saling menempel, deru nafas keduanya pun saling terdengar.
Melihat adegan romantis itu Arden dan Johan merasa bahagia dan mulai bersorak riuh.
"Woi sabar, ayo foto lagi. Tahan-tahan jangan ciuman disini." goda Johan lagi.
Untuk gaya berikutnya Daniel tak tahu harus bagaimana.
"Maaf pak, saya pinjam tangannya. Saya gandeng bapak nanti bapak lihat saya ya! tapi saya tersenyum dan gak lihat bapak." Shasha mengarahkan Daniel.
Keduanya terlihat seperti pasangan romantis namun tak ada yang tahu jika itu adalah pose terpaksa dan otodidak yang dilakukan keduanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah selesai berfoto Daniel berkumpul dengan Arden dan Johan sedangkan Shasha memilih untuk berkumpul sejenak dengan keluarga mertuanya. Disana ia berkenalan dengan Alea yang merupakan sepupu Daniel dan tak lain adik angkat dari Johan. Mereka berdua saling berkenalan dan bercerita. Beberapa saat kemudian Shasha pamit untuk kembali ke kamar.
Didalam kamar ia membaringkan tubuhnya sejenak, kondisi tubuhnya yang kurang sehat membuatnya panas hingga pusing melanda dirinya. Kedua matanya dipaksa untuk istirahat matanya yang berlinang air mata dikarenakan efek panas tubuhnya. Dirasa keadaannya cukup baik segera ia keluar dari kamar dan pergi menuju dapur untuk membuat susu, minuman kesukaannya.
Di dapur Shasha berpapasan dengan Jihan yang hendak mencari makanan karena perutnya yang terasa begitu lapar padahal sudah dua piring lauk dan nasi ia habiskan.
"Sha, itu susu apa?" tanya Jihan penasaran.
"Susu almon kak rasa taro, kak J mau?"
"Boleh?"
"Boleh dunk, aku rasa susu almon sangat bagus untuk ibu hami kak, untuk produksi ASI." imbuh Shasha.
"Makasih aunty." ucap Jihan dengan nada suara dibuat seperti anak kecil sambil meracik sebuah minuman yaitu susu almon.
__ADS_1
"Kak, apa kakak melihat pak Daniel?" tanya Shasha.
"Dia dan temannya-temannya berada di halaman belakang." ucap Jihan berlalu sambil membawa segelas susu almon yang sudah dibuatnya.
Mengetahui bahwa Daniel sedang berada di halaman belakang bersama kedua Abang angkatnya Shasha membuatkan minuman hangat untuk mereka bertiga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Daniel dan kedua sahabatnya sedang duduk santai, sambil bercerita tentang klub sepak bola favorit mereka. Sambil berbicara Johan mulai menyalakan rokok yang kemudian disusul oleh Daniel.
"Lu ngapain ngerokok?" tanya Johan.
"Kenapa? ada yang salah!"
"Salah, salah banget. Lu tuh habis nikah."
"So?"
"Bukan ngerokok tapi dirokok." Johan tertawa renyah mengolok Daniel.
Arden yang tahu maksud Johan hanya tersenyum sambil menutup mulutnya karena tak ingin tawanya terdengar nyaring.
Daniel yang tak paham dengan maksud perkataan sahabatnya tetap saja menyalakan rokoknya dan belum sempat menghisap manis rokok Erza datang menghampirinya.
"Sepertinya sedang bersama mami, Kak. Kenapa?"
"Tak apa." Erza pun menampilkan senyum lalu menjauhi ketiga lelaki seumurannya itu dan memilih untuk berkumpul dengan keluarga baru adiknya dengan harapan dapat bertemu Shasha.
Shasha berjalan ke arah Daniel dkk(dan kawan-kawan) sambil membawa beberapa cangkir minuman.
"Acha sini!" teriak Johan.
Mendengar namanya disebut Shasha tersenyum dan mengangguk.
"Pengantin baru ni, main masuk kamar aja. Gak sabar hihihaha ya atau jangan-jangan sedang mempersiapkan sesuatu ya?" goda Johan sambil mengedipkan matanya.
"Hihihaha apa bang? persiapan apa lagi?" tanya Shasha lugu.
"Daniel, sepertinya bini lu masih sekolah dasar dan belum expert." goda Johan.
"Hahahihi apa sih Bang, kalau bicara yang jelas! Kenapa jarang chat sekarang?! dan kenapa kesini gak bilang!" Shasha mencubit Johan dengan cubitan paling kecil hingga membuat Johan meringis kesakitan.
"I---iya ampun sakit. Abang itu sibuk gara-gara suami kamu tuh kerjaanku jadi banyak. Kalau kesini bilang gak surprise dong." sambil mengelus-elus bekas cubitan Shasha.
__ADS_1
"Oooo begitu, aku kira lupa bang. Oia Bang aku buatin kopi kesukaanmu, buruan diminum mumpung masih hangat." ucap Shasha kepada Arden dan Johan.
"Wah mantap, kamu memang gak pernah gagal jadi adik." puji Johan sambil kembali meneguk secangkir kopi didepannya.
"Kamu demam?" tanya Arden sambil membalikkan telapak tangannya memegang kening Shasha.
"Gak bang, cuman anget aja."
"Wkwkwkw, belum ketemu ular kamu sudah panas duluan." celetuk Johan sambil menyeruput kopi buatan Shasha.
"Ular? kenapa semua orang berbicara ular. Apa pak Daniel memelihara ular?"
"Kamu kata siapa?" tanya Daniel dingin sambil menghisap dan menyeruput susu buatan Shasha.
"Melisa yang bilang, ular bapak itu bisa berubah besar saat disentuh hingga keluar bisah." Shasha berusaha mengingat-ingat perkataan Melisa tadi pagi.
Mendengar itu Daniel tersedak dan berhenti sejenak untuk menaruh secangkir susu diatas meja.
"Jadi kamu mau lihat ular saya?"
"Iya pak saya penasaran."
"Kamu tahu caranya membuat ular itu berubah?" tanya Johan dengan serius sehingga Shasha mencoba mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
"Bagaimana caranya?" ulang Shasha kerena sedari tadi tak ada ucapan yang benar-benar membuat Shasha paham, semuanya
"Berikan rokok jangan biarkan dia merokok sendirian." ucap Johan sambil menahan tawanya."
"Bagaimana jika rokok an sendiri?"
"Jangan! jangan biarkan dia merokok sendiri. Itu dapat memunculkan hewan lain. membuat
Lagi-lagi mendengar itu Arden hanya diam dan gemas dengan wajah Shasha yang terlihat bingung.
Melihat Shasha terus digoda oleh Johan, Daniel pun menghampiri Shasha dan berbisik, "Segera kamu masuk kamar, ada sesuatu yang perlu aku tunjukkan." bohong Daniel karena ia tak ingin Shasha terlalu dekat dengan Johan.
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1