TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 71. KARMA KEDUA?


__ADS_3

Ucapan Shasha begitu membuat keduanya paham jika berkendara itu yang dibutuhkan keselamatan bukan kecepatan agar sampai tujuan. Karena berada dijalan itu bukan sebuah ajang perlombaan.


Tak seperti biasanya, jalanan hari ini begitu padat. Beberapa titik kemacetan ditemukan dimana-mana parahnya kemacetan ini sudah memakan waktu hampir setengah jam.


"Tumben sekali, ada apa ini sebenarnya?" tanya Daniel penasaran.


"Iya, gak tahu apa kalau bos gue mau lewat." omel Jason.


"Mereka gak akan tahu lah, namanya juga jalan umum kecuali kalau jalanan ini dikasih tulisan DILARANG MELINTAS JALAN INI KHUSUS BAPAK DANIEL HABBIE JOSHKA yang tersegalanya." ucap Shasha sambil menekankan kata-katanya.


"Kamu kenapa? ada masalah sama saya?"


"Gak pak, cuman heran saja namanya juga dijalan kalau gak macet ya lancar. Sabar aja gak usah kasih kode-kode suruh orang ngebut."


Melihat perdebatan antara Daniel dan Shasha membuat Jason bising dengan suara ribut-ribut suami istri tersebut. Ia pun mencoba menurunkan kaca jendela dan bertanya kepada seseorang polisi yang berada disekitar sedang membantu menertibkan lalu lintas.


"Permisi pak, ada apa ya kug tumben jalanan macet banget?"


"Kecelakaan tunggal pak, ada korban yang meninggal dunia langsung di TKP dan sekarang sedang proses evakuasi. Bapak berhati-hati saat berkendara ya. Ingat keluarga menunggu kita dirumah.


"Iya pak, ada berapa orang di dalam?"


"Tiga pak, kedua penumpang hanya luka ringan sedangkan supir telah meninggal."


"Baik pak, terimakasih informasinya." Jason lalu menutup kaca jendelanya.


"Bos gue gak mau lagi jalan ngebut, gue takut mati bos."


Beberapa saat kemudian perlahan kondisi jalan sudah mulai mulai berangsur kondusif, sepertinya korbankecelakaan yang terjadi tadi sudah dievakuasi.


Saat melintas di dekat TKP terlihat banyak bekas kaca pecah bertebaran dan kondisi mobil yang terbalik.


"Innalillahi wainailaihi rojiun, tuh lihat tuh mobil terbang sampai terbalik seperti itu, sapa coba yang dirugikan? ingat jangan sekali -kali kalian mengemudi kencang. Ingat dampaknya." nasehat Shasha kepada dua lelaki yang ada didalam mobil dengan ketus.


Melihat kecelakaan tersebut Jason merasa ngeri, hingga membuat dirinya tak berani mengemudi dengan kecepatan yang up-normal.


Tak terasa kini mereka sudah tiba di lobi apartemen.


"Ayo turun." ajak Daniel kepada istrinya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Cling (pintu mulai terbuka)


Daniel masuk terlebih dahulu disusul Shasha.


"Pak, tunggu ..., kenapa saya ikut masuk? apa saya tinggal disini juga?"


"Lalu kamu mau tinggal dimana? tempat kos?"


"Iya, barang-barang saya masih disana."


"Semua barang disana sudah tidak ada."


"Kenapa begitu pak?saya diusir dari sana?"


"Iya kamu diusir. Kamu ingat tidak waktu itu kamu mendapat kabar bahwa ada pencurian di kosan mu?"


"Iya,"


"Kamu tahu kan itu ulah siapa?"


"Om Leon?"

__ADS_1


"Ia, jika kamu bersamaku maka dia tak akan berani menyentuhmu. Dia hanya dendam denganmu."


"Kenapa masalah ini masih berlanjut, lalu sampai kapan saya harus hidup tidak tenang?"


"Entah. Sekarang dengarkan aku. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan. Duduk!" perintah Daniel sambil menunjuk sofa.


Shasha duduk sesuai perintah Daniel.


"Oke, ini waktu yang kutunggu-tunggu. Kamu tahu apa status kita sekarang?"


Shasha hanya melihat Daniel sambil mengangguk.


"Kita menikah tidak didasari rasa cinta, bukan?"


"Pak, tolong ke poinnya saja."


"Baiklah. Aku mau status kita tidak diketahui orang, cukup orang-orang yang hadir di pernikahan kita saja."


"Jason?"


"Dia tahu, tapi aku sudah memintanya untuk bersikap biasa."


"Lalu, kartu identitas kita?"


"Aku belum mengurusnya, jadi status kita masih sama-sama lajang. Status kita menikah hanya tercatat di buku nikah."


"Bapak yakin dengan ucapan bapak?"


"Yakin."


"Kenapa bapak tidak belajar mencintai saya?" tanya Shasha sambil menatap dalam mata Daniel.


"Karena saat ini aku tidak mencintai siapa pun. Aku masih takut menjalin hubungan."


"Kapan saya bilang saya cinta kamu? kamu mulai pandai ngarang ya?" bohong Daniel.


"Oh mungkin saya salah sangka." ucap Shasha kecewa.


"Yasudah itu saja yang ingin aku ucapkan. Masuklah ke kamarmu!"


"Tidak, masih ada yang ingin saya sampaikan."


"Apa? cepat!"


"Saya ingin meluruskan, bahwa saya bukan wanita seperti yang bapak pikir. Saat itu saya masih berumur belasan. Dan sekarang nasib kita sama, sama-sama di khianati oleh pasangan."


"Lalu?"


"Saya berusaha membuka hati untuk mencintai seseorang yang telah menghalalkan saya."


"Itu hak mu mencintaiku."


Shasha tak menjawab apapun ia hanya diam mencoba mengatur nafasnya agar dapat berirama dengan baik saat mendapat tanggapan dingin Daniel.


"Ternyata hati bapak benar-benar kaku ya. Tak apa jika sekarang bapak tak mencintai saya tapi saya yakin suatu saat nanti bapak akan benar-benar mencintai saya." Shasha berbicara dengan nada yakin.


"Kenapa kamu yakin bahwa saya pasti cinta sama kamu?"


Shasha tak menjawab tapi hanya tersenyum.


"Kenapa kamu senyum? saya kan tanya."


"Saya senyum untuk meluluhkan hati bapak. Sebuah karang yang kuat lambat laun akan rapuh karena terkikis ombak."

__ADS_1


"Lalu apa hubungannya dengan saya?"


"Hati bapak yang kuat untuk tidak mencintai saya lambat laun akan terkikis oleh rasa cinta saya."


"Kamu bicara apa, saya gak paham."


"Saat ini bapak belum paham. Baiklah saya kembali ke kamar dulu."


"Oia, kamu mau pernikahan ini bertahan berapa lama?"


Deg


Jantung Shasha berhenti seketika saat mendengar ucapan Daniel. Niat dirinya menggoda Daniel agar sama-sama belajar saling mencintai namun sepertinya harus kandas. Usia pernikahan baru beberapa hari Daniel sudah bertanya demikian.


"Maksud bapak?" Shasha berhenti tak melanjutkan langkahnya.


"Iya kamu ingin pernikahan yang sembunyi-sembunyi ini bertahan berapa lama?"


"Apa ini pertanyaan yang harus di jawab?"


"Ya, jika kamu sudah menemukan jawabannya."


"Pak, apa kata ijab qobul yang bapak ucapkan di depan kedua orang tua kita dan para saksi serta disaksikan oleh Allah dan malaikat sama sekali tidak menyentuh hati bapak?"


"Tidak."


"Artinya apa yang bapak ucapkan itu main-main?"


"Ya, semua itu main-main. Semuanya ada karena terpaksa. Persiapan yang mendadak itu dipersiapkan oleh orangtua ku bukan semata-mata inisiatif diriku. Aku sengaja mempercepat pernikahan agar tak ada tamu yang diundang sehingga tak akan ada banyak orang yang tahu jika kita sudah menikah."


"Berarti saya hanya mainan bapak?!" bentak Shasha karena terbawa suasana.


"Kenapa sekarang kamu membentak saya?


"Maaf."


"Aku bertanya kembali, kamu mau pernikahan ini bertahan berapa lama?"


"Bapak maunya?"


"Terserah kamu, kamu yang memutuskan dan selama kita seatap tak perlu mencampuri urusan masing-masing."


"Oke. Saya kedalam dulu." ucap Shasha tanpa melihat wajah Daniel karena dia benar-benar kecewa.


"Tunggu, ada satu lagi untuk nafkah aku akan tetap bertanggung jawab."


Shasha tertegun mendengar pernyataan Daniel bahwa dia akan bertanggung jawab untuk nafkah. Bagiamana bisa ia sanggup melakukan itu saat semuanya hanya didasari kepalsuan.


"Nafkah apa pak? perjelas pernyataan bapak. Jika yang bapak maksud adalah nafkah lahir saya akan menerimanya tapi untuk nafkah batin saya keberatan. Saya tidak mau benih yang ada di perut saya nanti akan tumbuh hanya dengan satu cinta." ucap Shasha berani lalu pergi meninggalkan Daniel yang dibuat berfikir atas ucapan Shasha.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah fakta dan pembicaraannya dengan Daniel ia merasa lemas. Kepercayaan dirinya seakan runtuh. Bagaiamana tidak seorang siswi populer saat sekolah hingga kuliah dimana kecantikan dan kepintarannya begitu dihargai dan disanjung kini harus jatuh oleh kehadiran seorang lelaki yang menikahinya hanya sebatas hutang budi dan keterpaksaan.


'Apakah ini karma kedua yang aku terima? Aku minta maaf Dion!!! Hanya kamu lelaki ketiga yang menghargai aku, yang mencintaiku, yang menjagaku. Perlakuan mu begitu istimewa, kamu seperti ayah dan kak Erza. Aku menyesal Dion. Aku minta maaf!!!' batin Shasha sambil ia menutupi tangisnya dengan bantal.


to be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak

__ADS_1


__ADS_2