Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kepulangan Radit Dan Lathan


__ADS_3

“Maaf? Cari siapa?” Andra bertanya dengan tatapan heran ketika melihat orang didepan pintu yang dari pakaiannya terlihat jelas kalau


dia bukanlah dokter atau suster. Dia hanya seorang ibu muda dengan seorang anak


kecil bersamanya.


“Apa benar ini kamar pasien korban kecelakaan lalu lintas tadi pagi?” tanya wanita itu dengan sedikit ragu-ragu.


“Benar. Anda siapa ya?”.


Andra kembali bertanya dengan sikap yang tenang.


“Saya … bisakah saya bertemu dengan mereka?” tanya wanita itu lagi dengan kepala tertunduk ragu. Sebelah tangannya memegang tangan anak kecil disampingnya dengan gemetar.


“Anda ini siapa ya?”.


Andra yang tidak mendapatkan jawaban kembali bertanya. Jika tadi dia bersikap sopan dan tenang, saat ini Andra mulai


menatap wanita itu dengan tatapan sinis.


“Saya … putri saya yang jadi penyebab kecelakaan mereka”.


Wanita itu menanggapi pertanyaan Andra dengan kepala tertunduk.


Andra terdiam sesaat dengan raut wajah suram


“Masuklah!”.


Setelah beberapa saat akhirnya Andra membiarkan wanita dan anaknya itu masuk kedalam untuk bertemu dengan Radit dan Lathan


Semua orang yang ada diruangan itu menatap wanita dan anak kecil itu dengan raut wajah penasaran.


“Kalian ini siapa ya?”


Radit bertanya dengan sikap yang dingin.


“Saya … ingin minta maaf. Saya lalai saat menjaga anak saya hingga dia lari kejalan dan membuat anda terkejut sampai menabrak trotoar untuk menghindari anak saya”.


Wanita itu kembali menjelaskan dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.


Radit terdiam mendengarkan penjelasan wanita muda itu.


“Apa kamu masih menginginkan anakmu?” tanya Radit dengan sikap yang dingin


“Tentu saja. Tidak mungkin saya tidak menginginkan anak saya sendiri”


“Jika begitu kamu harus benar-benar mengawasi dia. Karena kelalaian mu bisa saja membuat anakmu kehilangan nyawa atau mungkin justru orang lain yang kehilangan nyawa seperti kecelakaan yang kami alami ini”.


Radit menyela ibu itu sebelum dia selesai bicara. Terlihat jelas kalau dia sangat kesal karena ibu muda itu sibuk sendiri sampai tidak mengawasi anaknya yang berlarian dijalan.


“Saya tahu. Karena itu saya minta maaf dan saya menyesal. Saya pasti akan lebih hati-hati lagi saat menjaga anak saya”.

__ADS_1


Radit menatap wajah ibu muda itu yang terus menundukkan kepalanya tanpa berani menatap mata Radit. Karena sepertinya ibu muda itu menyesal, Radit tidak memperpanjang lagi masalahnya dan akhirnya memaafkan wanita itu.


“Baiklah. Aku memaafkanmu. Semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi kedepannya dan kamu bisa lebih hati-hati”


“Baik. Terimakasih banyak. Kalau begitu aku tidak akan menyita waktu kalian lebih bayak lagi. Aku permisi dulu. Sekali lagi terimakasih


banyak”


Wanita itu berpamitan dengan sopan dan masih ada rasa penyesalan diwajahnya


“Ya. Silahkan”


Wanita itu pun berbalik dan pergi meninggalkan ruang perawatan Radit bersama dengan anaknya.


“Huh. Jika bukan karena takut dituntut, aku tidak akan mau memohon maaf pada mereka” gumam wanita itu setelah dia keluar dari kamar Radit.


“Kenapa kakak biarkan dia pergi begitu saja? Dia terlihat tidak sayang pada anaknya. Buktinya saat dia membawanya saja dia menarik tanganya dengan keras, bukan menuntun anaknya dengan lebih hati-hati”.


Andra menggerutu kesal setelah melihat wanita yang jadi penyebab kecelakaan anak dan suaminya.


“Biarkan saja. Toh aku dan Lathan baik-baik saja. Dia jugabmemiliki niat baik untuk meminta maaf. Akan lain urusannya kalau dia melarikan diri setelah kecelakaan”.


Radit menanggapi Andra dengan nada yang acuh tak acuh. Dia tahu kalau sang istri sedang kesal saat ini.


“Terserah kakak saja’


...****************...


Beberapa hari telah berlalu.


“Apa kalian sudah siap untuk meninggalkan rumah sakit?”.


Leo bertanya pada Radit dan Lathan.


“Ya, Pah. Kami sudah siap untuk pulang. Beberapa hari dirumah sakit sangat membosankan. Rasanya aku bisa lebih sakit dari sebelumnya jika terllau lama disini”.


Radit mengeluh pada Leo dengan sikap yang tenang


“Cih, badan mu saja yang besar, tapi kamu mengeluh seperti anak kecil. Bahkan anakmu pun lebih tenang dibandingkan denganmu”.


Leo berdengus mencibir sikap Radit dan membandingkannya dengan Lathan.


“Papa jangan katakan itu. Papa sama sekali. tidaksama sekali tidak membela anakmu ini” ujar Radit yang menyinggung sang ayah


“Berhenti berdebat. Sebaiknya kita segera pergi sekarang. Apa ada barang yang tertinggal?”.


Vio menengahi perdebatan antara Leo dan Radit


“Tidak ada, mah. Semua sudah dkemas”.


Andra yang menanggaopi Vio dengan sikap yang sopan

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu kita bisa pergi sekarang. Kalian bisa tunggu dimobiln sementara aku mengurus administrasi untuk Radit dan Lathan” ujar Leo dengan sikap yang tenang  penuh dengan wibawa.


“Mau aku temani?” tanya Vio dengan sikap yang tenang.


“Tidak perlu. Kamu bisa bantu Lathan disini”.


Leo langsung berbalik pergi tanpa menunggu tanggapan dari Vio.


“Kak Radit, apa kamu bisa jalan sendiri?” tanya Andra saat membantu Lathan bersiap.


“Biarkan Mama yang akan membantu Lathan, kamu bisa membantu suamimu”.


“Tapi, Mah”


“Tidak papa, Mih. Aku akan berjalan dengan nenek. Mami bantu Papi saja”.


Lathan bicara dengan senyum yang ceria


“Apa tidak papa?” tanya Andra memastikan pada Lathan dengan raut wajah khawatir


“Iya Mih. Aku tidak papa”.


Andra lalu menoleh pada Radit yang kemudian menganggukkan kepala padanya


“Baiklah. Mami akan bantu papi dan kamu akan dibantu dengan nenek”.


Mereka pun akhirnya  beranjak pergi meninggalkan rumah sakit.  Perban dikepala Radit telah dilepas dan hanya mengenakan sedikit plester di dahinya, namun tangannya masih menggunakan gips. Sedangkan Lathan hanya menggunakan sedikit plester ditangannya.


Semua orang menatap kearah Vio, Radit, Andra dan Lathan saat  mereka berjalan keluar dari rumah sakit. Namun Radit dan yang lainnya tidak menghiraukan tatapan semua orang dan tetap berjalan keluar dari rumah sakit.


Tak lama setelah mereka tiba dimobil, Leo pun datang setelah mengurus biaya Administrasi.


“Ayo kita pulang” ujar Leo sebelum dia mulai berkendara meninggalkan rumah sakit.


...****************...


Sementara itu disekolah Lathan.


Para guru sedang berkumpul diruang guru saat jam istirahat sekolah.


“Apa Lathan masih belum masuk?”  tanya bu Jane pada teman Lathan.


"Belum bu guru. Sepertinya Lathan sedang sakit" jawab salah seorang teman Lathan.


"Sakit? Apa ada yang tahu Lathan sedang sakit apa?".


Bu Jane kembali bertanya yang dibalas gelengan kepala oleh rekan-rekan Lathan.


Apa jangan-jangan, Lathan benar-benar mendapatkan penganiayaan dari ibu tirinya? Tidak biasanya dia bolos seperti ini tanpa kabar.


Bu Jane terus memikirkan kondiai Lathan dan mengkhawatirkan segala kemungkinan yang ada.

__ADS_1


"Sudahlah. lebih baik cukup awasi dia saja. Lagipula, Lathan itu cerdas dan juga dia tidak suka jika ada orang lain yang ikut campur dengan urusan pribadinya. Jika sudah melewati batas, barulah aku akan ikut campur. Jadi untuk sekarang ini kita bersikap santai saja".


Bu Jane bicara sendiri mengenai sikapnya keluarga Lathan. Dia harus punya bukti yabg kuat jika hendak membawa kasus ini ke pengadilan.


__ADS_2