
Radit dan Lathan masih terkejut mendengar apa yang dikatakan Ardhan. Lalu Radit pun teringat dengan kompetisi IT yang baru-baru ini berlangsung.
"Itu berarti … ada kemungkinan kalau yang memenangkan kompetisi hacker itu … kamu?"
Radit bertanya dengan raut wajah serius.
Degh...
Ardhan sangat terkejut dengan pertanyaan dari Radit hingga kedua bola matanya hampir melompat keluar.
"I-itu tidak mungkin. Ba-bagaimana mungkin aku bisa mengikuti kompetisi bedar seperti itu, hahaha".
Ardhan menjawab dengan gugup hingga tanpa sadar dia terbata-bata saat bicara. Bahkan tawa yang dia tunjukkan terasa sangat canggung dan kaku sekali.
"Papi serius? Apa kamu mengikuti kompetisi IT beberapa hari yang lalu?".
Radit kembali bertanya dengan sikap yang dingin dan juga sangat mengintimidasi.
"Haaah … iya aku yang melakukannya. Ini pertama kalinya aku ikut kompetisi ini. Aku hanya ingin menguji sejauh mana kemampuanku berkembang. Aku tidak tahu kalau pada akhirnya aku akan memenangkannya".
Ardhan yang sudah merasa tersudut, akhirnya mengatakan kebenarannya pada sang ayah. Membuat Radit terdiam sesaat, kamar hotel itupun jadi terasa hening, hanya suara televisi yang terdengar keras disana.
Ardhan yang sejak tadi menundukkan kepala karena takut, kini sedikit melirik pada sang ayah dan juga kakaknya.
Kenapa mereka berdua diam saja? Apa mereka marah? Hukuman apa yang akan aku terima kali ini? Berlari mengelilingi halaman rumah atau naik turun tangga sebanyak puluhan kali? Atau mungkin … aku harus makan sayuran selama 1 bulan penuh dan tidak bisa makan daging? Aneh. Kenapa mereka berdua tetap tidak bereaksi? Apa itu artinya … mereka berdua sangat marah padaku? Matilah aku!
Pikiran Ardhan diselimuti oleh hukuman apa saja yang mungkin akan dia terima dari kemarahan sang ayah dan juga kakaknya, namun Radit dan Lathan sama sekali tidak mengatakan apapun setelah itu. Mereka hanya diam dan membiarkan Ardhan tetap dalam posisi berdirinya.
"Papi … apa Papi marah padaku?".
Akhirnya Ardhan bertanya meskipun dengan ragu-ragu.
"Menurutmu bagaimana? Apakah Papi harus marah padamu atau tidak?".
Radit tidak memberikan jawaban langsung pada Ardhan. Dia justru bertanya dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuhnya. Kakinya yang disilangkan dengan tangan yang dilipat didada dan tubuh bersandar pada sofa membuatnya terlihat berwibawa. Namun tatapan matanya, dan senyum tipis serta nada bicaranya membuat Radit terlihat lembut dan hangat. Tidak ada aura mengintimidasi yang dia tunjukkan kepada Lathan dan juga Ardhan, tapi justru itu membuat Ardhan merasa bersalah pada sang ayah. Diapun kembali menundukkan kepala dengan raut wajah penuh sesal.
"Maafkan aku, Pih. Aku tahu aku salah karena membuat kekacauan. Aku juga tidak mengatakan yang sebenarnya pada Papi mengenai kompetisi itu. Aku tidak bermaksud menyembunyikan semuanya dari Papi. Hanya saja … aku takut kalau Papi tidak setuju jika aku mempelajari komputer seperti kak Lathan"
Radit mengernyitkan dahi mendengar penjelasan sang putra.
"Tunggu. Maksud kamu apa dengan Papi tidak akan setuju? Memangnya Papi pernah melarang kamu Than?".
__ADS_1
Radit bertanya dengan raut wajah bingung. Dia pun mengkonfirmasi pernyataan Ardhan pada Lathan.
"Tidak. Papi tidak pernah melarangku mempelajari apapun"
Lathan pun menyanggah dengan wajah bingung karena ucapan sang adik.
"Buktinya Papi melarang kakak untuk mengungkapkan kemampuannya. Bukankah itu artinya Papi tidak ingin kakak mempelajari komputer?".
Ardhan pun akhirnya mengatakan pemahamannya.
Radit dan Lathan saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.
"Haah ... Jadi karena itu? Begini, Papi melarang kak Lathan mengungkapkan kemampuannya bukan karena Papi tidak suka, tapi karena Papi ingin melindungi kak Lathan. Jika orang luar tahu kemampuan kalian, mereka bisa saja membuat berita macam-macam tentang kalian. Banyak orang juga akan sangat tertarik dengan kemampuan yang kalian miliki. Karena itu Papi meminta kak Lathan untuk menyembunyikan kemampuannya dan menjadikan itu sebagai senjata kalian untuk melindungi diri"
Radit menjelaskan pada Ardhan mengenai alasannya melarang Lathan mengungkapkan kemampuannya. Dia terlihat sangat lembut dan hangat.
"Jadi, Papi tidak marah kalau aku tetap belajar lebih banyak lagi tentang komputer?"
Ardhan tetap bertanya pada sang ayah untuk memastikan, meskipun dengan ragu-ragu.
"Kenapa Papi harus marah? Justru Papi merasa bangga kalau kedua anak Papi ini memiliki kemampuan yang hebat dalam meretas komputer. Itu artinya kalian bisa menangani setiap masalah kalian sendiri tanpa bantuan Papi".
Radit bicara dengan lembut pada Ardhan disertai senyum manis dibibirnya.
Ardhan kembali bertanya dengan antusiasan juga senyum ceria untuk memastikan Radit tidak melarangnya.
"Iya, kamu bisa terus melakukannya. Tapi, sama seperti kakakmu, kamu harus merahasiakan kemampuanmu ini dari orang lain. Ini bisa saja membahayakan nyawamu jika ada orang lain yang tahu mengenai kemampuamu. Seperti hal ini. Kepala sekolahmu mungkin akan mencari cara untuk menutup mulutmu dan menghilangkan bukti agar mereka tidak tertangkap, jadi kamu harus lebih hati-hati lagi"
Radit bicara dengan sikap yang tenang sambil menatap wajah Ardhan dan Lathan secara bergantian.
"Baik, Pih. Aku mengerti. Aku akan lebih berhati-hati dan aku akan mencari cara lain untuk membuat para senior itu tidak bisa lagi menggangguku"
Ardhan menanggapi dengan tenang disertai anggukan kepala secara bersamaan.
"Mereka menggunakan kekuasaan disekolah untuk menindasmu, kenapa kamu tidak melakukan hal yang sama pada mereka? Kamu bisa menggunakan nama Papi sebagai perisai untuk melindungimu"
Radit memicingkan mata disertai senyum tipis saat dia bicara.
"Aku tidak ingin menggunakan itu dan membuat semua orang berusaha menjilatku, tapi jika tidak ada pilihan lain... aku pasti akan menggunakan nama Papi sebagai senjata andalanku nantinya"
Ardhan pun tersenyum dengan sikap acuh tak acuh menjawab pertanyaan sang ayah.
__ADS_1
"Bagus. Papi senang jika itu yang kamu pikirkan. Ardhan, Lathan, dengarkan Papi. Papi ini adalah ayah kalian sendiri. Tidak masalah jika kalian mau menggunakan kekuasaan sebagai senjata kalian, karena memang itu kenyataannya. Jika kalian mau, kalian bisa membuat semua orang di negara ini bertekuk lutut dihadapan kalian, tapi kalian juga harus ingat konsekuensinya. Saat banyak orang yang tahu mengenai siapa kalian, maka akan banyak serangga yang beterbangan mengelilingi kalian untuk sekedar mencari keuntungan pribadi. Itu akan membuat kalian kesulitan menemukan seseorang yang tulus berteman dengan kalian. Jadi Papi harap kalian bisa bermain cantik dan juga cepat jika ingin menyingkirkan kerikil dijalan kalian. Dengan begitu masalahnya akan cepat selesai dan keselamatan kalian juga bisa terjamin. Apa kalian mengerti?"
"Mengerti, Pih"
Radit bicara dengan senyum lembut dan tatapan mata yang hangat pada kedua putranya yang ditanggapi dengan jawaban serempak dari Ardhan dan Lathan.
"Papi, ada yang ingin aku tanyakan"
"Apa itu?"
"Apa Papi memang memiliki kerja sama dengan perusahaan Surya Diningrat?"
Dahi Radit berkerut saat mendengar pertanyaan dari Lathan.
"Kenapa kamu menanyakan masalah bisnis Papi?" tanya Radit yang merasa heran pada Lathan
"Bukan begitu, Pih. Hanya saja putri Surya Diningrat mengundangku ke pestanya dengan menggunakan nama Papi. Dia bilang jika aku menolak maka kerjasama Papi dan perusahaan ayahnya akan batal"
Lathan bercerita dengan hati-hati pada sang ayah. Dia bertanya karena tidak menemukan surat kontrak kerjasama sang ayah dengan Surya Diningrat.
"Sejak kapan kamu takut dengan ancaman murahan seperti itu? Apa kamu yakin jika Papi akan mengalami kerugian hanya dengan kehilangan satu kontrak kerjasama dengan perusahaan lain?"
Radit bertanya pada Lathan dengan senyum mencibir dan kedua alis diangkat bersamaan.
Lathan pun tersenyum menanggapi ucapan Radit.
"Aku mengerti Pih"
"Kalian selalu tahu kalau Papi tidak pernah melarang kalian melakukan apapun, tapi kalian juga harus ingat ada batasan dan juga konsekuensi dari apa yang sudah kalian lakukan. Dengan begitu kalian yang harus berusaha bertanggung jawab atas tindakan kalian sendiri"
Ardhan dan Lathan menganggukan kepala bersamaan menanggapi ucapan Radit.
"Karena masalah ini sudah selesai, jadi mari kita pulang".
Radit mengajak kedua putranya pulang sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Tidak, Pih. Jika aku pulang dan mami melihat pipiku yang masih lebam ini, maka mami pasti akan membuat keributan dan membuatku seperti tahanan yang harus selalu diawasi agar tidak melarikan diri, jadi biarkan aku dan kakak menginap disini ya Pih? Satu hari saja"
Ardhan langsung menjawab dengan cepat dan memohon pasa Radit sambil mengangkat 1 jari telunjuknya.
Radit tersenyum melihat ekspresi Ardhan
__ADS_1
"Baiklah. Hanya 1 hari. Jika kalian tidak kembali setelah pulang sekolah besok, maka Papi sendiri yang akan selalu mengawasi kalian berdua"
"Baik Pih. Terimakasih banyak, Pih"