
Radit langsung bergegas menuju meja informasi untuk mencari tahu letak kamar Surya.
“Permisi, pasien bernama Surya ada dikamar mana ya?” tanya Radit dengan sikap yang tenang dan penuh
wibawa.
“Kamar pak Surya ada dilantai atas, Pak. Pintu ketiga sebelah kanan” jawab suster dengan sikap ramah dan sopan
"Baik, terimakasih"
"Sama-sama, Pak"
Radit pun beranjak pergi menuju lantai atas untuk menemui Surya, Dia berajalan dengan langkah kaki yang cepat namun tetap terlihat gagah. Radit menoleh kesana kemari setelah tiba dilantai yang dimaksud suster tadi, disana terlihat ada 2 petugas polisi yang berdiri menjaga sebuah kamar seperti yang dikatakan Candra padanya.
"Jadi disana" gumam Radit setelah melihat kamar itu. Diapun berjalan mendekati kamar yang dijaga polisi.
"Permisi. Saya ingin menemui pasien sebentar" ujar Radit pada polisi yang berjaga.
"Maaf, Pak. Tapi pasien itu ..."
"Hanya sebentar. Dan aku adalah orang yang melaporkannya, jadi aku ingin bertemu dengannya sebelum dia dibawa kepenjara" Radit menyela saat polisi hendak melarangnya untuk bertemu dengan Surya.
"Baiklah"
"Terimakasih".
Radit pun langsung bergegas masuk setelah polisi memberikan izin padanya. Didalam kamar terlihat Surya tengah berbaring diatas tempat tidur dengan sebelah tangan yang diperban dan terpasang juga selang infus pada tangan satunya.
Radit melangkahkan kaki dengan perlahan mendekati Surya. Dia berdiri tepat disampingnya. Radit menatap Surya dengan sorot mata yang tajam.
Setelah mendengar ada seseorang yang masuk, Surya pun membuka mata. Dia terkejut mengetahui Radit tengah berdiri disampingnya.
__ADS_1
"Ka-kamu? A-apa yang kamu lakukan disini?" Surya bertanya dengan panik dan wajah yang pucat.
"Memastikan kondisimu. Apakah kamu masih hidup atau tidak. Lukamu parah atau tidak. Tapi setelah melihatmu baik-baik saja seperti ini ... aku jadi kesal" Radit bicara dengan sikap yang dingin sambil duduk disamping Surya.
"Jangan macam-macam. Kalau tidak, aku akan panggil polisi kemari" Surya berusaha mengancam Radit meskipun dengan terbata-bata.
"Panggil polisi? Apa yang akan kamu lakukan dengan mereka? Aku tidak peduli ada polisi atau tidak. Aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan. Bahkan dihadapan polisi sekalipun" Radit bicara dengan seringai tipis dibibirnya. Dia juga memainkan pistol yang dikeluarkan dari dalam saku jasnya.
"Apa yang kamu inginkan?" Surya semakin panik melihat pistol yang ada ditangan Radit.
"Memangnya kamu bisa memberikan aku apa? Apa kamu lupa kalau kamu sudah tidak punya apa-apa lagi?" Radit bicara dengan senyum mencibir pada Surya yang terbaring
"Ehm ... Bagaimana jika aku bilang, aku menginginkan nyawamu?" sambung Radit yang membuat Surya gemetar ketakutan
"Ja-jangan sembarangan bicara!" teriak Surya ketakutan
"Kenapa aku harus sembarangan bicara? Kamu telah melukai putraku, tidak ada salahnya jika aku membunuhmu sekarang juga!" ujar Radit dengan sikap acuh tak acuh sambil mengarahkan pistol pada Surya
"JIka kamu macam-macam, maka aku akan teriak. To.." Surya mengancam Radit kalau dia akan berteriak, namun begitu dia membuka mulut, Radit dengan cepat memasukkan pistol kedalam mulutnya.
"Aku tidak tahu sebenarnya kamu ini berani atau gila, karena telah mengusikku lebih dulu tanpa alasan yang jelas. Tapi yang pasti sekarang, aku tidak bisa terima karena kamu telah membuat putraku celaka. Jadi agar rasa kesalku terlampiaskan, kamu harus membayar dengan setimpal apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak ingin melihat kamu menggunakan lagi tangan kananmu yang kurang ajar iini, karena jika aku melihatnya ... itu membuatku mengingat kembali kejadian dimana Lathan terluka, dan saat mengingat itu rasanya aku ingin sekali membunuhmu"
"Emmm..." Radit bicara dengan sikap yang tenang sambil menekan luka tembak ditangan Surya dengan keras hingga dia mengeluarkan banyak darah. Surya yang mulutnya di tutup dengan pistol tidak berani berteriak. Dia hanya bisa menahan rasa sakit yang dia rasakan.
"Aku ingin bermain lebih banyak denganmu, tapi waktunya tidak cukup. Jadi aku akan menghentikan permainan ini. tapi sebelum itu ... ini hadiah terakhir dariku".
Kretekk
"Mmmm!!!!"
Radit memelintir tangan Surya yang terluka hingga patah.. Air mata pun mulai mengalir dari kedua pipi Surya karena sakit yang dia rasakan.
__ADS_1
"jika kamu masih berani mengganggu keluargaku, saat itu bukan hanya tangan yang kutembak dan kubuat patah. Tapi sudah pasti aku akan membuatku kehilangan nyawa" bisik Radit dengan nada yang dingin. Bulu kuduk Surya pun terasa merinding saat mendengar Radit berbisik ditelinganya.
Setelah selesai dengan Surya, Radit meninggalkan ruang rawat dengan sikap yang tenang. Dia melenggang pergi melewati 2 polisi yang berjaga seakan tidak terjadi apa-apa. Radit hanya tersenyum sambil mendelik kearah kamar Surya.
***
"Halo, sayang. Apa yang sedang kamu lakukan?" Radit sedang menghubungi Andra setelah dia mengurus Surya
"Aku sedang istirahat. Bagaimana dengan Lathan? Apa dia sudah sadar?" Andra yang mengkhawatirkan Lathan langsung menanyakan kabar putranya itu
"Dia sudah sadar, dan kondisinya sudah lebih baik meskipun Lathan masih belum bisa bicara normal. Tenggorokannya masih terasa sakit saat bicara, karena itu dokter menyarankan untuk tidak bicara dulu sampai lukanya sembuhl Jadi dia akan berkomunikasi melalui tulisan" Radit menjelaskan kondisi Lathan dengan wajah sedih. Andra terdiam mendengarkan penjelasan Radit dengan hati yang terasa seakan tersayat
"Aku akan kesana sekarang" Andra langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Radit.
"Aku belum selesai bicara, tapi dia langsung menutup trlrponnya begitu saja gerutu Radit sambil menatap layar ponsel yang telah mati.
DIkamarnya, Lathan yang diberikan tablet untuk berkomunikasi sedang membuka-buka sosial media untuk mencari siapa saja wanita yang pernah dekat dengan sang ayah. Mungkin saja memang darah Radit lebih cocok dengab ibunya.
"Bagaimana aku bisa menemukannya? Sudah berkali-kali aku mencoba, Disini papi tidak pernah berhubungan dekat dengan para wanita, jadi apa yang harus aku lakukan?". Lathan terlhat bingung karena selain Andra,tidak ada wanita yang pernah dekat dengan Radit
"Apa aku harus bertanya pada seseorang? Yang lebih tahu mengenai papi... tentu saja si tante cerewet. Hanya tante cerewet yang mengerti papi dengan baik. Semoga saja dia bisa membantuku" gumam Lathan sambil mengangguk dengan percaya diri. Dia pun mencari nomor Cheva dan mengirim pesan padanya
"Tante cerewet, apa aku boleh menanyakan sesuatu pada tante. Ini sesuatu yang penting untukku" tulis Lathan dalam pesannya untuk Cheva
"Ada masalah apa, tampan? Sepertinya sangat serius?" Cheva pun bertanya perihal sesuatu yang ingin ditanyakan Lathan.
"Bisakan tante memberitahuku siapa yang selama ini dekat dengan papi?" balas Lathan lagi dalam pesannya
"Radit? Ada apa dengannya? Kenapa Lathan menanyakan hal itu?" pikir Cheva yang kebingungan
"Ada apa dengan papimu? Apa dia tertangkap berselingkuh?" tanya Cheva menebak-nebak.
__ADS_1
Lathan pun kebingungan karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Cheva.
"Papi? Selingkuh? Apa itu selingkuh tante?"