
"Yakin gak pernah begituan?" tanya Daniel yang tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan menghadap kearah Shasha.
"Iya gak pernah."
"Saya gak percaya. Kamu dengan dia pacaran cukup lama. Bahkan kamu begitu mencintainya."
"Iya mencintai dan berhubungan lama bukan berarti harus mau begituan kan pak? jangan-jangan bapak sudah ya? bapak kan juga lama apalagi mantan bapak begitu seksi?" tanya Shasha penuh selidik.
"Buat apa tanya-tanya. Sudah sana pulang sendiri. Tugas saya hanya menjemput kamu dari Jogja sampai kesini." ucap Daniel sambil memberikan koper milik Shasha.
Mendengar itu segera Shasha mengambil koper lalu menjauhi Daniel untuk mencari taksi. Kurang lebih sudah 30 menit Shasha menunggu taksi tak kunjung ada dan ketika Shasha hendak mendapat taksi tiba-tiba muncul sebuah mobil yang berhenti di depan Shasha yaitu sebuah mobil mewah berwarna hitam dengan merk Mercedes Benz G-Class. Mobil tersebut terlihat sangat mewah.
Beberapa orang yang sedang berjalan atau menunggu taksi banyak yang melihat kearah mobil tersebut namun tidak bagi Shasha. Shasha jengkel dengan mobil yang berhenti tepat di depannya. Menurut Shasha mobil tersebut menghalangi pandangannya.
Shasha yang mulai pindah posisi untuk lebih mudah mendapatkan taksi tetap dibuat jengkel karena mobil tersebut bergerak dengan sengaja agar taksi yang hendak Shasha tumpangi urung hingga dinaiki oleh orang lain.
Dari dalam mobil Daniel tersenyum membuat Shasha jengkel.
"Bos, kasihan bos jangan godain dunk." ucap Jason ibah dengan Shasha.
"Ajak dia masuk, bilang Arden sedang menunggu di dalam." perintah Daniel.
Setelah mendapat perintah segera Jason keluar dari mobil dan menghampiri Shasha.
"Maaf, dengan Shasha ya? saya Jason teman Ard..." ucap Jason terputus karena disela oleh Shasha.
"Lho? masnya?" tanya Shasha heran.
"Lho ? mbaknya? mari masuk mba, kita bicara didalam saja." ajak Jason sambil mengambil koper Shasha.
"Tunggu, tadi mas bilang temannya bang Arden?" tanya Shasha.
Jason yang ditanya hanya mengangguk sambil memasang kacamatanya yang dia letakkan diatas kepalanya.
Shasha mulai menaiki mobil, dia sengaja tak memilih kursi penumpang dia memilih duduk dibangku depan dekat dengan pengemudi.
"Gak nyangka kita bisa ketemu disini ya?" ucap Jason mencairkan suasana.
"Iya, mas sendiri ngapain disini?mas teman bang Arden?"
"Gak, aku disini tadi jemput bos aku." jelas Jason.
"Lho tapi kenapa malah saya disuruh ikut. Nanti kalau bosnya marah bagaimana?"
"Gak akan ada yang marah aku yang suruh." ucap Daniel tiba-tiba membuat Shasha kaget dengan suara yang dia merasa mengenal suara itu.
"Haduh kenapa bapak lagi sih! bukannya tadi saya disuruh pulang sendiri."
"Sudah diam saja. Kamu itu lagi sakit. Duduk dan istirahat yang santai."
"Lho mba, mba kenal sama pak bos?"
Shasha hanya mengangguk.
"Bos, dia itu wanita yang aku ceritakan waktu itu."
"Jadi kamu naksir dia?" tanya Daniel sambil mengernyitkan dahinya.
"Bukan dia bos tapi sahabatnya, tenang saja bos."
"Berhenti di depan kantor."ucap Daniel mendadak. Seketika juga Jason menghentikan mobil dengan tiba-tiba.
"Bos kenapa tiba-tiba kalau perintah." keluh Jason kepada Daniel.
"Sudah keluar kamu aku yang akan menyetir." ucap Daniel sambil keluar dan menuju ke kursi kemudi.
Jason yang keluar dari mobil hanya pasrah.
"Semoga tuh cewe kagak ilfil lihat kelakuan bos."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Shasha yang tadi disuruh diam dan hanya bersandar di kursi penumpang memandangi ponselnya. Sebuah gambar dirinya yang pernah dilukis oleh Abra. Sebuah gambar tersebut tak terlalu bagus namun Shasha merasa bahagia dan senang saat melihat gambar dirinya dalam bentuk anime. Baginya Abra adalah orang yang pernah membuat dirinya tersenyum namun juga membuatnya menangis.
__ADS_1
Daniel yang sedang mengemudi mencoba menoleh ke arah Shasha, dirinya melihat Shasha yang sedang memandangi ponselnya dengan wajah iba. Lagi-lagi Daniel merasakan kasihan kepada wanita disebelahnya ini.
"Sedang apa kamu?" tanya Daniel sambil fokus menyetir.
"Kenapa dia begitu tega dengan saya? apakah ini yang dirasakan dia saat aku memutuskannya?"
"Kamu teringat masa kelammu?" tanya Daniel sinis.
"Saya hanya tidak menyangka ternyata balasan yang diberikan kepada saya lebih besar bahkan saya merasakan kesakitan seperti ini."
"Lalu maumu apa sekarang?"
"Tetap melanjutkan hidup tanpa dia. Selama menjalin hubungan dengan dia saya selalu bermimpi jika dia menduakan saya. Dari awal kita dekat dia begitu menjunjung tinggi privasi."
"Menjunjung tinggi privasi artinya kamu tak pernah melihat isi ponsel atau semacamnya?" tanya Daniel sambil tetap fokus menyetir.
"Iya pak. Saya memilih dia bukan karena apa-apa tapi karena saya ingin memiliki pasangan yang memiliki rentan umur diatas saya. Bukan perkara dia seorang calon dokter. Bukan. Dia yang lebih tua dari saya baru mulai kuliah di tahun ajaran yang sama dengan saya."
"Hanya karena umur?"
"Iya."
"Jadi kamu menyukai pria lebih tua?" tanya Daniel sambil melihat Shasha karena traffic light berwarna merah.
Shasha hanya mengangguk.
"Jadi sekarang statusmu jomblo lalu siapa yang kamu pilih? Arden? Johan? Jason? Lelaki di kereta siapa itu namanya atau Daniel?" tanya Daniel serius sambil melihat wajah Shasha lekat-lekat.
"Kenapa banyak pilihan? seperti soal SNMPTN pak."
"Jawab pertanyaan saya!" bentak Daniel.
"Kenapa harus dijawab?"
"Karena mereka semua berumur tua." teriak Daniel.
"Tidak semua."
"Kenapa?"
"Tidak sebelum kamu menjawab pertanyaan saya."
"Jawaban saya tidak semua pak."
"Kenapa tidak semua. Padahal pertanyaan saya tidak ada pilihan tidak semua."
"Jadi saya pilih salah satu."
"Iya."
"Saya pilih Jason." ucap Shasha asal karena dia tak tahu Jason yang mana." "Ayo pak jalan itu kita di klakson dari tadi."
Mendengar suara klakson dan jawaban Shasha membuat hatinya tak terima, rasanya ingin marah. Segera dia menancapkan gasnya dengan kencang.
"Pak ..., kenapa pak? jangan ngebut pak." ucap Shasha sambil menoleh ke Daniel.
"Kenapa kamu pilih Jason? sudah berapa lama kamu kenal dengannya."tanya Daniel dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Karena saya gak tahu Jason itu siapa? jadi saya asal pak."
"Lelaki yang tadi ada di mobil bersama kita." ujar Daniel.
"Oo masnya itu. Kalau begitu gak jadi pak."
"Lalu kamu pilih siapa?"
"Kalau jawaban saya benar saya boleh dapat hadiah ya pak? hadiahnya saya mau makan nasi pak saya lapar."
"Cepat jawab. Jangan bicara terus!"
"Saya pilih Daniel."
Daniel yang mendengar itu mulai senyum-senyum sendiri dan melajukan mobilnya ke sebuah restoran.
__ADS_1
"Jadi jawaban saya benar? saya dapat hadiah makan ni pak?" sambut Shasha antusias.
"Ayo turun."
Masuk ke dalam restoran dari pintu depan merek datang kedatangan merek disambut oleh beberapa karyawan restoran dengan senyum yang begitu lembut.
"Pak, saya rasa senyum mereka semua dipaksakan." bisik Shasha.
"Gak usah nilai orang buruk. Ayo cepat duduk." ucap Daniel sambil menarik tangan Shasha ditempat duduk favorit Daniel. Daniel sengaja menyuruh Shasha duduk karena tak ingin karyawan resto melihat beberapa bekas luka yang masih tertinggal pada wajah Shasha.
Beberapa karyawan restoran saling berbisik membicarakan Daniel dan ada juga yang mengambil foto lalu dikirimkannya ke Melly.
"Pak Daniel bawa wanita cantik. Beruntung sekali dia." ucap salah satu karyawan.
"Cantik sekali. Lho-lho pak Daniel mau kemana itu?" tanya karyawan lainnya.
"Seperti pindah tempat. Beliau memilih tempat private. Gara-gara kalian sih gosip. Kan saya jadi tidak bisa melihat wajah tampannya." ucap karyawan lainnya dengan lesu.
"Pak, Kenapa tempat tertutup?" tanya Shasha.
"Sudah gak usah banyak tanya. Cepat pesan makanan saya mau tidur disini. Saya capek."
Shasha bingung melihat kelakuan Daniel, kadang baik, kadang jahat, kadang juga menjengkelkan.
Sambil menunggu pesanan makan tiba Shasha mulai mengutak-atik ponselnya untuk menghapus kenangan dirinya bersama Abra.
Tak lama kemudian makanan pun tiba.
"Terimakasih," ucap Shasha ramah.
Shasha yang sedang lahap makan harus berhenti kala Daniel tiba-tiba bersuara.
"Kenapa kamu pilih Daniel." tanya Daniel dengan mata terpejam.
"Saya suka dengan nama Daniel."
Daniel yang mendengar itu segera bangun.
"Maksudnya kamu hanya suka namanya? apa kamu tahu siapa Daniel."
"Tidak." ucap Shasha sambil mengunyah makanannya.
"Yakin kamu gak kenal?"
"Siapa memang dia pak?" tanya Shasha enteng.
"Yakin gak kenal?" tanya Daniel yang masih tak percaya.
Shasha sendiri lupa siapa nama Daniel, dia merasa tak asing mendengar nama itu.
"Kalau kamu tak kenal Daniel kenapa tidak memilih lelaki di kereta, Arden atau Johan?"
"Karena mereka pak Ibnu itu dosen dan sudah saya jodohkan degan dosen saya."
"Lalu Arden, Johan?"
"Mereka berdua sudah seperti saudara. Ei tunggu saya ingat Daniel itu siapa?"
"Siapa?"
"Bapak kan?
"Hem. Kenapa pilih saya?"
"Kenapa harus dijawab, pak?"
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1
Salam sayang 🥰🥰