TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 124. SALAH ORANG.


__ADS_3

Setelah dipersilakan Riko masuk, kini Shasha mulai berjalan menuju sebuah pintu yang tak lama lagi ia akan bertemu langsung dengan CEO-nya. Namun belum sempat ia masuk ke ruangan, ia mendengar sebuah suara tak asing yang pernah ia dengar saat ia sedang tes wawancara kerja.


Kenapa suaranya ada di luar?


Shasha yang hendak masuk pun mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, ia memundurkan langkahnya menuju ke ruangan Riko untuk memastikan apa benar suara yang dimaksud adalah orang yang ada dipikirannya. Saat ia memundurkan langkah dan dapat melihat siapa yang berada di ruangan Riko maka ia memilih untuk menunggu di depan ruangan CEO. Baginya sangat tak sopan jika ia menunggu di dalam sedangkan orang yang akan ia temui berada di luar. Jadi lebih baik menunggu sang pemilik ruangan diluar daripada di dalam.


Sudah hampir sepuluh menit Shasha duduk disana, dengan rasa penuh deg-degan Shasha menanti langkah seseorang yang ia maksud untuk berjalan ke ruangannya dan dapat bertemu dirinya hingga nantinya ia akan memperkenalkan dirinya dan berusaha meyakinkan kepada bosnya bahwa ia akan berusaha menjadi sekertaris yang layak dan ucapan terimakasih atas penunjukkan kesempatan yang diberikan kepada dirinya. Sepuluh menit pun berlalu dan waktu hampir terhitung setengah jam namun yang dimaksud masih juga tak kunjung berjalan hingga terdengar dering telepon di ruangan Riko.


Tak lama setelah menerima telepon segera Riko berdiri dari duduknya diikuti oleh seseorang yang dari belakang.


"Riko, ada apa? Kenapa harus berjalan tergopoh-gopoh begitu?" ucapnya sambil berjalan mengikuti Riko dari belakang.


"Dion bilang, karyawan baru itu belum juga masuk ke dalam padahal ini sudah setengah jam. Kemana dia? Sepertinya ia - " Riko berhenti tak melanjutkan langkahnya dan ia pun menjeda kalimatnya sambil tersentak kaget kala melihat Shasha tengah duduk disana sambil meremas jemari tangannya.


"Lu ngapain duduk disitu?" tanya Riko heran melihat Shasha yang duduk di sofa tersebut.


"Diruangan tak ada orang, jadi saya harus menunggu disini." jelas Shasha.


"Apa kamu sudah mengetuk?" tanya Riko bingung.


"Belum, tapi saya tadi mendengar suara bapak ada di ruangan bapak dan sedang berbicara." jelas Shasha. "Itu bapak," sapa Shasha sambil tersenyum kepada lelaki yang muncul di belakang Riko.


Pak Brata yang disapa pun tersenyum hangat melihat Shasha, seorang karyawan unik yang pernah membuatnya terkesan dengan kopi racikannya.


"Sedang apa kamu disini?" tanya pak Brata.


"Sedang menunggu bapak." jawab Shasha.


"Menunggu saya?" tanya pak Brata bingung.


"Iya pak, tadi pak Riko meminta saya masuk ke ruangan bapak tapi saya mendengar suara bapak diluar makanya saya tunggu disini." jelas Shasha. "Rasanya tak sopan jika saya masuk ke ruangan sedangkan bapak masih ada di luar." lanjut Shasha sambil menunjuk ruangan CEO yang ada di depan mereka bertiga.


"Lu ..., jadi lu dari tadi nunggu disini? tanya Riko dengan sedikit perasaan campur aduk antara jengkel dan ingin ketawa. "Sekarang gue tanya ke lu. Sudah berapa lama lu kerja disini?" tanya Riko sambil menggaruk-garuk jidatnya.


"Tiga bulan."

__ADS_1


"Lu sebutin nama CEO di perusahaan kita?" tanya Riko seperti memberi sebuah kuis kepada Shasha


"Pak Brata."jawab Shasha dengan penuh keyakinan.


Pak Brata dan Riko pun menahan tawa sambil menepuk jidatnya bersama-sama.


"Lebih baik sekarang lu masuk, lu kenalan dulu sama CEO yang duduk disana." terang Riko.


"Lho, bukan pak Brata?" tanya Shasha dengan bingung.


"Sudah, lebih baik lu masuk sana, masuk!" perintah Riko sambil menekankan kata masuk kepada Shasha.


"Tapi pak .."


"Gak ada kata tapi-tapia, gue bilang ma..suk. Lu masuk!" perintah Riko lagi sambil mengacungkan tangannya agar Shasha benar-benar masuk ke ruangan itu.


Melihat Shasha masuk ke ruangan membuat dua orang tersebut saling berpandangan dan menggelengkan kepala mereka.


"Gue heran, baru ini gue tahu ada karyawan yang gak kenal sama bosnya.! pantas saja waktu di lift ia kelihatan biasa aja gak ada tampang kagum sama sekali." ucap Riko lirih.


"Ia om."


**


Di dalam ruangan CEO


Setelah mengetuk pintu dan mendapat jawaban segera Shasha memasuki ruangan tersebut. Entah mengapa tangan Shasha merasa gemetar begitu juga dengan hatinya yang bergetar tak menentu.


"Pagi pak, perkenalkan saya Shasha."


"Saya sudah kenal, Jadi gak perlu memperkenalkan diri." ucapnya dingin dengan posisi kursi yang membelakangi meja.


Suara bariton khas itu sontak membuat Shasha benar-benar kaget hingga bunyi detak jantungya seakan berdetak lebih cepat dari biasanya saat kursi itu diputar dan terlihat siapa yang duduk di kursi tersebut. Mata Shasha yang bulat mirip kacang almond malah semakin bulat dan justru membuat dirinya semakin cantik jika dipandang,


"Kenapa? Kaget?" ucap Dion dingin, namun jauh di dalam lubuk hatinya ia masih memuji kecantikan mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


Shasha diam tak dapat berkata-kata. Ia rasanya berdiri lemas ternyata selama ini dirinya salah, Dion bukanlah seorang karyawan biasa seperti yang pernah ia ucapkan saat pertemuan mereka di pantry, yang mana itu adalah pertemuan pertama setelah bertahun-tahun tak saling berjumpa.


"Maaf, selama ini saya gak tahu jika bapak adalah CEO disini. Saya ki-" jelas Shasha yang berusaha mencairkan ketegangan pada dirinya sendiri.


"Saya kira bapak seorang karyawan biasa, itukan yang mau kamu jelaskan," lanjut Dion yang memotong penjelasan Shasha.


"Angkat kepalamu, mulai sekarang kamu harus menemani saya kemana saja. Jika kamu menolak maka aku akan menuntutmu karena kamu telah melakukan kebohongan dengan statusmu." ancam Dion.


"M-ma-maksudnya?"


"Kamu kira saya tidak tahu jika kamu sudah menikah? Saat menandatangani kontrak, disana tertulis jelas bahwa kamu tidak boleh menikah selama setahun bekerja, dan tadi pagi sebelum kamu kesini kamu juga sudah menandatangi kontrak lagi yang menyatakan bahwa kamu menerima posisi sekertaris dengan statusmu yang masih single. Kamu paham maksud saya? Jelas-jelas kamu berbohongkan!


"Jadi?" sambil memejamkan mata Shasha menghela nafas panjang.


"Temani saya kemana pun saya pergi, karena kamu adalah sekertaris saya."


"Jika saya gak mau?"


"Denda sebesar 100Miliar dan penjara akan menantimu."


Mendengar nominal sebesar itu ditambah ancaman buih membuat Shasha membelalakkan matanya.


"Gak usah kaget dengan nominal dan ancaman buih, kamu bisa meminta suamimu. Baginya uang sebesar itu tak ada artinya. Kamu tinggal lihat saja siapa baginya yang berarti, uang atau dirimu." celetuk Dion sinis.


Mendengar ucapan Dion, Shasha benar-benar tak menyangka jika Dion akan menyelidiki dirinya sedetail itu. Ia hanya terdiam tak sanggup berkata apa-apa, lagi pula keputusan untuk tidak memberitahu pernikahannya adalah kemauan Daniel dan ia menyetujui itu. Sedangkan perkara uang, ia tak mungkin meminta Daniel karena sudah beberapa bulan dia tak pernah bertemu apalagi jika ingin meminta uang. Mau tak mau Shasha pun menyanggupi semua permintaan Dion untuk mengikuti kemana saja dirinya pergi, baginya itu hal yang wajar karena itu adalah bagian dari pekerjaannya.


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2