TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 93. KEKECEWAAN SHASHA.


__ADS_3

Tanpa lama-lama segera Shasha menyulap ruangan yang berantakan menjadi rapi, bersih dan wangi. Begitu juga dengan masakan yang tersaji diatas meja. Menu makanan yang tak terlalu berat namun itu kesukaan Daniel.


Meskipun dirinya jengkel dengan Daniel namun ia tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


Selesai semuanya ia pun bersiap untuk pergi ke Mall membeli sesuatu yang harus ia persiapkan untuk besok. Besok adalah hari penting dan ditunggu-tunggu oleh dirinya, yaitu ia akan mengikuti tes di sebuah perusahaan yang dilamarnya. Oleh karena itu dia harus mempersiapkan penampilannya agar terlihat sempurna. Karena bagi Shasha selain otak sebuah penampilan pun penting karena akan menjadi kesan pertama.


Kali ini ia memilih angkutan umum untuk pergi ke Mall. Sesampainya di Mall ia segera menuju ketempat yang dituju yaitu sebuah toko yang menjual pakaian kerja untuk pria dan wanita. Dirinya sengaja langsung menuju toko tersebut guna menghemat waktu agar tak terlalu lama berada di Mall. "Karena terlalu lama berada di Mall dapat menguras kantong lebih banyak." imbuh Shasha.


Kurang lebih satu jam ia berada di Mall. Selesai membeli perlengkapan yang diperlukan segera Shasha keluar menuju pintu keluar. Namun belum sempat dirinya keluar ia melihat seseorang lelaki dan wanita. Shasha benar-benar sangat mengenal keduanya berjalan begitu mesra dan tampak seperti pasangan serasi.


Melihat itu Shasha tercengang dan semua belanjaan yang ia bawa jatuh. Orang-orang disekitar yang melintas pun mencoba membantu untuk mengambilkan nya.


Sempat tak percaya dengan apa yang dilihatnya, namun dirinya yakin bahwa kedua orang tersebut benar seperti dugaannya yaitu Daniel dan Asia.


Melihat itu Shasha memilih untuk segara cepat-cepat keluar dari Mall dan segera mencari angkutan umum karena ia tak ingin datang berpapasan dengan Daniel.


Didalam busway Shasha masih mengingat apa yang dilihatnya tadi.


Ternyata benar, mereka masih menjalin hubungan. Bilangnya benci karena telah mendua nyatanya sekarang kalian terlihat mesra. Dasar pembohong!


Melihat kemesraan antara Daniel dan Asia membuat dirinya mengingat semua apa yang telah dilakukan Daniel kepada dirinya, baginya apa yang dilihatnya tadi adalah sebuah bukti nyata bahwa Daniel memang tak pernah mencintai dirinya bahkan kebaikan yang pernah dilakukan Daniel padanya benar-benar sebuah topeng dan kebohongan belaka.


Hati dan perasaanya saat ini bercampur aduk penuh dengan rasa kecewa hingga menyalahkan diri sendiri. Seharusnya di awal ia tidak pernah menyanggupi ucapan mertuanya itu dan menolak perjodohan tersebut, bahkan seharusnya ia juga tak perlu takut dengan keselamatan yang mengancam dirinya.


Aku bodoh, seharusnya aku menolak. Jika saat itu aku menolak mungkin sakitnya gak akan seperti ini.


Pikirannya saat ini masih tak karuan, ia menganggap dirinya bodoh karena telah belajar jatuh cinta dan mengharapakan mendapat balasan cinta. Padahal jelas seorang Daniel tak mungkin akan mencintai seorang gadis biasa seperti dirinya jika dibanding dengan Asia, sang model terkenal. Ibarat bagai seekor katak yang merindukan bulan.


Perjalan Shasha terlihat begitu cepat. Ia yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya tak terasa jika dirinya telah sampai. Shasha yang saat ini berjalan menuju apartemen berusaha membangun kekuatannya agar dapat berjalan sampai ketempat tujuan.


Sampai di depan kamar apartemen ia tak langsung menempelkan kartu dan memasukkan kode pin. Dirinya melihat sebuah kertas yang terselip tanpa ada isinya dan hanya sebuah kecupan bibir dengan inisial "R".


"Pasti wanita resepsionis itu," sambil masuk kedalam Shasha masih menggenggam surat tersebut dan ditempelkannya di kulkas agar Daniel bisa membaca.


Shasha berusaha untuk memikirkan apa yang dilihatnya tadi. Sudah cukup baginya untuk tak terlalu dalam memikirkan apa saja yang sudah dilakukan Daniel padanya selama pernikahan.

__ADS_1


Lagipula diawal pernikahan Daniel sudah mengisyaratkan agar jangan sampai ada rasa cinta diantara keduanya. Hingga sebuah kata beban terucap dari mulut Daniel, tak hanya itu suaminya juga tak pernah terlihat bahagia jika bersama dirinya, bahkan sebuah kata TALAK pun pernah hampir terlontar.


.


.


Pagi pun tiba.


Shasha terbangun dan melihat jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Ia segera beranjak dari tempat tidur dan seperti biasa melakukan aktivitasnya.


Dilihatnya makanan yang sedari siang sampai malam dipanaskan masih utuh seperti belum tersentuh.


"Sepertinya dia belum datang. Oke, tak apa lebih baik aku makan saja. Mungkin mereka sedang bersama untuk melepas rindu." dengan senyum terpaksa ia memanaskan kembali makanannya.


Tak disangka air mata keluar dari matanya.


Aku kenapa? Kenapa air mataku turun? sepertinya aku kelilipan.


Sambil mengusap air matanya yang turun dan mendongak-an matanya ke atas agar air mata dan cairan pada hidung tidak turun.


Saat sedang enak-enaknya makan terdengar suara pintu terbuka.


"Kamu ... Ngagetin aj! Ngapain kamu disini?" sambil mengambil minuman dan duduk di depan Shasha.


"Makan." jawab Shasha singkat.


"Tumben makan jam segini? Kamu lapar?"


Shasha tak menjawab, ia hanya mengangguk tanpa menatap Daniel. Dirinya fokus menatap makanan agar makanan yang ada dihadapannya cepat habis.


"Lahap banget. Kamu masak cuman sedikit, bagi dunk," sambil berusaha merebut piring yang Shasha makan.


Shasha yang tak terima makanannya diambil berusaha mempertahankan piringnya dan ..


Prang ...(suara piring pecah)

__ADS_1


"Kenapa gak mau bagi makanannya, kan jadi pecah sekarang. Sudah ah selera makan ku hilang!" bentak Daniel sambil membantu Shasha yang sedang berjongkok mengambil pecahan piring yang berserakan.


Shasha yang sedang berjongkok mengambil pecahan piring tetap kekeh tak ingin melihat Daniel, ia tak berani menatap Daniel karena takut air matanya tumpah.


Dengan cepat dan berusaha hati-hati ia mengambil pecahan tersebut namun pecahan piring tersebut masih rela mengenai tangan Shasha yang halus.


"Awww," teriak Shasha lirih.


"Kamu terluka." dengan reflek Daniel mengambil tangan Shasha yang terluka dan menghisap jari Shasha yang terluka.


"Sudah, lepaskan. Ini hanya luka biasa." sambil menarik tangannya yang dipegang Daniel.


"Luka biasa apanya! Jarimu yang sobek ada dua. Luka kecil dan sedikit lebar."sambil masih memegang erat tangan Shasha.


"Sudah tak apa. Lepaskan pak."


"Kamu kenapa sih tiba-tiba aneh. Kemarin saat haid galak, sebelumnya kamu godain saya terus, tapi kenapa sekarang sikapmu jadi dingin. Saya salah apa?" tanya Daniel sambil menatap Shasha yang masih setia menunduk.


Shasha yang ditanya tetap diam dan segera beranjak dari tempatnya berjongkok. Tanpa mendengarkan Daniel berucap Shasha segera mengambil sapu dan cikrak untuk mengambil pecahan piring tersebut.


Melihat Shasha yang bertingkah aneh membuat Daniel berfikir apa yang salah dengan dirinya. Ia yang tak ingin terlihat tidak wibawa dihadapan Shasha pun mulai berdiri.


"Yasudah terserah kamu. Saya capek." sambil berjalan menuju ke kamarnya dan melempar tubuhnya ke tempat tidur.


Ah capek (sambil menggeliatkan tubuhnya).


Dasar makhluk wanita selalu aneh. Sialan wanita itu dia memiliki kartu AS ku. Aku harus bisa mengambilnya, aku akan meminta bantuan Johan.


.


.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak


__ADS_2