
Setelah pembicaraannya dengan Daniel tadi pagi di wardrobe, Shasha merasa lega setidaknya suaminya itu tidak tidur sekamar dengan wanita lain selain dirinya. Dan sebelum dirinya berangkat ternyata Johan sudah berada di apartemen. Artinya, saat ini mereka tidak berduaan melainkan bertiga bersama Johan. Lega rasanya jika harus pergi bekerja tanpa adanya beban yang terlalu berat.
Seperti biasa ia pergi bekerja menggunakan bus way, ia selalu berjalan kaki menuju ke halte bus yang jaraknya tidak terlalu jauh namun memang membutuhkan tenaga untuk mencapai kesana. Selama berjalan kaki tanpa Shasha sadari jika ada seseorang yang sedari tadi mengikuti langkahnya. Shasha tak mengetahui jika langkah seseorang dibelakangnya itu membahayakan dirinya. Langkahnya Shasha terhenti kala namanya dipanggil oleh seseorang yang dia kenal.
“Sha!” teriak suara wanita yang tidak asing di telinganya. Rachel melambaikan tangannya ke arah Shasha.
Mendengar namanya di panggil, segera ia menoleh dan mendatangi sumber suara dengan berbelok. Seorang wanita di depan Shasha tiba-tiba terjatuh sesaat setelah ditabrak oleh seseorang yang berada di belakang tadi.
Beberapa dari mereka yang berada di sekitar tak mengetahui siapa yang menusuk wanita yang sekarang sedang tergeletak lemas sambil mengeluarkan darah yang keluar dari perutnya. Shasha tak kuasa melihat kejadian itu.
Apa sebenarnya pisau itu diarahkan ke aku?
Beruntung Rachel memanggilku sehingga wanita inilah yang menjadi korban.
Kenapa hidupku menjadi tidak tenang, andai saja om Leon menyadari jika semuanya ini berasal dari kesalahan yang dia lakukan sendiri.
“Sha! Lu bengong?” sambil mengibas-mengibaskan tangannya ke mata Shasha.
“I-i-iya, kasihan wanita itu,”
“Iya, yang penting sekarang dia sudah di tolong. Lu kemarin kemana, sih?”
“Kamu antar makanan ya?”
“Hem, gue ketemu wanita gila. Siapa sih dia? Apa dia istri pak Daniel?” tanya Rachel.
“Maaf aku gak bisa jawab. Oia aku buru-buru nih mau berangkat soalnya harus mampir ke laundy di sana.”
“Baiklah, hati-hati ya.”
Shasha pun melanjutkan langkahnya melewati TKP (Tempat Kejadian Perkara) tadi. Jujur rasanya dia takut dengan kejadian tersebut. Selama berjalan tak henti-henti dia berdoa.
Sebelum menuju ke halte Shasha mampir di toko laundry untuk mencuci beberapa baju hariannya termasuk baju milik Dion yang beberapa hari lalu ia pakai saat kehujanan. Selesai menuju laundry ia pun bergegas berjalan sampai naik ke dalam busway tujuannya.
**
Tepat pukul delapan Shasha tiba di kantor, artinya hari ini ia terlambat karena adanya kejadian tadi ditambah dengan jalanan yang begitu padat jika hari Senin tiba.
__ADS_1
Dengan langkah panjang ia segera masuk ke dalam kantor sambil tersenyum ke arah pak Mukit. Melihat itu pak Mukit membalasnya dengan senyum sumringahnya. Saat masuk, Shasha melihat lift yang terbuka, ia yang merupakan anak baru dan tak membaca jika lift tersebut di khususkan untuk direktur dan CEO.
Dengan nafas terengah-engah ia masuk ke dalam lift lalu mengikat rambutnya untuk mengurangi rasa panas karena ulahnya yang lari-larian setelah keluar dari bus tadi.
“Kenapa baru datang?” tanya seseorang dengan suara yang ia kenal.
Shasha pun menoleh ke sumber suara, “Karena baru sampai.” Jawab Shasha enteng.
Shasha masih tak tahu jika seorang yang diajaknya berbicara adalah CEO di perusahaan. Mendengar jawaban tersebut Dion hanya tersenyum tak menyangka jika mantan pacarnya itu masih saja memiliki sifat cuek kepada seseorang yang dianggapnya asing.
“Kamu masih sama seperti yang dulu, selalu cuek kepada orang asing.”
Shasha masih tak memperdulikan ucapan Dion, dirinya hanya fokus kepada jalannya lift.
“Bukannya kita pernah menjalin hubungan? Harusnya kan sikap mu tidak cuek seperti it-“
Perkataan Dion terhenti saat pintu lift terbuka dan Shasha keluar lebih dahulu.
Dion sengaja tak ikut keluar meski lantai mereka berada ditempat yang sama. Dirinya memilih menekan tombol turun.
“Kita turun lagi?” tanya Riko heran.
“Bukannya dia wanita yang kapan hari itu? Gue rasa dia anak baru. Bos suka sama dia?”
“Menurut lu?.”
“Suka. Tapi apa kurangmu Bos, harusnya dia bersyukur dicintai lelaki tampan, tajir seperti bos. Bahkan dia cendrung cuek. Jangan-jangan dia sudah nikah?”
“Nikah? Apa wanita sudah menikah selalu seperti itu?” tanya Dion kaget.
“Nanti aja, saya jawab. Ayo masuk. Nanti om Brata marah sama Bos gara-gara datang terlambat.
Keluar dari lift segera Dion dan Riko masuk ke ruangannya, Saat berjalan melewati ruangan Shasha Dion dapat melihat gadis pujaan itu sedang duduk sambil mengetik.
Kecantikan mu tak pernah pudar, Cha. Aku mencintaimu dari dulu hingga sekarang.
Semoga kali ini rasa cintaku terbalas dan rasa ketakutan tak menjadi kenyataan.
__ADS_1
Aku ingin kita menikah dan memiliki anak dari Rahim mu.
**
Siang hari, disebuah ruangan yang cukup besar duduk seorang lelaki dengan wajahnya yang berantakan, wajah yang berbanding terbalik dengan keadaan pagi tadi sebelum fakta itu sampai ditelinganya.
Lelaki itu adalah Dion, dia tak kuasa menahan amarah saat ia mengetahui sebuah fakta dari asistennya bahwa wanita yang dicintainya selama ini ternyata sudah menikah. Awalnya ia mengira jika itu hanya sebuah kesalahan, namun ternyata itu adalah sebuah fakta yang nyata.
Emosi yang merasuki jiwanya tak dapat terbendung saat beberapa gambar foto pernikahan dengan senyum lepas terpancar dari wanita pujaannya tersebut. Wajah merah penuh amarah tanpa permisi hampir menghipnotis jiwa raganya namun itu semua sirna saat ia memilih untuk menghirup nafas dalam-dalam untuk membuat dirinya tenang.
Dirasa hatinya sudah merasa tenang, ia pun pergi ke sebuah ruangan tersembunyi yang berada di balik ruang kerjanya. Disana ada sebuah tempat tidur yang dapat dia gunakan jika pikirannya sedang tak tenang atau lelah.
Di kamar ini Dion meratapi nasibnya mengapa wanita yang dicintainya dari dulu sampai sekarang tak dapat ia miliki. Padahal baru beberapa hari kemarin hatinya merasa bahagia saat bisa melihat Shasha di tempat yang sama dengannya, bahkan saat itu ia mengira bahwa mereka benar-benar ditakdirkan bertemu dan menganggap bahwa Shasha adalah belahan jiwanya.
Pernikahan Shasha dengan seorang pengusaha terkenal membuat Dion kembali merasakan kesal dan emosi. Dion tak tahu harus bagaiamana mengatasi rasa kesalnya. Bayangan masa lalu tentang penghianatan yang pernah Shasha lakukan mau tak mau mulai merajai ingatannya kembali padahal setelah ia mengetahui alasan mengapa Shasha memutuskan dirinya sudah ia simpan rapat-rapat dan dianggapnya sebagai hal wajar.
Hembusan nafas berat nan panjang membuat dirinya harus berdiri meninggalkan tempat duduk menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar emosinya menjadi
Lelah berteriak, Dion pun pergi menuju kamar mandi dan hendak mencuci mukanya sambil berteriak dan membuat kaca pada tempat wastafelnya menjadi pecah berantakan karena bogem mentah dari tangan kekar Dion.
"Arghhhhhh! Kenapa kamu tega membohongiku kenapa tidak kamu ucapkan jika kamu sudah menikah!" teriak Dion
Pyar! (suara kaca yang pecah)
Darah segar keluar dari pergelangan tangannya. Baginya ini tak seberapa, rasa sakit yang ia rasakan bukan pada pergelangan tangan melainkan pada hatinya yang kecewa.
Tanpa banyak bicara ia melepas pakaiannya lalu dibungkus nyaa bekas luka tersebut. Dengan penuh cekatan Dion merawat dirinya sendiri sampai bekas buka tersebut tak terlihat atau samar.
Meski marah dan kecewa namun Dion masih memikirkan perasaan Shasha dan menyalahkan dirinya sendiri.
Tidak, Shasha tidak salah yang salah adalah aku. Aku yang tidak bertanya dengan bagaiamana kabarnya setelah kami berpisah bahkan aku tidak bertanya apa statusnya saat ini.
.
.
To be continued.
__ADS_1
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...