
"Tunggu, sebelum membicarakan jadwal hari ini tadi kamu bilang bahwa ruangan kamu ada di depan ruangan saya?" tanya Daniel dengan terkejut.
"Iya pak, sesuai permintaan dari direktur." ucap Jason enteng.
Beberapa saat kemudian terdengar suara bunyi ponsel dari dalam saku Daniel, diambilnya ponsel tersebut dan dilihatnya nama yang berada dalam ponsel tersebut segera Daniel mengangkat, sedangkan Jason keluar dari ruangan karena akan mempersiapkan beberapa dokumen yang harus diberikan kepada Daniel.
Joshka : "Halo jagoan dady!"
Daniel : "Iya dad. Dady dimana?"
Joshka : "Dady, masih di Korea, disini ada mami bersama opa mu, mereka ingin bertemu dengan paman, bibi dan juga Alea."
Daniel : "Salam buat mereka semua. Dad, Daniel ijin mau cek berkas -berkas dulu."
Setelah menerima panggilan dan menutup segera Daniel mengecek semua berkas yang ada dimeja nya dia sudah lupa bahwa tadi dirinya sempat protes karena ruangan Jason berada didepan ruangannya yang hanya disekat dengan kaca.
Daniel yang sedang konsen membuka semua berkas yang ada didepannya. Dirinya yang sedang fokus mempelajari, mengamati dan mengecek semuanya tas sadar bahwa sekarang waktu sudah menunjukkan jam masuk kantor.
Belum banyak karyawan yang tahu bahwa perusahaan saat ini telah kedatangan CEO tampan dan cerdas. Semua karyawan masih tak mengerti jika CEO yang mereka nanti sudah tiba sebelum mereka semuanya tiba.
Beberapa jam telah berlalu, tibalah jadwal dimana harus melakukan meeting dengan beberapa divisi terkait pembahasan produk yang kurang begitu diminati di pasaran serta pendistribusiannya yang kurang lancar dibanding produk lainnya.
Jason yang hendak memasuk ruangan Daniel kaget saat Daniel sudah muncul di ambang pintu setelah Jason mengetuk pintu dan membuka pintu.
"Bb ... bbapak kenapa mengangetkan saya?" ucap Jason terkejut.
"Ayo kita meeting, IQ saya tinggi jadi tak perlu kamu mengingatkan saya berkali-kali." ucap Daniel dingin.
"Maaf pak," ucap Jason.
'Gila ni bos, tampang Ok, tapi kenapa begitu dingin. Pantes saja belum nikah, kelakuan mirip beruang kutub.' batin Jason.
"Kenapa kamu diam disitu, ayo kita mulai meeting nya." bentak Daniel.
"Ii ... iya pak, maaf saya terkesima melihat bapak."
"Apa?coba ulangi kata-katamu tadi?" bentak Daniel.
"Tidak pak," ucap Jason sambil menutup pintu ruangan Daniel lalu berjalan mendahului Daniel dan dan membuka pintu ruangan mereka berdua.
Daniel dan Jason yang sedang berjalan melewati beberapa ruangan dan meja dari beberapa staf membuat mereka semua menoleh dan kagum. Jason yang merasa sedang diperhatikan dan dilihat oleh banyak wanita membuat dirinya berjalan tegap paripurna dengan keyakinan yang begitu besar bahwa dia adalah lelaki paling tampan di dunia.
Daniel tak terlalu menanggapi beberapa tanggapan dari beberapa karyawannya, baginya dipuji tampan adalah hal biasa, dirinya terlalu sering dipuji tampan. Namun hal itu tak berlaku pada Jason, Jason begitu jarang dipuji tampan justru dirinya dinilai seperti lelaki culun. Kehebatan Jason hingga dipilih oleh Joshka menjadi seorang sekretaris adalah karena Jason begitu cakap dalam bekerja, jadi jika dikolaborasikan Daniel dan Jason begitu sangat seimbang.
"Silakan pak." ucap Jason kepada Daniel sambil membukakan pintu ruangan meeting.
Beberapa para petinggi dari divisi sudah berada disana dan siap untuk melakukan beberapa pembahasan dengan Daniel, sang CEO.
"Selamat siang, saya ucapkan terimakasih kepada seluruh kepala dari masing-masing divisi yang sudah hadir tepat waktu ..." ucap Jason denhan tegas.
Daniel yang mendengar sambutan pembuka dari Jason heran dan tak menyangka bahwa sekertarisnya begitu mempesona dan berwibawa jika sedang berhadapan dengan banyak orang.
Dalam meeting, Daniel memberikan beberapa arahan dan solusi yang perlu ditindak lanjuti untuk mengatasi masalah yang ada. Apa yang diucapkan Daniel membuat semua para peserta meeting kagum.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keberadaan Daniel sebagai CEO berdampak positif untuk kantor, banyak dari karyawan yang mencontoh kedisiplinannya dalam bekerja terutama disaat jam masuk kerja. Banyak dari mereka yang datang sebelum Daniel dan Jason tiba. Tujuan mereka hanya satu yaitu ingin memandang wajah tampan dan berkharisma dari Daniel.
Daniel tak terlalu memperhatikan gelagat beberapa karyawan yang menaruh hati kepada dirinya baginya itu adalah hal biasa selama dirinya tak menanggapi namun lain halnya dengan Jason, dirinya yang mendapat perintah dari Joshka dan Melly untuk menjaga Daniel agar tidak sampai jatuh hati dengan wanita lain.
__ADS_1
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga sudah memasuki setahun. Selama Daniel memimpin sebagai CEO laba perusahaan mulai berangsur meningkat, keuletan Daniel dalam mengembangkan produk dan mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan oleh konsumen kepada produknya membuat permintaan dipasaran semakin meningkat. Para pemegang saham senang dengan keuntungan yang sangat meroket.
Pencapaian yang sudah dilakukan Daniel telah sampai ditelinga Joshka, dirinya begitu bangga bahwa anak semata wayangnya berhasil membawa perusahaan dalam kemakmuran.
Keberhasilan yang dicapai Daniel di dunia bisnis membuat perusahaannya menjadi perusahaan yang makin dikenal di dunia, sehingga Daniel dinobatkan menjadi pengusaha termuda yang paling berbakat hingga masuk kedalam sebuah majalah bisnis.
Jason sebagai sekertaris merasa bahagia dan bangga karena yang dirinya tahu bahwa karier Daniel diawali menjadi seorang diplomat bukan murni dari seorang pengusaha.
"Bos, saya ngefans berat dengan bos." ucap Jason saat sedang mengemudi di dalam mobil dalam perjalan pulang.
Daniel yang mendengar ucapan Jason kaget namun dia tak terlalu menanggapinya.
Kemudian Jason mulai berkata lagi.
"Tapi sayang bos belum menikah ya, jika bos sudah menikah maka kehidupan makin sempurna bos." ucap Jason asal.
Daniel mengerutkan keningnya, "artinya orang dikatakan sempurna itu jika sudah menikah?"
"Iya bos, menurut pak ustad di pengajian yang saya datangi bahwa lelaki sempurna adalah lelaki yang menikah. Tepatnya menikahi seorang wanita, bos."
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Daniel.
"Jangan dengan saya bos, saya normal bos. Saya sudah mencintai seseorang cuman timing nya aja belum ada, saya masih nunggu waktu." ucap Jason.
"Siapa juga yang mau denganmu. Kamu kira saya lelaki tidak normal? Asal kamu tahu ya setiap pagi senjata saya selalu berdiri melakukan upacara tanpa disuruh." jelas Daniel ketus.
"Kalau begitu dia harus dijinakkan bos, kalau tidak dia akan berontak terus bos, setidaknya bos harus mencari pawang agar bertuan dan tidak salah sasaran." ucap Jason enteng.
"Kamu ya, ucapanmu terlalu dalam sama seperti orangtua saya."
"Berarti itu sinyal bos. Artinya orangtua bos ingin segera anda menikah karena usia mereka yang sudah tidak muda lagi dan akan segera menghadap ke pencipta. Menikalah bos, mumpung mereka masih ada."
"Bos ... bos, kenapa diam aja? apa bos pernah kecewa dengan wanita?"
"Bukan urusanmu." ketus Daniel.
"Tenang bos, jika ada wanita yang mau mendekati bos aku akan jadi yang pertama sebagai penyeleksiannya."
"Apa-apaan, dari pada kamu urusin kehidupan saya dengan menyeleksi pasangan hidup untuk saya lebih baik kamu seleksi pasangan hidup kamu sendiri."
"Iya juga ya bos. Baiklah saya besok akan berkunjung ke kampus itu, akan ku cari dia dan kunyatakan cinta kepadanya."
"Terserah kamu, good luck. Ingat kata-kata saya. Berani bermain cinta berarti kamu juga harus siap untuk disakiti oleh cinta."
"Tenang bos, aku yakin dia akan terpesona denganku, karena apa kurangnya aku." ucap Jason dengan sombong.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dilain tempat Shasha yang sedang sibuk dengan skripsinya merasa lelah harus menunggu keluarnya jadwal sidang skripsi. Dia sudah sering menanyakan ke kampus kapan jadwal sidang skripsi akan keluar.
Tanpa disangka tiba-tiba dia menerima panggilan telepon dari Miss Rina.
Shasha : "Siang Miss Rina, ada apa Miss?" ucap Shasha sambil menghela nafas.
Miss Rina : "Kamu dimana? tumben gak muncul di kampus."
Shasha : "Gak deh, palingan jadwal juga belum keluar. Hayati lelah Miss tunggu jadwal keluar."
Miss Rina : "Ckckck, buruan ke kampus."
__ADS_1
Shasha : "Gak ah, hayati lelah Miss. Lagian siang-siang begini pasti panas, Miss."
Miss Rina : "Yasudah, jangan salahkan Miss ya kalau Miss gak beritahu info penting. Bye ..."
Shasha : "Apaan Miss, jangan bikin penasaran dunk. Halo ... halo ..., Miss ... Miss Rina."
Shasha mencoba berfikir apa yang dimaksud Miss Rina. 'Ah palingan bercanda, sudah tidur saja.'
Saat matanya akan terpejam tiba-tiba terdengar lagi suara telpon lagi. Betapa bahagianya dia, ternyata yang menelponnya adalah Abra.
my ❤️ : "Kamu dimana?"
Shasha : " Kos, rebahan kak."
my ❤️ : "Kapan kamu lulus?"
Shasha : " Semoga segera. Kenapa kak? "
my ❤️ : "Gak, Kakak merasa makin cinta sama kamu. Terimakasih ya selama ini kamu begitu sabar. Sekali lagi Kaka minta maaf pernah membuatmu kesal hingga melarangmu untuk berangkat ke Finlandia."
Shasha : " Sudah berlalu kak, yang penting Shasha merasa Kaka sudah berubah lebih baik, Shasha sudah bersyukur. Kapan Kaka kesini?"
my ❤️ : " Belum tahu. Kaka tutup dulu ya. Bye ..."
Setelah menutup telepon kembali Shasha menerima telepon, ternyata telepon grup.
Mutia : "Sibuk banget telepon dari tadi, telepon dari siapa?" tanya Mutia sewot.
Secil : "Click, siapa lagi yang telepon pasti dia, lihat wajahnya berseri begitu."
Shasha : "Apaan sih kalian selalu berfikir jelek sama dia, kita itu gak boleh harus maafin kesalahan orang yang pernah salah sama kita."
Mutia : "Oke, kita gak akan mau lihat lu sedih lagi kalau sampai gue tahu dia bikin lu sedih lagi gue cabut tuh bulu -bulunya."
Secil : "Yup, kali ini gue setuju sama si mut."
Shasha : "Sudah-sudah, cukup. Kalian mau kasih kabar apa? "
Mutia : "Lu lihat aja sendiri di grup, barusan gue kirim. Uda dulu ya. Gue ngantuk." ketus Mutia sambil mengakhiri panggilannya.
Secil : "Gue juga, bye Sha."
'Kenapa sih mereka berdua gak suka banget sama Kak Abra, padahal mereka gak tahu dia sudah berubah.' batin Shasha sambil mencoba mengakhiri panggilan dan membuka foto yang dikirim oleh Mutia.
"Apa jadwalnya sudah keluar, asyik. Gue dapet jadwal lusa." gumamnya.
Kemudian dia pun mulai mengetikkan ucapan terimakasih di grup genk nya namun tak ada satupun yang membalas, mereka hanya membacanya saja.
Shasha tak memberitahu Abra tentang jadwal ujian skripsi yang sudah keluar, karena selesai ujian skripsi dia ingin memberi kejutan Abra dengan mendatangi Abra ke kota Jogja.
.....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
Salam sayang 🥰🥰
__ADS_1