TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 139. TEMPAT BARU.


__ADS_3

Shasha yang tadi bersedih kini tanpa dia sadari mulai tersenyum renyah memperlihatkan gigi putihnya yang gingsul sehingga membuat orang yang melihatnya terpesona. Melihat kecantikan Shasha yang natural membuat Rianda berfikir ingin menjadikan Shasha sebagai adik iparnya.


Bagaimana jika aku menjodohkan nya dengan adikku. Ah tidak-tidak, lalu apa bedanya aku dengan kedua orangtuanya? Aku kan sudah dianggapnya sebagai kakak setidaknya aku akan berusaha menjadi teman sekaligus keluarga baginya.


Tapi ..., bukan jodohin sih, lebih tepatnya memperkenalkan mereka siapa tahu mereka saling jatuh cinta.


"Kak ..., ada apa memandangiku dari tadi?"


"Aku penasaran, bagaiamana wajah bunda mu jika anaknya secantik kamu?" bohong Rianda yang mencari alasan, karena ia tak mungkin berkata jika dirinya ingin memperkenalkan Shasha pada Adiknya.


"Kak, pinjam ponselnya."


Shasha membuka sosial medianya lewat ponsel Rianda.


"Kenapa bukanya lewat ponselku?"


"Ponselku mati kak," bohong Shasha balik.


"Ini bundamu? sepertinya aku pernah melihat foto ini, dimana ya?”


"Dimana Kak?"


"Ini, disini," jawab Rianda sambil terkekeh.


"Gak lucu, kak. Udah ah, aku mau makan dulu. Aku nambah ya kak."


"Enakkan, ia tambah saja."


Shasha dan Rianda sangat menikmati keramaian malam di pinggir jalan sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali datang beberapa penyanyi jalanan bernyanyi untuk mencari nafkah sambil menghibur pelanggan yang sedang makan.


Selesai makan segera mereka berdua menghampiri penjual yang sedang melayani pembayaran dari pelanggan lainnya.


"Sha, kamu gak mau tinggal sama aku saja?"


"Gak kak, aku ingin mandiri."


"Idih gaya, bilang aja mau bebas."


"Gak kak," ucap Shasha sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Yasudah, tapi malam ini tinggallah bersamaku kebetulan adikku sedang tidak dirumah jadi kita bisa bebas. Kita cari kontrakan nya besok." ucap Rianda sambil menekan pedal mobilnya.


**


“Kak, bangun,” ucap Shasha lembut sambil memijat tangan Rianda.


Dengan mata tertutup Rianda tersenyum sambil menutup matanya karena sinar matahari yang memasuki kamarnya ketika Shasha menggeser korden dan membuka pintu sliding yang ada di kamar Rianda.


“Aku masih ngantuk, tapi demi kamu aku bangun.” Rianda memanyunkan bibirnya.


“So sweet, makasih ya kak sudah sayang sama aku.”


Mendengar itu Rianda lalu bangun dan mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan menatap Shasha.


“Sha, boleh aku bertanya sesuatu?”


“Apa kak?”


“Jawab jujur ya?”


“Heem.” Angguk Shasha.


“Apa kamu memiliki hubungan dengan Dion?” tanya Rianda penasaran.


“Pak Dion, maksudnya?"

__ADS_1


"Iya, memang ada Dion yang lain?" tanya Rianda jengkel.


"Dia lelaki terbaik yang pernah aku kenal dan bodohnya aku telah menyia-nyiakannya.”


“Dari awal aku sudah curiga jika kalian memiliki hubungan, namun aku tahan untuk tidak bertanya.”


“Tapi hubungan kita sudah lama berakhir. Bahkan aku tidak tahu jika dia adalah seorang CEO saat itu, aku baru mengetahuinya saat pak Denny memanggilku dan menugaskan aku untuk menjadi sekertaris.”


“Syukurlah kalau begitu, lebih baik sekarang aku bersiap dulu, setelah itu kita masak dan makan bersama. Baru kita cuci mata sambil cari kontrakan buat kamu."sambil beranjak dari tempat tidurnya Rianda mengambil handuk untuk membersihkan badannya.


Shasha heran dengan kata syukurlah yang keluar dari mulut Rianda.


Kenapa kak Rianda bilang begitu, apa jangan-jangan suka dengan Dion?


Ucapan Rianda masih membuat Shasha penasaran, namun ia abaikan rasa itu dan lebih memilih untuk membereskan tempat tidur dan kamar milik Rianda.


Rianda yang keluar dari kamar mandi menggelengkan kepalanya dirinya begitu kagum dengan Shasha. Mengapa wanita semudah Shasha, yang cantik, pintar memiliki rasa kebersihan dan kerapian yang tinggi dibandingkan dirinya yang sudah memiliki umur diatas Shasha.


Sepertinya tepat jika dia menjadi adik iparku.


***


"Kak, ini sudah kontrakan ke lima. Kita mau cari kontrakan yang bagaimana?" tanya Shasha kesal, karena sedari tadi Rianda tidak setuju dengan kontrakan yang dipilih Shasha.


"Sabar, kita cari kontrakan yang terbaik untukmu." ucap Rianda dingin.


Haduh anak nakal ini kenapa sih gak balas-balas pesanku.


Beberapa lama kemudian ponsel Rianda bergetar dan sebuah pesan dari orang yang sedari tadi ditunggu-tunggu.


Setelah berputar-putar mencari kontrakan akhirnya Rianda kembali ke tempat awal setelah sedari tadi berputar-putar.


"Kak, balik lagi kesini?" tanya Shasha heran.


"Sudah tenang saja, kakak mu ini akan cari yang terbaik buat kamu." Rianda berucap tanpa melihat Shasha karena dia sendiri merasa bersalah telah mengajaknya putar-putar.


"Gak, nanti gak setuju lagi."


"Kali ini setuju," sambil tersenyum menampilkan senyum terindahnya.


Kini Shasha dan Rianda kembali masuk ke rumah kontrakan tersebut. Sebelumnya mereka berhenti tanpa memasuki rumah tersebut, Shasha menyetujui tinggal dirumah tersebut karena lingkungan dan pemandangannya cukup indah.


"Ayo masuk, Sha." ajak Rianda.


"Kakak punya kuncinya?" heran Shasha.


"Kamu tunggu sini dulu, aku ambil kuncinya dirumah sebelah ya."


Rianda masuk ke rumah sebelah, disana memang tak ada adiknya yang ada hanya teman sang adik.


"Oke makasih ya." ucap Rianda sambil keluar dari rumah tersebut.


"Siapa kak?"


"Berondong." jawab Rianda asal.


Kini Shasha dan Rianda masuk ke dalam rumah tersebut. Bagi Rianda ia sengaja meminta Shasha untuk mengontrak disitu karena selain dekat dengan kantor rumah tersebut berada dekat markas polisi. Dan rumah yang dimasukinya tadi adalah tempat biasa adiknya lebih memilih tinggal disana daripada tinggal dirumah bersamanya.


Setidaknya dengan keberadaan Shasha disana adik dan Shasha akan sering bertemu.


"Bagaiamana, kamu setuju?"


"Iya, tapi rumahnya bagus y kak? Jangan-jangan mahal ya kak?"


"Tenang aja gak sampai ngehabisin gaji bulanan lu. Gaji seorang sekertaris dari perusahaan raksasa masa takut gak mampu bayar."

__ADS_1


"Gak, kak. Ini terlalu mewah, lagipula aku hanya tinggal sendiri."


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan."


"Yang punya kontrakan bagaiamana orangnya?"


"Orangnya santai, dia masih bujang. Jadi gak lu bayar juga gak papa."


"Beneran kak?"


"Iya, asal kamu mau jadi istrinya." gelak tawa Rianda kembali terdengar.


"Selalu saja bercanda. Aku serius kak." Shasha mulai kesal karena sedari tadi Rianda menanggapi ucapan dengan sebuah candaan.


"Hidup itu jangan terlalu serius, lihat aku meskipun umur sudah kepala tiga tapi wajah masih belasan, bukan?"


"Ya ya ya."


"Yasudah kamu lihat-lihat dulu isinya apa perabotnya ada yang perlu diganti atau tidak?"


Shasha mulai memasuki tiap ruangan, senyum indah dari bibirnya tak henti-henti nya menghiasai wajah cantiknya itu. Dirinya begitu mengagumi rumah minimalis dengan desain yang terbuka.


"Kak, aku setuju. Aku suka rumah ini dan gak perlu perabot diganti. Aku baru tahu lho kak, ada rumah dikontrakkan lengkap dengan perabotnya."


"Hehehehe."


Rianda begitu bahagia, setidaknya ia telah berhasil membujuk adiknya agar rumahnya dikontrakkan.


***


Jadi kamar ini adalah kamar si pemilik rumah, semoga saja kamarnya sudah dikunci sehingga tak kan ada salah paham.


Beruntung kamar yang aku tempati tidak berdekatan dengan kamar sang pemilik kontrakan.


Saat ini Shasha sedang beberes beberapa barang-barangnya untuk disimpan kedalam lemari. Satu persatu barang ia masukkan.


Selesai membereskan pakaian dan beberapa make up serta buku-bukunya Shasha mulai mengambil sapu, mengepel dan menyemprotkan wewangian agar kamar nya beraroma harum.


Ruang kamar selesai ia bersihkan, kini ia beralih ke ruang tamu. Disana ia tak melihat foto atau apapun yang dipasang disana.


Sepertinya pemilik rumah ini benar-benar tipe yang introvert, karena pada spot menarik untuk tempat me time sama sekali tidak ada barang disana.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan sore hari, ia selesai membersihkan semuanya, sebenarnya keadaan rumah sangat bersih namun itulah Shasha ia selalu puas dan merasa nyenyak jika ia sendiri yang membersihkan ruangan tempatnya berada.


Selesai membersihkan semuanya Shasha duduk di sebuah ruang terbuka sambil melihat gemericik air bersahut-sahutan, dirinya begitu merasa aman dan nyaman dapat tinggal disebuah tempat baru.


Aku harap dengan rumah baru ini aku bisa menata hidupku, aku tak akan menangis sepanjang waktu memikirkan bayang-bayang Daniel.


Saat sedang menikmati gemericik air ia mendengar suara paket telah tiba. Segera ia keluar rumah dan menghampirinya.


"Terimakasih," ucap Shasha kepada kurir paket tersebut.


Dengan perasaan senang ia tak sabar untuk membuka paket yang berisi ponsel baru yang baru saja ia pesan beberapa hari yang lalu.


Akhirnya ponsel yang aku pesan datang, setidaknya ponsel lama pemberian banga Johan tetap aku gunakan hanya untuk bekerja sedangkan ponsel ini khusus aku gunakan untuk orang-orang tertentu yang menyayangiku.


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2