Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Tujuan Radit Membantu Polisi


__ADS_3

"Aku mendapatkannya Pih. Aliran dana mereka, semuanya sudah aku dapatkan!". Lathan bersorak gembira setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Ketemu! Markas mereka berada dipinggiran kota dekat perbatasan antar kota". Tak lama Ardhan pun mendapatkan lokasi yang mereka cari.


Tofan dan Nino saling menatap karena terkejut. Tak lama mereka tersenyum gembira.


"Benarkah? Kalian sudah mendapatkan lokasi dan buktinya?" tanya Tofan yang berusaha mengkonfirmasi ucapan Lathan dan Ardhan.


"Kalian tidak sedang bercanda kan?".


Raut wajah Lathan dan Ardhan langsung berubah kesal mendengar ucapan Nino.


"Jika kalian tidak percaya pada kami, untuk apa kalian datang kemari?" tanya Ardhan dengan sikap sinis.


Radit tidak berkomentar apapun atau melarang Ardhan untuk bicara sesuka hatinya.


"Bukan itu maksudku kami hanya tidak menyangka kalau kalian dapat menyelesaikan masalah ini dalam waktu singkat" ujar Tofan meyakinkan Ardhan.


"Ardhan, cari CCTV disekitar lokasi dan pantau hal yang mencurigakan" ujar Radit kembali menyela perdebatan Tofan dan Ardhan.


"Kalian juga bisa meretas CCTV? Itu berarti kasus kemarin …" tanya Tofan berusaha memastikan.


Radit, Lathan dan Ardhan tidak menanggapi pertanyaan Tofan. Mereka tetap bersikap tenang seperti tidak mendengar apa-apa.


"Lihatlah ini. Ini CCTV di sekitar lokasi. Tempat ini disamarkan menjadi kantor ekspedisi, namun didalamnya beroperasi judi online besar. Jika kalian teliti maka kalian bisa mendapatkan mereka semua. Tapi jika kalian ceroboh, kalian akam kehilangan semuanya", ujar Ardhan kembali menjelaskan sesuai dengan yang dilihatnya di CCTV.


Tofan dan Nino mendengarkan penjelasan Ardhan dengan seksama agar mereka dapat menyusun strategi untuk penyergapan komplotan judi online terbesar itu.


"Baiklah kami mengerti dengan apa yang kalian jelaskan. Kami sudah tahu apa yang harus kami lakukan untuk bisa menangkap mereka semua" ujar Tofan dengan senyum ceria diwajah mereka.


"Baguslah kalau begitu jadi kalian bisa pergi sekarang" ujar Ardhan dengan sikap acuh tak acuh.

__ADS_1


"Tunggu. Sebenarnya ada masalah apa denganmu? Kenapa kamu bersikap kurang ajar pada kami? Padahal jelas-jelas kami lebih lebih tua darimu. Apa kamu tidak memiliki sopan santun sama sekali?" tanya Nino dengan sikap sinis.


"Untuk apa aku bersikap baik pada orang yang telah bersikap buruk pada papi?" ujar Ardhan dengan sikap sinis.


"Tidak perlu dengarkan Ardhan. Lebih baik kalian bergegas sekarang" ujar Lathan dengan sikap yang dingin.


"Apa kedua putramu memang selalu bersikap dingin seperti itu?" tanya Tofan dengan sikap yang tenang.


"Entahlah. Mungkin hanya kepada orang yang tidak mereka suka saja". Ujar Radit dengan senyum tipis dibibirnya.


"Baiklah. Ini tidak akan selesai. Kalau begitu kami pergi dulu. Terimakasih atas bantuan yang kalian berikan pada kami". Tofan bicara sambil beranjak pergi dari hadapan Radit.


"Ya hati-hati. Apa kalian yakin bisa menyelesaikan ini? Kalau tidak bisa, aku bisa memberikan bantuan lain pada kalian". Radit bicara dengan seringai tipis dibibirnya seolah dia mengejek kedua polisi itu.


"Tidak perlu. Terimakasih. Kami bisa melakukannya kali ini". Tofan menanggapi dengan sikap tenang meskipun kali ini dia merasa terprovokasi oleh ucapan Radit.


"Baiklah. Kalau begitu hati-hati dijalan". Radit bicara dengan sikap tenang sambil mengisyaratkan dengan tangan arah pintu keluar.


Tofan dan Nino pun langsung pergi tanpa memberikan tanggapan apapun lagi.


"Tidak. Papi hanya ingin menampar wajah mereka dengan melihat kemampuan kalian. Papi yakin kalau mereka tidak akan berani lagi memandang rendah kalian meskipun mereka itu polisi". Radit menjelaskan tujuannya meminta Lathan dan Ardhan membantu para polisi melacak keberadaan target mereka.


"Oh, kami kira Papi ingin bekerjasama dengan mereka untuk mendapatkan tambahan dukungan". Ardhan menanggapi Radit dengan acuh tak acuh.


"Kalian tidak ingin bermain lagi? Kalian bisa mengasah kemampuan menembak kalian tanpa diketahui mereka". Radit bicara dengan senyum tipis dibibirnya.


Lathan dan Ardhan saling menatap satu sama lain mendengar ucapan sang ayah.


"Apa kami boleh melakukan itu?" tanya Ardhan dengan raut wajah penasaran.


"Tentu saja boleh, tapi seperti yang Papi katakan 'tanpa diketahui mereka'" ujar Radit yang kembali tersenyum.

__ADS_1


Ardhan dan Lathan menanggapi dengan seringai tipis dibibir mereka.


"Baik, Pih. Kami mengerti", ujar mereka serempak.


Mereka langsung berbalik pergi menuju kamar mereka masing-masing. Lathan pergi untuk mengambil pistol miliknya. Namun karena usia Ardhan masih dibawah umur, dia belum mendapatkan izin kepemilikan senjata api, tapi Ardhan menggunakan ketapel sebagai senjata miliknya.


Tak berselang lama, Lathan dan Ardhan sudah kembali kehadapan Radit.


"Pih, kami sudah siap", ujar Lathan sebelum mereka meninggalkan rumah.


"Ya. Kalian berdua harus berhati-hati. Ingat agar tidak ada yang melihat Kalian". Nasehat Radit pada kedua putranya.


"Kami mengerti Papi. Kami pergi sekarang" Lathan dan Ardhan langsung pergi meninggalkan kediaman Nugraha setelah Radit menganggukkan kepala menanggapi.


"Kenapa kak Radit lakukan itu pada kedua putra kita?" tanya Andra dengan raut wajah kecewa.


"Bukankah sudah jelas kalau aku melakukan itu agar kedua putra kita belajar untuk saling melindungi sambil menjaga apa yang diperintahkan pada mereka berdua?" Radit menanggapi Andra dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis.


Andra menatap Radit dengan sorot mata yang tajam seakan dia ingin menelan Radit saat ini juga.


"Alasan! Kak Radit sengaja kan melakukan itu? Apa yang Kakak rencanakan?" Andra terus mendesak Radit untuk memberikan jawaban yang memuaskan padanya mengenai kedua anaknya.


"Baiklah … Aku ingin menunjukkan kemampuan Lathan dan Ardhan pada para polisi itu diusia mereka yang masih sangat muda. Dulu … aku dan sodara-saudaraku harus membuktikan sendiri kemampuan kami kepada dunia, barulah kami bisa diakui sebagai bagian dari keluarga Kusuma. Kali ini, Lathan dan Ardhan tidak menutupi identitas mereka sebagai bagian dari keluarga Nugraha, tentu saja mereka jadi sorotan dan incaran banyak orang untuk menjalin hubungan bisnis. Terlebih lagi tidak sedikit yang memandang mereka dengan sebelah mata karena hanya mengandalkan kekuasaan.


Aku ingin tunjukan kalau mereka tidak bisa dianggap remeh, meskipun usia mereka masih sangat muda dan belum berkecimpung dalam bisnis …tapi mereka punya kemampuan dan keahlian mereka sendiri. Dengan begitu mereka bisa dikenal dengan kemampuan mereka, bukan karena keluarga mereka".


Andra terpaku menatap sang suami yang saat ini terlihat gagah dan berwibawa. Dia sama sekali tidak menyadari kalau suaminya sangatlah bijaksana.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu jatuh cinta lagi padaku?" goda Radit dengan kedua alis diangkat bersamaan.


Andra tersipu mendengar pertanyaan dari sang suami. Diapun tersenyum dan mendekati Radit.

__ADS_1


"Setiap saat aku bersama denganmu, aku selalu jatuh cinta padamu. Tidak peduli sudah berapa lama kita bersama, rasa itu tetap sama. Kak Radit, aku mencintaimu"


Raditpun menatap Andra dengan tatapan penuh cinta disertai senyum dipipinya sebelum akhirnya mereka saling berpelukan satu sama lain.


__ADS_2