TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 151. PERCOBAAN BUNUH DIRI.


__ADS_3

Shasha yang tadi berada di parkiran kini segara masuk mencari keberadaan Dion, sambil berjalan dengan langkah cepat dia berulang kali menelfon ponsel Dion yang sedari tadi bernada sibuk. Dirinya yang sibuk menelfon tidak memperhatikan langkahnya hingga ia menabrak seseorang.


"Mbak tolong hati-hati kalau jalan." ucap seorang suster yang ditabrak Shasha.


"Maaf Sus," ucap Shasha sambil membantu mengambil beberapa berkas pasien yang jatuh ke lantai.


Selesai membantu segera Shasha berdiri dan kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari keberadaan  Dion. Ketika ia memasuki sebuah teras rumah sakit, dirinya berpapasan Abra yang sedang berbincang dengan rekan kerjanya. Melihat Shasha yang berjalan dengan cepat membuat Abra penasaran dengan apa yang sedang terjadi kepada mantan pacarnya itu.


Lebih baik aku ikuti dia.


Saat sedang berjalan Shasha merasa ada yang mengikutinya, ia pun berhenti mendadak sehingga membuat Abra yang mengikutinya merasa kikuk dan tak tahu harus bicara apa.


"Stop! Jangan ikuti aku!" ucap Shasha dengan tegas.


"T-ttidak, kebetulan kita berjalan ke arah yang sama." bohong Abra.


"Kalau gitu berjalan lah lebih dulu." ucap Shasha mempersilakan Abra untuk berjalan dulu dan minggir dari hadapan mantan kekasihnya itu.


"Oke. Tapi, boleh aku tahu kenapa kamu terlihat tergesa-gesa?"


"Tidak, apa yang ada padaku adalah urusanku. Jalan dan kehidupan kita sudah berbeda. Hubungan kita saat ini sebatas dokter dan keluarga pasien."


"Cepat berjalanlah, jangan membuang waktuku!"


"Baiklah kalau begitu. Jangan sungkan jika kamu membutuhkan bantuan." ucap Abra yang masih penasaran.


Shasha tak menjawab dia hanya mengangguk sambil membuang muka.


Melihat Abra yang sudah sudah berjalan jauh segera Shasha melanjutkan langkahnya sambil menelfon ponsel Dion yang masih tidak mendapat jawaban.


Shasha mulai lelah karena tidak berhasil mencari keberadaan Dion, kini dia duduk di bangku taman rumah sakit, wajahnya yang tertunduk lesu sambil mengeluarkan deretan air mata. Dirinya merasa sedih saat mendengar semua ucapan yang ayahnya katakan. Bahkan dirinya tak menyangka jika ia melakukan tindak hina dan yang lebih menyayat hatinya adalah mantan kekasih yang selama ini ia anggap paling baik ternyata durjanah.


Shasha mencoba mengingat-ingat waktu dan tempat kejadian tersebut. Namun tak juga dia ingat. Pikirannya yang masih tak tenang dan diliputi oleh amarah membuatnya tidak dapat berfikir jernih bahwasannya dia sempat merasakan kantuk yang tak biasa sesaat setelah minum minuman yang diberikan oleh pihak hotel sebagai service mereka saat menyambut tamu hotel yang hendak bermalam.


Jangan-jangan Dion bekerja sama dengan pihak hotel untuk mencampurkan sesuatu di minumanku waktu itu?


Jika iya, kenapa dia begitu tega melakukan nya!


Shasha yang sedang tertunduk merasa heran saat melihat ada sebuah minuman yang berada tepat diwajahnya sambil berkata, " aku tahu kamu kecewa tapi tolong jangan membenciku."


Mendengar suara yang tak asing ditelinga nya membuat Shasha segera mengangkat kepalanya dan berdiri lalu menatap tajam seakan ingin memb*nuh lawan bicaranya itu dan


Plak!(suara tamparan terdengar keras)


Dion yang menerima tamparan tersebut hanya pasrah, dia tahu apa yang dilakukannya salah. Dirinya yang ingin membuat Shasha berpisah dengan Daniel namun sekarang justru membuat Shasha juga berpisah bahkan dibenci oleh keluarganya sendiri.


"Kenapa kamu tega melakukan itu? Sekarang aku benar-benar kotor. Lelaki yang aku anggap baik dan selalu membelaku serta ada di setiap langkahku ternyata adalah serigala berbulu domba. Kenapa kamu tega melakukan nya Dion!" teriak Shasha.


Mendengar Shasha yang sedang menangis membuat Dion tidak tega melihatnya ia pun berusaha meraih tubuh Shasha untuk memeluknya namun dengan sigap Shasha menghempaskan nya.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" teriak Shasha pelan sambil menepis tangan Dion.


"Shasha, dengarkan aku! Aku melakukannya karena aku mencintaimu."


"Cukup Dion. Jauhi aku!"


"Tidak! Aku tidak akan pernah menjauhi mu!"


"Kalau begitu aku yang akan menjauh darimu!"


"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan mu pergi dariku bahkan sampai ke lubang semut pun aku akan menemuimu."


"Bicara denganmu sungguh percuma! Kamu membuat masalahku bertambah." sambil mengusap air matanya Shashsa berkata lalu pergi menjauhi Dion."


Melihat Shasha yang berjalan menjauhi dirinya ia memilih untuk tidak mengejar sekretaris nya itu karena dia tahu bahwa saat ini Shasha sedang emosi dan kecewa kepada dirinya.


Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian, aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan termasuk membuat ayah dan keluargamu percaya bahwa itu adalah salahku bukan salahmu.


***


"Ayah, kemana Shasha? Kenapa bunda tidak melihatnya dari tadi?" tanya Sally bohong kepada suaminya.


"Biarkan saja, mungkin dia sedang bersama lelaki itu." ucap ayah lirih.


"Lelaki siapa?"


Ada apa ini, kenapa Ayah bersikap acuh kepada Shasha sedangkan Shasha yang aku lihat di depan seperti habis menangis.


Apa ayah sedang memarahinya? Tapi perkara apa?


Sudah lama Shasha tdak berada dirumah setelah menikah harusnya ayah tidak terlalu memarahinya.


Tidak, aku begitu mengenal suamiku. Mungkin Shasha sedang membuat kesalahan fatal sehingga membuat suamiku marah.


Melihat ekspresi suaminya yang datar membuat Sally tidak melanjutkan pertanyaannya.


"Ayah, bunda tinggal kedepan dulu ya?"


"Ya."


Sally keluar dari dalam ruangan milik suaminya dan menghampiri Shasha yang sedang berada di luar. Saat Sally sedang diluar dia tidak menemukan Shasha. Sally berusaha mencari keberadaan Shasha dengan berjalan menyusuri rumah sakit. Dilihatnya di kantin tidak ada keberadaan Shasha, di cafe juga tidak ada, hingga dicobanya untuk berjalan ke taman pun juga tidak ada.


Kemana Shasha? Kenapa aku menjadi khawatir dengan Shasha tidak seperti biasanya.


Langkah kakinya tiba-tiba mengarahkannya ke sebuah tempat parkir yang berada di basement. Pada saat dia berjalan dari arah yang berlawanan dia melihat seseorang yang dirasanya mirip sekali dengan Shasha, baju dan rambut dari belakang terlihat mirip. Sally yang akan memanggil tiba-tiba kaget tak percaya jika wanita yang dianggapnya mirip dengan anaknya itu tiba-tiba mencoba berdiri di tengah tepat disebuah mobil yang sedang melaju dengan cepat.


"Jangan!!!" teriak Sally dengan keras, sambil menutup mata. Dirinya tak menyangka jika akan melihat orang yang hendak bunuh diri. Setelah berteriak Sally berusaha untuk menolong orang yang bunuh diri tadi, setidaknya dia akan berniat menjadi saksi dari percobaan bunuh diri tadi. Dengan langkah cepat dia berusaha menghampiri dan betapa kagetnya dia ternyata wanita yang hendak bunuh diri itu tak lain adalah Shasha anaknya. Awalnya ia hanya menganggap bahwa baju dan rambut terlihat mirip tapi ternyata benar-benar itu adalah anaknya. Hatinya lega saat mengetahui bahwa Shasha ternyata masih selamat.


"Apa yang kamu lakukan! Apa kamu sudah tidak waras!"

__ADS_1


"Hikss ... hikkss... Biarkan aku pergi!" teriak Shasha.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi apalagi dengan cara seperti ini. Ikut aku, kita bicara di dalam mobil."


"Tidak, tolong lepaskan aku Daniel. Aku bukan istri yang baik." sambil menangis Shasha berucap.


"Aku juga bukan suami yang baik, tapi tolong jangan seperti ini, setidaknya kita perbaiki hubungan kita."


"Tidak Daniel, jika kamu tahu yang sesungguhnya kamu bahkan melihatku jijik sama seperti ayah."


"Semua orang memiliki kesalahan, termasuk aku."


"Tapi berbeda Daniel, saat itu kamu melakukannya sebelum kita menikah sedangkan aku! Bahkan aku sendiri tidak tahu kapan aku melakukannya. Aku hina Daniel dan aku jijik dengan diriku sendiri."


"Cukup sayang, jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun kamu, aku akan tetap mencintaimu."


"Cinta? Sejak kapan kamu mencintaiku Daniel? Bukankah setelah menikah kamu bahkan tak ingin seorang anak lahir dari rahimku."


"Itu dulu saat awal menikah tapi seiring berjalannya waktu bukankah kita membicarakan honeymoon dan kamu -"


"Cukup Daniel! Cukup! Jangan bicarakan honeymoon lagi. Aku tak layak! Saat itu diriku masih suci dan sekarang aku sudah ternoda Daniel."


"Tidak masalah bagiku. Bahkan aku pun juga sudah ternoda."


Seketika Shasha diam, dia tak berani melihat wajah Daniel, karena dia malu.


"Lihat aku, tatap aku Nesha Himalaya Ayesha. Kamu adalah istriku, apapun yang terjadi padamu aku akan tetap menjadi suamimu."


"Tidak ... tidak, aku hina Daniel. Aku berdosa, aku jijik. Bahkan ayah pun tak sudi melihatku."


Daniel tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Shasha. Dia segera memberikan perintah kepada Johan untuk menyelidiki. Sambil menunggu dia pun mencoba memeluk tubuh istrinya itu namun selalu ditolak oleh Shasha.


"Jangan sentuh aku Daniel, aku hina. Aku berdosa. Aku malu!!" teriak Shasha hingga membuat Shasha pingsan.


Melihat istrinya pingsan segara Daniel menggendong dan membawa Shasha untuk masuk ke dalam rumah sakit. Betapa kagetnya Deniel dia tak menyangka dihadapannya ada mertuanya.


"Bunda?"


"Ada apa dengan Shasha? Kenapa dia menjadi seperti itu? Pernikahan seperti apa yang kalian berdua jalani? tanya Sally kepada Daniel.


.


.


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.


Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2