TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAN 49. TEDY BEAR.


__ADS_3

"Karena saya mau tau alasannya."


"Apa ya pak? karena tidak ada pilihan lagi."


"Artinya terpaksa. Percuma bicara sama kamu. Saya tidur dulu nanti bangunkan saya jika sudah selesai makan." ucap Daniel lalu memejamkan matanya.


Daniel yang merasa begitu lelah mulai tertidur pulas sedangkan Shasha mulai menghabiskan makanannya dengan lahap. Saat sedang menghabiskan makan terdengar suara ketukan kemudian diiringi dengan langkah masuk seorang pelayan masuk dengan membawakan sebuah hidangan.


"Siang mbak, ini menu kesukaan pak Daniel." ucap seorang pramusaji dengan nada genit.


"Taruh disitu saja mbak. Beberapa menit lagi bapak akan bangun. Terimakasih ya."ucap Shasha sambil tersenyum.


Setelah meletakkan makanan di meja sang pramusaji keluar. Shasha sengaja menghabiskan makanan agak lama agar Daniel dapat melepas lelahnya.


Beberapa saat kemudian setelah dirasa cukup waktu Daniel beristirahat segera Shasha membangunkan Daniel.


"Pak ..., bangun pak ..." ucap Shasha lirih.


"Pak, ayo bangun." ucap Shasha lirih sambil mencoba memijat lengan Daniel.


Daniel merasakan nyaman pada lengannya, dia mulai membuka mata dan pura-pura tak suka dengan cara Shasha membangunkan.


"Kenapa kamu pegang-pegang?!"


"Bapak gak bangun-bangun, saya bingung bagaimana membangunkannya."


"Kan bisa cara lain.Gak harus sentuh saya. Yang boleh menyentuh saya hanya istri saya. Ingat kamu!" jelas Daniel.


"Susah ya bicara sama bapak, saya rasa bicara dengan bapak seperti bicara dengan orang berkepribadian ganda. Kadang lembut kadang kasar."


"Saya gak kasar saya hanya beritahu saja biar kamu tidak kelewat batas."


"Terserah." ucap Shasha lalu keluar dari ruangan tersebut."


"Hei tunggu, bayar dulu makannya." teriak Daniel dengan sengaja menggoda.


Shasha yang berada didepan ruangan mendengar teriakan Daniel kembali masuk kedalam ruangan sambil mengeluarkan beberapa lembar uang lalu ditaruhnya diatas meja.


"Ini harga makanan yang saya makan, lainnya saya tidak pesan." ketus Shasha lalu kembali keluar ruangan dan segera keluar.


Daniel yang masih duduk tidak yakin jika Shasha sudah pergi. Setengah jam kemudian dia keluar dari ruangannya dan pergi menuju meja kasir.


"Pak, selamat ya memiliki kekasih yang begitu cantik." ucap seorang pegawai kasir.


Daniel tak menanggapi ucapan pegawai tersebut. Setelah membayar dirinya berjalan dengan penuh keyakinan bahwa Shasha masih di depan menunggu dirinya. Dilihatnya diluar dia tidak menemukan Shasha.


"Kemana dia?" ucapnya sambil celingukan.


Daniel merasa jengkel karena apa yang dia bayangkan ternyata salah, bayangannya Shasha akan menunggu dirinya namun sebaliknya.


"Apa dia tak sadar jika obatnya tertinggal." gumamnya jengkel sambil masuk ke dalam mobil.


Cukup lama Daniel berada didalam mobil hingga membuat sekuriti restoran menggedor jendelanya.


Tok ... tok ...


"Siang ... Pak Daniel ada yang bisa dibantu?" tanya seorang sekuriti.


"Tidak." ucap Daniel sambil membetulkan kacamata fashionnya.


"Siap pak. Saya kira bapak menunggu wanita cantik yang turun dari mobil bapak tadi."


"Tidak. Dia sudah pulang dulu perutnya sakit." ucap Daniel bohong karena dia tak ingin terlihat bodoh yang celingukan menunggu seseorang, apalagi seseorang itu adalah wanita.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di sebuah kamar kos dengan ukuran lumayan besar dengan warna ungu putih, warna kesukaan dari sang empunya kamar. Pada dinding terdapat sebuah foto dirinya, kedua sahabatnya, kedua orangtua dan kakak tercintanya. Foto pada dinding tersebut sudah berkurang jumlahnya setelah satu foto diturunkan lalu dibuangnya kedalam keranjang sampah. Dengan sekuat hati dan dibayangi rasa sakit yang mendalam karena ulah seorang lelaki playboy tak berperasaan siapa lagi jika bukan Abra.


"Lu darimana aja! kenapa gak bilang sama kita kalau lu itu ke Jogja samperin lelaki breng*ek itu!" emosi Secil.


"Hem, kita berdua sudah bilang dia itu gak baik. Sudah putusin aja dia." imbuh Mutia.


"Simut, tolong ya mereka sudah putus!" protes Secil.


"Iya iya maaf salah bicara. Terus itu kenapa wajah jadi gak mulus begitu? Jangan-jangan lu kepikiran pas diputusin terus lu gak hati-hati jadi kejeduk? Hayo iya kan?" selidik Mutia sambil melebarkan matanya.


Shasha yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya. "Please, jangan tanya ini. Kita bahas lainnya aja ya. Semakin di ingat aku semakin sakit."


Secil segera mengedipkan matanya kepada Mutia pertanda agar Mutia jangan membahas Abra untuk sementara waktu.


"Oia Mut, lu ingat cowo yang nembak lu dikampus?" tanya Shasha.


"Yang mana ya?" tanya Mutia balik sambil mengingat-ingat.


"Cowo berwajah oriental itu?" tebak Secil.


"Heem, betul."


"Ohh kenapa dia?" tanya Secil penasaran.

__ADS_1


"Kemarin aku semobil sama dia." jelas Shasha datar.


"Terus?" tanya Mutia.


"Ya gak papa gue cuman cerita aja. Dia itu kerja disebuah perusahaan Multinasional yang besar, apa lu gak jatuh cinta sama dia?" jelas Shasha.


"No, hati gue sudah terkunci oleh seseorang." jawab Mutia sambil membayangkan kembali pertemuan mereka.


"Seseorang yang belum jelas." ledek Secil.


"Dia jelas Ciel, feeling gue itu gak pernah salah. Gue yakin dia juga suka sama gue." ucap Mutia penuh keyakinan.


"Oke-oke terus sekarang bagaimana perkembangannya?" tanya Secil sambil mengedip-ngedipkan matanya sambil tersenyum lebar.


Shasha yang mendengar kedua sahabatnya itu ikut tersenyum sambil mengamati sekitar kamarnya.


"Mati aku, gimana ini?" ucap Shasha tiba-tiba.


"Lu kenapa? kesambet? atau apa?" tanya Secil.


"Koper, koper gue ketinggalan." jawab Shasha panik.


"Coba lu ingat-ingat ketinggalannya dimana?" tanya Mutia.


"Itu dia masalahnya gue lupa." jawab Shasha.


"Gak mungkin lu lupa, lu pintar, lu cerdas jadi lu pasti ingat dimana koper terkahir lu berada." ucap Secil meyakinkan Shasha.


"Isinya apa?"


"Pakaian dalam gue dan baju." jawab Shasha masih panik.


"Sudah lu tenang dulu." sahut Secil.


"Gimana gue bisa tenang, koper itu gak gue kunci, gue benar-benar lupa." ucap Shasha sambil menangis. Karena dia takut jika pakaian dalamnya akan disalahgunakan orang.


"Kenapa lu berubah jadi teledor begini?!" tanya Secil dengan sedikit emosi.


"Uda-uda kata pak ustad caranya satu -," jeda Mutia dengan sengaja sambil menghela nafas.


"Apa?" tanya Shasha dan Secil bersamaan.


"Sabar." ucap Mutia sambil tersenyum.


"Dasar lu ya, gue sudah serius dengerin lu mau bilang apa ternyata sesimpel itu jawabannya." ucap Secil emosi.


"Kenapa emang? ucapan gue gak salah kan? bener gak Sha?!" tanya Mutia balik.


"Lu juga kenapa baru ingat setelah seminggu kemudian. Bisa jadi koper sudah hilang Sha." panik Mutia.


"Selain pakaian dalam apa ada lagi yang mengkhawatirkan?" tanya Secil.


"Gak ada. Yasudah semoga yang nemu koper gue benar-benar orang yang membutuhkan." ujar Shasha berusaha tegar padahal dirinya sendiri merasa ketakutan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dilain tempat Daniel yang masih belum sadar jika koper milik Shasha tertinggal di bagasi mobilnya. Dia yang akan melakukan perjalanan bisnis ke Korea sekalian mengecek kantor cabang yang ada disana.


"Jason, jam berapa kita akan berangkat?"tanya Daniel sambil mengecek dokumen yang baru saja diberikan Jason.


"Kita berangkat pagi bos sekitar jam enam pagi saya ke apartemen bos."


Keesokan harinya,


Jason yang sudah tiba di apartemen Daniel pagi-pagi tanpa mengetuk pintu karena dia sebelumnya sudah diberitahu no sandi.


Klek ...(suara pintu terbuka)


"Jason, kamu sudah datang. Ayo kita berangkat." ajak Daniel bahagia.


Sedangkan Jason heran karena informasinya mereka akan perjalanan dinas ke Korea selama beberapa hari.


"Oke bos." ucap Jason sambil mengambil kunci mobil milik Daniel yang ada di loker.


Seperti biasanya Daniel menunggu di lobi sedangkan Jason harus menuju parkiran terlebih dahulu untuk mengambil mobil Daniel sambil memasukkan kopernya yang dia titipkan sementara di tempat sekuriti dekat parkiran mobil.


Saat memasukan koper miliknya kedalam mobil keheranannya mulai terjawab ternyata Daniel sudah memasukkan koper miliknya. Namun kecurigaannya beralih saat melihat koper yang menurut nya tak seperti biasanya. Koper dengan motif tedy bear.


"Ah mungkin bos sedang bertukar koper dengan Shasha. Ternyata bos bisa takhluk dengan Shasha." gumam Jason sambil mengunci koper milik Daniel yang belum terkunci dengan sandi mirip dengan sandi apartemen.


Didalam mobil Daniel hanya fokus pada ponselnya karena dia sambil mengecek email dan juga sedang bermain saham. Karena bagi Daniel waktu paling bagus bermain saham adalah saat pagi hari.


Tak lama kemudian mereka tiba di bandara dan mulai memarkirkan mobil.


Daniel yang tetap fokus pada ponselnya tak memperhatikan koper yang diturunkan Jason.


Kemudian mereka berdua check in lalu menuju ke boarding pass.


Kini e tmbah nyuci mobil mereka sudah berada di pesawat dan beberapa menit lagi pesawat akan berangkat. Didalam pesawat tak banyak yang mereka, seperti biasa mereka tak lepas dari pembicaraan dunia bisnis terutama beberapa cabang yang perlu di review.

__ADS_1


Jason yang terlihat masih kantuk membuat Daniel kasihan hingga Jason dibiarkan tertidur. Melihat Jason yang tertidur membuat Daniel juga merasa ingin menutup matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah menempuh perjalanan sekitar tujuh jam kini Jason dan Daniel tiba di bandara. Disana dia sudah dibahas oleh supir yang biasanya mengantar Johan bekerja.


"Siang pak Daniel saya Henzo." sapa Henzo sambil mengambil koper yang dibawa oleh Jason.


"Ini punya Bos," jelas Jason kepada Henzo karena Jason tak ingin dipandang sebagai lelaki jadi-jadian karena kopernya uang bergambar Tedy bear.


Henzo menahan tawanya sambil menutup mulut dengan salah satu tangannya.


Kini mereka tiba disebuah rumah cukup besar milik Joshka. Rumah ini sekarang ditempati oleh Johan. Tanpa sepengetahuan Daniel ternyata di dalam rumah lengkap semua anggota keluarganya berada.


"Opa!" sapa Daniel sambil mencium tangan opanya.


" Cucuku, gimana kabar kamu disana?kapan kamu menikah?" tanya opa kepada Daniel.


"Heem, belum opa nanti jika tiba waktunya pasti Daniel menikah." ucap Daniel datar.


"Daniel, baru tiba kamu nak!" sapa Joshka yang berjalan dari arah belakang.


"Ia dad, mami ada disini?" tanya Daniel.


"Ia, dia sedang bersama Lily dan Alea ditaman belakang."


"Uncle?"


"Sedang keluar sebentar bersama Johan, mungkin sebentar lagi mereka datang." jawab Joshka.


"Kenapa kalian tega, berkumpul semua disini sedangkan aku hanya sendiri disana." rajuk Daniel.


"Halo saudaraku, bagaiamana kabarmu? aku merindukanmu." ucap Johan yang tiba-tiba datang bersama dengan Joshki ayahnya.


"Buruk. Hi uncle bagaimana kabarnya?" tanya Daniel menyapa Joshki.


"Baik, kamu bagaimana?" ucap Joshki lembut.


"Daniel itu selalu baik ayah, apalagi dia bertemu dengan Shasha dijamin hidupnya akan selalu baik. Sudah dulu ya semua ada yang mau dibicarakan dengan dia." ucapnya sambil mendorong Daniel menuju ke kamar.


"Jo, apaan sih lu selalu resek!" ucap Daniel sambil mengibaskan tangan Johan yang mendorong dirinya.


"Hei, gimana kabar adik kesayangan gue? gak lu apa-apain kan?" tanya Johan penasaran.


"Apaan sih, uda ah gue capek mau istirahat, lu keluar Jo!" bentak Daniel.


"Hem, gaya, padahal kemarin baru aja jemput ke Jogja, lu begituan kan sama dia?" goda Johan.


"Tuh mulut gak ada cakramnya." ucap Daniel emosi.


"Niel Niel Uda jangan marah, yasudah gue keluar dulu." ucap Johan sambil keluar namun saat keluar dia penasaran dengan koper yang berada di dekat lemari Daniel. Dia pun mulai berjalan mundur.


"Ei, ngapain lu balik lagi!"


"Gue kenal ini koper siapa?"


"Koper gue lah." jawab Daniel sewot.


"Hem jadi sekarang sudah tuker-tukeran barang. Gitu bilangnya 'gak-gak' tapi ternyata 'iya-iya'." ejek Johan.


Daniel yang penasaran dengan koper tersebut mulai dilihatnya, dia sendiri juga terkejut kenapa kopernya bisa berubah menjadi Tedy bear.


"Panggil Jason, panggil Jason." perintah Daniel kepada Johan.


Dengan menekan telepon Johan meminta maid dirumah untuk memanggilkan Jason yang berada ditaman belakang.


Tak lama kemudian Jason masuk.


"Kamu, kenapa salah ambil koper?" emosi Daniel.


"Tidak bos, koper itu ada di mobil saat saya memasukkan koper saya ke mobil bos. Saya kira memang bos sudah menyiapkan kopernya." jelas Jason.


"Kenapa kamu gak bilang kalau kopernya kug beda."


"Saya kira bos sengaja bertukar koper dengan Shasha waktu itu. Kan bos jalan berdua dengan Shasha waktu ..."


"Sudah-sudah gak usah dijelasin. Kamu boleh keluar." ucap Daniel yang tiba-tiba memotong penjelasan Jason.


Sedang Johan hanya menahan tawa mendengar penjelasan Jason.


Kini dikamar hanya ada Johan dan Daniel. Dengan wajah malu dan tak berani membalas senyuman Jason yang mengolok-olok dirinya.


"Tedy Bear ... halo Tedy Bear. Bye ... bye ..." olok Johan kepada Daniel sambil melangkahkan kakinya keluar kamar.


to be continued .....


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...

__ADS_1


Terima kasih banyak


Salam sayang 🥰🥰


__ADS_2