
Pagi hari Radit mengantarkan Andra ke kantor setelah sebelumnya mereka mengantar Lathan ke sekolah.
"Kita sudah sampai. Aku akan menjemputmu saat pulang kerja. Dan aku tidak bisa makan siang denganmu karena ada meeting diluar saat jam makan siang" Radit bicara pada Andra sebelum membiarkannya turun dari mobil
"Baiklah tidak masalah. Lagipula jarak darisini kekantor kak Radit cukup jauh. Aku tidak tega melihat kak Radit harus kelelahan mengendarai mobil hanya untuk makan siang" Andra menanggapi Radit dengan lembut
"Ini tidak masalah. Hanya berjarak 1 jam saja dari kantorku" Radit tersenyum lembut saat bicara pada Andra
"Sudah, masuklah! Kamu bisa terlambat. Aku juga harus segera pergi"
"Baiklah. Aku masuk dulu, kalau sudah sampai kabari aku. Sampai jumpa" Andra melambaikan tangan dengan senyuk ceria pada Radit. Radit tersenyum memperhatikan Andra setelah dia masuk ke gedung kantor, barulah Radit meninggalkan kantor Andra
Disaat yang sama, Luna pun baru saja tiba diperushaan. Dia kembali melihat mobil Radit meninggalkan gedung kantor
"Jadi dia diantar lagi? Aku harus bisa membuat Radit membencimu. Hmn... bagaimana reaksinya kalau melihat Andra dekat dengan laki-laki lain ya?" Luna tersenyum membayangkan raut wajah Radit ketika melihat Andra bersama pria lain.
"Itu pasti akan sangat menyenangkan"
***
"Rian, aku butuh bantuanmu" Andra langsung memanggil Rian begitu dia tiba diruangannya
"Ada apa bu?" Tanya Rian dengan sopan
"Aku ingin kamu cari tahu tentang bu Asya, kak Luna dan kak Lulu. Kalau perlu tempatkan seseorang untuk memgawasi mereka bertiga. Jangan sampai ada yang ketinggalan" Andra meminta bantuan pada Rian dengan sopan
"Saya mengerti. Permisi" Rian pun langsung beranjak pergi dari hadapan Andra
"Hemn … aku ingin tahu kabarnya mama Vio. Bagaimana kabarnya sekarang ya?" Andra terdiam menatap jendela kantornya yang mengarah keluar. Banyak gedung tinggi lain yang menjulang disekitar gedung kantor Satya.
"Bagaimana kalau perusahaan ayah tidak ada ya? Bagi orang lain memang tidak akan ada bedanya karena mereka tidak mengerti arti perusahaan ini. Tapi bagiku, itu akan sangat berbeda karena perusahaan ini adalah hasil kerja keras ayah. Aku tidak akan membuat ini sia-sia"
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk" Rian berjalan masuk mendekati meja Andra setelah dia mendapatkan izin untuk masuk
"Ada apa, Rian? Apa ada sesuatu yang mendesak?" Tanya Andra yang melihat Rian jalan dengan terburu-buru
"Maaf bu, baru saja ada yang menghubungi saya kalau perusahaan akan membuat pesta penyambutan untuk kedatangan anda diperusahaan ini. Pesta itu akan diselenggarakan di Kusuma Rich Hotel"
"Apa? Kusuma Rich Hotel?" Andra mengerutkan dahi ketika mendengar nama hotel dimana acara penyambutannya akan digelar
"Ada apa bu? Apa ada masalah?" Rian bertanya dengan sopan pada Andra
"Tidak. Tidak ada. Hanya saja … itu hotel dimana dulu aku pernah bekerja" Andra menjelskan dengan tenang dan Rian sepertinya mengerti dengan apa yang dipikirkan Andra
"Ibu tenang saja. Saya akan meminta seseorang untuk selalu mengawasi ibu disana" Rian berusaha menghilangkan kekhawatiran andra, namun dia hanya tersenyum dibuatnya
"Tidak perlu aku bjsa menjaga diriku sendiri disana. Ikuti saja apa yang mereka inginkan. Keluarlah, aku perlu menghubungi suamiku" Andra pun mengalihkan pandangannya dan meraih ponsel yang tergeletak diatas meja
Tuuut tuut tuut
"Kenapa suamiku tidak langsung menghubungiku begitu dia tiba ya? Sepertinya dia tidak tahu kalau aku menunggu telepon darinya?" Andra kembali menjawab dengan nada bicara yang juga lembut dan sedikit manja
"Owh, suamimu berpikir untuk menghubungi istrinya begitu dia tiba diruangannya"
Saat ini Radit sedang berjalan masuk menuju kantornya. Aura mengintimidasi yang biasanya terasa saat Radit berjalanbkini hanya terlihat mempesona dengan senyum yang tak pernah pudar. Semua orang terlihat terkejut melihat Radit yang saat ini sangat lembut dengan senyum merekah di wajahnya
"Pak Radit sekarang terlihat semakin berseri saja. Dulu bibirnya itu tidak pernah membentuk senyuman sedikit pun. Kurasa itu akan kaku karena tidak pernah tersenyum"
"Kamu benar. Biasanya kalau dia tersenyum malah menyeramkan. Tapi sekarang senyumnya terlihat semakin mempesona"
"Sepetinya hari-hari kita akan dipenuhi kebahagiaan karena melihat wajah pak Radit yang selalu berseri. Kita juga tidak perlu merasa terbebani dengan kehadirannya yang seperti dewa pembunuh"
__ADS_1
"Ya ya ya" Beberapa karyawan Radit itu saling berbisik membicarakan atasan mereka yang biasanya dingin dan menyeramkan.
Candra tanpa sengaja mendengar apa yang dibicarakan rekan kantornya "Hahaha tiba-tiba king of devil berubah jadi king of angel"
"Apa kamu bilang? Pesta penyambutan di hotel? Dan di hotel kita?" Radit yang baru tiba diruangannya sangat terkejut ketika mendengar Andra mengatakan tentang pesta penyambutan yang dibuat Luna
"Iya kak. Aku baru tahu dari Rian kalau kak Luna membuat acara disana. Aku juga tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan dibalik pesta ini" Andra menjelaskan pada Radit sambil berjalan kesana kemari didalam ruangannya
"Ya sudah kamu nikmati saja pestanya. Aku juga akan kesana bersama Lathan nanti" Radit kembali dengan sikapnya yang santai dengan senyum yang manis.
"Tapi jika kak Radit datang kesana …"
"Tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang tahu kalau aku juga ada disana" Radit kembali meyakinkan Andra dengan rencananya
"Baiklah, sampai jumpa dihotel"
"Sampai jumpa sayang" Radit dan Andra pun mengakhiri panggilan telepon diantara mereka.
"Hotel? Bagaimana kalau bermain sandiwara selingkuh? Apa yang akan mereka lakukan ya?" Radit menyeringai ketika memikirkan sebuah ide untuk mengecoh Asya dan Luna
"Aku sedikit bersemangat ketika melihatmu tadi terus tersenyum saat menelepon seseorang. Tapi sekarang semangatku mulai menurun melihat senyum seperti itu diwajahmu. Apa yang kamu rencanakan?" Candra langsung masuk keruangan Radit tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu
"Hanya merencanakan permainan kecil mengecoh musuh saja" Radit menjawab dengan sangat santai sambil duduk dikursi kebanggaannya
"Apa ini ada hubungannya lagi dengan keluarga Andra yang lama?" Candra duduk di seberang Radit dan menunggu jawaban dari sahabatnya
"Ya. Ini untuk bermain dengan mereka"
"Kenapa kamu tidak membereskan ibu angkat Andra dengan cepat? Ini tidak seperti kamu yang langsung menangani biang masalah dalam hitungan hari"
"Itu … aku tidak tahu mau melakukan apa pada keluarganya itu. Aku bisa saja langsung menendang mereka kejalanan. Tapi jika itu kulakukan Andra pun akan terkena imbasnya karena orang luar bisa saja menjatuhkan namanya dan mencapnya anak tidak berbakti. Selama ini tidak ada yang tahu bagaimana perlakuan mereka terhadap Andra. Tidak ada bukti kuat untuk menjatuhkannya" Radit menjawab dengan wajah sedih
__ADS_1
"Bukannya selama ini perlakuan pada Andra sudah jelas? Mereka juga berniat menjual Andra" Candra terlihat bingung karena biasanya Radit tidak bersikap seperti ini
"Entahlah. Kita lihat saja sejauh mana tindakan yang mereka ambil untuk menyakiti Andra. Aku akan langsung membalikkan itu kembali pada mereka. Hingga saatnya mereka merangkak dijalanan-"