TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 51. PERINGATAN ARDEN UNTUK DANIEL.


__ADS_3

Keesokan paginya Daniel, Johan berangkat bersama dengan sekertaris pribadi mereka yaitu Jason dan Henzo. Pesona keempat lelaki tampan ini tak diragukan. Semua orang yang melihat mereka akan jatuh cinta.


Dan ini adalah pertama kalinya Jason menginjakkan kakinya berada di kantor J&M Corporate cabang Korea.


Dari keempat lelaki tersebut yang berusia matang adalah Daniel dan Johan, disusul oleh Henzo sedangkan Jason yang paling muda namun tak ada yang mengetahui jika dia adalah seorang duda diusianya yang masih sangat muda, dan hanya Daniel yang mengetahui itu.


Label duda muda tampan tanpa anak sudah melekat pada diri Jason, namun pesonanya seperti bukan seorang duda melainkan seorang perjaka.


Sebelum memulai meeting dengan para pemegang saham mereka sudah mulai melakukan meeting dengan para staf ahli guna meningkat produk.


Tak terasa meeting telah selesai satu persatu para pemegang saham mulai keluar meninggalkan ruang meeting dengan wajah berseri-seri.


Daniel yang masuk ke ruangan Jason dimana ruangan itu dulu adalah ruangan miliknya kini modelnya menjadi berbeda. Ruangan yang benar-benar di desain sesuai dengan selera Johan mulai dari meja, kursi bahkan sofa semuanya selera Johan yaitu dari jati klasik.


"Jo, kenapa berubah semua?" tanya Daniel sambil duduk meregangkan kaki dan tangannya.


"Gue lelang lah, lumayan duit masuk kas kantor." jawab Johan dengan senyum renyah.


Mendengar itu Daniel hanya diam dan bisa pasrah karena memang kantor ini sudah dipasrahkan kepada Johan.


"Bos, mau makan apa?" tanya Jason.


"Lu mau keluar Jas?" tanya Johan.


"Bang Jo, baru ini ada yang manggil saya Jas. Makasih ya bang, saya senang." ucap Jason dengan girang.


"Emang Daniel panggil lu apa?" tanya Johan.


"Son, memang saya anak pak bos?" ujar Jason sambil memonyongkan bibirnya.


"Daniel memang sebenarnya sudah waktunya memiliki anak makanya dia selalu sembarangan panggil nama orang." ejek Johan. Sedangkan Henzo hanya menahan tawa dengan tangan yang menutup mulutnya.


"Sebenarnya bos lu itu siapa? gue apa dia?" tanya Daniel dengan nada dingin kepada Jason.


"Maaf bos, saya keluar dulu mau beli makan." ucapnya sambil mengarah ke arah pintu. Namun baru akan membuka pintu tampak pintu begitu sulit dibuka sepertinya ada yang hendak masuk dan benar saja yang dilihatnya adalah seorang bidadari yang beberapa hari ini dia lihat dirumah Daniel.


"Kak Jason!" sapa Alea.


"Hi, mau kemana?" tanya Jason balik sambil matanya tak berkedip melihat Alea.


"Mau masuk kak." kata Alea sambil tersenyum manis.


"Jangan sekarang Lea," jawab Jason asal sambil tetap melihat Alea tanpa kedip.


"Apaan sih kak, pikiranmu itu kotor ternyata mirip dengan kak Johan." ucapnya sambil menabrak tubuh Jason.


Jason yang ditabrak oleh Alea tidak jadi keluar dia berdiri diam di tengah pintu.


"Lea, ngapain kamu kesini?" tanya Johan.


"Ini bawa makanan kak, ayo kita makan." jawab Lea sambil mengambil kotak berisi makanan.


Jason yang tadi diam di dekat pintu kembali masuk lagi dan segera berjalan ke arah semuanya dan duduk disamping Alea.


Kini mereka mulai makan dengan lahap.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah hampir seminggu berada di Korea kini Daniel dan Jason segera kembali ke Indonesia. Mereka mencari penerbangan pagi agar sampai di tanah air tidak terlalu malam.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan sekitar tujuh jam dua puluh menit kini mereka berdua sudah sampai di Indonesia. Segera Jason menancapkan mobil menuju ke apartemen Daniel dan pastinya menurunkan koper Tedy bear.


"Taruh koper itu di ruang tamu saja, jangan dibawa masuk ke kamarku." perintah Daniel kepada Jason.


"Baik pak, kalau begitu saya pamit pulang pak. Selamat beristirahat." pamit Jason sambil menutup pintu.


Sebelum menutup pintu ada seseorang yang menepuk pundaknya.


"Apa Daniel ada didalam?"


"Apa anda yang bernama Arden?" tanya Jason kaget karena ternyata Arden lebih tampan dari yang di foto sehingga membuat Jason merasa iri jika lelaki tampan disekelilingnya bertambah.


"Yup, gue masuk dulu."


Beberapa saat kemudian.


Daniel yang baru saja mandi dan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya tersentak kaget saat hendak ke dapur mengambil minuman.


"Lu ... lu ngapain disini? bagaimana bisa masuk?" tanya Daniel heran.


"Kenapa? kaget ya? surprise." ujar Arden sambil tersenyum.


"Mau apa lu kesini?" tanya Daniel ketus.


"Gue mau ketemu Shasha, biar lu nya gak salah paham makanya gue mampir kesini dulu." jelas Arden.


"Buat apa salah paham. Lu suka kan sama dia?" tanya Daniel.


"Sebenarnya tapi tak mungkin."


"Kenapa?"


"Karena ... " ucap Arden dengan nada panjang lalu diam.


"Lu nungguin jawabannya?" tanya Arden sambil tertawa renyah.


"Sialan! lu kalau suka bilang dunk. Sewa kamar sana. Jangan ciuman di lift. Masa sekelas lu mainnya di lift. Lu gak mampu sewa kamar hotel?!" ejek Daniel.


"Ohhh ... jadi waktu itu lu tahu kalau kita sedang ciuman di lift?" goda Arden. Arden yang tahu jika Daniel sedang cemburu dengan dirinya makin dibuatnya cemburu.


"Kenapa bukan lu aja yang nikahin dia. Dunia memang dak adil gue yang gak pernah sentuh dia malah gue yang nikahin dia." ucap Daniel sambil sedikit emosi.


"Kalau menurut gue, justru Shasha yang kasihan karena nikah sama lu."


"Sialan, kenapa begitu?"


"Gue tahu masa lalu lu dengan Asia seperti apa. Shasha yang belum pernah tersentuh oleh lelaki pun dan baru lu yang sentuh dia waktu dia sakit. Lu peluk dia saat dia tidur kan. Dan justru saat lu peluk dia saat itulah dia merasa kembali ke traumanya dulu." jelas Arden.


"Trauma?" tanya Daniel serius.


"Dia pernah hampir diperkosa oleh kekasihnya yang durjanah itu. Beruntung Shasha bisa mempertahan kesuciannya, apalagi sekarang lelaki itu lebih memilih wanita lain dan menyakiti Shasha sampai membuat Shasha kesakitan seperti saat itu."


"Kanapa lu lebih tahu banyak soal dia ketimbang gue?"


"Adik Abra yang menceritakannya padaku. Lu ingat dokter Brian, dokter yang lu panggil saat di hotel?"


"Itu adik Abra. Abra adalah si dokter durjanah itu. Gue gak akan biarkan sedikitpun dia mendekati Shasha sampai kapanpun dan apapun alasannya." ucap Arden menggebu.


"Lalu pertanyaanku apa lu benar-benar berciuman saat di lift ?"

__ADS_1


"Gak Daniel. Gue gak akan mau cium bekas lu. Lagipula lu sudah cium Shasha saat di taman perpus kan?"


"Kenapa itu juga lu tahu? apa dia yang cerita semuanya?" tanya Daniel sinis.


"Gue sayang sama Shasha layaknya seperti seorang kakak yang ingin selalu melindungi adiknya." Jelas Arden. "Yang pasti jika lu mau nikahin dia go ahead dan gue gak akan buka aib sahabat gue ke Shasha."


"Asal.. !" ucap Arden tiba-tiba.


"Asal apa?" tanya Daniel.


"Lu pasti tahu, apa yang akan gue lakuin. Sudah ah, gue minta makan ya." ucap Arden mengalihkan pembicaraan dengan mencari beberapa bahan makanan yang ada didalam kulkas.


"Lu ancam gue?"


"Gak, gue hanya kasih peringatan aja." ucap Arden penuh penekanan pada kata-kata 'peringatan'. Bagi Daniel ucapan Arden terlihat enteng namun penuh makna.


Sehabis masak Arden segera menghabiskan makanannya di depan TV yang berada di ruang tamu. Sedang enak-enaknya menikmati masakannya sambil melihat TV matanya terganggu dengan sebuah koper yang tak asing baginya.


"Koper milik Shasha?" gumamnya sambil mendekati koper tersebut untuk memastikan sebuah nama yang tertulis di koper.


"Daniel ....Niel ....!" teriak Arden seperti Tarsan.


"Apaan sih, suara lu bisa dipelanin gak?" tanya Daniel emosi.


"Kenapa tas Shasha ada disini? apa dia ada di dalam?" ucap Arden sambil ingin bergerak ke kamar Daniel.


"Dalam, maksud lu kamar gue?"


"Iya." ucapnya yang kini sudah berada di dalam kamar Daniel.


"Coba lu lihat ada gak?tuh masuk kamar mandi cek sekalian sampai kolong-kolong tempat tidur lu cek sana.!" ucap Daniel kesal.


"Tidak ada, tapi kenapa kopernya ada disini?"


"Ckck, sudah lah capek gue harus jelasin ke semua orang. Mendingan antar gue balikin ni koper ke kosannya. Lu tahu kan kos dimana?" tanya Daniel.


"Lu sendiri pasti tahu pakai pura-pura gak tahu." ejek Arden.


"Mana gue tahu. Gue gak pernah selidiki dia yang berlebihan gue gak mau ada sesuatu yang gue denger tentang dia hingga ilfil gue nambah ke dia."


"Ilfil apa?" tanya Arden penasaran.


"Dia lebih pilih selingkuhannya dari pada pacarnya dulu kan. Dan sekarang dia malah kena karma lelaki yang dipilihnya justru mencampakkannya." ujar Daniel.


"Wajar, karena dia masih sekolah dia masih ABG saat itu Niel, bukannya lu juga gitu?!"


"Gak, gue setia. Sampai Asia yang khinatin gue dan lebih pilih selingkuhannya ketimbang gue."


"Bukannya lu waktu itu ketemu Shasha dan lu paksa dia buat ciuman? itu yang namanya setia dan bukannya waktu lu cemburu lihat gue deket sama Shasha?" tanya Arden dengan nada mengejek.


"Sudahlah, bicara sama lu seperti terpojok." Ayo kita balikin ni koper daripada skandal warna pastel masih melekat pada diriku." jelas Daniel.


Arden yang tak paham dengan kalimat yang diucapkan Daniel diam saja, dia hanya fokus pada ponselnya yang meminta informannya untuk memberitahu alamat kos Shasha.


to be continued .....


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...

__ADS_1


Terima kasih banyak


Salam sayang 🥰🥰


__ADS_2