
Semalaman Shasha menangis memikirkan nasib dirinya. Dirinya tak menyangka apa yang dia bayangkan terjadi. Bayangan tak indah saat pernikahan sempat menghantuinya namun seketika sirna saat ia mendengarkan suara Daniel mengucapkan ijab qobul. Saat itu hati Shasha bergetar tatkala mendengar suara tegas Daniel.
Hati wanita mana yang tak akan meleleh jika sebuah kalimat sakral tersebut diucapkan oleh seorang pria didepan wali dan para saksi. Kalimat itu selalu terngiang ditelinganya, baginya Daniel terlihat tampak keren dan tampan meski kadang menjengkelkan.
Namun pandangannya terhadap Daniel kini berubah saat ia mengetahui pengakuan bahwa kalimat ijab qobul yang diucapkan hanyalah main-main dan tak ada arti apapun baginya.
Ia menangis sambil membenamkan wajahnya pada kedua lututnya yang dihimpit. Rambutnya yang lurus kini tampak kusut dan berantakan. Lama menangis membuatnya capek dan tersiksa sendiri. Matanya menjadi bengkak dan suaranya pun sudah mulai terdengar parau.
"Shasha, ayo kamu harus kuat. Mungkin dia berkata seperti itu karena ia tak ingin kamu kecewa. Kata main-main yang dia ucapkan mungkin hanya di bibir." Gumam Shasha menyemangati dirinya sendiri dan mencoba berfikir positif tentang suaminya itu.
Setelah menyemangati dirinya sendiri dan mencoba berfikir positif ia merasa sedikit membaik.
Dilangkah kan kakinya ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air wudhu, dirinya ingin bermunajat kepada sang pencipta mengadu tentang nasib pernikahannya dan berharap datang keajaiban agar suaminya benar-benar mencintai dirinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi hari
Seperti keajaiban seorang istri pada umumnya, Shasha mulai menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya tak lupa sebuah minuman hangat kesukaan Daniel juga sudah tersedia di meja makan.
Selesai menyiapkan sarapan pagi ia mulai membersihkan semua ruangan kecuali kamar Daniel.
Kewajiban paginya hari ini selesai ia segera masuk ke kamar untuk mandi dan bersiap pergi ke perpustakaan kampus. Baginya perpustakaan adalah rumah keduanya setelah kamar kosnya namun sekarang sepertinya harus diubah dimana perpustakaan menjadi rumah pertama nya.
Saat dirinya melangkah keluar kamar terlihat makanan masih sama tak berubah posisinya padahal jam sudah menunjukkan pukul 9.
"Apa pak Daniel belum bangun?" gumam Shasha. "Apa dia kesiangan?" lanjut Shasha bertanya pada dirinya sendiri.
Shasha melangkah ke kamar Daniel, baru akan mengetuk pintu Daniel sudah membuka pintunya.
"Mau apa kamu?" tanya Daniel dingin.
"G--gak papa pak, cuman mau bilang sarapan pagi sudah siap."
"Kamu lupa waktu itu aku bilang apa?"
"Bilang apa ya pak?"
"Urusi urusan masing -masing."
"Yasudah kalau bapak gak mau makan saya saja yang makan. Saya berangkat dulu ya pak." pamit Shasha kepada Daniel sambil mendekatkan tangganya ke Daniel guna mencium tangan Daniel.
"Mau apa kamu?" Daniel kaget melihat kelakuan Shasha.
"Salim, mau pamit."jawab Shasha enteng.
__ADS_1
"Gak usah." ucap Daniel sambil meninggalkan Shasha menuju ke pantry.
"Mungkin dia mau sarapan, baiklah aku berangkat saja." lirih Shasha sambil melangkah kan kakinya keluar pintu apartemen Daniel.
Kini di dalam apartemen hanya ada Daniel, ia sengaja berangkat agak siang karena hari ini harus keluar kota bersama Jason guna pertemuan dengan rekan kerjanya.
"Dasar sok manis, sok imut, sok baik. Dikira aku bakal terkesima dengan senyumnya.” gumam Daniel.
"Siapa yang sok manis, sok imut dan sok baik, Shasha ya bos? Memang dia seperti itu bos, cantik dan seksi lagi." ucap Jason yang tiba -tiba muncul sambil mengambil sarapan yang telah disiapkan Shasha dimeja makan.
"Gak usah tanya-tanya. Kenapa makanannya kamu ambil, taruh!" perintah Daniel.
"Tanggung bos, sudah di tenggorokan." ucap Jason setelah menelan makanan. "Bos, enak. ambil lagi ya," Jason segera mengambil posisi duduk untuk makan."
"Kamu suka atau doyan?"
"Asli bos enak, andai dia istriku pasti aku bisa bahagia tiap hari. Makan kenyang, tidur nyenyak, hati tenang."
"Kamu mau?!" tanya Daniel menekankan kalimatnya.
"G---gak lah bos, mana berani saya ambil istri bos.
Setelah menghabiskan makanannya, Daniel dan Jason segera berangkat. Mereka akan keluar kota selama tiga hari.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah berpamitan kepada suaminya Shasha segera berangkat ke kampus, ia memilih ojek online motor sebagai kendaraan yang menemaninya. Jarak antara kampus dengan apartemen lumayan jauh jika dibandingkan antara kosan tempatnya dulu dengan kampus. Butuh waktu kira-kira 45 menit.
Tiba di kampus segera ia menuju ke perpustakaan, ia sengaja tak menampilkan batang hidungnya dihadapan dosen kesayangannya dan kedua sahabatnya itu. Karena ia tak sanggup berbagai cerita tentang pernikahan mendadaknya.
Shasha sengaja belum menceritakan pernikahannya karena tak ingin kedua sahabatnya itu menduga-duga mengapa pernikahan yang dilakukan begitu cepat. Shasha takut jika dugaan yang diberikan oleh kedua sahabatnya itu benar hingga dirinya tak dapat mengelak.
Di perpustakaan tak ada buku yang dia baca, ia hanya sibuk mengecek beberapa lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kriterianya dan menyambi membuat curriculum vitae(CV) sebagai pelengkap melamar kerja.
Beberapa Minggu lagi dirinya akan wisuda, oleh karena itu ia berharap semoga setelah wisuda segera mendapatkan pekerjaan.
Tak terasa sudah sore, ia harus segera kembali ke apartemen karena ia harus menyiapkan makan malam suaminya dan bersih-bersih.
Betapa tidak beruntungnya Shasha, yang ditakutkannya muncul. Ia bertemu dengan Secil dan Mutia.
"Sha ... Shasha ..." teriak Mutia dan Secil bersamaan sambil berusaha mengejar Shasha.
Mendapat teriakan sahabatnya mau tak mau ia harus berhenti, tersenyum dan menyapa kedua sahabatnya itu.
"Hai, kalian habis bimbingan?" tanya Shasha berusaha mencari-cari pertanyaan agar tak mendapat pertanyaan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ikut kami." ajak Mutia sambil menarik tangan Shasha menuju taman kampus.
"Ada apa?" hanya Shasha berusaha santai.
"Ayo duduk, ada yang mau kami tanyakan."suara Secil tegas.
"Kenapa wajah kalian begitu serius, aku kan jadi seperti tersangka dalam sebuah sidang." Shasha masih berusaha mencairkan suasana.
"Ya lu memang tersangka. Lu kenapa nikah kenapa gak bilang!?" Secil bertanya penuh selidik.
"Mau bilang tapi keduluan kalian tahu. Kalian tahu dari bang Arden?"
"Tidak secara langsung. Saat itu aku melihat beberapa foto yang bang Arden jadikan wallpaper pada ponsel nya." ucap Mutia.
"Iya, tapi jangan beritahu teman-teman yang lain ya." pinta Shasha.
"Kamu sembunyikan?" kaget Secil lumayan keras.
Dengan cepat-cepat Shasha membungkam mulut Secil.
"Tolong jangan beritahu sapa-sapa. Aku mohon." pinta Shasha tulus. "Lu tahu sendiri jarang ada perusahaan yang mau Nerima karyawan yang sudah menikah ,bukan?" bohong Shasha mencari-cari alasan.
"Buat apa lu kerja, suami lu tuh tajir melintir."
"Gak seru tahu, justru yang begini itu seru. Ada likunya, memasukkan lowongan dan bekerja ditempat lain, bukan?" Shasha berusaha mengelak.
"Lu benar-benar aneh Sha."
"Tapi gue gak percaya." suara Mutia memecahkan ketenangan dari dalam hati Shasha.
"Gak percaya apa?" tanya Shasha.
"Gak percaya kalau lu benar-benar cinta ma pak Daniel."
Mendapat kalimat itu rasanya Shasha selamat.
"Cinta itu mudah bisa dipelajari. Udah dulu ya gue harus pulang buat beres-beres dan masak." Shasha berucap sambil berdiri lalu melambaikan tangan kepada kedua sahabatnya itu.
to be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1