Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Sedikit Luka Masa Lalu Zara


__ADS_3

Polisi melakukan konferensi pers atas penyergapan pusat judi online yang sebelumnya terjadi.


"Ya, kami telah melakukan penyergapan dan semua telah diamankan. Kami juga telah memiliki beberapa bukti mengenai aliran dana dan selama ini telah mereka lakukan". Ujar kepala polisi yang ingin melakukan wawancara dengan beberapa media.


Disana juga ada Tofan yang dan Nino yang hanya bisa diam saja dengan keputusan kepala polisi melakukan wawancara tersebut.


"Pak, kenapa bukan anda yang berdiri disana dan melakukan konferensi pers? Kasus ini kan tugas anda dan anda yang sudah bekerja keras menangkap orang-orang itu. Kenapa harus kepala polisi yang berdiri sebagai pahlawan?". Nino bicara dengan nada yang kesal dan mata yang terus menatap sinis pada kepala polisinya sendiri.


"Jangan berkata seperti itu. Dia adalah atasan kita. Penting bagi dia untuk mengambil tanggung jawab atas semua kasus yang ditangani oleh kantor polisi kita". Tofan menanggapi dengan sikap yang tenang dan senyum yang terlihat jelas walau itu adalah senyum terpaksa.


"Kami juga ingin mengucapkan terimakasih secara khusus pada keluarga pak Radit Nugraha karena putra sulungnya telah membantu kami saat melakukan penyergapan".


Tofan dan Nino sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari atasannya tersebut.


"Bagaimana bisa dia melakukan hal itu?" gumam Nino yang juga didengar oleh Tofan.


"Aku juga tidak mengerti apa maksud ucapannya. Yang jelas dia seperti sengaja melakukan itu untuk mengambil perhatian dari semua orang atau mungkin dia merencanakan sesuatu?". Tofan bergumam sambil memikirkan apa yang sedang direncanakan oleh kepala polisi.


...****************...


Disekolah Lathan.


Zara sedang duduk sendiri ditaman sambil menikmati minuman yang dia beli dikantin. Dia terus menatap siswa siswi lain yang sedang bercanda dengan temannya sambil tertawa bersama.


"Bagaimana mereka bisa tertawa lepas seperti itu?" gumam Zara yang terus menatap siswa siswi itu dengan raut wajah bingung. Dia menyangga dagunya dengan sebelah tangan saat dia menatapnya.


"Tentu saja mereka melakukan itu karena mereka bahagia dan tidak punya beban sama sekali" ujar Lathan yang berbicara dibelakang Zara


Zara sangat terkejut ketika Lathan tiba-tiba ada di belakangnya. Dia pun langsung berdiri dan berbalik menatap Lathan


"Kamu! Bagaimana kamu bisa ada disini?!" tanya Zara dengan nada bicara sedikit tinggi dan dahi berkerut.


"Tentu saja aku berjalan kemari. Kamu pikir aku bisa terbang?". Lathan menanggapi dengan senyum menggoda dibibirnya.


"Untuk apa kamu kemari?" tanya Zara sinis.

__ADS_1


Lathan menatap siswa siswi didepannya sambil tersenyum.


"Kenapa kamu takut untuk tertawa seperti mereka? Hmn.. ? Tapi … kamu tidak takut untuk hidup bahagia bersamaku kan?" tanya Lathan dengan senyum tipis dibibirnya serta kedua alis diangkat bersamaan.


"Apa maksudmu?" tanya Zara dengan mata mendelik sinis.


"Apa masih kurang jelas? Aku ingin kamu selalu ada disampingku dan hidup bahagia denganku" ujar Lathan dengan senyum menggoda.


"Gila! Kamu benar-benar sudah gila!"


"Ya kamu benar. Aku sudah gila karena kamu". Lathan semakin menggoda Zara dan itu membuatnya salah tingkah.


"Kamu … kamu … " ujar Zara yang salah tingkah atas ucapan Lathan.


Lathan menatap Zara lekat dengan tatapan yang lembut.


"Aku tidak tahu apa yang kamu takutkan, tapi aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu. Meskipun tidak ada tawa seperti mereka, tapi aku ingin membuat kamu tersenyum".


Zara menatap dalam kedalam mata Lathan yang terlihat bicara dengan tulus.


Lathan terdiam dengan tatapan yang tetap lembut. Dia berusaha meyakinkan Zara kalau dia benar-benar ingin menjalin hubungan dengan Zara.


"Karena aku menyukaimu. Aku tidak menyukai gadis lain yang kamu katakan itu. Aku hanya ingin dekat denganmu dan jadi bagian dari hidupmu. Apa yang kamu takutkan jika aku dekat denganmu? Kenapa kamu selalu menghindar untuk berhubungan lebih dekat dengan orang lain kecuali Fandy?". Lathan manatap Zara dengan tatapan penuh tanya.


Zara menatap Lathan dengan tatapan bingung. Dia tidak tahu bagaimana harus memberikan jawaban atas pertanyaan Lathan.


"Aku harus kembali ke kelas. Ada tugas yang belum aku kerjakan".


"Ra, tunggu! Kamu belum memberikan jawaban atas pertanyaanku!"


Zara langsung beranjak dan pergi dari hadapan Lathan tanpa menunggu tanggapan darinya. Dia terus melangkah dengan cepat meninggalkan Lathan yang menatapnya dengan raut wajah bingung dan juga penasaran.


Zara terus melangkah dengan langkah kaki yang cepat tanpa menoleh kesana kemari. Dia terus berjalan lurus dengan kepala tertunduk seakan hendak menyembunyikan apa yang ada pada sorot matanya. Bahkan dia tidak menyadari kalau Fandy berada tepat didepannya.


Bruk!

__ADS_1


"Aduuuh …". Zara jatuh hingga terduduk dilantai karena bertabrakan dengan Fandy


"Maafkan aku. Kamu tidak papa?". Fandy yang tidak tahu kalau itu Zara, mengulurkan tangannya untuk memberikan bantuan.


"Aku tidak papa". Zara menanggapi Fandy tanpa mengangkat kepala. Dia juga tidak menyambut uluran tangan Fandy. Dia masih terus menunduk dengan mata berkaca-kaca.


Perlahan Fandy pun menyadari kalau itu seperti Zara. Dia membungkukan badannya dan menatap lekat wajah Zara.


"Ra, apa kamu baik-baik saja?".


Akhirnya Zara mengangkat kepalanya setelah menyadari orang didepannya mengenalinya.


"Fan …". Zara memanggil nama Fandy dengan suara lirih. Air matanya perlahan mengalir tanpa bisa dibendung lagi.


"Ayo. Kita cari tempat duduk dulu". Fandy membantu Zara berdiri dan memapahnya ketempat sepi untuk bicara.


"Apa yang terjadi? Apa ada yang menyakitimu?" . Fandy pun bertanya setelah mereka tiba dibelakang gedung sekolah sambil memberikan tisu untuk menghapus air mata Zara.


Zara menggelengkan kepala perlahan sambil menghapus air matanya.


"Apa aku pantas disukai seseorang?" tanya Zara disela isak tangisnya dengan kepala tertunduk.


Fandy terdiam tak mengerti.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bertanya hal seperti itu?". Fandy semakin tidak mengerti dengan duduk permasalahan yang dihadapi sepupunya ini.


"Fan, aku yang menyebabkan kakakku meninggal. Bukankah aku sangat tidak pantas untuk bahagia? Tapi bagaimana jika ternyata aku mulai mengharapkan kebahagiaan yang sampai kapanpun tidak pantas aku terima itu? Aku takut Fan.. hiks…hiks…hiks". Zara mulai bercerita disela isak tangisnya.


"Ra, siapa yang bilang kalau kamu tidak pantas bahagia? Itu semua bukan salahmu. Lupakan masa lalumu dan hiduplah sesuai dengan apa yang kamu inginkan! Kakakmu juga tidak akan suka melihat adiknya selalu terkurung dalam masa lalu". Fandy berusaha bicara dengan lembut untuk meyakinkan Zara.


"Fan, jika itu bukan salahku … lalu kenapa orang tuaku bersikap dingin padaku dan mengabaikanku semenjak kakakku meninggal? Kenapa mereka tidak pernah memperhatikanku bahkan mereka tidak pernah mengatakan kalau aku lebih cantik saat tersenyum? Kenapa Fan? Kenapa? Saat semua orang tua lebih sering menghabiskan waktunya dengan anak mereka, orang tuaku justru lebih suka bekerja daripada melihatku. Bahkan untuk mendengar suaraku saja …mereka tidak pernah suka. Kamu tahu sendiri kalau mereka selalu mengabaikanku saat aku bicara. Fan, apa itu yang kamu katakan dengan semua bukan salahku?".


Fandy hanya terdiam sambil menepuk pundak Zara perlahan. Dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan Zara.


Dibalik salah satu dinding, Lathan mendengarkan keluhan Zara pada Fandy.

__ADS_1


"Apa yang pernah kamu alami sampai kamu begitu takut untuk hidup bahagia dan memilih untuk waspada terhadap siapapun didekatmu?"


__ADS_2