
"Bagaimana Li? Apa kamu senang bermain dengan kami ditaman?"
"Iya. Lili tangat tenang belmain dengan Ta Lathan dan Ta Aldhan ditaman. Lain kali ajak Lili pelgi ke taman lagi ya"
"Baiklah. Lain kali kita akan pergi ke taman lagi"
Lathan, Ardhan dan Lili kembali kerumah setelah mereka puas bermain ditaman.
"Sepertinya papi sedang kedatangan tamu", ujar Ardhan setelah melihat ada mobil asing terparkir didepan rumah mereka.
"Entahlah" jawab Lathan menanggapi sambil mengangkat kedua bahu bersamaan. Mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka sambil bercengkrama.
"Kalian sudah kembali?" sambut Radit melihat ketiga anaknya.
"Papi … Papi tudah pulang". Lili yang berjalan dengan memegang tangan Lathan langsung melepaskan pegangannya dan berlari kepangkuan sang ayah.
"Lili sayang, apa kamu bersenang-senang dengan kak Lathan dan kak Ardhan?". Radit bertanya dengan lembut pada putri kecilnya.
"Uh. Ta Lathan dan Ta Aldhan membawaku pelgi belmain ke taman. Ditana ada banyak olang, Pih".
"Benarkah?".
Lili mengangguk dan bercerita dengan semangat pada sang ayah. Radit pun menanggapi cerita Lili dengan senyum lembut.
"Maaf, Pih. Tapi apa yang mereka lakukan disini? Bukannya urusan kita dengan mereka itu sudah selesai? Apa yang membuat mereka sampai mengunjungi rumah kita?". Perhatian Radit teralihkan pada Lathan yang bertanya dengan sikap yang dingin.
"Mereka datang kemari karena ingin meminta bantuan dari kita. Itu tergantung kalian, mau membantu mereka atau tidak". Radit bicara dengan acuh tak acuh tak acuh tanpa memaksa Lathan dan Ardhan untuk membantu polisi.
"Tunggu. Kami kemari karena ingin meminta bantuan dari IT keluarga anda. Kami tidak mungkin membiarkan anak kecil mengganggu kasus kami" ujar salah satu polisi yang datang bersama kepala penyidik sebelumnya. Dia bicara dengan tatapan merendahkan Lathan dab Ardhan.
"Apa maksudnya dengan anak kecil?". Ardhan menanggapi dengan sikap yang sinis.
"Jika kalian ingin meminta bantuan, maka kalian hanya bisa menggunakan kemampuan mereka. Keluargaku yang lain tidak mungkin mau membantu kalian karena kesibukan mereka. Selain itu mereka juga tidak pernah ingin terlibat dengan urusan orang lain. Kalian tahu sendiri kan bagaimana keluargaku yang lain?". Radit bicara dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh.
__ADS_1
Kedua polisi itu terdiam saling menatap satu sama lain mempertimbangkan perkataan Radit.
"Apa yang dia katakan ada benarnya juga. Jingga, Lian, Diaz dan Kenzo memiliki kemampuan yang sangat baik, tapi mereka tidak akan mungkin mau membantu kami. Hanya Radit inilah harapan kami satu-satunya" pikir kepala penyidik mempertimbangkan ucapan Radit.
"Tapi kami tidak mungkin membiarkan anak anda berlatih dengan kasus yang sedang kami tangani. Bisakah anda saja yang membantu kami?" ujar kepala penyidik yang berusaha membujuk Radit agar membantunya.
"Hmn... Kalau anak saya bisa menangani ini, kenapa harus saya yang tangani sendiri?" ujar Radit dengan senyum mencibir.
"Anda jangan main-main, Pak! Ini bukan kasus kecil. Anda pikir ini seperti permainan polisi-polisian anak kecil?!" teriak wakil kepala penyidik.
"Sabar, Nin. Kita kesini untuk meminta bantuan, bukan untuk mencari masalah dengan pak Radit". Kepala penyidik yang bernama Tofan itu bicara dengan sikap yang tenang sambil menepuk pundak Nino dan juga menggelengkan kepala perlahan untuk menenangkannya.
"Maaf pak Radit. Kami kemari karena membutuhkan bantuan anda. Kami tidak bisa menemukan tim IT yang dapat melacak keberadaan komplotan penjudi online yang selama ini sangat meresahkan masyarakat. Kami tidak mungkin melakukan rekrutmen terbuka untuk kasus ini karena itu bisa membuat target kami lebih waspada". Tofan menjelaskan dengan tenang dan sopan. Dia sadar kalau saat ini dialah yang meminta bantuan dari Radit.
"Lili sayang, kamu pergi ke mami dulu ya. Nanti kita akan bermain setelah tamu Papi pulang". Radit mengabaikan ucapan Tofan dan bicara dengan lembut pada Lili
"Baik Papi. Lili mengelti" ujar Lili yang langsung turun dari pangkuan Radit.
"Anak pintar. Lathan antarkan Lili pada mami dilantai atas. Setelah itu kalian berdua kembali kemari dengan laptop kalian masing-masing". Radit bicara pada Lili dengan senyum lembut sambil mengusap kepalanya. Setelah itu dia bicara pada Lathan dan Ardhan agar membawa laptop mereka
"Baik Papi"
"Baik Papi"
Radit, Tofan dan Nino hanya diam sambil menikmati kopi mereka selagi menunggu Lathan dan Ardhan kembali.
"Pih, apa yang harus kami lakukan?" tanya Lathan yang baru kembali dengan laptop ditangannya. Ardhan berjalan dibelakangnya. Mereka pun duduk berdampingan didekat Radit.
"Kalian harus masuk dulu ke situs judi online yang paling besar. Setelah itu, retas akun utama milik situs itu. Darisana kalian bisa cari semua jaringan yang ada. Mulai dari pemasukan terbesar sampai setiap aliran dana ke keluar dari rekening pribadi milik akun utama. lacak juga dimana mereka mengoperasikan situs judi mereka".
"Euh!"
Lathan dan Ardhan mengangguk secara bersamaan.
__ADS_1
"Dhan, kamu yang lacak lokasi mereka dan Kakak akan cari aliran dana mereka"
"Iya, Kak"
Tofan dan Nino hanya diam terpaku melihat melihat bagaimana Radit, Lathan dan Ardhan saling bekerja sama. Belum lagi mereka cukup terkejut dengan kemampuan Lathan dan Ardhan dalam mengoperasikan laptop mereka. Tangan mereka menari dengan lincah diatas keyboard.
"Pak, apa benar mereka ini anak SMP dan juga SMA? Kemampuan mereka tidak menunjukkan kalau mereka masih anak sekolah" bisik Nino pada Tofan.
"Aku juga tidak percaya dengan apa yang disarankan pak Radit jika saja aku tidak melihat langsung bagaimana kemampuan kedua putranya. Lihatlah pak Radit yang sangat tenang. Itu berarti dia sudah sangat tahu bagaimana kemampuan kedua putranya. Bisa jadi kasus pembunuhan yang terjadi dihotel pak Radit beberapa waktu lalu itu dipecahkan oleh kedua anak mereka?".
Tofan dan Nino pun saling berbisik membahas kemungkinan tentang Lathan dan Radit.
Nit nit nit
"Ada apa Than?" tanya Radit mendengar suara dari laptop Lathan.
"Mereka memasang sandi keamanan ketat untuk bisa masuk ke jaringan situs pribadi" jawan Lathan dengan singkat.
"Kamu bisa atasi sendiri atau harus Papi yang atasi?" tanya Radit dengan sikap yang tetap tenang.
"Aku akan coba sendiri dulu. Aku rasa … aku bisa atasi ini semua". Lathan pun kembali fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan.
"Ardhan, bagaimana denganmu?" tanya Radit pada Ardhan.
"Sebentar lagi, Pih. Mereka juga menggunakan sandi keamanan untuk melacak lokasi" jawab Ardhan dengan singkat dan pandangan terus mengarah pada layar monitor.
"Kita ketahuan, Pih. Mereka menyadari kalau kami menerobos situs mereka!" ujar Lathan dengan panik.
"Berikan pada Papi!". Lathan pun memberikan laptopnya pada Radit. Ardan pun hanya memperhatikan sang ayah karena dia juga ketahuan.
Suasana seketika tegang. Semua orang memperhatikan Radit yang kini mengambil alih untuk meretas situs judi online tersebut. Tofan dan Nino pun semakin terpaku dengan apa yang dilakukan ayah dan anak itu.
"Lathan, selesaikan pekerjaanmu dan ambil data penting dari situs utama itu. Ardhan, lanjutkan pencarianmu untuk menemukan mereka. Kalian hanya memiliki waktu kurang dari 30 menit sebelum mereka mengambil alih kembali situs itu". Radit memberikan laptopnya kembali pada Lathan dan memperingatkan mereka waktu yang mereka miliki.
__ADS_1
"Baik, Pih. Kami mengerti". Lathan dan Ardhan kembali menjawab dengan serempak lalu kembali fokus dengan laptop mereka masing-masing.
"Pantas saja tidak ada yang bisa menindas mereka. Ternyata kemampuan keluarga Kusuma tidak bisa diragukan", pikir Tofan menatap Radit, Lathan, dan Ardhan