
Mendapat bisikan dari Daniel membuat Shasha melirik Daniel dengan penuh pertanyaan. 'Apa yang ingin dia tunjukkan?' batin Shasha.
"Bang, aku masuk kamar dulu ya," ucap Shasha lembut.
"Ngapain buru-buru masuk kamar, Daniel aja masih disini." cegah Arden karena sebenarnya ada yang ingin dia pertanyakan.
"Jangan-jangan mau persiapan ya?" olok Johan sambil melirik ke arah Daniel. "Ingat ya Cha yang tadi Abang bilang rokok, lu harus jinakkan ularnya agar bisanya pas pada sasaran."
"Beres bang," sambil berdiri Shasha masuk kedalam rumah.
Shasha berjalan menuju kamarnya saat hendak masuk ke dalam kamar ada yang memanggil namanya.
"Cha ..., ada yang mencarimu di depan sepertinya temanmu." ucap bu Sally.
"Siapa?" tanya Shasha heran karena seingat dia selama ia pindah ke rumah baru tak pernah ada teman yang bertamu ke rumahnya.
"Coba kamu temui dia." ucap Sally sambil berlalu dan lebih memilih untuk berkumpul dengan keluarga besannya.
Shasha yang masih menggunakan gaun pengantinnya berjalan ke teras rumah dan menemui seseorang lelaki yang sedang berdiri menghadap ke halaman.
"Maaf siapa ya?" Shasha mendekati lelaki tersebut sambil menyapa.
Saat lelaki tersebut membalikkan badan betapa terkejutnya Shasha melihat siapa yang datang kerumahnya. Ia tak tahu harus berkata apa. Meskipun pernikahannya dengan Daniel tidak didasari rasa cinta namun ini bukanlah waktu yang tepat jika pernikahan yang baru tadi pagi terucap harus berakhir saat ini juga.
"Sha .." dengan nada suara bergetar Abra berusaha untuk menatap Shasha.
"A--apa yang kakak lakukan disini?" tanya Shasha berusaha menenangkan hatinya.
"Kamu terlihat sangat cantik, apa didalam sedang ada acara?" tanya Abra pura-pura tak tahu.
Shasha menggigit bibirnya tak tahu apa yang harus ia jawab.
"Aku kesini untuk menepati janjiku, dulu kamu selalu memintaku agar aku datang kerumah namun selalu aku abaikan."
Shasha hanya menunduk dan mengangguk-angguk.
"Aku minta maaf, aku tak dapat memenuhi keinginan mu karena ambisiku yang terlalu besar ingin menjadi orang kaya dengan jalan pintas yaitu mencintai dia dan menduakanmu. Andai waktu dapat diputar aku akan memperba---," penjelasan Abra terputus.
"--, aku sudah menikah kak." ucap Shasha terhenti ia sengaja menjeda perkataannya agar Abra paham dan tak menganggu dirinya lagi. "Tidak ada kata andai, dan ini semua sudah diatur oleh yang Maha Kuasa, takdir kita hanya bersama dalam waktu enam tahun, saat itu kita sama-sama sedang menjaga jodoh orang. Tak perlu ada sesal diantara kita. Karena kita sudah memilih jalan masing-masing." ucap Shasha penuh makna dan mampu membuat Abra benar-benar terpukul.
"Tapi mengapa --?" Abra berusaha berbicara tegar. "Mengapa kamu tidak sabar menungguku bukannya aku bilang akan menjadikanmu istri meski itu istri keduaku."
__ADS_1
Shasha tersenyum simpul sebelum berkata. "Belum menikahi satu wanita Kakak sudah merencanakan menikahi dua wanita, apakah Kakak tidak bertanya pada diri Kakak bagaimana perasaan mama saat ayah menikah lagi?" ucap Shasha lembut.
"Tapi --"
"Tidak ada kata tapi, menjadi korban dari keluarga broken home itu sakit, dan kakak pernah merasakan, bukan? Janganlah kakak mengulangi kesalahan ayah. Belajarlah untuk setia dan cinta hanya dengan satu wanita karena tidak semua wanita mau dijadikan istri kedua."
Perkataan Shasha benar-benar menohok dan sukses membuat Abra mengenang masa kelamnya dimana sang ayah terjerumus oleh minuman keras dan wanita malam hingga bayang-bayang pertengkaran kedua orangtuanya yang dibumbui kekerasan telah dilakukan ayahnya.
"Terimakasih, terimakasih telah mengingatkanku. Selama ini aku hanya fokus ingin menjadi orang kaya tanpa memikirkan perasaan seorang wanita. Kamu benar-benar wanita baik, kebaikanmu akan aku ingat."
Lagi-lagi Shasha hanya tersenyum berusaha berbicara tegar padahal hatinya masih terasa perih jika mengingat penghianatan yang telah Abra lakukan kepada dirinya.
"Sha, boleh Kakak bertanya?"
"Silakan kak,"
"Kenapa kamu memilih menikah dengannya? apakah kamu mengenal dia sebelumnya?"
"Entah darimana aku harus bercerita." Shasha berucap sambil menghela nafas. "Beliau bukan cinta pertamaku dan sama aku juga bukan cinta pertamanya tapi kehadiranku saat itu membuatnya selamat hingga kami berpisah cukup lama tanpa ada kabar dan berkat campur tangan Tuhan telah membuat kami bertemu hingga kita dipersatukan dalam ikatan suci." lanjut Shasha.
"Apakah kalian saling mencintai?"
"Tak apa, aku hanya bertanya."
"Aku mencintainya." bohong Shasha padahal ia sendiri tak tahu dengan perasaannya.
"Apakah rasa cintamu padaku sudah hilang hingga kamu memutuskan untuk memilih dan menikah dengannya di waktu yang relatif cepat?"
"Kenapa Kakak berulang kali bertanya?! sedari tadi aku sudah menjawabnya. Sekarang aku adalah istri orang jadi saat ini hanya suamiku yang ada disini." Shasha menunjuk dadanya dan meyakinkan Abra bahwa hanya ada Daniel seorang yang ada di hatinya.
"Semudah itu kamu mencintainya dan melupakanku. Aku adalah lelaki terbodoh di dunia yang dengan sadar menduakan wanita setia sepertimu. Kamu memilih menyerah dan melupakan masa lalu." Abra berucap dengan nada sesal.
"Aku berfikir realistis. Ada seorang lelaki yang datang dan serius memintaku selama dia bertanggung jawab dan baik aku akan membuka dan menerimanya dengan tangan terbuka."
Beberapa saat kemudian muncul pak Idris dari dalam rumah memecah situasi perdebatan diantara keduanya.
"Sha, ajak temanmu masuk. Ayah perhatikan daritadi kalian begitu asyik berbicara di luar." sapa pak Idris kepada Shasha dan tamunya.
"Ia ayah, sebentar lagi teman Shasha segera pamit, ia datang hanya untuk mengucapkan selamat kepada Shasha." bujuk Shasha berharap ayahnya tidak curiga dan mendengar obrolan keduanya.
"Yasudah kalau begitu, ayah masuk dulu. Kalian lanjutkan saja." setelah berucap pak Idris kembali masuk ke dalam.
__ADS_1
Tak lama setelah pak Idris masuk Abra memilih untuk pamit dan berdamai dengan hatinya untuk benar-benar melepas dan mencoba setia hanya dengan satu wanita yaitu Medi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam hari
Acara pernikahan sederhana dengan mahar fantastis tak pernah dibayangkan oleh pak Idris sekeluarga. Shasha yang tak mengetahui pasti besar nominal yang Daniel berikan kepadanya, yang ia dengar adalah angka 20 ribu. Ingin rasanya dirinya bertanya kepada kedua orangtuanya bahkan kakaknya namun ia merasa malu, ia takut jika mereka mempermasalahkan nominal mahar tersebut.
Saat ini Daniel berada di ruang keluarga bersama Erza dan ayah sedang mengobrol santai sambil bermain catur. Permainan kali ini dimainkan oleh Daniel dan pak Idris, dan ini adalah permainan ke empat dimana pak Idris kalah telak oleh permainan menantunya itu.
"Daniel, apa tidak bisa kami mengalah sekali saja."
"Baiklah, demi ayah mertua aku akan mengalah."
Baru saja Daniel berucap beberapa saat kemudian terdengar suara
"Yes ...,, hore akhirnya ayah menang. Makasih ya nak." pak Idris berucap dengan nada riang.
Setelah mengalah dari permainan catur Daniel yang merasa lelah mulai memasuki kamar pengantin, kamar tersebut adalah kamar milik Shasha.
Diketuknya kamar tersebut tak ada suara dan tak terkunci pula, ternyata didalam ia sedang melihat Shasha yang dengan imutnya menggunakan baju pakaian kesukaannya yaitu baju tidur dihiasi Teddy bear. Lagi-lagi pikirannya terbayang akan kejadian beberapa bulan yang lalu.
Daniel yang melihat Shasha sedikit salah tingkah dengan kehadirannya mencoba untuk menetralkan keadaan agar suasana di dalam kamar tidak terlihat tegang.
"Sha, mana ponselku?" tanya Daniel memecah keheningan.
"Ada di laci pak."
"Laci sebelah mana?ambilkan." perintah Daniel.
Setelah memberikan ponsel Daniel segera Shasha kembali ke tempat duduknya yang berada di dekat ranjang.
Keduanya yang sedang bersibuk riah dengan ponsel masing-masing sama-sama tak bergeming padahal suasana romantis kamar sudah mendukung, yaitu sebuah nuansa warna campuran ungu dan putih. Namun nuansa romantis kamar tersebut tak mampu membuat kedua insan yang ada di dalamnya melakukan hubungan romantis layaknya pasangan sehabis menikah.
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1