TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 103. EFEK LEMBUR.


__ADS_3

Menunggu Shasha yang belum datang membuat perasaan Daniel tak karuan. Rasa khawatir dan juga kesal ada pada dirinya.


"Sungguh keterlaluan, sudah jam berapa ini!" kesal Daniel sambil melihat jam yang ada ditangannya. Sedari tadi kakinya ia gerak-gerakkan pertanda ia sudah mulai bosan menunggu.


Kaki yang ia gerak-gerakkan sedari tadi membuat dirinya lelah, bosan dengan duduk ia mulai berdiri dari tempat duduknya. Berulang kali ia melihat ke arah pintu berharap pujaan hatinya akan segera datang. Namun tanda-tanda itu tak kunjung datang. Sebenarnya ia tahu bahwa tak ada yang terjadi pada Shasha karena ia pernah menyuruh anak buahnya agar menjaga Shasha dan memerintahkan untuk menghubungi dirinya jika terjadi apa-apa pada istrinya itu.


Berulang kali ia melihat ponselnya tak ada yang berdering artinya Shasha aman, namun yang dirinya khawatirkan adalah apa yang sedang dilakukan Shasha mengapa sudah lewat dari jam sembilan malam tak kunjung tiba.


Kemana dia pergi? Apa dia lupa alamat apartemen ini?


Memikirkan Shasha yang tak kunjung datang membuat perutnya lapar, segera ia berjalan menuju ke dapur. Dirinya lupa bahwa selama ini masakan selalu tersedia setelah kehadiran Shasha, sebelumnya ia selalu memesan makanan untuk makan malam.


Kosong! Kosong! Terakhir kamu masak pagi tadi artinya kamu meninggalkan apartemen cukup lama. Kemana sih, apa gue minta no handphonenya ya?


Ah gak ah, biar dia saja yang minta nomorku.


Melihat tak ada makanan Daniel pun hendak kembali ke ruang tamu, namun pandangan matanya tertuju pada sebuah buket bunga yang sedikit terlihat kusut.


Bukannya ini bunga yang kemarin ya? Kenapa bisa ada disini?”


Bunga dari siapa ini sebenarnya, kenapa setelah ia menerima bunga sekarang ia jadi tak ada dirumah. Jangan-jangan ia sedang berpergian dengan si pengirim bunga!


Daniel yang emosi segera mengambil bunga dari dalam vas lalu hendak dibuangnya. Namun saat dirinya hendak membuang ia melihat ada sebuah kertas.


“Kertas apa ini?” sambil membolak-balikkan kertas tersebut. Ternyata itu adalah kertas dari si pengirim. Daniel membacanya dengan geram.


Hatinya yang mendidih membuat Daniel berfikir tak jernih. Ia mulai menelfon Johan.


Johan : "Halo, apaan sih? Jam segini jadwal gue pacaran, Niel."


Daniel : "Iya tahu, tapi gue butuh pencerahan.”


Johan : “Pencerahan apa? Bukannya wajah lu uda cerah glowing.”


Daniel : “Aduh Joko, gue gak lagi bercanda. Gue mau lu cari tahu siapa pengirim bunga untuk Shasha.”


Johan “ Lu selalu begitu Niel, gue cari tahunya dari mana Kuda Niel?”


Daniel : “Ya gimana gitu caranya. Lu harus cari tahu kenapa lu jadi gak encer sih dan harus tanya ke gue!”


Johan : “Lha apa bedanya sama lu. Kayak lu gak aja. Otakku kita sama-sama gak encer saat itu berhubungan dengan masalah hati dan perasaan.” Sekarang buruan lu foto bunga itu!”


Segera Daniel memfoto bunga tersebut tanpa tahu maksud dari Johan apa. Setelah memfoto dan dikirimkan kepada Johan, tak sampai lima menit Johan membalas pesan Daniel.


Johan : “Lu nge-foto apa Niel? Foto lebih jelas dunk! Lu lihat ada kertas lu foto itu!”


Daniel pun menuruti ucapan Johan. Sambil mengirimkan foto Daniel membaca melihat nama toko bunga tersebut.


Daniel : “ Jo, tuh alamat toko bunganya udah gue fotoin.”


Johan “ Oke.”

__ADS_1


Daniel : “Berani-beraninya dia kirim bunga ke istri gue!”


Johan : "Kenapa si Niel, kan hanya bunga. Yang penting lu kan punya hati dan raganya."


Daniel : "Gak Jo, gue harus tahu siapa pengirim itu. Bagaiamana jika dia terus-terusan akan kirim sesuatu?"


Johan : "Ya diterima."


Daniel : "Sinting lu! yang ada ia makin berharap nanti."


Johan : " Iya-iya nanti gue cari tahu."


Setalah mengirimkan foto, Johan dan Daniel menutup pembicaraan mereka. Daniel yang tak suka dengan kehadiran bunga itu segera ia membuangnya.


Daniel yang awalnya lapar kini sudah berubah menjadi kenyang. Ia pun kembali ke ruang tamu, sambil menunggu Shasha ia menamarinkan lampu ruang tamu sambil merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Daniel sengaja menunggu SHasha di sofa ruang tamu tersebut .


.


.


Tepat pukul 10.30 malam di Apartemen Daniel,


Shasha mulai memasuki pintu, Daniel yang melihat bahwa Shasha sudah masuk dan melepas sepatunya.


“Darimana kamu? Kenapa jam segini baru datang?” ucap Daniel dalam suasana lampu yang tamarin.


Mendengar suara yang ia kenal membuat Shasha mencarI sumber suaranya.


“Bapak? Kenapa ada disini?” tanya Shasha sedikit ragu.


“Maaf saya tadi lembur, pak.”


“Lembur? Sejak kapan kamu mulai bekerja?”


“Baru hari ini, pak.”


“Belum sampai sehari kamu sudah disuruh ikut lembur. Atasan macam apa itu!”


“Shasha yang mau, pak. Untung-untung sambil belajar.”


Mendengar ucapan Shasha membuat Daniel teringat akan masa lalunya. Disaat ia masih menyamar menjadi pegawai OB. Dirinya selalu berangkat pagi dan pulang larut malam.


“Jangan kamu lanjutkan kerja disana!”


“Maksud bapak?”


“Jika kamu tak bisa membagi waktu antara bekerja dan pekerjaan dirumah lebih baik kamu keluar hari ini saja!”


Mendengar ucapan Daniel yang seenaknya membuat Shasha geram.


“Apa hak bapak menyuruh saya berhenti? Lagipula buat apa saya harus menuruti ucapan Bapak?”

__ADS_1


“Karena kamu istri saya dan saya suami kamu”


“Hah, apa saya tak salah dengar pak.” Ucap Shasha sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Daniel.


“Kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataan saya?”


“Ya. Bapak lupa jika Bapak yang bilang bahwa status kita hanya sebatas di buku nikah. Lagipula saya bekerja karena ingin memenuhi kehidupan saya sendiri. Bapak lupa ya selama kita menikah tak sama sekali uang belanja ku dapat.”


“Oh,,jadi kamu ingin uang belanja. Itu mudah. Aku akan memberinya berkali-kali lipat dari gaji-mu yang sekarang. Beritahu aku berapa gaji yang kamu dapat?”


“Tidak, aku tak mau hanya berdiam diri disini, lagipula buat apa saya harus terkurung di apartemen ini dengan status pernikahan yang tak jelas.”


Mendengar ucapan Shasha yang mulai berani membuat Daniel berfikir akan lebih baik jika ia tak membuat Shasha emosi berlebihan dan yang harus ia lakukan seharusnya membuat Shasha jatuh cinta dengan caranya.


“Baiklah aku akan membuat pernikahan ini jelas.”


“Maksudnya?”


“Mulai saat ini kamu harus menuruti semua aturan-ku.”


“Menuruti aturan? Saya kurang paham maksud bapak,”


“Kita mulai dari cara kita saling memanggil. Mulai saat ini jangan pernah memanggil saya dengan sebutan PAK. Kamu harus memanggilku dengan panggilan termanis dan yang belum pernah dipanggil oleh orang lain kepadaku.”


“Saya gak tahu harus panggil apa. Bagaimana jika saya tak mau.”


“Terserah kamu, kamu pilih dapat terus bekerja atau berdiam diri di sini.”


“Oke. Itu saja?”


“Sementara itu dulu.”


“Lalu bagaimana jika kita berada diluar?”


“Jika berada diluar kita pura-pura tak kenal namun jika berada dilingkungan keluarga kita posisikan sama seperti sekarang.” “Mulai saat ini aku akan memberimu uang belanja.” Sambil mengeluarkan kartu black card dan kartu lainnya dari dalam dompetnya.


Shasha tak tahu jika kartu yang dikeluarkan Daniel memilki banyak keuntungan.


“Kartu black card kamu gunakan untuk belanja keperluan-mu dan untuk kartu lainnya gunakan untuk membeli kebutuhan bulanan.”


Shasha heran apa yang sebenarnya terjadi dengan suami diatas kertasnya, kenapa tiba-tiba sikapnya berubah menjadi lebih baik dan sedikit hangat.


Gue gak salah masuk apartemen kan? Ini benar kan apartemen no XXX. Kenapa penghuninya jadai lebih ramah dan baik ya? Hahahaha sering-sering aja gue lembur.


.


.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak


__ADS_2