TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 92. SEBUAH ANCAMAN.


__ADS_3

Selesai makan bersama mertuanya kini mereka bertiga segera kembali ke hotel karena siang ini mereka harus sudah check out.


Daniel yang hendak masuk ke dalam lift dekat lobi melihat seseorang yang dia kenal keluar dari lift yang berada diseberang nya bersama dengan wanita sambil bergandengan tangan.


Abra disini, sedang apa dia disini? Siapa wanita itu kenapa sekilas mirip dengan dia?


Daniel yang penasaran keluar dari lift dan menuju ke resepsionis.


"Mbak, apa teman saya dokter Abra sudah disini?"


"Barusan saja keluar bersama calon istrinya. Berarti bapak tamu dari pihak pria, kalau begitu silakan istirahat dulu. Acara akan berlangsung nanti siang." ucap sang resepsionis tanpa curiga.


"Oke baik. Maaf undangan saya terbawa istri saya. Acara nanti di lantai berapa ya?"


"Tepat di Grand Ballroom nya." sambil tersenyum manis membalas pertanyaan Daniel.


"Terimakasih."


Daniel yang penasaran pun naik ke Ballroom yang dimaksud. Saat ia keluar dari lift terpampang sebuah nama Medi.


Oh, Medi nama calon istrinya. Aku kira dia. Mereka mirip tapi ada sedikit berbeda.


Saat ini Daniel segera menuju kamar. Sesampai disana ia tidak menemukan Shasha berada didalam kamar.


Kemana dia? Semoga dia tak bertemu dengan mantan kekasihnya itu.


Sambil menunggu Shasha datang, Daniel membuka ponselnya membuka pesan masuk pada emailnya. Sudah hampir setengah jam ditambah setengah jam dirinya membuka email.


Berulang kali ia melihat jam ditangannya namun tak kunjung wanita yang kini mulai membuatnya rindu setiap hari muncul.


Daniel yang tak tenang karena ketidak hadiran Shasha ditambah dengan kemunculan Abra yang berada ditempat yang sama membuat dirinya ingin segera mencari keberadaan istrinya tersebut.


Dirinya berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu dan ...


"Hwaahhh" Shasha dan Daniel berteriak berbarengan.


"Apaan si kamu datang-datang teriak!" bentak Daniel.


"Bapak kuk nyalahin saya, jelas-jelas bapak yang teriak dulu." sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


"Sudah disini kita sama-sama teriak jadi gak usah saling nyalahin."


"Bapak yang nyalahin saya dulu." sambil berlalu melewati Daniel yang menghalangi langkahnya.


"Mau kemana?"


"Pulang." jawab singkat Shasha.


"Ayo." ajak Daniel.


"Emang bapak sudah siap, ngajakin pulang."


"Iya, ayo. Telfon ayah bunda sekarang!" perintah Daniel.

__ADS_1


"Tapi pak, cuciannya blm kering."


"Cuci apa?"


"Itu seprei yang tadi saya cuci."


"Astaga Shasha. Taruh aja ditempat laundry urusan kering gak nya gak usah kamu pikir."


"Oh gitu."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah mengantar kedua orangtuanya ke bandara kini Shasha dan Daniel kembali ke apartemen mereka. Didalam mobil Shasha memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan, yaitu Abra. Dirinya bertemu dan Abra dan Medi saat di lobi.


Beruntung Medi tak melihat dirinya hanya Abra dan Brian yang mencoba tersenyum kepada dirinya.


"Kenapa kamu diam? Kamu kira aku supir mu?"


"Saya merasa sudah tua pak," alasan Shasha.


"Kalau kamu tua lalu saya gimana?" Kamu niat ngejek saya!"


"Oh gak pak, maksud saya. Saya ini sudah lulus dan saya harus bekerja. Artinya kan saya sudah tua."


"Ya, segera kerja sana biar aku gak merasa beban." goda Daniel.


"Beban? saya dianggap beban."


"Heem," sambil menyetir dan sengaja tak melihat Shasha. Sebenarnya Daniel hanya menggoda Shasha, karena sedari pagi sesaat bangun tidur mood Shasha amat begitu buruk gara-gara tamu bulanannya.


Daniel merasa bahagia karena ucapannya tadi membuat Shasha diam bahkan tak ada wajah marah yang terlintas di wajahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kini mereka sudah sampai di apartemen, seperti biasanya mereka masuk ke kamar masing-masing. Daniel memasuki kamarnya sedangkan Shasha kini sudah masuk ke kamar yang sebelumnya digunakan oleh Johan.


Saat ini Johan tak lagi tinggal bersama mereka karena dirinya disibukkan dengan kegiatan lain, yaitu ia sibuk mengejar cinta Secil, sahabat Shasha.


Dengan ketidak hadiran Johan membuat Daniel maupun Shasha semakin leluasa dalam segala hal.


Semenjak ucapannya didalam mobil saat itu kini Shasha menjadi tak seperti biasanya. tak banyak yang dibicarakan Shasha kepadanya, bahkan sekarang Shasha meniru caranya dulu jika akan berkomunikasi, yaitu menempelkan sebuah memo di kulkas.


Yang dikerjakan Shasha saat ini lebih banyak di dalam kamar. Untuk membersihkan apartemen ia akan melakukannya setelah Daniel berangkat kerja. Sedangkan untuk menyiapkan pakaian Shasha hanya menyiapkan kemeja, celana kantor, dasi, kaos kaki, sabuk dan sepatu.


Sempat heran dengan perubahan Shasha.


Mungkin dia akan seminggu seperti itu. Besok sudah lewat dari seminggu, pasti mood dan emosinya akan kembali stabil.


Daniel sangat menantikan hari esok. Hari ini hari Minggu, ia sengaja meluangkan waktunya. Daniel bangun pagi-pagi sekali, ia sengaja duduk dan menunggu istrinya tersebut di ruang pantry. Ruangan favorit istrinya. Dimana Shasha senang sekali jika berlama-lama disana untuk memasak, dan menemani Daniel makan.


Hampir satu jam dirinya duduk disana tak nampak Shasha keluar dari kamar.


Jam berapa ini, kenapa dia belum juga bangun?

__ADS_1


Apa dia sakit?


Sejenak Daniel terdiam, ia memikirkan seperti ada yang salah dengan dirinya.


Ada apa denganku? Kenapa aku memikirkannya? Bukannya aku membencinya. Apa iya aku mulai mencintainya?


Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal Daniel pun mulai mengambil ponselnya dan keluar menemui Johan.


Dalam perjalanan menuju apartemen Johan Daniel mendapatkan sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.


Daniel : "Halo!"


Nomor baru : "Sayang, ini aku."


Daniel : "Saya gak kenal. Salah sambung."


Nomor baru : "Jangan bohong, aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu kecewa sama aku. Aku kotor dan aku menyesal. Tolong beri aku kesempatan.


Daniel : "Gak ada lagi yang perlu dijelaskan. Hidup kita sudah masing-masing."


Nomor baru : "Oh, jadi kamu gak mau memaafkan aku. Aku begini juga karena kamu yang tak menunjukkan identitas aslimu. Begitu juga dengan orangtuamu yang tak suka aku gara-gara profesi ku."


Daniel : "Gak usah bawa orang tua. Jadi, maumu apa menghubungiku. Karena ternyata aku lebih kaya dari lelaki itu."


Nomor baru : "Sudahlah Daniel, lagipula selama kita masih berhubungan kamu juga berselingkuh dengan gadis kecil itu kan?"


Mendengar itu membuat Daniel diam karena memang benar.


Nomor baru : "Kamu gak bisa bicarakan. Jangan kamu merasa suci. Kita sama bukan. Apa kamu pikir gadis itu benar-benar mencintai mu? Dia menerimamu karena kamu kaya."


"Daniel : "Lalu, maumu sekarang apa?"


Nomor baru : "Aku ingin kita seperti dulu, menjalin cinta."


Daniel : "Tak mungkin."


Nomor baru : "Kenapa? Karena kalian sudah menikah? Aku tahu kamu tidak mencintainya. Jika kamu tidak kembali padaku aku akan membongkar kesemua orang tentang masa lalu kita. Dan aku akan menghancurkan karirmu."


Daniel : "Jangan macam-macam! Kamu dimana?"


Nomor baru :"Good job sayang, aku sekarang di Jakarta, di Mall X. Jika dalam lima menit kamu tak ada disini aku akan menemui orangtuamu dan membuat pengakuan bahwa aku telah melakukan aborsi karena ulah kita waktu itu.


Setelah menutup telepon segera Daniel pergi ke Mall untuk menemui mantan kekasihnya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dilain tempat Shasha yang mendengar suara pintu terbuka segera keluar kamar.


Keluar dari tadi kan enak. Oke kita bereskan semuanya setelah itu aku akan pergi keluar mencari pakaian.


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak


__ADS_2