Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Gadisku Hanya Kamu


__ADS_3

Zara dan ibunya keluar dari kamar sang ibu sambil bergandengan tangan. Mereka terus tersenyum dengan sesekali saling menatap penuh kasih satu sama lain membuat orang disekitarnya merasa haru.


"Zara! Mamah!" pak Zein nampak terkejut melihat sang istri yang bisa tersenyum manis pada Zara setelah sekian lama. Diapun langsung berjalan mendekat kearah sang istri dan anaknya itu.


"Apa kalian sudah sepakat memperbaiki semuanya dari awal?" tanya pak Zein dengan senyum lembut dibibirnya.


"Ya. Mama akan menebus semua kesalahan Mama. Mama akan mencurahkan semua kasih sayang Mama pada Zara yang selama ini tertunda". Ibu Zara menanggapi dengan senyum ceria sambil sesekali menoleh pada Zara. Dia bernama Indah.


"Karena ini pagi yang menyenangkan, bagaimana kalau kita sarapan bersama?" sambung bu Indah menyarankan.


"Tentu. Kami juga belum sarapan" jawab pak Zein dengan senyum manis.


"Oh, apa kalian hanya berdua saja?" tanya bu Indah pada Lathan dan Zara.


"Kami bersama Fandy, tapi sepertinya dia masih beoum bangun" Lathan menanggapi dengan sikap tenang.


"Siapa bilang aku belum bangun? Aku baru saja selesai mandi". Semuanya menoleh ketika mendengar suara Fandy yang baru saja muncul.


"Kukira kamu tidak bisa bangun pagi". Lathan bicara dengan nada mencibir dan senyum yang tipis.


"Kenapa? Kalian berencana meninggalkanku?"


Drrt drrt drrt


Saat mereka semua sedang asyik bercengkrama, tiba-tiba ponsel Lathan bergetar. Diapun merogoh saku celananya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Maaf, saya harus terima telepon terlebih dahulu". Lathan menjauh setelah Pak Zein menganggukkan kepala.


"Halo, Pih" sapa Lathan ketika dia menerima telepon.


"Halo, Than. Bagaimana liburanmu? Apakah menyenangkan?" tanya Radit dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa.


"Ya, Pih. Sepertinya, aku akan menambah masa liburanku disini sampai sebelum masuk perguruan tinggi" ujar Lathan menjelaskan.


"Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Radit lagi memastikan


"Papi tenang saja. Semuanya sudah selesai. Hanya tinggal menunggu masuk kuliah saja"


"Baiklah kalau begitu. Papi tidak akan mengganggumu lagi. Semoga liburanmu menyenangkan"


"Baik. Sampai jumpa, Pih". Lathan dan Radit pun mengakhiri panggilan teleponnya.

__ADS_1


...****************...


"Kak, apa Kakak sudah yakin akan membuat pesta perayaan untuk Lathan nanti?" tanya Andra setelah melihat Radit menutup teleponnya.


"Ya. Tidak hanya untuk Lathan tapi juga Ardhan dan Lulu. Kita memang tidak pernah menyembunyikan identitas mereka, tapi aku ingin mengenalkan mereka secara langsung pada seluruh dunia, kalau mereka adalah anak-anakku". Radit bicara dengan sikap yang tenang sambil menatap Andra dengan senyum yang lembut.


"Apa tidak papa? Bukannya Kak Radit bilang sendiri kalau itu bisa saja mengancam nyawa mereka?" Andra terlihat ragu-ragu dengan keputusan yang diambil Radit.


"Ya, tapi aku tahu kalau mereka bisa melindungi diri mereka dan kita juga bisa tempatkan pengawal untuk mengawasi mereka". Radit menatap Andra dengan tatapan yang lembut.


"Apa kamu sangat khawatir?" Sambung Radit sambil berjalan mendekati sang istri.


"Ya, tapi aku yakin kalau kamu pasti sudah memikirkan semuanya dengan matang" jawab Andra sambil merapikan kerah baju Radit.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan kita? Apa kamu pernah menyesal menikah dengan pria yang sudah punya 1 anak?" Radit bertanya dengan senyum menggoda. Dia melingkarkan tangannya dipinggang Andra dan menariknya semakin dekat.


"Awalnya aku terpaksa menjadi ibu tiri Lathan karena aku tidak ingin menjadi istri ketiga dari pria tua bangka yang disiapkan mama. Tapi sekarang … aku bersyukur karena menikahi duda tampan yang baik hati ini. Bahkan mendapatkan banyak cinta dari keluarga kak Radit. Eh tidak bukan duda, tapi pemuda tampan dengan 1 orang anak. Hahaha". Andra melingkarkan tangannya disekitar leher Radit dan bicara dengan sangat lembut. Dari senyum mereka terlihat jelas kalau mereka saling mencintai.


"Kamu sudah berani menggodaku ya?" Radit menyentuh ujung hidung Andra dengan lembut.


"Tidak tidak. Aku tidak berani menggoda Kakak"


...****************...


"Apa ada tempat yang ingin kalian berdua tuju?" tanya Zara sebelum mereka berangkat.


"Tidak ada. Karena kamu pemandu wisatanya, kami akan ikut kemanapun kamu membawa kami" ujar Lathan dengan sikap yang tenang.


"Cih. Bisakah kalian berdua bersikap normal? Coba sekali saja anggap kalau aku ini ada disamping kalian" Fandy mengeluh pada Zara dan Lathan sambil mencibir pasangan itu.


"Tidak bisa. Harusnya kamu yang mencari kehidupanmu sendiri. Jangan terus saja menempel pada kami". Lathan menanggapi dengan sikap acuh tak acuh.


"Lathan benar. Sampai kapan kamu akan terus menjadi obat nyamuk diantara kami berdua? Apa kamu tidak pernah dengar istilah kalau saat sepasang kekasih bersama maka orang ketiganya adalah setan?" Zara bicara dengan senyum percaya diri.


"Jadi maksudmu itu aku ini adalah setan?!" tanya Fandy sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Aku tidak mengatakan itu. Hanya memberitahumu istilah yang selalu populer saja" Zara terus mengolok-olok Fandy sambil tertawa. Lathan juga hanya ikut tertawa melihat Fandy yang ditindas sang kekasih.


"Kalian berdua memang pasangan yang cocok. Sama-sama menyebalkan, huh!" ujar Fandy sambil memalingkan wajah.


"Apa kamu marah?" tanya Zara dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Tidak aku tidak marah. Sama sekali tidak marah!" jawab Fandy sinis sambil menggelengkan kepala.


"Sudah sudah berhenti berdebat. Sebaiknya kita berangkat sekarang agar bisa mengunjungi banyak tempat". Ujar Lathan melerai perdebatan diantara Zara dan Fandy. Dia bicara sambil mendorong mereka berdua secara perlahan.


Zara dan Fandy pun berhenti berdebat dan mereka mulai berangkat untuk berkeliling.


"Kemana dulu kita akan pergi?" tanya Lathan memastikan.


"Ehm … bagaimana kalau ke taman hiburan terlebih dahulu?" ujar Fandy mengajukan saran.


Lathan dan Zara saling menatap satu sama lain.


"Baiklah. Kita pergi ketaman hiburan".


Tak berapa lama mereka tiba ditaman hiburan.


"Aku akan membeli tiket untuk kita bertiga" ujar Lathan sambil berlalu pergi meninggalkan Zara dan Fandy.


"Aku ikut!" Zara sedikit berlari untuk mengejar Lathan yang akan membeli tiket masuk.


"Pada akhirnya aku sendiri lagi yang menunggu" gumam Fandy melihat punggung Lathan dan Zara yang semakin menjauh.


Zara dan Lathan berbincang sembari mengantri untuk membeli tiket. Meskipun Lathan sudah mengenakan topi, tetap saja dia terlihat sangat tampan dan mencuri perhatian para gadis.


"Lihatlah. Dia sangat tampan"


"Benar. Apalagi tubuhnya sangat tinggi. Benar-benar pria idaman"


Disaat banyak para gadis menatap Lathan dengan mata berbinar, Zara mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Kenapa mengerucutkan bibir seperti itu? Kamu tidak cantik kalau cemberut begini" Lathan bertanya pada Zara dengan senyum menggoda.


"Sekarang aku mengerti kenapa para gadis yang punya pacar tampan selalu bersikap possesif". Zara mengeluh dengan wajah ditekuk.


"Kenapa? Apa kamu sudah melakukan penelitian?" Lathan yang malah menggoda Zara justu mendapat cubitan dipinggangnya.


"Aw ... sakit"


"Rasakan. Aku sedang serius" ujar Zara kesal.


"Baiklah. Kenapa mereka bersikap possesif?" tanya Lathan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Karena aku sendiri tidak ingin membagi ketampananmu dengan gadis lain. Bagaimana jadinya saat kita menjalani hubungan jarak jauh karena kuliah dinegara yang berbeda?". Awalnya Zara terlihat percaya diri namun setelah itu dia kembali mengerucutkan bibir dengan wajah tertunduk.


"Kamu tidak perlu khawatir. Meskipun kita kuliah terpisah dan banyak gadis cantik di kampus nanti, tapi gadisku hanya kamu dan hanya kamu juga yang bisa memiliki hatiku, tidak yang lain"


__ADS_2