
"Apa kamu baik-baik saja, Than?" tanya Radit dengan lembut pada Lathan.
"Aku baik-baik saja. Apa mereka sudah mengatakan siapa dalang dibalik penculikanku, Pih?" tanya Lathan sambil menatap Radit dengan raut wajah penasaran.
"Kita harus mencari tahu lebih banyak lagi. Mereka hanya mengatakan kalau kepala polisi yang meminta mereka untuk menculikmu".
"Kita harus segera cari komplotan mereka. Papi lihat konferensi pers polisi itu kan? Mereka mengatakan kalau semua terbongkar oleh anak Papi. Saat ini meraka hanya curiga padaku saja karena Ardhan masih kecil, aku takut kalau nanti mereka tahu tentang kemampuan Ardhan dan malah menargetkan dia juga. Jadi sebelum itu terjadi, kita harus segera mencari semua orang yang terlibat, Pih". Lathan bicara dengan sikap yang tegas dan bijaksana.
"Kamu benar. Papi akan minta Ardhan untuk mencari tahu tentang orang-orang yang terlibat dengan kasus perjudian ini. Yang lebih penting lagi, Papi harus membuat perhitungan lebih dulu dengan Tofan dan Niko. Mereka berdua yang tahu mengenai kemampuan kalian. Jadi mereka berdua pasti terlibat dengan penculikanmu". Radit bicara dengan sikap yang dingin serta sorot mata yang tajam.
"Ya, Papi memang harus cari tahu mengenai mereka berdua. Kita tidak tahu apa mereka bisa dipercaya atau tidak"
"Ya!"
"Eumm..."
Saat ayah dan anak itu sedang bicara tiba-tiba terdengar suara Zara yang sepertinya kembali gelisah. Lathan langsung membalikan badan dan kembali mendekati Zara. Dia memperhatikan Zara dengan seksama.
"Siapa dia? Apa dia pacarmu?". Radit bertanya setelah memperhatikan sikap Lathan yang berbeda pada sang gadis.
"Ya, dia pacarku dan juga sepupu Fandy". Radit menanggapi dengan sikap yang tenang.
"Sepupu Fandy? Memangnya Fandy punya sepupu?" tanya Radit dengan dahi berkerut karena heran.
"Ya, dia baru saja kembali dari luar negeri" Lathan menanggapi sambil menatap wajah Zara yang sedang tertidur.
"Apa kamu masih akan disini atau ikut pulang dengan papi?" tanya Radit dengan nada bicara yang lembut.
"Emm... Aku akan disini dulu untuk menemani dia, Pih. Aku meminta Fandy kesini besok, jadi sekarang tidak ada yang menunggu dia disini". Lathan bicara dengan lembut sambil sesekali menatap wajah Zara.
"Baiklah. Kalau begitu, Papi akan pulang. Hubungi Papi jika kamu butuh sesuatu. Oh iya untuk ponselmu akan papi belikan yang baru nanti" ujar Radit sebelum dia pergi.
__ADS_1
"Baik, Pih. Terimakasih".
"Ya". Radit langsung berbalik pergi meninggalkan Lathan sendiri.
Lathan menjaga Zara semalaman dirumah sakit. Bahkan dia sampai tertidur disamping Zara dengan posisi duduk dan tangan disilang didada.
Zara baru bangun pada pagi hari. Perlahan dia membuka matanya dengan raut wajah bingung.
"Emm... Dimana ini?" gumam Zara sambil menoleh kesekelilingnya.
"Aduh, leherku terasa pedih". Zara merasa pedih dilehernya, lalu dia menyentuhnya.
"Oh iya, kemarin itu aku dan Lathan diculik" gumamnya lagi setelah mengingat kejadian terakhir. Lalu pandangannya tertuju pada Lathan yang tidur disampingnya.
"Apa dia menungguku semalaman? Dia bahkan masih menggunakan seragamnya sampai sekarang".
"Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Lathan sambil mendekati Zara dan memberikan perhatian lebih padanya.
Lathan pun membantu Zara untuk memperbaiki posisi bantal agar Zara sedikit bersandar.
"Aku sudah memberitahu Fandy kalau kamu ada disini. Mungkin nanti dia akan kesini setelah pulang sekolah". Lathan menjelaskan sambil memberikan Zara minum.
"Oh begitu. Lebih baik sekarang kamu pulang. Orang tuamu pasti sangat khawatir karena kamu tidak pulang"
"Tidak perlu khawatir. Mereka tahu aku ada disini dan baik-baik saja. Semalam papiku datang kemari, jadi pasti dia sudah memberitahu mami keadaanku"
Mata Zara membelalak tajam mendengar ucapan Lathan
"Apa?! Papimu datang kemari? Kenapa kamu tidak pulang saja dengan papimu?" tanya Zara yang salah tingkah.
"Jika aku pulang, maka kamu akan sendirian. Jadi aku katakan pada papi kalau aku akan menunggumu disini dan pulang setelah Fandy datang" Lathan menjelaskan dengan senyum lembut dibibirnya.
__ADS_1
"Apa aku … boleh menanyakan sesuatu padamu?" Lathan bertanya dengan ragu-ragu.
"Tanya apa? Katakan saja!" Zara menanggapi dengan sikap yang tenang.
"Semalam, saat kamu tidak sadar … kamu terus mengigau dengan gelisah, kamu berkata kalau kamu tidak salah, itu bukan salahmu. Kamu terus minta maaf pada orang tuamu dan juga kakakmu. Boleh aku tahu apa yang terjadi padamu?".
Zara terdiam dengan kepala tertunduk. Raut wajahnya seketika berubah sedih.
"Jika kamu tidak ingin cerita tidak apa. Ra, aku pernah mengatakan kalau aku ingin kamu jadi pacarku. Aku ingin lebih tahu tentangmu. Lebih mengenalmu. Aku harap kamu bisa percaya padaku. Aku sama sekali tidak memiliki niat buruk padamu". Lathan bicara pada Zara sambil memegang tangan Zara. Tatapannya sangat lembut dengan senyum tipis dibibirnya.
Zara menatap Lathan dengan mata berkaca-kaca.
"Sebenarnya … aku memiliki seorang kakak. Usianya terpaut lumayan jauh dariku. Dia sangat cantik dan juga cerdas. Papa dan mama menaruh harapan besar pasa kakakku. Dia juga sangat baik dan sayang padaku. Dia selalu berkata akan melakukan apa saja asalkan aku selalu tertawa ceria karena dia orang yang pendiam. Dia selalu berusaha memanjakanku dan membuat kedua orang tuaku bangga" Zara bercerita dengan senyum tipis namun disertai derai air mata.
Lathan yang ikut sedih kini duduk disebelah Zara sambil memegang tangan untuk menguatkan hati Zara.
"Namun suatu hari … saat kami sedang bermain ditaman … tiba-tiba ada seseorang mendekatiku dan mengatakan ingin ikut bermain. Aku membiarkannya ikut bermain dengan kami. Tapi tiba-tiba orang itu hendak menusukku dari belakang dan kakak yang melihatnya, langsung menarikku kepelukannya, akhirnya kakakku yang tertusuk sampai dia meninggal" Zara memberikan jeda saat dia cerita.
"Sejak saat itu papa dan mama selalu mengabaikanku. Mereka tidak pernah peduli padaku. Aku dirawat oleh Bibi pengasuh. Belum lama ini Bibi meninggal, karena itu aku pindah kemari". Zara bercerita dengan derai air mata dipipinya. Lathan pun tidak segan menghapus air matanya.
"Apa kamu kenal orang itu?" tanya Lathan yang ingin tahu.
"Ya, dia teman papa. Mereka berselisih paham karena masalah bisnis. Dia merasa dikhianati oleh papa karena itu ingin balas dendam. Saat itu yang dia lihat hanya aku karena kakak sedang sembunyi, jadi aku yang jadi sasarannya. Tapi, kakak yang melihat dia menodongkan pisau padaku langsung berlari tanpa pikir panjang. Hingga dia yang terluka"
"Lalu … bagaimana dengan orang itu sekarang?" Lathan terlihat semakin penasaran dengan cerita Zara.
"Pria itu langsung ditangkap dan mendapat hukuman yang setimpal. Yang aku dengar, dia juga menyesal melakukannya karena dia sama sekali tidak berniat membunuh. Tapi sampai sekarang aku tidak bisa melupakan kematian kakakku. Aku selalu mengingat setiap hal yang berhubungan dengan itu. Bahkan aku tidak bisa melupakan tatapan papa dan mama padaku" Zara kembali menitikan air mata saat membicarakan traumanya.
Lathan yang merasa tersentuh langsung menarik Zara kepelukannya.
"Itu sudah berlalu. Itu bukan salahmu. Sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Kamu tidak perlu takut lagi, karena aku akan selalu ada disisimu"
__ADS_1