
Saat ia sedang bersantai sambil menghirup udara pagi di taman tiba-tiba pandangannya tertuju pada seseorang yang dia kenal. Namun dirinya lupa dimana ia pernah bertemu lelaki yang ada dihadapannya itu. Dilihatnya lelaki tersebut sedang berbicara dengan seseorang tinggi dan berbadan tegap dengan sebuah handuk menggantung di lehernya. Shasha tak dapat melihat siapa lawan bicara dari lelaki yang dikenalnya itu.
Saat sedang memperhatikan dua lelaki yang berada tak jauh dari dirinya bersantai tiba-tiba dirinya dibuat terkejut dengan sapaan dari seseorang yang dia kenal.
"Woi...! Tumben pagi-pagi ada disini, biasanya jam segini udah siap-siap berangkat."
"Rachel, kamu ngagetin aja."
"Habis lu dari tadi gue panggil gak noleh-noleh, yaudah gue kagetin aja."
"Liat apaan sih, serius amat mandanginnya?"
"G--gak gak papa. Thank's ya tadi sudah bantuin." ucap Shasha berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tenang saja, bukannya pak Johan itu teman baik pak Daniel dan aku lihat kamu justru lebih akrab dengan pak Johan."
"Gak papa."
"Dia tadi tanya ke gue jam berapa lu berangkat, ya gue bilang kalau lu berangkat pagi-pagi." Rachel berucap sambil melambaikan tanggannya kepada seseorang lelaki.
Shasha yang sedang diajak bicara Rachel tak tahu kepada siapa Rachel melambaikan tangannya, yang kemudian terdengan suara sapaan dari dua lelaki yang ada di belakang Shasha.
"Tumben kalian berdua disini pagi-pagi begini, emang ada apa? Jarang-jarang ni kita bertiga ngumpul begini."
"Oia, kenalin ini teman gue, Shasha namanya," ucap Rachel dengan polosnya. Rachel tak tahu jika kedua lelaki tersebut telah mengenal Shasha sebelumnya begitu juga dengan Shasha.
Shasha kaget ternyata dua lelaki yang di sapa Rachel adalah dua lelaki tadi yang membuat dirinya penasaran tadi.
"Hai,, gue Riko, ini teman gue Yoga." ucap Riko dengan sengaja memperkenalkan diri, karena beberapa kali bertemu Shasha ia tak pernah memperkenalkan diri yang ada ia hanya menjadi obat nyamuk dari sahabat sekaligus bosnya tersebut.
"Hai semua," sapa Shasha dengan cuek sambil melihat jam tangannya.
"Lu keburu-buru Sha, lebih baik diantar Riko aja kan kalian berangkatnya searah kan."
"Jangan, gue harus jemput bos gue dulu." ucap Riko dengan cepat.
"Bos, sejak kapan lu formal gini sih, lagian dia kan juga sahabat kit-"
Ucapan Rachel terputus saat Riko bertanya sesuatu pada Rachel.
"Rachel, ikut gue bentar yuk ada yang mau gue omonging." ajak Riko kepada Rachel dengan cepat.
"Sebelum mereka berdua pergi Shasha pun berpamitan kepada mereka bertiga hendak berangkat terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kalu gitu sekalian saja, gue pamit, sampai ketemu lain waktu." ucap Shasha sambil mencium pipi Rachel.
Melihat itu dengan sigap Yoga berjalan mengikuti langkah Shasha.
"Mau saya antar," Yoga menawarkan diri untuk mengantar Shasha.
Shasha menggelenkan kepalanya," tidak terimakasih."
"Yakin, jam segini kamu akan terlambat jika naik angkot, apalagi saya dengar akan ada demo hari ini." jelas Yoga.
"Memang kalau saya diantar bapak saya tidak terlambat?" tanya Shasha.
"Iya, saya jamin tidak akan terlambat."
"Kalau gitu saya tidak mau gratis, saya akan bayar bapak karena telah mengantarkan saya sampai tempat tujuan."
"Boleh, sesuai aplikasi ya neng," dengan tersenyum Yoga meng-iyakan permintaan Shasha.
Mendengar itu Shasha hanya tersenyum simpul.
**
Shasha dan Yoga kini berada di dalam mobil bersama. Ini adalah kali kedua Shasha berangkat kerja diantar oleh Yoga. Di dalam mobil seperti biasa tak ada pembicaraan diantara kedua. Untuk memecah keheningan yang ada diantara mereka berdua Yoga pun menyalakan beberapa lagu.
"Sorry, gue matiin lagunya ya. Kita nyalain radio tentang kondisi jalan aja ya." sambil mencari gelombang radio yang Shasha hafal.
Melihat itu Yoga hanya diam saja dan tersenyum, Ia tak menyangka jika Shasha bisa melakukan hal itu, baginya ini adalah sebuah kemajuan dari tidak berucap sama sekali perlahan tanpa sadar kini Shasha sudah mengajaknya berdiskusi.
"Ini lebih baik, bukan.Apa itu cinta? Aku tak percaya dengan cinta. Jika cinta hanya sebuah ucapan apalah artinya karena lelaki yang dipegang adalah ucapannya."
Mendengar itu Yoga hanya tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum, pak? Memang ada yang aneh dengan ucapan saya?"
"Gak ada yang salah, yang salah itu kalau saya gak dengerin curhatan kamu."
"Tapi saya gak lagi curhat. Saya ini cuman bilang aja, kalau buat apa janji jika gak bisa menepati apalagi kata-kata itu diucapkan oleh lelaki."
"Memang kenapa jika diucapkan oleh lelaki, kenapa lelakinya? Mau kamu apain lelakinya?"
"Aku gak mau apa-apain, aku bukan tipe wanita bar-bar. Aku ingin menghilang darinya. Aku ingin dia tak bisa menemukan diriku dan aku ingin dia sadar dan menyesal dengan apa yang ia lakukan."
"Kalau gitu lakukanlah."
__ADS_1
"Tak mungkin."
"Kenapa?"
"Kita bukan lagi pasangan ABG yang berantem lalu putus dan cari yang baru."
Mendengar itu Yoga hanya mengangguk-angguk sambil menyetir.
"Aku gak tahu harus gimana?" ucap Shasha sambil memejamkan matanya dan berusaha menguatkan hatinya agar tak menangis.
"Kalau mau menangis, menangislah. Kalau mau cerita, ceritalah. Aku akan mendengarnya."
"Tidak, aku gak akan menangis." ucap Shasha dengan tegar tanpa ia sadari bahwa air matanya sudah menetes dan membasahi pipinya."
"Hmmm, sekarang siapa yang berbohong?"
"Siapa?"
"Kamu. Kamu telah membohongi dirimu sendiri jika kamu baik-baik saja. Di dunia ini tak hanya laki-laki yang berbohong wanita pun juga pandai berbohong. Yang aku tahu jika pasangan sudah menikah memiliki masalah maka segeralah untuk memperbaiki komunikasi diantara kalian. Carilah solusi, bukan malah ingin menghilang."
Ucapan Yoga membuat Shasha terdiam. Namun tak ada yang tahu jika diamnya Shasha menyimpan banyak rasa yang mebuat dirinya makin terasa sesak.
"Iya benar, aku gak boleh menghilang sekarang. Setidaknya aku harus bertahan dan kuat. Akan aku buktikan kepada orang yang menyakitiku terutama wanita itu bahwa aku kuat."
Setelah menyemangati dirinya sendiri Shasha kembali diam begitu juga dengan Yoga, ia yang sudah melihat Shasha lebih baik memilih untuk tidak mengajaknya berbicara, karena ia takut jika Shasha menganggap dirinya telalu ikut campur. Padahal di dalam pikiran Yoga, ia tahu bahwa siapa lelaki dan wanita yang ada dibalik curhatan Shasha tak lain adalah Daniel suaminya dan Asia.
Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Asia? Kenapa dia menjadi nekat seperti itu, tak seharusnya ia menyakiti hati seorang istri.
Shasha, aku memang mengenal Asia namun aku akan selalu melindungimu bagaimana pun caranya meski aku tak mendapat balasan cinta dari mu tapi aku sadar bahwa cinta tak harus memiliki. Jika hanya melindungimu dan membuatmu tersenyum itu berarti maka aku akan lebih memilih itu daripada aku memilkimu namun aku tak dapat melindungi dan membuatmu senyum seperti suami Daniel.
Tegar seperti sebuah nama yang tersemat di dalam namamu, yaitu Nesha Himalaya Ayesha. Sebuah kata Himalaya, gunung yang selalu menjadi impian para pendaki untuk menakhlukkan gunung tersebut.
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,
comment atau kasih.
__ADS_1