
Kenapa diriku bagai layangan putus yang tak tahu arah jalan pulang,
Kemana aku harus pergi?
Aku tak mungkin kembali ke rumah kontrakan itu.
Bahkan sangat tidak mungkin juga jika aku kembali ke rumah, pasti ayah dan bunda akan menyalahkan ku terutama ayah.
Dirinya yang sedang berada di pinggir pantai berjalan menyusuri sambil memikirkan nasib dirinya untuk menentukan bagaimana melanjutkan hidupnya.
Setelah memilih untuk pergi meninggalkan Daniel dengan semua kenangan yang pernah mereka lalui bersama meski terasa pilu dan kecewa namun dirinya harus memilih. Karena sebuah kehidupan yang masih dibayangi dengan masa lalu buruk pasangan, selamanya tidak akan membawa kepercayaan. Sebaik-baiknya kita bersikap tetap saja akan diungkit kenangan buruk itu terlebih jika masih hadir sosok yang pernah mengisi ruang hati, yaitu mantan.
Aku harus kuat, aku bukan wanita lemah.
Apa yang sudah kulakukan saat ini semoga menjadi keputusan yang tepat.
Aku akan hidup mandiri jauh dari semuanya.
***
Empat tahun kemudian, di sebuah kota dengan julukan kota Pelajar. Terlihat seorang anak kecil keluar dari mobil.
"Ibu ...," panggil seorang anak kecil dengan wajah bule dan mata yang mirip dengan ayahnya. Dia adalah Zenecka Habibie.
"Sudah datang? apa paman dan bibi yang menjemputmu?"
"He'em. Ecka mau main duyu ya Bu." ucapnya dengan nada suara yang menggemaskan.
"Yang benar dulu. Iya boleh, tapi ganti baju dulu ya" ucap Shasha sambil berjongkok agar tingginya sama dengan sang anak.
"Kak, aku tidak tahu kakak dan Johan akan datang kemari."
"Aku sengaja tidak memberitahumu karena aku rindu dengan Ecka, jadi aku langsung menjemputnya ke sekolah." "Kamu kenapa? Kenapa terlihat murung?"
"Apa aku ibu egois?" ucap Shasha sambil menahan air matanya yang hampir keluar.
"Ada apa, cerita?"
"Aku merasa berdosa kepada Ecka. Kemarin sebelum aku berangkat ke kampus, aku diam-diam mendatangi sekolahnya karena ingin memberikan bekal yang tertinggal. Tapi saat aku kesana aku melihat semua teman-temanya tampak tertawa riang bersama ayah mereka untuk memperingati hari ayah." ucap Shasha sambil meneteskan air matanya.
"Lalu apa yang dilakukan keponakan ku saat melihat itu?"
"Dia hanya melihat dan dipangku oleh gurunya, dia tidak menangis tapi sorotan matanya tidak dapat dibohongi. Aku merasakan apa yang dia rasakan. Setelah melihat itu aku memutuskan untuk kembali dan menitipkan bekal dia kepada salah satu gurunya dan mengatakan maaf karena tidak dapat hadir di acara penting karena harus mengisi seminar. Malam hari sebelum tidur aku bertanya apa saja yang dilakukan pagi ini disekolah? Dan dia menjawab Echa tertawa dan tersenyum bersama teman-teman. Aku pun kembali memancing pertanyaan lainnya. Apa tadi di sekolah ada tamu istimewa? Dan dia hanya menjawab tidak ada ibu, tidak ada yang istimewa selain bekal yang ibu siapkan untuk Echa." ucap Shasha sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
"Kakak bisa bayangin kan bagaimana kuatnya hati dia, dia sama sekali tak menampakkan kesedihannya kepadaku, bahkan dia sama sekali tak ingin bertanya dimana keberadaan ayahnya." lanjut Shasha.
"Dia memang dewasa, bagiku meski dia baru empat tahun tapi pemikirannya sangat berbeda. Aku rasa dia tahu Sha, tapi dia memilih untuk tidak bertanya keberadaan ayahnya karena dia tak ingin engkau sedih."
"Kakak benar. Pernah waktu itu dia bertanya apa itu kakek dan apa itu nenek? Dia juga bertanya dimana ayah? Aku tidak menjawabnya, hanya air mata yang keluar dari mataku lalu ia hanya berkata, ibu ... maafkan Ecka buat ibu nanis, Ecka gak akan tanya itu lagi. Setelah itu dia mencium dan memelukku." ucap Shasha sambil menangis saat mengingat ucapan anaknya itu.
Rianda yang mendengar itu pun ikut menangis dan menyeka air matanya. Shasha dan Rianda yang sedang menangis tak sadar jika saat ini Ecka melihat keduanya.
"Ibu ... ibu dan bibi mengapa menangis? Apa Ecka menyakiti hati ibu?" tiba-tiba terdengar suara lembut muncul di hadapan Shasha dan Rianda.
"Tidak sayang, ibu--ibu terharu saat mendengar cerita bibi Rianda, kamu tahu kan cerita apa?" bujuk Shasha kepada anak semata wayangnya itu.
"Ya, Ecka tahu pasti dlakol y?"
"Drakor sayang," ucap Rianda membenarkan.
"Iya, itu maksud Ecka. Ecka tadi kesini mau minta tolong buatkan cucu, Ecka haus." ucap Ecka sambil memegang pipi ibunya dengan lembut.
Merasakan kelakuan sang putra membuat Shasha teringat oleh sosok Daniel. Danie kerap melakukan itu kepada dirinya, jika ia merasakan ketakutan akan kegelapan dan sedang panik. Lagi-lagi Shasha berusaha untuk menahan air matanya lalu berdiri dan segera membuatkan susu untuk putranya.
"Terima caci ibu." ucap Ecka.
"Terima kasih ibu," ucap Shasha membenarkan. "Sama-sama." lanjutnya menjawab ucapan anaknya.
"He'em," Ecka mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lalu apa rencanamu kedepannya?" tanya Rianda.
"Aku tetap akan membesarkan Ecka seorang diri."
***
Ditempat lain, seorang lelaki yang sudah berusia tidak muda lagi namun dia tetap terlihat tampan, badan atletis dan wajah yang tampak awet muda sedang merenung di tepian pantai. Dia diam tidak bergeming sambil mengingat-ingat apa yang pernah ia lakukan bersama orang yang disayanginya dulu di sini.
"Niel ...!" sapa Johan yang membuyarkan lamunan Daniel. Johan tahu jika sahabatnya itu seperti mati rasa dalam urusan cinta terlebih saat ia merasa bersalah kepada istrinya hingga dia ditinggalkan oleh sang istri tanpa tahu kemana jejaknya.
"Kemana lagi aku harus mencari Shasha? bahkan dia tidak ada dirumahnya?" tanya Daniel yang selalu meneteskan air mata setiap kali menyebut nama istri tercintanya.
"Maafkan aku Daniel, aku yang sudah menutup semua akses pencarian semua tentang Shasha. Tujuanku melakukan itu agar kamu sadar bahwa dia adalah istri yang terbaik. Buktinya sampai sekarang dia tidak menikah dan membesarkan anakmu dengan keringatnya sendiri." batin Johan.
\======FLASHBACK ON=======
Setelah mengetahui kepergian Shassa dari hotel segera Johan meminta anak buahnya untuk mengecek CCTV, setelah tahu kemana arah Shasha pergi ia kembali mengerahkan anak buahnya untuk mengawasi istri dari sahabat nya. Dirinya takut jika adik angkatnya itu nekat untuk bunuh diri yang ke dua kalinya.
__ADS_1
Johan melihat Shasha dari dalam mobil, dirinya tahu bahwa adik angkatnya itu sedang memikirkan sesuatu yang amat berat. Dengan penuh sabar Johan tetap menunggu di dalam mobil hingga datang seorang perempuan cantik bersama lelaki tampan datang mendatangi Shasha yang sedang duduk.
Tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan yang pasti saat ini Shasha berada di dalam mobil pria dan wanita tadi yang menghampirinya.
Keesokan harinya anak buahnya mengatakan bahwa Shasha saat ini sedang berada di luar kota.
Untuk selanjutnya pengawasan dilakukan oleh anak buah terbaiknya, karena dirinya harus menemani Daniel agar Daniel juga tidak curiga dengan apa yang sedang ia lakukan selain itu dia ingin melihat usaha Daniel mencari keberadaan Shasha dengan sebuah akses yang benar-benar sudah ia kunci.
****
Tak terasa sudah tiga bulan lamanya Shasha berada di kota baru tempatnya berada. Shasha yang tinggal seorang diri disebuah rumah sederhana harus mengerjakan semuanya sendiri. Tanpa rasa lelah dan letih dia bekerja membanting tulang untuk menghidupi dirinya nya sendiri.
Saat malam Shasha membuka sebuah kedai kecil di depan rumah yaitu sebuah mi pedas berlevel dan juga aneka minuman kekinian membuat kedainya begitu ramai. Sedangkan jika pagi dia mengajar sebagai dosen. Shasha tak mengenal lelah. Semua itu ia lakukan karena dirinya harus hidup mandiri dan menambah pundi-pundinya untuk menghidupi dirinya yang tinggal seorang diri. Semakin lama penikmat mie level buatan Shasha semakin meningkat hingga jujur dia merasa letih namun ia tahan hingga tiba-tiba pingsan.
Keesokan harinya setelah pingsan, Shasha tetap pergi ke kampus untuk mengajar dan malamnya kembali dia memaksakan dirinya untuk membuka kedai. Baru beberapa jam buka kembali dia merasakan pusing yang tak terkira hingga membuat dirinya terpeleset jatuh. Seketika darah keluar membasahi baju Shasha. Beberapa pembeli yang datang segera berlari mencari bantuan beruntung saat itu Johan dan Rianda baru saja sampai untuk menjenguk Shasha. Seketika mereka membawa Shasha ke dokter.
Dokter mengatakan bahwa Shasha sedang hamil dan memasuki usia satu bulan. Mendengar itu Johan dan Rianda bahagia.
***
Shasha tidak tahu jika kandungannya itu lemah ditambah dia yang terlalu memforsir dirinya untuk bekerja pagi hingga sore dan sore hingga menjelang malam membuat dirinya sering mengalami kram perut. Dirinya menganggap itu adalah hal yang wajar.
Saat itu usia kandungan Shasha memasuki 20 minggu, kram yang dialami Shasha sering terjadi hingga suatu saat ia tiba-tiba pingsan. Setelah diperiksa oleh dokter dia mengalami gejala Abortus Immines. Gejala ini dipicu salah satunya karena trauma.Trauma yang dimaksud disini adalah dalam hal fisik, adanya aktivitas fisik atau benturan yang terlalu berat. Sehingga Shasha diharuskan untuk bedrest atau istirahat total.
Mendapat kabar tersebut dari tetangga Shasha, Rianda dan Johan melarang Shasha untuk berjualan sendirian melainkan harus ada yang karyawan yang membantu.
Tak terasa usia kandungan Shasha memasuki trimester tiga dan tinggal menghitung hari lagi Shasha akan melahirkan.
Hari yang dinanti tiba, Rianda dan Yoga yang sudah mengambil cuti jauh-jauh hari dengan antusias berangkat ke kota pelajar untuk menyambut kelahiran keponakan mereka bagitu juga dengan Johan. Dian mengajak Melly dan Joska yang jauh-jauh dari Finlandia untuk menjenguk Shasha dan melihat cucu mereka lahir.
Oek ...oek ....
Suara tangisan yang begitu keras terlihat. Shasha yang belum sadar karena selepas operasi Secar ia mengalami pendarahan ditambah ia juga memiliki Anemia sehingga membuat dirinya harus terpisah dengan anaknya untuk sementara. Melihat menantunya yang sedang terbaring membuat hati kedua orangtua tersebut tertegun, mereka berdua tak menyangka jika Shasha wanita hebat yang telah berusaha keras merawat dari 0 bulan hingga lahir.
\=========FLASH BACK OFF========
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
__ADS_1
Terima Kasih.