TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 45. KEADAAN SHASHA.


__ADS_3

"Dia wanita yang sama pak, wanita yang pernah menyelamatkanmu 13 tahun yang lalu." ucap lelaki paruh bayah yang mengemudikan mobil.


"Bapak tahu darimana peristiwa 13 tahun silam? bapak siapa?"


"Saya tahu, karena saya adalah adik dari Danu Sutejo, supir den Daniel."


"Pak Danang?"


"Iya den, maafkan saya tadi tidak memperkenalkan diri."


"Tidak pak, justru saya yang minta maaf."


Mereka berdua pun saling berbincang di dalam mobil hingga kini mereka telah sampai di hotel tempat Shasha menginap.


"Den, mari kita masuk." ajak pak Danang kepada Daniel.


Sesampai di hotel segera Daniel menuju ke resepsionis, tanpa Daniel berucap seorang resepsionis mengerti bahwa yang datang adalah dirinya.


"Selamat malam, dengan Bapak Daniel Habibie Joshka? nama anda sudah terdaftar dan silakan cek IN di kamar XX. Calon istri anda sudah sampai duluan kemarin." ucap seorang resepsionis.


Daniel yang masih bingung mencoba berusaha memahami semuanya sedangkan pak Danang hanya tersenyum melihat ekspresi dari anak sang majikannya itu.


Setelah mendapat kartu kunci cadangan untuk membuka kamarnya segera Daniel pergi menuju kamarnya diikuti dengan pak Danang. Kamar mereka bersebrangan.


Ceklek


"Huh ..., kenapa gelap sekali?" tanya Daniel sambil menghela nafas. "Kemana dia?"


Daniel mencari keberadaan Shasha tak terlihat, yang terlihat hanya sebuah tas dan sepasang sepatu serta ponsel yang ada di atas kasur.


"Dia dimana? tempat tidur juga masih rapi." gumam Daniel sambil mencari-cari keberadaan Shasha.


Tok ... tok ...


Daniel mencoba mengetuk pintu kamar mandi, siapa tahu Shasha sedang mandi atau berada didalam kamar mandi. Tak ada jawaban dari dalam Daniel mulai membuka dan hasilnya nihil.


Kini Daniel beralih menuju pintu balkon yang terbuka. Dan tepat sekali disana dia melihat Shasha yang sedang tertidur sambil duduk. Betapa terkejutnya Daniel saat melihat kondisi Shasha. Dipipinya terdapat bekas tamparan yang terlihat memar. Dan pada ujung bibir terdapat darah yang sudah mengering, sedangkan pada ujung keningnya terdapat luka terbuka.


Melihat kondisi Shasha seperti itu segera dia menggendong Shasha ala bridal style untuk masuk ke dalam dan menidurkan Shasha diatas tempat tidur.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Daniel sambil meraba beberapa bagian tubuh Shasha yang mengalami luka. "Siapa yang membuatmu seperti ini?!" ucap Daniel sambil tetap memandang wajah Shasha dan mengelap buliran air mata yang keluar dari sudut mata Shasha.


Dengan gelisah Daniel menelpon pak Danang agar segera mencarikan seorang dokter untuk memeriksa kondisi Shasha.


Sambil menunggu dokter datang Daniel mencoba mengompres badan Shasha yang demam dengan kain waslap dan air dingin. Berulang kali Shasha mengigau dan berulang kali pula Daniel mengganti kain waslap tersebut.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari luar.


Segera Daniel membukakan pintu.


"Dok, tolong periksa keadaan dia. Segera dok!"perintah Daniel keras.


"Baik pak," jawab dokter tersebut sambil menuju kearah tempat tidur dimana Shasha tertidur.


Betapa terkejutnya dokter tersebut saat melihat siapa gadis yang terbaring tersebut.


"Kenapa babak belur begini? apa yang sudah bapak lakukan padanya?"


"Dokter menuduh saya!? jangan salah sangka. Keadaanya sudah begini ketika saya masuk! Jangan banyak bicara cepat periksa keadaanya!" perintah Daniel.


Brian yang memeriksa kondisi Shasha sangat kaget melihat keadaan Shasha yang sepertinya habis mengalami penyiksaan. Jika memang yang melakukan ini kalian berdua sungguh keterlaluan, pantas saja kalian menjadi pasangan.


Diperiksanya kondisi Shasha mulai dari bekas luka hingga di ceknya beberapa bagian anggota tubuh yang mengalami memar serta luka terbuka akibat pecahan guci yang mengenainya tadi. Dan ketika Brian hendak membuka baju Shasha karena ingin memeriksa bagian perut dengan segera Daniel muncul dari belakang dan menarik tangan Brian.

__ADS_1


"Mau dokter apa? kenapa membuka bajunya?! " tegas Daniel dengan emosi karena dirinya tak terima jika Brian membuka baju dan melihat anggota tubuh Shasha.


Brian yang mendengar itu lagi-lagi dibuat kaget, karena setau dirinya Shasha hanya mencintai kakaknya. Baguslah jika lelaki ini calon suami Shasha, setidaknya lebih baik daripada Abra.


"Saya tidak bermaksud apapun, saya hanya memeriksanya, karena saya menduga bahwa wanita ini memiliki penyakit mag dan panas badannya dipicu dari pikiran hingga membuat sakit pada lambungnya kambuh." Jelas Brian.


"Berarti dokter sudah tahu bukan jika memang dia punya mag? jadi tak perlu membuka bajunya." bentak Daniel.


"Saya belum tahu, saya hanya menduga dan memastikan saja. Makanya saya perlu membukanya sebentar." jelas Brian dengan wajah kesal.


"Tidak! jika saja bilang tidak ya tidak artinya dokter tidak boleh membukanya!"


"Tapi saya hanya memeriksanya, tolong hargai profesi saya, saya tidak mungkin macam-macam. Saya hanya bersikap profesional." mohon Brian.


"Kalau begitu saya saja yang membuka, dokter hanya mengarahkan. Jadi dokter tak perlu melihat tubuhnya!"


"Baiklah terserah anda saja." ucap Brian jengkel.


"Bagaimana keadaan dia?" tanya Daniel khawatir.


"Seperti yang saya duga. Tubuhnya penuh dengan luka dan bekas tamparan. Kita akan tahu apa yang terjadi saat dia bangun."


"Sampai berapa lama dia akan bangun?" tanya Daniel panik.


"Tunggu saja, mungkin sebentar lagi dia akan bangun. Kita bicara diluar saja, ada yang ingin saya sampaikan mengenai kondisi pasien."


Daniel dan Brian keluar dari kamar, agar Shasha bisa istirahat dengan nyenyak.


Entah apa yang sedang dibicarakan Brian kepada Daniel, mungkin seputar obat-obatan dan makanan yang harus diberikan Daniel kepada Shasha.


Setengah jam kemudian Brian kembali ke kamar untuk melihat kondisi Shasha, dan saat Brian sedang memperbaiki posisi tidur ternyata perlahan mata Shasha mulai terbuka dan betapa kagetnya saat melihat ada Brian di depan matanya.


"Kak Brian?" sapa Shasha dengan suara lemah.


"Luka ini tak seberapa kak, yang lebih sakit ini kak?" ucap Shasha sambil menunjuk jantungnya." "Aku tak menyangka ternyata dia begitu kejam, seharusnya aku mendengarkan semua ucapanmu, kak." ucap Shasha sambil menangis.


"Sudah, jangan menangisinya. Air matamu terlalu berharga. Masih banyak lelaki baik di dunia ini yang biasa menghargai ketulusan mu. Dan sekarang aku lega akhirnya pikiranmu terbuka namun hatiku sakit saat harus melihatmu disakiti seperti ini." ucap Brian sambil mengelus rambut Shasha.


Shasha hanya mengangguk sambil mengusap air matanya kala mengingat kejadian kemarin malam. "Kakak kenapa bisa disini?" tanya Shasa.


Belum sempat Brian menjawab tiba-tiba terdengar suara seseorang berdehem dan muncul dan tanpa sepengetahuan mereka ternyata Daniel telah mendengarkan semua pembicaraan antara Shasha dan Brian.


"Ehem ... aku yang menelponnya." ucap Daniel yang tiba-tiba muncul sambil berdehem.


"Bapak?? kenapa bapak disini?" tanya Shasha sambil mengerutkan dahinya.


Daniel tidak menanggapi pertanyaan Shasha dia hanya fokus kepada Brian.


"Dokter, sepertinya dia sudah lebih baik, jadi lebih baik dokter undur diri." ucap Daniel sinis.


"Baik pak Daniel, saya pamit dulu. Sha, kamu minum obatnya sebelum makan dan jangan terlambat makan serta jangan terlalu str ..."


"... Sudahlah dok, saya sudah tahu! saya yang akan mengurusnya jadi anda tidak perlu khawatir." ucap Daniel yang memotong ucapan Brian sambil mendorong Brian agar segera keluar dari kamar hotel mereka.


"Oke pak Daniel, sekarang saya sudah keluar. Ingat semua pesan saya Saya titip Shasha tolong jaga dia, dia wanita baik."


"Dokter, tanpa anda ajari saya sudah tahu apa yang harus saya lakukan. Terimakasih atas bantuannya. Selamat malam." ucap Daniel ketus lalu menutup pintu dengan segera.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di dalam sebuah kamar hotel yang besar Shasha merasa asing, dirinya yang tidak tahu harus berbuat apa selain berbaring. Kenapa aku harus diam saja? ini kan kamarku harusnya aku yang menguasai ruangan kamar ini!


Shasha yang sedari tadi tiduran mulai bangun dan mencoba berjalan mencari keberadaan Daniel. Daniel yang dicarinya ternyata berada di dapur sedang memasak.

__ADS_1


Ehem ... (suara berdehem Shasha yang sengaja dia buat untuk menyapa Daniel.)


Daniel yang tahu bahwa Shasha sedang datang menghampirinya hanya diam dan tak bersuara meskipun dirinya mendengar Shasha yang berdehem.


Shasha yang tahu jika dirinya di acuhkan mencoba menyapa dengan cara lain.


Ehem ... Ehem ... Uhuk ... uhuk ...


Daniel yang mendengar itu tetap santai dan tak menoleh sedikitpun kepada Shasha. Sedangkan Shasha merasa jengkel karena tidak dihiraukan. Akhirnya dia duduk di meja pantry sambil melihat Daniel yang sedang memasak.


"Bapak sedang apa?" tanya Shasha basa basi.


Daniel yang ditanya mulai melirik Shasha.


"Menurutmu?" tanya Daniel balik.


"Masak." jawab Shasha.


"Sudah tahu kenapa tanya?!"


"Iya, Shasha tahu bapak masak tapi Shasha penasaran bapak masak apa? apa bapak bisa masak?"


"Ini makan. Jangan komentar apapun. Jika enak di habiskan jika tidak buang saja." ucap Daniel sambil meninggalkan dapur dan pantry lalu menuju ke kamar.


"Apa ini? bubur?" gumam Shasha.


Shasa yang lapar mulai menghabiskan bubur tersebut meskipun rasanya yang tak terlalu enak namun dia tetap makan dan menghabiskannya dengan di dorong air putih.


Selesai makan dia mencuci piring dan membereskan semua bahan-bahan yang berserakan di dapur. Setelah itu dirinya masuk ke kamar untuk berbaring, karena dia merasa dirinya masih terasa pusing dan sedikit lemas. Dirinya tak tahu bahwa Daniel juga berada di kamar tepatnya di kamar mandi.


Posisi Shasha yang membelakangi kamar mandi sambil menutup tubuhnya dengan selimut tebal dan menutup telinganya dengan headset tak melihat dan mendengar bahwa Daniel keluar dari kamar mandi. Sedangkan Daniel dengan santainya keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang disematkan pada pahanya lalu keluar dan berdiri di depan Shasha.


Shasha yang melihat itu terkejut karena ini kali keduanya melihat Daniel bertelanjang dada dengan sebuah handuk yang disematkan pada paha.


"Bapak mau apa?! jangan macam-macam!" teriak Shasha.


"Gak usah GR dan kaget, ini kali kedua kan kamu melihat saya begini! saya lupa mengambil baju." jawab Daniel cuek.


"Tapi gak begini kan caranya pak, bapak bisa teriak minta tolong ambilkan baju."


"Gak usah cerewet, kalau gak mau lihat tutup mata saja." ucap Daniel sambil melepas handuk yang dipakai lalu melemparnya ke arah Shasha dan menutupi wajah Shasha.


"Bapak jorok!!! itu kan bekas penutup bapak!!" ucap Shasha kesal.


Daniel yang mendengar Shasha mengomel hanya diam dan tersenyum. Sudah lama dia tak mendengar Shasha yang mengomel, dia rindu namun rasa rindunya karena lama tak bertemu dikalahkan dengan rasa jengkelnya kepada Shasha yang memiliki sikap sama dengan mantan kekasihnya itu.


"Cepat kamu siap-siap! kita kembali sekarang!" ucap Daniel sambil mengambil handuk yang masih menempel di wajah Shasha.


Dengan langkah gontai Shasha berjalan menuju kamar mandi sambil membawa baju yang dia ambil dari dalam tasnya.


Shasha yang sedang mandi tak mendengar jika ponselnya sedang berdering. Deringan telepon yang berulang membuat Daniel sedikit terganggu.


Dicarinya sumber suara yang menganggu itu dan dia melihat ada sebuah nama "my ❤️ " yang muncul di layar ponsel milik Shasha. Huh selingkuhannya nelpon, gue kerjain aja.


to be continued .....


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak


Salam sayang 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2