Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Menginap Dihotel


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan cukup lama dari bandara negara A, akhirnya Zara, Lathan dan Fandy tiba dibandara negara D. Semua orang terlihat menatap kearah Lathan, Zara dan Fandy yang berjalan keluar dari bandara.


"Jadi ini yang namanya jadi pusat perhatian? Rasanya aku langsung jadi orang yang keren hanya dalam waktu singkat. Hahaha" ujar Fandy yang menyadari kalau semua orang menatap kearahnya. Meskipun pada kenyataannya tatapan itu untuk Lathan dan Zara"


"Kalau begitu nikmati saja tatapan orang-orang itu padamu. Aku akan dengan senang nemberikannya padamu". Lathan menanggapi dengan acuh tak acuh sambil terus mendorong troli berisi koper dan Zara berjalan disebelahnya.


"Tanpa kamu suruh pun aku akan melakukannya" Fandy pun menanggapi dengan nada kesal.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Lathan melihat Zara yang diam saja dengan raut wajah tegang.


"Aku baik-baik saja" Zara menanggapi dengan senyum tipis dibibirnya.


Namun Lathan menyadari kalau sesekali Zara akan menggigit bibirnya saat dia sedang merasa gugup atau khawatir. Lathan pun menyentuh bibir Zara dengan lembut.


"Jangan digigit lagi, nanti kamu bisa terluka"


"Ah".


Zara yang sedang melamun tampak sangat terkejut karena Lathan tiba-tiba menyentuh bibirnya.


"Itu ada taksi. Kita naik itu saja". Fandy menunjuk taksi yang terparkir didekat bandara ketika mereka baru saja keluar lalu berjalan mendekatinya.


"Pak, tolong antarkan kami ke perumahan Central" ujar Fandy pada sopir taksi.


"Baik!"


Pak supir pun mulai mengendarai mobilnya menuju perumahan Central, dimana rumah orang tua Zara berada.


Lathan terus memperhatikan ekspresi wajah Zara yang tegang. Dia terus menatapnya dengan tatapan lembut.


"Apa kamu sangat takut untuk pulang? Kenapa ekspresi wajahmu terlihat seperti kita akan memasuki sarang iblis?" tanya Lathan sambil menggoda Zara dengan senyum lembut dibibirnya.


"Tidak. Aku hanya... hanya... " Zara tiba-tiba tergagap karena gugup. Dia juga langsung menundukkan kepala sambil memainkan tangannya sendiri


"Jika kamu memang tidak ingin pergi kesana, maka kita bisa menginap dihotel atau mungkin memesan resort pinggir pantai?". Lathan meraih tangan Zara untuk mengambil perhatiannya, lalu dia bicara dengan senyum diwajahnya.


Zara terpaku menatap Lathan dengan mata berbinar. Diapun mengangguk dengan senyum yang manis.


"Ya, aku setuju. Untuk apa kita berlibur tapi hanya merasa terbebani?" ujarnya menanggapi Lathan dengan senyum ceria.


Lathan hanya tersenyum lembut sambil mengusap kepala Zara melihat sang kekasih yang kembali ceria.

__ADS_1


"Pak, jangan keperumahan Central, pergi ke hotel terbaik disini" ujar Lathan pada supir taksi.


"Baik"


"Kalian berdua tidak minta pendapatku terlebih dahulu?" tanya Fandy yang merasa diabaikan.


"Tidak butuh! Kamu bisa pergi kesana sendiri. Mereka itu pamanmu kan?" ujar Lathan dengan sikap acuh tak acuh tanpa menatap wajah Fandy.


"Kalian berdua ini benar-benar pasangan yang jahat. Padahal aku ini sepupu Zara, apalagi jika aku bukan siapa-siapa? Mungkin kalian akan menjadikanku umpan ikan dilautan". Fandy terus menggerutu pada Lathan dan Zara.


Tak berselang lama, mereka tiba disebuah hotel mewah.


"Kita sudah sampai. Ini merupakan hotel bintang 5 terbaik disini" kata sopir menjelaskan begitu tiba dihotel.


Lathan, Zara dan Fandy menatap keluar jendela sebelum turun.


"Terimakasih Pak. Ambil saja kembaliannya". Lathan memberikan ongkos taksi setelah melihat jumlah yang tertera pada penghitung tarif.


"Terimakasih kembali. Semoga liburan kalian menyenangkan" ujar pak sopir dengan senyum ramah.


Lathan, Fandy dan Zara pun langsung turun dari taksi dan bergegas masuk ke dalam hotel.


"Selamat sore. Selamat datang dihotel kami". Kedatangan mereka langsung disambut hangat oleh resepsionis hotel yang ada dilobby.


"Baik. Atas nama siapa?" tanya resepsionis yang hendak menyiapkan reservasi.


"Lathan". Lathan menjawab dengan singkat tanpa mengatakan nama lengkapnya.


"Maaf, nama lengkap anda? Kami membutuhkan informasi akurat. Anda tidak perlu khawatir karena identitas pribadi tamu hotel kami tidak akan bocor keluar" ujar petugas resepsionis dengan senyum ramah dan sopan.


"Lathan Gevaril Nugraha". Lathan pun memberitahu nama lengkapnya pada petugas resepsionis itu.


"Baik, Pak Lathan. Mohon tunggu sebentar. Saya akan menyiapkan reservasi anda".


Lathan hanya menganggukkan kepala lalu kembali berbincang dengan Zara dan Fandy sembari menunggu proses reservasi selesai. Namun saat dia memberitahukan identitasnya, ada tamu lain yang juga datang dari negara A dan tidak sengaja mendengar nama Lathan dan tahu mengenai keluarganya.


"Kamu dengarkan? Bukankah Nugraha itu nama salah satu cucu keluarga Kusuma dinegara A, ya? Mereka jauh-jauh datang kemari dan menginap dihotel?". Bisik seorang perempuan pada rekannya.


"Aku juga pernah dengar tentang keluarga itu. Mereka memiliki banyak bisnis yang tersebar dinegara A dan juga negara F. Apa sekarang mereka berusaha membuka bisnis dinegara ini?"


"Tidak mungkin. Dia sepertinya terlalu muda untuk memulai bisnis. Lagipula dia datang bersama seorang gadis, mungkin dia sedang bermain dan sengaja datang kemari agar tidak terekspos? Secara segala sesuatu mengenai keluarga Kusuma selalu diminati oleh semua orang. Jika dia terlihat menghabiskan waktu bersama seorang gadis, tentu itu bisa merusak citra keluarganya bukan?"

__ADS_1


"Kamu benar. Bisa saja dia sengaja datang kemari untuk bersenang-senang tanpa diketahui siapapun".


Kedua wanita itu terus saja membicarakan Lathan dan Zara tanpa memandang adanya Fandy.


"Pak Lathan, ini kunci kamar anda. Petugas kami akan mengantar anda kesana" ujar petugas resepsionis sambil menyerahkan 2 buah kunci pada Lathan.


"Baik. Terimakasih"


"Iya, semoga waktu anda menyenangkan". Petugas itu bicara dengan ramah dan sopan, lalu dia meminta rekannya untuk membantu membawakan koper milik Zara, Lathan dan Fandy ke kamar mereka.


"Mari, Pak. Biar kami yang bawakan kopernya. Silahkan sebelah sini" kata salah satu petugas yang membawakan koper.


Lathan mengangguk dengan sikap yang tenang, lalu berjalan dibelakang mengikuti 2 petugas itu bersama Zara disampingnya dan Fandy dibelakangnya.


Mereka berjalan menyusuri lorong diantara kamar-kamar yang terletak dilantai 3 hotel. Hotelnya terlihat bersih dan nyaman. Struktur hotel dan dekorasinya dibuat mewah tapi elegan.


Setelah melewati beberapa kamar dilantai 3, akhirnya mereka tiba dikamar yang ditetapkan.


"Silahkan, Pak. Ini kamarnya". Kedua petugas itu berhenti didepan kamar yang akan ditempati Fandy, Lathan dan Zara.


"Terimakasih. Ini tips untuk kalian"


"Terimakasih banyak. Kami Permisi. Selamat beristirahat". Petugas itu langsung berbalik dan pergi setelah tugas mereka selesai.


"Kamu mau pakai kamar yang mana? Ini atau itu?". Lathan bertanya pada Zara agar memilih kamar terlebih dahulu untuk dia gunakan.


"Ehm … Yang ini saja". Zara pun mengambil salah satu kunci dari tangan Lathan.


"kalau begitu berikan yang ini! Aku akan masuk lebih dulu agar tidak melihat kemesraan kalian berdua". Fandy langsung merebut kunci dari tangan Lathan dan masuk kamar lebih dulu.


Lathan dan Zara hanya tersenyum melihat Fandy.


"Baiklah. Kamu pasti lelah, jadi istirahatlah dulu. Aku akan memanggilmu saat kita akan makan malam nanti". Lathan bicara dengan lembut sambil menggenggam tangan Zara.


"Eumm …" Zara mengangguk dengan senyum dibibirnya.


"Kalau begitu aku masuk dulu"


"Ya, selamat istirahat"


Zara langsung masuk kekamarnya setelah Lathan menganggukkan kepala. Dia meletakkan kopernya didekat sofa. Zara pun melihat-lihat sekeliling kamar dan berakhir dibalkon hotel. Pemandangannya sangat indah dengan gunung yang ada didepannya. Angin sepoi-sepoi dan suasananya yang damai membawa ketenangan pada Zara.

__ADS_1


Zara bersandar pada pagar dan memandang jauh kedepan.


"Haaah … ini sangat menyenangkan. Rasanya sangat tenang dan damai. Tapi … apa yang akan papa dan mama lakukan jika tahu aku datang kemari tapi tidak pulang kerumah?"


__ADS_2