
Pagi telah tiba, Rianda yang sedari malam tak dapat tidur dengan nyenyak kini masih tertidur pulas di dekat Shasha. Dirinya terbangun saat mendengar suara ponsel miliknya yang ia simpan di atas nakas tempat tidur. Suara alarm yang kencang membuat Rianda bangun seketika namun tidak dengan Shasha.
"Hoam .... Kenapa tidurnya awet betul? Dia tidur atau pingsan sih?" ucap Rianda sambil menguap.
Rianda mencoba melihat jam yang ada di tangannya bahwa jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Lebih baik aku tinggal mandi saja, siapa tahu dia akan bangun." ucapnya lirih sambil mencoba melangkahkan kakinya keluar dari tempat tidur.
Kurang lebih setengah jam dia membersihkan badannya. Saat keluar dari kamar mandi Ia masih melihat Shasha tidur dengan pulasnya.
Dasar anak gadis, kenapa jam segini masih belum bangun?
Ini tidur? bertapa? atau pingsan sih?
Ah biarkan saja dulu kita tunggu sampai beberapa menit lagi. Aku yakin jika lapar dia pasti akan bangun.
Rianda mencoba mengambil ponselnya yang habis dia cas, dilihatnya ponsel tersebut ternyata ada sebuah pesan masuk.
Dion : "Apa sekertaris ku sudah bangun?"
Rinda : "Belum pak."
"Ehem sekertaris? Kenapa, gak langsung tanya Apa Shasha sudah bangun?" celoteh Rianda.
Dion : "Apa dia semalam tidur nyenyak?"
Rianda : "Nyenyak sekali, bahkan terdengar suara dengkuran."
Dion yang membaca pesan itu tersenyum, dia ingat ketika Shasha tertidur di dalam mobil. Saat itu mereka sedang dalam perjalanan hendak menonton pertandingan basket favorit Dion. Melihat Shasha tertidur begitu pulas sambil bersuara mendengkur membuat Dion enggan membangunkan Shasha yang saat itu sudah sampai di tempat pertandingan dan ia memilih untuk membawa mobilnya menuju ke sebuah Danau agar saat kekasihnya itu bangun Shasha dapat melihat pemandangan yang begitu indah.
Kini Dion kembali tersadar dari lamunannya. Ia pun kembali mengetik pesan kepada Rianda.
Dion : "Apa sekarang masih mendengkur?"
Rianda : "Sudah tidak. Tapi kapan dia akan bangun pak?"
Dion : "Sebentar lagi."
Rianda : "Bagaimana jika dia banyak pertanyaan?"
Dion : "Kamu jawab saja seadanya."
Beberapa menit kemudian sesuai prediksi, Shasha pun sadar. Dirinya mulai membuka mata sambil menguap, selanjutnya ia membelalakkan matanya kaget, melihat keadaan sekitarnya.
"Dimana aku?" tanya Shasha lirih.
"Kamu masih di dunia, dan dosa-dosa mu masih banyak." ucap Rianda dengan membesarkan suaranya seperti suara raksasa.
Shasha kaget, mendengar suara besar yang dibuat-buat, Ia pun menoleh kesamping dan melihat seseorang yang menutupi rambutnya dengan bed cover.
Shasha yang baru bangun masih belum begitu jelas melihat siapa yang bersembunyi di balik bed cover tersebut.
"Kak Erza?" tanya Shasha sambil berteriak.
"Hahaha bukan, aku Rianda." ucap Rianda sambil terkekeh.
"Dimana kakak ku? kenapa aku tiba-tiba berada disini?"
Belum sempat Rianda menjawab pertanyaan Shasha terdengar suara ketukan pintu. Segera dia mengintip dari sebuah monitor kecil yang terpasang didekat pintu sehingga dapat melihat siapa yang datang. Dilihatnya orang dari balik pintu tersebut adalah bosnya dengan wajah tak biasa. Segera ia membuka pintu itu.
"Pak Dion, kenapa wajah bapak -"
Pertanyaan Rianda berhenti saat Dion memberinya isyarat dengan menaikkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya.
Rianda hanya mengangguk dan mempersilakan bosnya itu masuk.
"Kamu sudah sadar?" tanya Dion dengan menutup separuh wajahnya menggunakan masker.
"Dion?? Apa lelaki semalam itu kamu?"
"Tidak, aku baru saja sampai?" bohong Dion.
__ADS_1
Shasha tak percaya dengan ucapan Dion, segera Shasha beranjak dari tempat tidur dan mendekati mantan kekasihnya itu.
"Aku yakin lelaki itu kamu?" batin Shasha. Dia mengingat bau parfum yang selalu dipakai oleh Dion, aroma Woody yang masih menempel pada Hoddy semalam dan kini tanpa sadar sedang digunakan olehnya.
"Kenapa kamu melakukannya? Gara-gara kamu aku yakin kak Erza sekarang marah."
"Gak ada kak Erza disana, ini semua jebakan Sha."
"Maksudnya apa? Berarti benar lelaki yang tiba-tiba menyuntikku itu kamu?" tanya Shasha yang masih mengingat beberapa bagian peristiwa semalam yang terjadi kepadanya.
"Iya aku dan itu semua aku lakukan karena ingin menolongmu."
"Menolongku untuk apa?"
"Ini semua berawal dari lelaki yang datang ke kantor dan mengaku jika itu Kak Erza. Lelaki itu bukan kakak mu yang sesungguhnya. Dia hanya dibuat mirip."
"Bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya?"
"Awalnya aku mengira wanita itu tapi sepertinya bukan."
"Lalu bagaimana keadaan Daniel sekarang? Saat itu aku juga menyuruh nya untuk masuk ke kamar itu."
Mendengar nama Daniel disebut oleh wanita yang dicintai membuat Dion merasa cemburu dan sakit. Dia tak menyangka jika Shasha akan mengkhawatirkan Daniel.
Rianda yang paham dengan situasi ini segera meneriaki Shasha dan membuka masker yang menutupi wajah Dion.
"Shasha! Kamu lihat wajah Dion sekarang." teriak Rianda yang membuat Shasha kaget tak percaya.
"Kamu kenapa?" tanya Shasha panik sambil reflek memegang wajah Dion yang masih lebam.
Dion menampik jari Shasha yang hendak menyentuhnya.
"Jangan! aku hanya terpeleset."
Shasha yang tak percaya justru sebaliknya, ia menampik balik tangan Dion yang menutupi wajahnya.
"Kamu kenapa?" dengan wajah panik Shasha bertanya.
"Aku tak apa. Jika kalian ingin pulang segera pulanglah. Keadaan sudah aman." ucap Dion dengan membuang muka tidak seperti kemarin saat Rianda melihat begitu hangatnya tatapan bosnya itu kepada wanita yang kini menjadi sahabatnya.
Rianda tahu jika bosnya itu sedang kecewa, segera ia mengantar Dion menuju ke bibir pintu.
"Pak, are you okay?"
Dion tak menjawab pertanyaan Rianda, namun ia bertanya pertanyaan lainnya.
"Aku memberi kalian berdua cuti hari ini. Kalian tak perlu khawatir anak buah ku berjaga disekitar, aku pamit dulu."
Rianda yang mengantar kepergian Dion merasakan kekecewaan yang dialami bosnya itu. Kini dia menghampiri Shasha yang merasa bingung dengan apa yang telah terjadi semalam.
"Sha, maafkan aku jika aku lancang. Aku tahu, kamu sudah menikah tapi tolong jangan menyakiti perasaan seseorang yang telah menyelamatkan mu dan mengkhawatirkan dirimu."
"Aku menyakiti siapa,kak?"
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Dion itu masih mencintaimu."
"Aku tahu, makanya aku ingin membatasi diri agar dia tak terlalu mencintaiku, karena aku sudah menikah."
"Tapi, bukannya kamu ingin berpisah dengannya?"
"Iya, namun aku belum berfikir dengan siapa nanti setelah aku berpisah."
"Aku harap kamu akan mempertimbangkan dia. Kamu tidak tahu bagaimana Dion memperlakukan mu dan betapa khawatirnya, dia saat kamu pingsan."
"Yang membuat ku pingsan, dia kan? Pantas saja dia khawatir."
"Jangan kamu lihat siapa yang membuat mu pingsan tapi kamu harus lihat bagaimana usaha dia menyelamatkan mu dan Daniel."
"Memang apa yang sebenarnya terjadi?"
Rianda pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi termasuk dia dan Riko yang dilibatkan oleh Dion. Mendengar cerita tersebut membuat Shasha merasa ingin bertemu dengan mantan kekasihnya itu dan meminta maaf karena tidak mengapresiasi tindakan berani yang telah dilakukan oleh Dion kepada dirinya dan juga Daniel.
__ADS_1
"Menurut kakak, siapa ya yang melakukan itu?" tanya Shasha kepada Rianda.
"Entah, ayo lebih baik kita pulang saja dan beristirahat di rumah." ajak Rianda.
***
Di dalam perjalanan, Shasha banyak diam dan berfikir siapa dalang dibalik penjebakan dirinya dan Daniel. Selama ini dia merasa tak pernah memiliki masalah, masalah yang masih terjadi menurut Shasha adalah antara dia, Daniel dan juga Leon. Namun seketika dia ingat apa yang dikatakan Melly, jika saat ini Leon sudah tak menaruh amarah dan menerima kematian Xavier, anak lelaki kebanggaannya.
Jika om Leon sudah menerima kematian Xavier, lalu siapa yang berani berbuat seperti itu. Jika itu Asia tak mungkin karena dia tak mungkin mencelakai Daniel
"Sha ..." sapa Rianda.
"Ada apa kak?"
"Kenapa diam?"
"Aku masih berfikir siapa wanita itu?"
"Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan. Yang terpenting kamu dan suamimu selamat."
"Bagaimana, apa kamu berani tinggal di rumah kontrakan sendirian?"
"No problem." ucap Shasha.
Tak terasa kini mereka berdua sudah berada tepat di depan rumah kontrakan rumah Shasha. Shasha yang belum keluar dari mobil mempersilakan Rianda untuk masuk namun ditolaknya.
"Terima kasih ya Kak, hati-hati di jalan." pesan Shasha kepada Rianda, lalu keluar dari mobil.
Kini hanya ada Rianda di dalam mobil, ia sengaja belum menginjak pedal mobilnya karena dirinya khawatir kepada keadaan teman kerjanya yang sudah dianggapnya lebih dari sekedar sahabat dan adik baginya. Rianda ingat bahwasannya adiknya adalah seorang polisi setidaknya dapat memberikan sebuah ide. Segera Rianda mencari sebuah nama. Sebuah nama panggilan sayang yang ia berikan kepada adiknya itu. Dia pun mulai mengetikkan pesan kepada adiknya yang merupakan seorang polisi.
Rianda : " Dek?"
Tole : "Kak?"
Rianda : "Rumah yang kakak sewakan itu aman tidak?"
Tole : " Aman."
Rianda : "Apa perlu ditambahkan pengaman lainnya?"
Tole : "Pengaman? maksud kakak kond*m?"
Rianda : "Bukan dodol. Maksud kakak tambahan CCTV atau apa gitu."
Tole : "Gak usah, rumah itu aman karena dekat markas polisi."
Rianda : "Jadi gak perlu ya?"
Tole : "Gak! Kalau kurang aman sewa aja PESPAMPRES. Beres!"
Rianda : "Dasar adik laknat! tanya baik-baik jawabannya begitu."
Tole : "Kakak yang laknat, ngusir aku demi sahabat kakak."
Rianda : "Hehehe, tapi kan lu dapat pemasukkan dengan nyewain rumah.
Tole : "Dasar otak dagang!"
**
Disebuah ruangan kantor dengan nuansa biru putih, yaitu tempat Daniel. Dia duduk sambil bersandar pada kursi kebesarannya, dirinya masih belum mendapatkan pesan dari istrinya itu. Berulang kali dilihatnya chat pada email namun Shasha tak kunjung ONLINE juga.
Dirinya khwatir dengan keadaan istrinya itu. Malam setelah dia dan Dion saling pukul Daniel dan Johan mencari tahu siapa sebenarnya yang menjebak dia dan istrinya. Baik Daniel maupun Johan tak pernah menyangka jika wanita itu yang melakukannya.
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.