
"Gimana perasaanmu sekarang?"
"Perasaann yang mana?"
"Dasar cewe, sok-sok nyembunyikan ketegarannya padahal baru beberapa detik tadi sedih."
"Oh yang itu, kan tadi bapak sendiri yang bilang supaya saya disuruh cari solusi bukan malah menghilang."
"Lalu solusimu?"
"Solusi saya .. saya akan memilih diam. Aku memilih seakan aku tak tahu. Aku akan pura-pura tidak tahu, semakin aku diam semakin ia merasa bersalah dan jika dia sudah merasa bersalah aku yakin dia akan bercerita. Dan saat bercerita itu akan aku bandingkan semua ucapan yang ia sampaikan dengan ucapan orang lainnya, setidaknya jika ada yang mengganjil aku akan berusaha mencari sela bertanya untuk menyelidikinya pelan-pelan."
"Ohhhh, jadi begitu ya."
"Iya.Pak, depan tolong berhenti ya.. Terimakasih."
"Oke."
"Pak, pintunya tolong buka." ucap Shasha yang hendak keluar dari mobil.
"Buka pintu? Bukannya tadi kamu bilang ingin membayarku?" goda Yoga.
"Oia ya, berapa ya pak ongkosnya?"
"Biasanya kamu naik apa berangkat?"
"Busway, ongkosnya berapa ya pak? saya bayarnya pake e money jadi gak pernah cek."
"Yasudah kalau gitu bayar saya pake e talk aja."
"E talk? Apa lagi itu?"
"Kamu tahu kan e money seperti apa? Yasudah sama seperti e talk,"
"Intinya saya ingin berteman, kamu bebas untuk bercerita apapun ke saya."
"Terimakasih ya pak, kalau gitu saya masuk dulu."
"Sama-sama. Tunggu."
"Apa lagi pak?"
"Tolong jangan panggil saya pak."
"Oke. Tolong buka pintunya Pak, ei maksudnya Kak."
Mendengar itu segera Yoga membukakan pintu untuk Shasha. Segera Shasha keluar dan melambaikan tangan begitu juga dengan Yoga.
Didalam mobil, Yoga merasa bahagia karena meski saat itu cinta pada pandangan pertamanya salah sasaran dan tak terbalas. Bahkan Yoga tak telalu ambisi memiliki Shasha meski wanita yang pernah ada dalam hatinya itu sedang memilki masalah dengan suaminya.
**
Saat ini Shasha berada di barisan pertama untuk antri lift. Dirinya sangat heran mengapa harus sampai antri begini, padahal ada satu lift yang sama sekali tidak ada yang mengantri.
Kenapa sih semua yang ada disini harus ngantri begini, apa mereka sungkan ya antri disana karena gak ada yang antri? Padahal aku kemarin naik yang sana. Apa aku aja ya yang memprakarsai?
Beruntung Shasha belum sempat melangkahkan kakinya, ternyata lift yang ada di depannya terbuka. Kini dirinya berada di dalam lift. Di dalam lift ia mendengar bisikan suara dari dua orang wanita.
__ADS_1
"Gue pingin banget ngerasain naik lift yang di ujung itu."
"Sama gue juga. Tapi dengar-dengar kemarin ada anak baru yang uda naik lift tersebut."
"Lu yakin?"
"Iya, gue dengar-dengar begitu."
"Enak banget, anak baru yang mana sih? Kita aja yang sudah hampir setahun disini gak pernah naik lift itu."
Mendengar kata anak baru membuat Shasha menundukkan kepalanya.
Memanggnya kenapa dengan lift itu? Berarti aku, Dion dan lelaki itu beruntung dunk ada di lift itu.
"Iya dan lu tahu gak, kebetulan ada CEO Dion ada disana bersama asistennya."
Dion? dan asistennya? Masa sih? Gue gak percaya.
Lagian nama Dion kan banyak.
Shasha kini keluar dari lift dan segera menuju ruangannya dan pergi menuju ke pantry untuk membuat minuman buat dirnya dan Rianda. Namun kaki Shasha terhenti saat ia melihat Dion berada di sana juga. Dion yang mendengar langkah kaki dan bau harum parfum dari seseorang yang ia kenal.
Tanpa berbicara Dion keluar dan melewati Shasha sambil membawa minuman yang barusan saja dia buat sendiri. Melihat itu Shasha juga memilih diam sama dengan Dion. Dengan cepat Shasha meracik minuman kesukaan dirinya dan Rianda, dan saat ia hendak mengambil sendok ia melihat ada sebuah jam tangan, sebuah jam tangan yang tak asing baginya.
Jam tangan tersebut sangat ia kenal, karena disana terukir sebuah nama. Jam itu pernah Dion tunjukkan kepada dirinya. Sebuah nama Acha terukir disana.
Jam ini? ini milik Dion. Dia masih menyimpannya.
Shasha tak menyangka jika Dion masih menyimpan jam tersebut, yang dia ingat jam itu adalah jam pertama yang pertama kali mereka miliki dengan nama panggilan mereka berdua. Ketika masa SMA dimana saat mereka menjalin cinta, mereka sangat ingin memiliki barang-barang couple , dan mereka memutuskan untuk memilih jam tangan bukan bukan kaos ataupun jaket.
Melihat jam tangan yang tergeletak itu membuat Shasha ingin mengambilnya dan memberikannya pada Dion, namun ia tak tahu dimana ruangan Dion. Shasha yang ragu-ragu untuk mengambilnya pun membulatkan tekadnya untuk membawa jam tersebut dan akan dicarinya ruangan Dion. Namun saat hendak mengambil jam itu dari belakang Dion sudah mengambil jam tersebut tanpa menyapa Shasha yang ada di depannya.
Mendengar suara Dion yang dingin membuat Shasha kaget. ia tak mengira jika yang datang adalah Dion melainkan orang lain. Dirinya tak pernah mendengar suara ini sebelumnya.
"Iya, aku belum menyentuhnya. Tadi aku hanya melihat saja. Aku rasa itu milikmu."
"Itu memang milikku, tapi asal kamu tahu. Itu bukan kamu yang terukir di situ."
"Iya, aku tahu itu bukan aku. Nama Acha di dunia ini ribuan bukan hanya diriku. Aku kembali dulu."
"Tak lama lagi statusmu akan terbongkar." ucap Dion kemudian berlalu dari pandangan Shasha.
Mendengar kata-kata itu membuat Shasha menelan ludahnya, dirinya takut jika dia yang baru saja bekerja harus diputus sepihak karena pernjanjian yang menyatakan agari dirinya bersedia tidak menikah dalam waktu kurang lebih setahun, selain itu ia masuk ke kantor ini dengan statusnya yang single (belum menikah).
Kenapa Dion berkata seperti itu?
Jangan-jangan dia tahu jika aku sudah menikah?
Bagaimana ini jika dia tahu?
Semoga dia tak melapor ke HRD.
Keluar dari pantry, segara Shasha berjalan cepat menuju ruangannya, rasa kakinya bergetar saat ucapn Dion masih tergiang di telinganya. Ia merasa tak tenang. Rianda yang melihat itu membuat khawatir, karena tiba-tiba wajah Shasha yang tadi cerah kini berubah menjadi pucat.
"Sha, lipstikmu mana?"
"Kenapa, Mbak?"
__ADS_1
"Pakai lipstikmu, bibirmu pucat sekali. Meski kamu cantik dan memiliki bibir merah tapi setidaknya oles dengan lipstik agar terlihat segar tak seperti mayat hidup," canda Rianda kepada Shasha.
"Iya, mbak."
"Oia nanti saat istirahat ikut mbak ya ke aula bawah."
"Ada apa mbak?"
"Ada pertandingan basket disana,"
Shasha pun menggangguk.
Tak terasa jam kerja pun telah berlalu dan kini menunjukkan waktu jam istirahat. Sehubungan dengan ulang tahun perusahaan yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat maka setiap divisi wajib mendaftarkan beberapa anggotanya untuk mengikut macam-macam lomba. Salah satunya yaitu lomba bola basket.
Tim lomba sudah di bentuk saat Shasha yang selaku karyawan baru belum bergabung sehingga Shasha hanya bertidak sebagai supporter.
Dan lomba pertama kali ini adalah lomba basket yang akan dilakukan oleh para pemain putra terlebih dahulu.
"Gimana aku uda oke?" tanya Kevin kepada Rianda CS.
"Oke. Lu harus bisa ngalahin tim tua-tua disana ya!" ucap Rianda.
"Gila saingan kita berat bro." ucap pak Denny yang biasanya irit bicara kini mulai berbicara dengan gaya tak formal.
"Bukannya itu CEO kita yang beberapa minggu lalu memperkenalkan diri."
"Waw,,,, betapa kerennya, cakep banget"
Rianda penasaran, dirinya kaget jika lelaki yang ditabraknya itu ternyata seorang CEO. Rianda memastikan bertanya kembali kepada Kevin dan Dimas yang berada di sebelahnya." Mana sih-mana CEO kita, gue gak kelihatan."
"Itu dia yang cakep badannya atletis itu," tunjuk Ayu.
Ternyata yang ada dipikiran Rianda benar, lelaki yang ia tabrak dan menemani Shasha di ruang P3K itu tak lain adalah CEO Dion.
"Shasha tahu gak ya sebenarnya?"guman Rianda dalam hati.
Beberapa menit kemudian pertandingan pun dimulai, Shasha belum memasuki ruangan Aula karena ia harus melakukan sesuatu yang harus ia lakukan yaitu mengerjakan pekerjaan yang tertunda miliknya dan membantu beberapa berkas bersama milik tim yang biasanya dikerjakan oleh lebih dari satu orang namun Shasha yang sudah memahaminya pun mulai mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Sekitar satu jam pertandingan sudah dimulai, Shasha pun bergegas masuk ke dalam aula sambil membawa sebuah minuman.
Shasha yang masuk dan melewati kursis penonton tiba-tiba harus merasakan dunia berputaar sekertika saat sebuah bola terlempar tepat mengenai kepalanya. Ia pun mulai jatuh dan beruntung ada seseorang yang ada di dekatnya yang dengan tanggap memegangi tubuh Shasha.
Melihat siapa yang pingsan membuat si pelempar bola menjadi tak tenang,
Kenapa lagi-lagi aku melakukannya?!
God, di saat aku mencoba membencinya namun mengapa engakau selalu berusaha mendekatkan kami.
Dion yan sedang menyelesaikan babak final dari tim Shasha membuat konsentrasinya terpecah, pikirannya sedang memikirkan Shasha sedangkan raganya sedang berfikir melawan tim tangguh yang berhasil seri bermain bersama dengan dirinya.
Sedangkan Rianda dan teman-teman lainnya tak tahu jika seseorang yang pingsan tersebut adalah Shasha, mereka tahunya jika Shasha tak menyukai acara seperti ini, dan lebih menawarkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Mereka semua setuju karena jika pekerjaan tim selesai maka mereka tak perlu lembur sehingga bisa pulang tepat waktu.
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,
comment atau kasih.