
Beberapa saat kemudian dikantor keluarga Satya. Radit tidak mengantar Andra kekantor karena dia memiliki rapat pagi ini, jadi Andra mengemudikan mobilnya sendiri. Andra langsung melenggang masuk ke dalam gedung kantor setelah dia memarkirkan mobilnya.
"Selamat pagi Bu Andra"
"Selamat pagi"
"Selamat pagi Bu Andra"
"Selamat pagi"
Andra membalas dengan sopan dan tenang setiap kali ada karyawan yang menyapanya. Hingga akhirnya dia tiba diruangan miliknya
"Selamat pagi Bu"
"Selamat pagi. Apa saja jadwalku hari ini?" Andra bicara dengan sopan pada sekertaris pribadinya
"Anda hanya memiliki jadwal meeting dengan pak Surya saja hari ini, beliau adalah salah satu direktur dari perusahaan besar" ujar sekertaris Andra menjelaskan dengan sopan
"Benarkah? Kapan meetingnya dilaksanakan?" tanya Andra lagi sambil merapikan tas dan dokumen yang akan dia pelajari
"Saat jam makan siang, Bu. Asisten pak Surya sudah memesan tempat disalah satu restoran mewah" sang asisten kembali menjelaskan mengenai rapat yang akan dilakukan Andra
"Restoran? Ku kira mereka akan datang kemari?" ujar Andra dengan dahi berkerut.
"Tidak, Bu. Asisten pak Surya mengatakan kalau kita akan bertemu direstoran" Andra menganggukkan kepala berkali-kali menanggapi ucapan asistennya.
"Baiklah. Kamu bisa kembali kerja"
"Baik, Bu. Permisi" sekertaris Andra pun berbalik pergi meninggalkan ruangan Andra untuk kembali ke meja kerjanya.
"Kenapa harus direstoran? Menyebalkan sekali" gurutu Andra dengan bibir mengerucut kesal.
***
Ditempat lain, Surya sedang bersiap memulai pekerjaannya.
"Ton, apa kamu sudah mengatur pertemuanku dengan Andra?" tanya Surya kepada sang asisten
"Sudah, Pak. Seperti yang anda inginkan. Saya sudah memesan tempat disebuah restoran mewah. Saya juga meminta pihak restoran untuk menyiapkan suasana yang romantis ketika anda dan bu Andra sedang makan bersama" ujar sang asisten menjelaskan dengan sikap yang tenang dan sopan
__ADS_1
"Bagus. Aku tidak ingin ada yang kurang sedikit pun. Jangan sampai kesempatan ini hilang begitu saja. Jika aku berhasil mengambil perhatian Andra, maka sudah pasti Radit akan merasa terganggu dan membuatnya kehilangan konsentrasi" Surya bicara dengan seringai tipis dibibirnya. Sang asisten yang tidak setuju dengan ide Surya hanya bisa diam dengan ide yang dimiliki sang bos
Akhirnya siang hari pun tiba, Surya telah tiba lebih dilu dibandingkan Andra.
"Kenapa dia masih belum datang? Kamu yakin sudah memberitahukan restoran ini pada Andra?" tanya Surya yang terlihat khawatir karena Andra masih belum sampai
"Saya sudah memberitahu lokasi restoran ini pada sekertaris pribadinya. Mungkin saat ini bu Andra sedang dalam perjalanan" sang asisten bicara dengan tenang dan hormat.
"Ya,. Mungkin saja begitu"
Tak berselang lama Andra masuk kw restoran ditemani sekertaris pribadinya
"Selamat siang Pak Surya. Maaf karena saya datang terlambat dan membuat anda menunggu lama" ujar Andra dengan sikap yang dingin namun elegan ketika dia berdiri tepat dihadapan Surya.
Sesaat Surya terpana melihat kecantikan Andra.
"Sudah beberapa kali aku mengikutinya dan melihatnya dari kejauhan, tapi saat melihatnya berdiri tepat didepanku seperti ini... tetap saja aku merasa kalau dia sangat cantik. Pantas saja Radit sangat tergila-gila padanya" pikir Surya yang terus menatap Andra dengan tatapan penuh kekaguman.
"Permisi"
"Ah iya. Silahkan duduk" Suara Andra menyadarkan Surya dari lamunannya dan dengan panik mempersilahkan Andra duduk
"Sekertaris anda bisa duduk disebelah sana bersama asisten saya" ujar Surya dengan segera begitu melihat sekertaris Andra akan duduk bersama dengannya
"Tidak perlu. Dia sekertaris saya, jadi dia juga harus berada disini dan mendengarkan hasil rapat kita" Andra menanggapi dengan senyum tipis dan sikap yang dingin.
"Tapi Bu Andra, ini adalah percakapan kita sebagai atasan mereka. Menurut saya, mereka tidak harus mendengarkan secara langsung, mereka cukup mendengarkan penjelasan dari kita setelah kita mencapai hasil akhir dari kesepakatan kita". Surya terus saja berusaha membujuk Andra agar dia bisa bicara berdua saja tanpa diganggu oleh asisten maupun sekertaris Andra.
"Pak, kita ini akan melakukan meeting kerja, kenapa sekertaris saya tidak bisa duduk bersama disini? Pertemuan kita ini kan untuk urusan bisnis" ujar Andra dengan sikap yang dingin.
"Bukan seperti itu Bu Andra, kita memang melakukan pertemuan bisnis, tapi sepertinya sangat tidak sopan jika asisten saya dan sekertaris anda ikut duduk satu meja dengan kita"
Dahi Andra berkerut heran mendengar ucapan Surya
"Apa yang sedang dia rencanakan? Kenapa hanya ingin duduk berdua saja?" pikir Andra sambil menatap heran pada Surya
"Kenapa harus dikatakan tidak sopan? Bukannya sudah jadi hal biasa jika asisten maupun sekertaris duduk bersebelahan dengan atasannya karena mereka dipekerjakan untuk membantu atasannya?" Andra yang mulai merasa tidak nyaman terus saja menantang apa yang dikatakan oleh Surya padanya.
Surya tersenyum tipis menanggapi Andra
__ADS_1
"Bu Andra, apa anda takut pada saya? Karena saya rasa anda berusaha sangat keras untuk tidak hanya duduk berdua dengan saya. Apa mungkin ... Anda takut jika saya melakukan sesuatu saat hanya ada kita berdua dimeja ini ?" Surya bicara dengan nada yang sedikit menggoda
"Tidak seperti itu. Saya hanya bingung saja. Ini adalah pertemuan bisnis, tapi kenapa sekertaris saya tidak bisa duduk bersama dan membahas mengenai kerjasama kita. Mungkinkah anda sudah merencanakan sesuatu pada saya?" Andra kembali bertanya dengan sikap yang tenang dan sedikit senyum dibibirnya.
"Hahaha. Ternyata anda sangat pandai bercanda Bu Andra" ujar Surya disertai gelak tawa
"Sudahlah. Tidak perlu membahas masalah ini lagi. Sebaiknya kita mulai membahas kerjasama kita. Kamu bisa duduk dimeja sana". Andra yang tidak suka dengan candaan Surya hanya diam saja saat rekan bisnisnya itu tertawa. Lalu dia beralih pada sekertarisnya yang masih berdiri dibelakangnya
"Baik, Bu" jawab sang sekertaris yang langsung pergi ke salah satu meja yang letaknya tidak jauh dari tempat duduk Andra
Surya tersenyum lalu melambaikan tangan pada pelayan untuk mulai memesan makan siang.
"Anda ingin pesan apa?" tanya Surya pada Andra dengan nada bicara yang lembut
"Saya pesan tenderloin steak saja" jawab Andra dengan sikap yang tenang dan elegan.
"Kalau begitu saya juga pesan yang sama. Tanyakan juga pada mereka berdua disana" ujar Surya yang langsung menutup buku menu dan menunjuk pada asistennya juga sekertaris Andra.
"Baik Pak, Bu. Minumnya apa?" tanya pelayan lagi sambil menuliskan pesanan mereka.
"Saya, jus strawberry" sela Andra yang langsung menanggapi waitress
"Saya lemon tea saja" ujar Surya yang ikut menimpali
"Baiklah kalau begitu. Mohon ditunggu pesanannya. Permisi" Surya mengangguk dan menanggapi waitress yang kembali berjalan menuju meja sekertaris Andra
"Apa anda merasa tidak nyaman dengan saya?" tanya Surya yang mepihat Andra hanya diam.
"Tidak. Saya biasa aja" Andra menanggapi dengan sikap yang tenang
"Kalau begitu anda bisa bersikap santai dan menikmati pertemuan kita ini" Surya kembali melambaikan tangan pada waitress agar memulai pertunjukan musiknya. Waitress pun mengerti karena Surya telah memesan sebelumnya untuk memainkan alat musik yang romantis, jadi salah satu dari mereka memberikan instruksi pada pemain piano untuk memilai pertunjukannya.
Andra terheran-heran dengan apa yang terjadi.
"Sejak kapan direstoran ini ada pertunjukan musiknya?" pikir Andra dengan dahi berkerut heran
"Bu Andra, bagaimana kalau kita nikmati alunan musiknya dengan berdansa?" ujar Surya dengan mengulurkan sebelah tangannya pada Andra
"Maaf, tapi saya kemari untuk membicarakan masalah bisnis dan yang lebih penting lagi … saya tidak berdansa dengan orang lain kecuali suami saya" ujar Andra menanggapi dengan sikap yang dingin
__ADS_1