
Lathan dan Zara sedang ada ditaman belakang saat ini. Mereka sedang menghabiskan waktu istirahat bersama. Sejak keluar dari rumah sakit, mereka selalu bersama sebagai sepasang kekasih.
"Oh, apa papi sudah mulai bermain? Bagaimana bisa papi bermain sendiri?" gumam Lathan saat membaca postingan tentang kepala polisi. Dia bicara dengan senyum tipis dibibirnya.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Zara yang tidak mengerti ucapan Lathan.
"Oh, ini sayang, kepala polisi ini adalah salah satu orang yang menculik kita tempo hari". Lathan menunjukkan postingannya pada Zara.
"Bagaimana kamu tahu kalau dia adalah pelakunya?" tanya Zara yang memang tidak tahu siapa pelaku penculikan mereka.
"Saat kita diikat diruangan itu, aku lihat sendiri kepala polisi datang untuk mengecek pekerjaan orang suruhannya. Saat itu aku sudah sadar dan pura-pura pingsan, hanya kamu saja yang tidak sadarkan diri jadi tidak tahu pelakunya".
Zara mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Lathan.
"Lalu, kenapa mereka menculikmu? Apa kamu melakukan sesuatu? Atau … mereka meminta imbalan pada ayahmu?" tanya Zara lagi yang semakin penasaran.
"Karena aku tahu kebusukan mereka, jadi mereka ingin menghabisiku untuk menghilangkan jejak" Lathan menanggapi pertanyaan Zara dengan sikap yang tenang. Dia tidak terlihat takut ataupun khawatir.
"Kamu tidak takut? Bagaimana kamu bersikap tenang seperti itu sedangkan nyawamu dalam bahaya? Apa kamu sama sekali tidak peduli dengan nyawamu?!" Zara terlihat kesal saat mendengarkan Lathan bercerita dengan ekspresi tenang seperti itu.
"Sayang, tidak perlu khawatir. Kita akan lebih dulu menghabisi mereka semua sebelum mereka sempat menyentuhku. Kamu percaya padaku kan? Sekarang jangan marah lagi dan lihat apa yang bisa aku lakukan pada mereka". Lathan menggenggam tangan Zara saat dia bicara dengan senyum yang manis dan tatapan yang lembut. Diapun mulai memainkan laptopnya untuk melakukan sesuatu.
Zara terus memperhatikan Lathan yang sedang fokus pada laptop dipangkuannya.
"Sayang, jika kamu terus menatapku seperti itu, kurasa … pipiku akan berlubang karena malu" ujar Lathan yang bicara tanpa menoleh pada Zara.
Seketika Zara langsung memalingkan wajah karena salah tingkah dan malu.
Lathan hanya tersenyum melihat tingkah Zara dan kembali fokus pada apa yang dia kerjakan. Dia meretas setiap komputer milik orang-orang yang terlibat dalam bisnis judi online dan memberikan pesan singkat pada mereka
Kalian akan hancur berkeping-keping dan berakhir dipenjara yang sempit. Akan kupastikan kalian jatuh ke lubang tanpa dasar dan tidak bisa bangkit lagi. Bahkan jika kalian ingin selamat, hanya kematian yang jadi pilihan terakhir!
"Selesai" seru Lathan setelah selesai dengan apa yang dia kerjakan.
"Apa yang kamu lakukan?" Zara sedikit melirik pada laptop Lathan.
__ADS_1
"Itu... bagaimana kamu bisa melakukan itu?". Zara bertanya pada Lathan sambil menatapmya dengan tatapan kagum.
"Bukan hal yang sulit. Aku mempelajari komputer sejak aku masih kecil" jawab Lathan dengan sikap tenang dan percaya diri.
"Apa kamu juga ingin mempelajarinya?" tanya Lathan dengan senyum lembut.
"Tidak. Karena aku punya kamu. jadi aku tinggal bilang padamu saja jika aku butuh bantuan.Ups". Zara menjawab dengan sikap tenang sambil menggelengkan kepala perlahan, kemudian dia menutup mulutnya setelah merasa malu dengan apa yang dikatakan.
"Ya, kamu tidak perlu khawatir karena punya aku. Aku akan lakukan apapun untukmu" Lathan menanggapi dengan senyum menggoda Zara. Membuat wajah Zara semakin marah karenanya.
****************
Jhon, Dion dan Tedy sangat terkejut ketika hendak menggunakan komputer masing-masing.
"Apa-apaan ini?". Dion, Jhon dan Tedy sangat terkejut melihat pesan dikomputer mereka. Mereka pun langsung menghubungi Samuel secara bersamaan.
Tuut tuut tuut
Karena ketiga orang itu menghubungi Samuel secara bersamaan, panggilan mereka pun tidak ada yang tersambung.
"Kenapa selalu sibuk?" gumam Jhon dengan kesal. Dia pun kembali menghubungi Samuel.
Tuut tuut tuut
"Halo, Pak Samuel?" tanya pak Dion dengan nada yang terdengar panik.
"Pak Dion, ada apa?" tanya Samuel yang tampak bingung.
"Ada yang meretas komputerku dan mengancam akan menghancurkan aku. Bagaimana jika benar-benar membongkar semua kebusukan kita? Terlebih lagi komputerku berhasil diretas, sudah pasti kalau semua data yang ada disana telah diketahui" tanya Dion yang semakin panik saat bercerita pada Samuel.
"Tenanglah dulu. Belum tentu dia menemukan semua data penting dalam komputer anda. Anda pasti menggunakan sistem keamanan dalam komputer anda kan?" tanya Samuel dengan sikap yang tenang.
"Pak Dion, anda tidak perlu khawatir. Saya akan segera meminta anak buah saya untuk memperbaiki sistem keamanan komputer anda". Sambung pak Samuel menenangkan pak Dion.
"Baiklah kalau begitu. Saya percaya pada anda. Saya harap anda memang bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya" ujar Dion yang mulai tenang.
__ADS_1
"Anda tenang saja. Sampai jumpa". Baru saja Samuel menutup telepon dari Dion, ponselnya kembali berdering.
Drrt drrt drrt
Dilihat dari layar ponselnya, kali ini yang berhasil menghubunginya adalah Jhon
"Halo, pak Samuel". Sapa pak Jhon ketika Samuel menerima telepon darinya.
"Halo, Pak. Ada apa?" Samuel menanggapi Jhon dengan nada bicara yang malas.
"Pak, sepertinya komputer saya telah diretas. Saya mendapatkan pesan aneh begitu membuka laptop saya". Jhon pun langsung bicara tanpa basa -basi.
"Anda juga mendapatkan pesan? Pesan seperti apa?" tanya Samuel dengan dahi berkerut karena penasaran.
"Katanya kita akan berakhir dipenjara dan jatuh ke lubang tanpa dasar hingga kita tidak akan bisa bangkit lagi, tidak ada jalan untuk lari selain kematian. Kira-kira seperti itu pesannya". Jhon menjelaskan isi pesan yang diterimanya pada Samuel.
Samuel terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh Jhon.
"Jika dia juga menerima pesan yang sama, itu artinya … dia sudah tahu siapa saja yang terlibat?" pikir Samuel setelah mendengar penjelasan dari Jhon.
"Pak Samuel? Halo, Pak. Apa anda masih mendengarkan saya?"
"Oh. Iya, Pak. Maafkan saya. Saya sedikit melamun tadi". Samuel langsung tersadar dari lamunannya setelah Jhon memanggilnya berkali-kali.
"Jadi bagaimana nasib kita sekarang? Saya tidak mau bangkrut dan berakhir didalam penjara!" Jhon pun terdengar panik saat dia bicara pada Samuel.
"Anda tenang dulu. Itu tidak akan terjadi. Meskipun saya akan dapat sangsi tapi saya akan tetap berusaha menutupi bisnis kita". Samuel pun menanggapi dengan sikap yang tenang.
"Apa anda yakin masih bisa menutupi bisnis kita setelah nama anda akhir-akhir ini jadi pusat perhatian dan dibicarakan banyak orang?". Jhon bertanya pada Samuel guna memastikan.
"Saya yakin bisa. Anda tidak khawatir soal ini. Serahkan saja semuanya pada saya" ujar Samuel dengan percaya diri.
"Baiklah kalau begitu. Saya percaya pada anda. Saya harap anda tidak mengecewakan saya".
"Baik, Pak. Tenang saja".Jhon dan Samuel pun mengakhiri panggilan mereka. Namun begitu Samuel menutup telepon dari Jhon, ponselnya kembali berdering dan kini panggilan itu berasal dari Tedy.
__ADS_1
"Apa lagi ini? Kapan mereka akan berhenti menghubungiku. Dasar para pria bodoh! Alih-alih menunggu hal yang tidak pasti dariku …kenapa mereka tidak menyelesaikan masalah mereka sendiri saja? Menyebalkan !!". Samuel yang merasa kesal dan lelah pun tidak menjawab telepon dari Tedy dan malah menonaktifkan ponselnya.
"Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu. Lain kali saja kita bahas!" gumam Samuel pada ponselnya yang kini mati.