TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 83. TAMU MERSAHKAN.


__ADS_3

Kedatangan Johan di apartemen membuat suasana menjadi ramai. Ruangan apartemen yang biasanya diisi oleh dua orang kini harus ditambah dengan hadirnya seseorang yang akan meramaikan situasi apartemen untuk beberapa hari kedepan.


Setelah Daniel dan Johan berangkat kini suasana yang tadi ramai kembali berubah menjadi sepi dan sunyi. Dalam kesunyian dan sepi yang sesaat ini ia memanfaatkan dengan mengotak-atik ponselnya untuk memesan baju secara online. Bukannya tak menyukai baju yang sudah disiapkan oleh mertuanya namun harus ia akui semua baju yang ia bawa saat itu sudah diganti dengan baju yang bermerek, bagus namun sayang semuanya kurang bahan. Adapun baju formal namun tak mungkin ia menggunakannya saat di dalam apartemen.


Selesai meng-klik beberapa baju yang diinginkannya segera ia pesan lalu dibayarnya segera. Ia sengaja mencari tokoh online di daerah sekitar dan memilih jasa pengiriman yang pengiriman paling cepat agar barang cepat sampai di hari yang sama.


Sambil menunggu pesanan datang ia duduk di sofa empuk ruang tamu dengan termenung. Pikirannya melayang ke masa dimana ia masih sering berkumpul dengan kedua sahabatnya.


"Ah ..., sudahlah semakin aku memikirkan itu semakin aku merasa iri. Mungkin Sang Kuasa punya rencana yang lain dan tentunya baik untukku." "Tapi ..., rencana apa ya kira-kira? Aku yang harus menikah dengan lelaki yang menganggap masa laluku buruk dan menjadikan sebuah tolak ukur dari sikap kesetiaan'ku. Mungkin benar apa kata bang Jo, bahwa dia adalah lelaki galon(gagal move on)."gumam Shasha. "Apa itu artinya dia masih memikirkan kekasihnya dulu dan masih belum terima dengan kenyataan bahwa hubungan mereka telah kandas?" lanjut Shasha yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tak terasa kini usia pernikahan mereka hampir memasuki bulan pertama. Selama itu pula Daniel masih belum memberikan nafkah, baik batin maupun lahir. Shasha tak terlalu memusingkan perihal nafkah, karena untuk nafkah lahir ia merasa sudah tercukupi. Perihal kebutuhan makanan selalu tercukupi, perihal tempat tinggal juga ia sudah tak memikirkan. Sedangkan untuk masalah nafkah batin dirinya hanya bisa bersikap biasa saja berusaha untuk tidak sampai terbawa suasana, karena terkadang ia harus menahan hasrat aneh yang belum pernah ia rasakan saat keduanya tanpa sengaja bertatapan muka dan bersentuhan.


Baginya kehidupan pernikahannya benar-benar mirip panggung sandiwara. Dimana dirinya harus bersikap layaknya suami istri jika di lingkungan keluarga namun mereka harus bersikap sebaliknya saat berada di tempat umum.


Tak terasa waktu cepat berlalu, pikirannya yang sudah mulai sadar dan tak memikirkan hidup pernikahannya lagi. Saat ini ia mulai mengecek posisi pesanannya yang sudah dalam perjalanan. Selesai mengecek kini ia mulai membuka beberapa aplikasi pencarian kerja sambil mengirimkan CV'nya ke beberapa perusahaan yang cocok menurutnya.


Saat sedang serius-serius nya mengirim CV, ia harus berhenti sejenak karena mendengar suara ketukan pintu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Kak Nesha?" sapa seorang dari balik pintu


"Iya, ada apa ya mbak?" tanya Shasha kepada seseorang yang dia yakini adalah seorang pekerja di apartemen ini karena dilihat dari seragam yang dikenakannya.


"Ini ada paket untuk kakak." berbicara sambil memperbaiki tatanan rambutnya dan menggigit bibir bawahnya.


"Terimakasih ya mbak." ucap Shasha sambil menutup pintu namun tertahan.


"Maaf ada apa lagi ya?" tanya Shasha kepada seorang resepsionis tadi yang nama pada bajunya adalah Rachel.


"Pak Daniel apa ada didalam?" dengan nada menggoda Rachel bertanya.


"Gak ada. Mau titip pesan apa?" ketus Shasha.

__ADS_1


"Tidak ... tidak ada." " Oh ada mbak. Tolong titip ini ya," sambil memberikan sebuah sapu tangan berwarna biru. "Dan tolong sampaikan terimakasih banyak telah mengobati luka saya."


Shasha yang kesal dengan nada bicara wanita itu tak kuat berlama-lama jika harus mendengarkan percakapan tak berfaedah.


"Oke, nanti saya sampaikan si kucing garong ya." sambil hendak menutup pintunya.


"Tunggu ... tunggu ..., Mbak." sambil menahan pintu yang hendak tertutup.


" Iya, ada apa lagi mbak. Bisa dibantu?" kesal Shasha sambil tetap berusaha tersenyum terpaksa.


"Bisa tolong hubungi saya jika pak Daniel datang?" sambil memberikan secarik kertas yang berisi momor ponsel miliknya.


"Oke, nanti saja sampaikan ke dia. Sudah dulu ya, Mbak. Saya harus masuk, ini perut saya gak enak , mau kebelakang." alasan Shasha sambil segera menutup pintu.


Shasha yang kini sudah berada di dalam mulai membuka paketnya.


"Gila, tuh cewe agresif banget. Nada suaranya yang dibuat manja bikin aku emosi." emosi Shasha. "Kenapa dalam sehari kedatangan tamu terus dan kali ini tamu yang meresahkan!" lanjut Shasha yang masih emosi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam hari.


Tak butuh waktu lama, sesaat kemudian terdengar suara seseorang yang sedang memasukkan kode pin pintu.


"Halo, adikku sayang," teriak Johan yang berada di belakang Daniel.


"Sudah pulang, Bang," ujar Shasha.


"Kug pulang? salah tanya'nya." protes Johan.


"Salah? terus yang benar apa?" tanya Shasha lagi.


"Datang. Kan Abang datang dari kantor." jelas Johan sambil duduk disebalah Shasha.


"Oh ia. Maaf ya Abang."


Mendengar pembicaraan antara Shasha dan Johan membuat dirinya malas dan memilih untuk segera masuk ke kamarnya dengan tujuan untuk merebahkan tubuhnya yang berasa letih.

__ADS_1


"Aaggghhhhh, nyaman'nya,"


Selesai bersantai sejenak seger ia membersihkan badannya dan bersiap untuk makan malam.


Di meja makan ternyata sudah ada Johan dan Daniel dan sedari tadi sudah menunggu kehadiran Daniel.


"Woi, ayok dong. Kita dari tadi nungguin nih."


"Sapa suruh nunggu gue."


"Dasar gak ada akhlak. Kita dari tadi nunggu bilang makasih kek, apa kek. Malah nyalahin."


"Sudah-sudah, kenapa sih kalian berdua selalu saja ramai mirip Tom and Jerry."


"Iya, sorry ya. Abang kan memang suka bercanda, Sha."


"Iya bang, yasudah ayo makan." ucap Shasha sambil mengambilkan nasi untuk Johan.


Tak hanya Johan yang diambilkan nasi, ia juga mengambilnya untuk Daniel. Melihat itu Daniel merasa tersentuh, dirinya tak menyangka jika Shasha bisa bersikap manis.


Selama makan malam tak banyak yang mereka bicarakan, sedangkan Shasha hanya berusaha mendengarkan saja.


Selesai makan malam seperti biasa Shasha membersihkan meja makan, pantry dan dapur sampai tak ada barang kotor sedikit pun yang nongkrong.


Seperti biasanya, selesai membersihkan semua Shasha tak langsung menuju ke kamar untuk beristirahat, ia memilih untuk bersantai di ruang tamu sambil mengecek beberapa lamaran yang sudah ia kirim tadi siang.


Dirasa makanannya sudah turun kini ia masuk menuju ke kamar untuk beristirahat. Belum masuk ke kamar, ia harus mendengar sapaan dari Johan. "Selamat bikin anak ya dek, Abang pesan anak cowo cakep atau cewe cantik ya, semoga berhasil." goda Johan kepada Shasha.


"Abang sakit ya? Abang kira mau beli makanan! Shasha masuk dulu ya Bang,"


Shasha yang kini masuk ke kamar harus tahan melihat Daniel yang sedang bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek. Seperti biasa sebelum tidur Daniel selalu melakukan olahraga ringan dan itu terlihat cukup seksi jika dipandang.


"Apa kamu lihat-lihat?" tanya Daniel kepada Shasha.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak


__ADS_2