Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Liburan Lathan, Zara Dan Fandy


__ADS_3

Disekolah Lathan.


Lathan, Zara dan Fandy sedang istirahat ditaman sambil menikmati makanan yang cemilan.


"Than, apa kamu sudah memutuskan universitas mana yang akan kamu pilih untuk melanjutkan sekolah?" tanya Fandy dengan mulut yang masih mengunyah.


"Ehm... mungkin hanya universitas disini saja. Aku tidak ingin pergi jauh-jauh" Lathan juga menanggapi sambil menikmati cemilan.


"Kalian akan masuk universitas mana?" sambung Lathan menunggu jawaban Fandy dan Zara.


"Aku akan masuk universitas yang sama denganmu". Zara menjawab dengan cepat sambil tersenyum lembut pada Lathan.


"Terimakasih, sayang" ujar Lathan menanggapi dengan senyum lembut.


"Ehm ehm … bisakah lihat aku disini" ujar Fandy yang merasa terasingkan.


"Kami melihatmu, karena itu kami masih menjaga tangan kami ini". Lathan mengangkat sebelah tangannya yang saling bertautan dengan Zara untuk ditunjukan pada Fandy.


"Pilihanku tidak salah untuk masuk universitas yang berbeda dengan kalian berdua". Fandy bicara dengan nada yang kesal sementara Lathan dan Zara hanya tersenyum menanggapi.


"Bagaimana kalau kita berlibur dulu sebelum mulai masuk kuliah?" Fandy bertanya dengan senyum ceria dan antusias sambil menunggu Lathan dan Zara memberi tanggapan seakan dia sangat menunggu untuk disetujui.


Lathan dan Zara saling menatap satu sama lain. Mereka berdua seakan saling berunding dengan apa yang ditanyakan Fandy.


"Liburan? Kemana?" Zara memicingkan mata bertanya dengan tatapan bingung.


"Ehm … kemana ya?" Fandy pun ikut memikirkan apa yang ditanyakan Zara.


Lathan menatap lekat Zara yang sedang berpikir.


"Bagaimana kalau ketempatmu? Aku ingin tahu dimana tempat tinggalmu" ujar Lathan sambil menatap Zara dengan tatapan serius.


Ekspresi wajah Zara yang sejak tadi ceria, seketika langsung berubah suram. Fandy pun ikut menatap Zara dengan tatapan khawatir.


"Kenapa harus ke tempat dimana aku tinggal sebelumnya? Kita mau pergi berlibur kan?" Zara bertanya dengan kepala tertunduk dan nada yang sedih. Dia mengepal erat hingga tidak menyadari kalau sebelah tangannya semakin menggenggam erat tangan Lathan.


Lathan menatap tangannya yang digenggam erat oleh Zara.


"Aku hanya ingin tahu dimana kamu dibesarkan. Itu saja" Lathan bicara dengan senyum lembut sambil mengusap tangan Zara yang digenggam olehnya.


"Tapi …" Zara tertunduk ragu saat menanggapi ucapan Lathan.

__ADS_1


"Tidak papa. Kan aku sudah katakan sebelumnya, ada aku disampingmu, jadi kamu tidak perlu takut atau mengkhawatirkan apapun lagi". Lathan menenangkan Zara dengan nada bicaranya yang lembut dan senyumnya yang manis. Mereka saling bertatapan satu sama lain dengan penuh kasih


"Ehem ehem … kalian masih ingat kan kalau aku ada disini?" Fandy berdehem diantara Lathan dan Zara begitu melihat kemesraan antara mereka berdua.


"Oh maaf, aku lupa. Ku kira hanya ada kami berdua saja disini". Lathan menanggapi dengan acuh tak acuh, sedangkan Zara hanya tersenyum melihat Fandy.


"Ya ya ya aku hanya menyewa saja disekitar kalian berdua" ujar Fandy dengan nada bicara mencibir.


"Jadi, kemana kita akan pergi berlibur?", sambung Fandy berusaha memastikan.


"Hmn … Jadi apa kamu setuju untuk pergi ke tempat tinggalmu?".


Kini Fandy dan Lathan menatap Zara dan menunggu keputusan darinya. Apakah dia setuju atau tidak untuk pulang kerumahnya dan bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Baiklah. Aku setuju. Toh ada kalian berdua disampingku". Zara mengangguk setuju disertai senyum tipis dibibirnya.


"Bagus. Kalau begitu kita persiapkan dari sekarang dan kita akan berangkat minggu depan". Lathan bicara dengan senyum ceria diwajahnya.


Fandy dan Zara mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Lathan.


...****************...


Kediaman Radit.


"Mih, Pih, aku ingin pergi liburan sebelum masuk universitas" ujar Lathan dengan sikap yang tenang.


Radit dan Andra langsung menatap Lathan dengan penuh tanya.


"Mau pergi liburan kemana?". Andra bertanya dengan raut wajah penasaran.


"Keluar negeri. Aku akan berkunjung ke rumah saudaranya Fandy" Andra dan Radit kembali saling menatap.


"Apa kamu akan pergi kerumah pacarmu itu?"


"Papi tahu darimana?". Lathan bertanya pada Radit dengan tatapan tak percaya.


"Kamu pikir bisa menyembunyikan sesuatu dari Papi?" ujar Radit dengan senyum menggoda.


Lathan hanya diam dan kembali menonton televisi karena malu.


"Kakak, apa aku boleh ikut denganmu?". Ardhan bertanya pada Lathan dengan tatapan berbinar agar dia bisa ikut.

__ADS_1


"Tidak boleh!" ujar Lathan menolak dengan tegas.


"Kenapa tidak boleh? Saat itu kan aku juga sudah libur sekolah". Ardhan berusaha meyakinkan sang kakak kalau mereka libur sekolah disaat yang bersamaan.


"Tidak. Kali ini aku hanya akan pergi dengan Fandy dan juga sodaranya" ujar Lathan menegaskan pada Ardhan.


"Mih, Pih, lihatlah. Kakak tidak membiarkan aku untuk ikut pergi liburan dengannya". Ardhan mengeluh pada kedua orangnya agar bisa ikut Lathan.


Andra dan Radit saling menatap satu sama lain berusaha mencari kesepakatan diantara keduanya.


"Sayang, lebih baik kamu tidak ikut dengan kakakmu. Dia akan pergi dengan teman-temannya sebelum mereka masuk kuliah. Harusnya kamu lebih mengerti kalau mereka ingin menghabiskan waktu bersama sebelum sibuk dengan kuliah mereka masing-masing" Andra menasehati putranya agar membiarkan Lathan pergi.


Sesaat Ardhan pun terdiam mendengar ucapan sang ibu.


"Ya sudah. Aku tidak akan ikut, asalkan nanti kita bisa pergi bersama" ujar Ardhan dengan percaya diri.


"Hmn … Baiklah" Lathan pun setuju dengan apa yang dikatakan sang adik.


...****************...


Hari keberangkatan.


Fandy dan Zara sudah tiba lebih dulu dibandara. Mereka hanya tinggal menunggu kedatangan Lathan saja.


"Ra, apa kamu tidak papa kalau kita pulang kerumahmu dan bertemu dengan kedua orang tuamu?" Fandy bertanya dengan raut wajah khawatir pada Zara.


"Ya, aku baik-baik saja. Kan sudah kukatakan kalau ada kalian berdisampingku, aku tidak akan takut apapun lagi"


"Baiklah kalau begitu. Eh itu dia!". Fandy terlihat lega mendengar jawaban Zara. Meskipun raut wajah khawatir tak dapat disembunyikannya dengan baik.


"Kemana saja kamu? Kenapa baru datang disaat saat seperti ini?" sambung Fandy menyambut Lathan sambil menggerutu.


"Ya ya. Tadi aku terkena sedikit kemacetan menuju kemari. Yang penting, aku tidak terlambat kan? Sudahlah. Apa kalian sudah siap?" Lathan tersenyum lembut saat bicara pada Zara dan Fandy.


"Ya kami sudah siap!" Fandy dan Zara menanggapi serempak sambil menganggukkan kepala.


"Kalau begitu … Ayo pergi" Lathan menarik tangan Zara dan berjalan sambil bergandengan tangan dengannya. Zara sama sekali tidak memberontak dan tetap diam selama dalam perjalanan.


"Apa papa dan mama akan marah saat melihatku? Meskipun aku merindukan mereka, tapi aku lebih memilih untuk tidak bertemu dengan mereka. Lalu … bagaimana sekarang? apa yang akan terjadi?" Zara berpikir keras mengenai tanggapan yang akan diberikan pada kedua orang tuanya.


"Jangan berpikir berlebihan. Kita hanya akan berlibur. Kamu tidak harus merasa terbebani dengan kehadiran orang tuamu nanti" Lathan kembali menggenggam erat tangan Zara untuk mengusir Kekhawatiran yang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


"Ya. Aku mengerti" ujar Zara yang kembali mengikuti langkah kaki Lathan menuju pesawat.


__ADS_2