TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 94. KEDATANGAN ASIA


__ADS_3

Dalam lelah Daniel terlelap. Badannya yang capek karena seharian harus mengikuti semua kemauan gila Asia. Bahkan dalam sehari ia harus menggesek tabungannya dengan total nominal ratusan juta hanya untuk menuruti semua kemauan wanita tersebut.


Sebenarnya ia tak rela menghamburkan uang hanya untuk membeli sesuatu yang tak terlalu penting, terlebih lagi barang yang dibeli itu adalah milik wanita yang pernah menyakiti dirinya. Rasa jengkel dan marah bercampur jadi satu menyelimuti dirinya ingin ia luapkan namun tak bisa hingga akhirnya terbawa ke alam bawa sadarnya.


"Dasar wanita racun! Lubang buaya! Kamu pikir siapa dirimu! " teriak Daniel.


Daniel terbangun, "Ah ternyata tidak nyata, andai saja nyata mungkin lebih puas aku menghina nya.” ujarnya sambil membetulkan dirinya untuk duduk dan melihat jam yang menempel pada dindingnya.


Setelah sadar dari mimpi yang menjengkelkan segera dirinya berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap berangkat ke kantor. Seperti biasanya selesai mandi ia segera menuju ke ruang wardrobe.


Memasuki ruang wardrobe ia melihat set baju kantor yang sudah disiapkan Shasha untuk dirinya.


“Hari ini nuansa merah maroon. Sepertinya suasana hatimu sama denganku." sambil mengunakan pakaiannya ia masih memikirkan ada apa dengan Shasha mengapa sikapnya aneh. "Tunggu! aku rasa sikapnya berubah setelah pulang dari hotel, apa dia bertemu dengan Abra? atau ia mengetahui jika Abra dan kekasihnya akan menikah?" tanya Daniel dalam hati.


Saat dirinya sedang mengancingkan dan merapikan baju mata Daniel menatap ke sebuah lemari tempat baju Shasha. Lemari itu menjadi saksi dimana dirinya dan Shasha sedang bersandar, bercerita di kegelapan sambil menunggu nyalanya lampu. Saat itu banyak yang mereka bicarakan, sebuah obrolan santai nan receh.a


Pada malam itu adalah awal pertama dirinya merasakan ketertarikan yang tak biasa karena ulah istri diatas kertasnya itu. Dia merasakan sentuhan Shasha benar-benar membuat candu bagi dirinya. Dirinya tahu bahwa sentuhan tersebut adalah ketidaksengajaan yang dilakukan Shasha terhadap dirinya.


Shasha yang tak sengaja meraba sesuatu hingga membuat Daniel diam, namun tidak dengan Shasha. Shasha tahu jika yang dipegangnya adalah sebuah ular kepemilikan nya. Suasana pun menjadi canggung. Beruntung saat itu kondisi mati lampu sehingga masing-masing tak dapat melihat ekspresi keduanya. Sibuk dengan pikiran masing-masing hingga mereka pun tertidur.


“Kemana istriku? Kenapa aku tak mendengar suara peralatan dapur bergoyang?” sambil menyemprotkan minyak wangi ke pakaiannya dan bersolek. Daniel tak sadar jika baru saja dia menyebut Shasha dengan panggilan istriku.


Selesai mengenakan pakaian segera ia mengambil aksesoris jam tangan dan memakainya. Selanjutnya ia bersiap keluar untuk mengintip keberadaan Shasha.


Tunggu-tunggu, kenapa dari pagi sampai sekarang aku memikirkannya? Ada apa denganku? Apa benar aku mulai memikirkan dan bergantung padanya?


Daniel keluar berharap bisa melihat Shasha. Dicarinya di dapur tak ada, kamar mandi pun sama.


“Kemana dia? Masa iya dia sedang tidur?" sambil melihat jam di tangannya. "Kira-kira bagaimana kondisi tangannya?” tanya Daniel sambil melangkahkan kakinya ke kamar Shasha untuk mengetuk.


Tok!


Tok!


Tok!


“Sha, buka pintunya,” panggil Daniel dengan nada halus. "Kenapa nada suaraku jadi aneh begini?" tanya nya dengan nada heran. "Ah sudahlah, mungkin dia sedang tidur."


Tak ada jawaban dari Shasha Daniel pun segera menuju ke dapur untuk menikmati makan pagi yang sudah disiapkan istrinya itu.


“Enak juga masakannya, pantas Johan dan Jason bisa habis tak tersisa.”


Daniel yang begitu lahap tak menyadari jika Johan sudah masuk kedalam.


“Daniel …..” teriak Johan.


“Apaan sih, suaramu bisa dikecilin gak?”


“Oke. Gue kecilin,” Johan berbisik ditelinga Daniel, ia sengaja menggoda Daniel karena menyuruhnya untuk berbicara pelan.


“Shit, lu sinting ya. Ngapain bisik-bisik ditelinga gue! Najis tau!"

__ADS_1


“Idih gaya, bilang najis. Mentang-mentang uda nikah bicara lu belagu! , bukannya lu yang bilang bicara pelan-pelan,” goda Johan.


“Iya pelan bukan berarti berbisik bapak JOHAN yan ter jengkelin,”ucap Daniel sambil menekankan kata jengkel.


"Kemana Shasha?"


"Ngapain lu cari istri gue."


"Ciye, istri. Sudah sayang ternyata."


"Cepat bilang ada perlu apa lu sama bini gue."


"Ganti sekarang, dari istri jadi bini nanti berubah lagi jadi ayang, yayang, Bebeb."


"Alay. Dasar tua-tua alay."


"Hahahha, gue mau ketemu Shasha mau tanya apa Secil suka ma gue?" tanya Johan asal.


"Kenapa lu tanya nya ke bini gue?"


"Ya kan bini lu sahabat dia, calon gebetan gue."


"Harusnya lu tanya dia langsung. Bukan malah tanya ke bini gue."


"Niel, ini apa?" sambil mengambil dan membuka isi dari kertas yang tertempel pada kulkas.


"Apaan?" Daniel bertanya sambil fokus ke makanan yang dia makan.


"Cap bibir siapa ini? Kenapa inisialnya R" sambil menunjukkan kertas bercap bibir kepada Daniel.


Daniel beranjak berdiri menuju ke kamar Shasha.


"Sha, buka. Ini kertas kamu dapat darimana?" sambil mengetuk pintu.


Tak mendengar balasan dari Shasha kembali Daniel mengetuk dan memanggil Shasha.


Sudah berulang kali dan ini adalah kedua kalinya Daniel mengetuk namun tak ada jawaban.


"Niel, lu dari tadi teriak-teriak mirip Tarsan." sambil menghampiri Daniel yang berada di depan kamar Shasha.


Tanpa rasa apapun Johan memegang handel pintu dan pintu pun terbuka.


"Gak dikunci Daniel. Percuma dari tadi lu teriak-teriak."


"Kemana dia?" ucap mereka bersamaan.


"Mungkin dia sedang keluar Niel."


"Iya mungkin saja." sambil keluar dari kamar Shasha.


"Wanita sinting siapa yang lu maksud." tanya Johan.

__ADS_1


"Udahlah malas gue bicara hal yang tak penting." "Jo, ngomong soal wanita sinting ada wanita yang tak kalah sinting."


"Siapa?"


"Asia."


"What?" sambil menelan air yang barusan diminumnya. "Maksud lu, si model panas mantan kekasih lu." Johan mempertegas ucapannya.


"Iya dia menemuiku"


"Dia menemuimu? artinya dia disini. Apa Shasha tahu jika dia ada disini?" tanya Johan sambil makan sarapan yang ada dimeja. "Kenapa dia tiba-tiba datang setelah sekian lama." lanjut Johan penasaran.


"Tidak."


"Kenapa? Apa dia mengancam mu?"


"Iya. Dia memegang kartu AS-ku."


"Apa?"


"Dia memiliki video itu, dan dia mengancam akan merusak karirku. Kamu tahu bukan bagaimana perjuangan ku mendapat kepercayaan dari Dady?"


"Apa lu percaya jika video itu ada?"


"Gue belum melihat videonya."


"Terus, lu percaya jika video itu ada?"


"Entah, yang jelas aku takut jika sampai tersebar maka aku tak tahu harus memulai lagi darimana. Saat ini aku bukan lagi seorang diri, ada Shasha dan keluarganya yang harus aku jaga."


“Sepertinya dia sudah membuka hati untuk Shasha,” batin Johan sambil memandang Johan.


“Kalau gitu lu harus cerita ke Shasha soal kedatangan Asia, setidaknya agar dia tak salah paham.”


“Tidak, aku tak mau Shasha tahu masa laluku. Aku malu." ujar Daniel. "Apalagi jika sampai Shasha tahu alasanku tak menolak ajakan Asia gara-gara video itu. Aku tak ingin sampai Shasha tahu terlebih Asia adalah anak dari Leon.”


“Menurutku tak akan ada yang berbeda dari Shasha jika lu jujur.” “Shasha tipe wanita yang selalu menerima kekurangan pasangannya. Namun dia akan kecewa jika kepercayaannya disalahgunakan.”


“Lalu apa yang harus gue lakuin? Gue sendiri tak bisa memastikan video tersebut.” tanya Daniel yang tak sabar mendengar saran dari Johan.


“Gue akan cari tahu. Karena setahu gue hanya gue yang punya video antara lu dan Asia.”


“Maksudnya?”


.


.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak


__ADS_2