TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 85. GARA-GARA AJAKAN MAKAN MALAM.


__ADS_3

"Menyelamatkan apa?" Daniel memandangi Shasha dengan penuh curiga.


"Bapak kenapa? Kenapa wajah bapak seperti itu."


"Jangan mengalihkan pertanyaanku! Menyelamatkan apa?" Daniel masih memandangi Shasha dengan tatapan tak biasa.


"Bapak lihat sendiri kan tadi, saat dia kesini tangannya sedang diperban, dia seperti itu karena menyelamatkan saya ketik saya hampir --" ucapan Shasha terhenti karena Daniel menyela perkataannya.


"Sudah gak usah dijelasin. Ingat ya, kita menikah itu agar kamu selamat dari teror yang dilakukan Leon, jangan kamu malah menambah masalah lagi."


"Menambah masalah, masalah apa maksud Bapak? Justru Martin lha yang menolong sa --"


"Masih saja kamu membelanya. Kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh! Coba kamu pikir orang yang bagaimana yang mau menyelamatkan seseorang yang hampir tertabrak jika tidak karena beberapa hal." "Sudahlah, yang jelas jangan pernah temui dia lagi, jika aku tahu kalian bertemu lagi aku akan menal--," seketika Daniel menahan ucapannya sambil memejamkan matanya.


"Kenapa Bapak berhenti bicara. Lanjutkan saja, setidaknya masa pernikahan diatas kertas ini akan cepat selesai sesuai keinginan Bapak." ucap Shasha tegas sambil melepas celemek yang menempel di tubuhnya.


Melihat Shasha yang pergi meninggalkan dapur membuat Daniel kesal tapi juga menyesal. Entah mengapa dia begitu kesal saat tahu jika ada seseorang yang mencari Shasha dan mengajaknya makan malam. Ditambah lelaki tersebut terbilang muda dan good looking. Tak hanya itu, dia juga merasa menyesal saat tak sengaja dan hampir berucap kata talak.


Setelah terjadi pertengkaran antara mereka berdua kini Daniel mulai merasakan hal yang membuat suasana menjadi berbeda. Biasanya akan ada suara wajan yang berbunyi ditambah bau harum dari aroma masakan yang Shasha persiapkan.


"Ada apa denganku! Kenapa aku emosi, jika ada yang mengajaknya keluar harusnya tak papa." sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Tapi, niatku kan baik, siapa tahu lelaki itu suruhan Leon."


'Tapi lu bego, harusnya kata-kata tadi tak muncul . Tapi kan aku belum sempat mengucapkannya ' batin Daniel.


Begitu juga dengan Shasha ia yang tadi berniat akan memasak setelah mencuci beberapa piring kotor yang berantakan. Kini tak lagi berhasrat untuk menyiapkan makan malam. Itu semua karena dia jengkel dengan ucapan Daniel tadi.


Ia marah sambil berjalan cepat menuju ke ruangan wardrobe dan mengunci ruangan tersebut. Ia yang jengkel segera mengeluarkan semua isi baju yang ada di lemari, baik baju Daniel maupun dirinya. Selesai mengeluarkan isi baju ia mulai melipatnya dan menata baju tersebut.


"Kenapa aku marah? Seharusnya, aku tak boleh sakit hati. Jelas-jelas diawal pernikahan dia sudah bilang belum mencintaiku bahkan setelah menikah ia meminta agar aku tak perlu belajar mencintainya." sambil menggigit-gigit bibirnya dan melipat baju. "Lagi pula ia bilang tak akan pernah tertarik denganku, ... tapi mengapa waktu itu aku melihatnya menyentuhku dengan wajah seperti itu." lanjut Shasha yang masih kesal.


Shasha yang sibuk dengan emosinya benar-benar lupa akan penyakit bawaan yang ia miliki jika sedih dan terlambat makan. Rasa jengkel dan emosi mengalahkan cacing-cacing di perut yang sedang menagih untuk diberi makan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ceklek (terdengar suara pintu terbuka).


Rupanya Johan tiba. Johan yang baru tiba nampak heran melihat wajah Daniel yang tak biasa saat sedang menonton sepak bola. Raut wajahnya sama sekali tak menggambarkan bahwa dirinya sedang menikmati pertandingan. Biasanya ia akan bersorak-sorai ketika melihat pertandingan bola terlebih itu klub favoritnya.


"Lu kenapa? kenapa wajah lu kelihatan makin tua?" goda Johan sambil memberikan minuman dingin yang barusan ia ambil dari kulkas.


"Woi, kug diam. Mana Shasha?" "Sha ... Shasha ...!" panggil Johan sambil sedikit berteriak. "Shasha!" teriaknya lagi.


"Lu bisa diam gak!" bentak Daniel yang kini suaranya menggelegar sehingga membuat Johan kaget sekaligus ingin menahan tawa.


"Kalian kenapa? Bertengkar? Gue heran sama lu, jelas-jelas lu lebih tua setidaknya bisa jaga perasaan dia. Dia itu masih anak-anak." Johan mencoba mencairkan suasana.


"Oh jadi karena aku lebih tua, aku harus ngalah sama dia? Dan dia bisa seenaknya sama aku."


"Memang apa yang sudah Shasha lakukan."


"Kamu tak lihat, di dapur tak ada makanan, biasanya jam segini makanan sudah ada. Tak hanya itu kemana saja dia, kenapa saat aku datang tadi banyak piring-piring kotor sehingga dia sibuk cuci piring dan belum sempat masak." jelas Daniel yang berusaha mencari alasan lain bukan alasan sebenarnya.


"Apa Shashsa ada waktu itu?" tanya nya penasaran karena ia ingin memastikan apa yang ada didalam otaknya.


"Tidak. Mungkin dia sedang ke kampus." ujar Johan berusaha membela Shasha.


"Benar kan, sudah kuduga ia pasti keluar. Sudah ah, malas gue. Gue ke kamar dulu." Daniel beranjak dari tempat duduknya.


"Terus gue gimana? gue lapar."


tanya Johan melas.


"Tahan aja, atau lu pesan makan aja buat lu sendiri."


Melihat kelakuan Daniel membuat Johan menggelengkan kepalanya. Ia merasa bahwa Daniel marah bukan karena Shasha tidak masak melainkan hal lain yang sengaja ia sembunyikan dari dirinya.


Tak mau ambil pusing dengan permasalahan keduanya, Johan segera membersihkan dirinya dan bersiap keluar untuk makan malam diluar sendirian. Ia sengaja keluar membeli makan sendiri karena ingin memberi waktu bagi keduanya untuk dapat membicarakan solusi dari permasalahan keduanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi hari.


Johan tiba di apartemen sekitar pukul lima pagi, ia sengaja datang jam segitu karena dia yakin jika jam segitu pasti Shasha sudah bangun dan sudah melakukan aktivitas di dapur. Dirinya yang penasaran ingin bertanya langsung kepada Shasha, setidaknya ia berusaha akan menjadi penengah antara Shasha dan Daniel.


Ternyata apa yang ia pikirkan salah. Keadaan ruangan yang masih berantakan sama seperti semalam dimana banyak sisa kulit kacang yang masih berhamburan di meja ruang tamu. Keadaan yang seperti itu l membuat Johan penasaran dan bertanya-tanya tentang Shasha.


"Ada apa dengan Shasha, tumben dia belum bangun?" "Ah sudahlah, namanya juga suami istri pasti cekcok ada. Sapa tahu sekarang mereka masih sayang-sayangan makanya belum bangun." Johan berusaha berfikir positif.


Tanpa banyak bicara segera Johan masuk dan mematikan lampu. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka dari arah wardrobe.


"Sha, kamu tidur disini?" tanya Johan yang tiba-tiba muncul dan membuat Shasha kaget.


"I–ia ya bang, Abang mau kemana, kenapa berpakain rapi?"


"Bukan kemana-mana tapi habis darimana,"


"Darimana?"


"Dari hotel. Gue sengaja tidur di hotel biar kalian itu baikan dan ga canggung begituan karena ada gue. Makanya gue insiatif ngungsi." jelas Johan dengan nada bangga karena merasa dirinya telah berkorban untuk kedua pasangan tersebut.


"Baguslah kalau lu inisiatif ke hotel, kita berdua sampai kesiangan bangun karena betapa liarnya Shasha semalam hingga aku dibuat K.O sekarang." bohong Daniel sambil mengedipkan satu matanya kepada Shasha.


Melihat isyarat itu Shasha diam dan melengos karena ucapan Daniel dinilai berlebihan dan bohong.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak

__ADS_1


__ADS_2