
Sesaat Lathan terkejut mendengar pertanyaan Fandy. Dia menatap Fandy dengan tatapan heran.
"Bukan aku" jawab Lathan dengan singkat dan dingin.
"Ayolah Than. Tidak perlu berbohong. Itu perbuatan kamu kan?" Fandy terus mendesak sambil berjalan mengikuti Lathan.
"Bukan aku". Lathan tetap mengelak dengan tegas tuduhan Fandy padanya.
"Tidak mungkin. Jika bukan kamu lalu siapa lagi?". Fandy terus bersikeras tentang dugaan dia pada Lathan.
"Mana aku tahu. Yang jelas bukan aku!" Lathan kembali menjawab dengan tehas kalau bukan dia pelakunya.
"Tidak mungkin. Tidak ada yang bisa mengacaukan 3 perusahaan sekaligus kecuali keluarga kalian. Aku yakin kalau itu pasti perbuatan kamu kan?".
Fandy tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lathan padanya. Dia terus mengira kalau Lathan lah yang sudah membuat 3 perusahaan itu goyah.
"Kamu pikir yang bisa meretas komputer dan memanipulasi data seperti itu hanya aku saja? Ada banyak orang dinegara ini. Lagipula apa untungnya aku melakukan semua itu? Aku saja tidak tahu perusahaan mana yang kamu maksud".
Lathan menanggapi Fandy dengan sikap yang kesal karena memang dia tidak melakukan apa yang Fandy katakan.
"Apa iya bukan kamu yang melakukannya? Lalu siapa yang sudah membuat 3 perusahaan goyah pada waktu bersamaan? Hanya butuh 1 hari saja untuk melakukan itu"
Fandy terus mengikuti Lathan berjalan kekelas sambil memikirkan apa yang terjadi dengan 3 perusahaan itu.
"Memangnya apa yang membuat kamu sangat penasaran dengan itu? Kamu kenal siapa mereka?". Lathan berjalan sambil menatap Fandy penuh tanya.
"Aku tidak kenal mereka. Hanya saja 3 perusahaan itu berteman baik. Apa menurutmu selain berteman, mereka juga menyinggung orang yang sama? Ini benar-benar membuatku bingung".
Fandy menggelengkan kepala sambil menerka-nerka perusahaan yang dia maksud.
"Bisa jadi. Yang jelas itu tidak ada hubungannya denganku, jadi aku tidak peduli sama sekali dengan hal itu".
Lathan menanggapi dengan sikap dingin dan acuh tak acuh. Dia terlihat tidak peduli dengan apa yang dikatakan Fandy.
"Itu juga tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya penasaran saja dan ku kira kamu yang sudah melakukan hal itu" ujar Fandy yang kini telah bersikap tenang.
"Ya sudah biarkan saja. Tidak perlu dipikirkan" ujar Lathan sambil menepuk pundak Fandy dan menuntunnya berjalan ke kelas.
"Memangnya perusahaan mana yang dimaksud Fandy? Aku jadi penasaran" gumam Lathan begitu mereka tiba dikelas. Diapun langsung mengeluarkan laptop miliknya dan mencari informasi tentang perusahaan yang goyah kemarin.
__ADS_1
Lathan terlihat sangat serius dengan laptopnya. Setelah mengetahui nama perusahaan itu, Lathan mencari data mendalam mengenai pemilik perusahaan itu dan juga keluarga mereka.
"Ini … anak mereka berada di sekolah yang sama dengan Ardhan?! Apa jangan-jangan … mereka yang membuat Ardhan terluka waktu itu?"
Dahi Lathan berkerut saat dia membaca data mengenai anak dari pemilik 3 perusahaan itu. Lathan pun kembali mencari update terbaru tentang perusahaan itu.
"Perusahaan mereka hanya krisis saja? Tidak bisa dibiarkan. Aku tidak terima karena mereka telah membuat adikku terluka. Bahkan kami sampai harus berbohong pada mami. Karena itu, aku harus membuat mereka menyesal. Tidak, aku harus bertemu dengan mereka terlebih dahulu agar mereka tahu dimana letak kesalahan mereka".
Lathan kembali mengacaukan data keuangan milik perusahaan ayah Bobi dan juga teman-temannya. Jika Ardhan hanya membuat harga saham mereka sedikit goyang, maka Lathan langsung membuat harga saham mereka anjlok dipasaran.
...****************...
Perusahaan ayah Bobi.
Tok tok tok
"Pak, kita kembali dalam masalah!". Asisten ayah Bobi langsung masuk ke kantornya sebelum mendapatkan izin dari ayah Bobi.
"Ada apa lagi?" tanya ayah Bobi dengan panik.
"Saham kita kembali mengalami penurunan. Kali ini nilai saham kita anjlok dibawah harga pasaran" ujar sang asisten dengan raut wajah panik.
"Apa?! Turun lagi?! Kamu bilang kita mampu bertahan dengan harga saham yang stabil?" ujar ayah Bobi memastikan.
"Jika kita begini terus maka perusahaan ini akan bangkrut. Apa yang harus kita lakukan? Kamu harus cari solusinya!" ujar ayah Bobi yang mulai panik.
"Jika anda tidak ingin mengalami kerugian lebih banyak lagi … maka anda harus melepaskan saham milik anda dan menjualnya saat ini juga. Setidaknya harga yang anda miliki masih cukup untuk mendapatkan sedikit keuntungan".
Ayah Bobi langsung menatap asistennya dengan tatapan tajam.
"Apa kamu gila! Kamu memintaku untuk melepaskan perusahaan yang aku bangun dengan susah payah pada orang lain yang tidak jelas kemampuannya?! Aku merintis perusahaan ini dari nol. Aku telah melakukan banyak hal dan telah menyita banyak waktu untuk melakukan semua demi perusahaan ini. Dan kamu ingin aku merelakan semuanya begitu saja?! Aku selalu menghargaimu karena kerja kerasmu dalam mendampingiku, tapi aku tidak bisa terima saran seperti itu darimu"
"Pak, untuk saat ini hanya cara inilah satu-satunya yang anda miliki. Jika anda menjual saham milik anda, maka anda tidak akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi. Tapi jika anda tetap mempertahankan saham milik anda, maka anda tidak akan mendapatkan apapun saat perusahaan ini benar-benar hancur"
Ayah Bobi terdiam mempertimbangkan ucapan asistennya.
"Kamu memang benar. Tapi aku tidak mungkin melepaskan perusahaan ini begitu saja"
Ayah Bobi masih terasa sangat berat melepaskan perusahaan miliknya.
__ADS_1
Teeet teet teet
Saat ayah Bobi dan asistennya bicara dengan serius tiba-tiba telepon kantor berbunyi. Ayah Bobi langsung menerima telepon tersebut.
"Halo"
"Halo, Pak. Ada telepon untuk anda disaluran 1" ujar resepsionis memberitahukan
"Sambungkan saja"
"Baik, Pak". Resepsionis langsung menyambungkan panggilan teleponnya untuk ayah Bobi.
"Halo, selamat siang. Dengan siapa ini?" Ayah Bobi bertanya dengan sikap yang tenang.
"Bagaimana rasanya berada diambang kehancuran? Bukankah kamu sangat menikmatinya?" ujar seseorang dari ujung telepon.
"Apa maksudnya?! Siapa kamu?". Ayah Bobi bertanya dengan sinis dan dahi berkerut.
"Anggap saja kalau ini ganjaran karena kamu telah gagal mendidik anakmu. Dengan kekuasaan yang kamu miliki, kamu membiarkan anakmu bebas melakukan apa saja yang dia inginkan. Bahkan jika itu menyakiti orang lain. Kamu hanya akan memberikan uang untuk menutupi kejahatan anakmu. Sekarang bagaimana rasanya kehilangan banyak uang yang selalu kamu banggakan itu?".
Lathan bicara dengan sikap yang dingin dan penuh wibawa. Tidak akan ada yang mengira kalau yang sedang bicara saat ini adalah seorang anak yang bahkan belum lulus SMA.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku padamu?" tanya ayah Bobi yang semakin panik.
"Salahmu? Tidak ada, tapi anakmu. Dia bersalah pada adikku"
"Bobi? Apa yang dia lakukan sampai kamu melakukan ini pada perusahaanku?!". Ayah Bobi semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
" Dia … dia telah melukai wajah tampan adikku"
"Apa?! Hanya karena itu kamu menghancurkan perusahaanku? ini adalah masalah kenakalan anak remaja, bagaimana bisa kamu ikut campur dan membuat perusahaanku krisis?!".
Ayah Bobi semakin panik dan tak habis pikir dengan apa yang dia dapatkan.
"Kenakalan remaja. Dia memukul, melecehkan dan membully remaja lainnya disekolah maupun diluar sekolah. Saat ada yang melapor, istrimu akan menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya untuk melindungi putramu dan membebaskannya dari hukuman. Apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan korbannyaan juga masa depan dari korbannya? Anakmu masih remaja yang menginjak kelas 3 SMP tapi sekarang perilakunya sudah seperti itu, lalu bagaimana nanti? Bukankah akan lebih berbahaya jika dibiarkan? Karena itu, aku memutusnya dari akarnya langsung. Jika kamu tidak punya kekuasaan maka tidak akan ada yang bisa melindunginya dimasa depan. Dia akan mendapatkan ganjaran setimpal jika dia melakukan kesalahan yang sama".
Kaki ayah Bobi terasa lemas. Dia sudah tidak kuat lagi berdiri mendengarkan ucapan Lathan. Dia duduk disalah satu sofa dengan tatapan kosong.
"Siapa kamu sebenarnya? Aku bisa meminta Bobi berlutut dihadapanmu"
__ADS_1
"Lathan Gevaril Nugraha. Apapun yang kamu lakukan, tidak akan bisa membuatku memaafkan anakmu. Tut tut tut"
"Hancur sudah. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Bobi telah mengusik keluarga yang salah. Kami akan berakhir di jalanan"