Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Rasa Penasaran Zara


__ADS_3

"Ardhan, ingat untuk tidak membuat masalah apalagi sampai terluka!" pesan Lathan ketika tiba disekolah Ardhan.


"Iya Kak. Aku tahu, jika aku sampai terluka lagi, Kakak pasti akan membalikkan dunia karena hal itu. Iya kan?" Ardhan menggoda Lathan dengan senyum tipisnya yang menawan.


"Itu kamu tahu. Sudahlah masuk sana. Kakak juga harus segera berangkat kesekolah sebelum terlambat" Lathan bicara dengan sikap acuh tak acuh.


"Ya sudah sampai jumpa Kak". Ardhan pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke sekolahnya. Lathan kembali mengendarai mobilnya setelah melihat sang adik berjalan menjauh darinya.


...****************...


Disekolah Lathan.


Fandy dan Zara sudah berada disekolah. Mereka berangkat bersama karena tinggal dirumah yang sama.


"Kamu mencari siapa Fan? Kenapa terus menoleh kesana kemari?".


Zara bertanya pada Fandy setelah melihat sepupunya itu terus celingukan kesana kemari.


"Aku mencari Lathan. Kenapa dia belum sampai sekolah ya? Biasanya dia selalu datang lebih awal". Fandy menanggapi sambil terus menoleh kesana kemari.


"Maaf, apa kamu melihat Lathan?" tanya Fandy pada seorang siswa yang ada didekatnya.


"Sepertinya belum datang. Aku belum melihatnya sama sekali" jawab siswa itu.


"Oke. Makasih"


"Fan, aku curiga dengan hubungan kalian berdua. Kalian itu sahabat atau …?"


Tak!


"Aduh … sakit …" ujar Zara sambil mengusap kepalanya setelah Fandy memukulnya pelan karena Zara mengejeknya.


"Kamu cemburu padaku? Jika aku ada main dengannya, mana mungkin dia memintamu jadi pacarnya".


Zara langsung diam dengan bibir mengerucut setelah mendengar jawaban Fandy.


"Mana mungkin aku cemburu padamu. Aku dan dia tidak ada hubungannya sama sekali"


"Apa kamu yakin tidak memiliki hubungan sama sekali denganku? Bukannya kita sudah pacaran sejak beberapa hari yang lalu?".


Zara sangat terkejut ketika tiba-tiba Lathan bicara dibelakang telinganya.


"Aah! Kamu itu hantu ya? Selalu saja berjalan tanpa suara!" Zara menggerutu kesal setelah dikejutkan Lathan.


"Bukan aku yang hantu, tapi rasa cintaku yang akan terus menghantuimu" ujar Lathan dengan senyum yang gombal.


"Iih … Apaan sih. Sudahlah Fandy, aku pergi duluan!" Zara pun langsung pergi tanpa menunggu tanggapan Fandy dan Lathan. Namun setelah sedikit menjauh dari mereka Zara sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Apa-apaan dia? Gombalan yang sangat dipaksakan" gumam Zara sambil tersenyum dan menggelengkan kepala bersamaan.


"Tumben kamu datang siang? Apa ada masalah?" tanya Fandy setelah Zara menjauh dari mereka.


"Kamu tahulah masalah yang terjadi dihotelku? Semalam aku dan Ardhan tinggal dihotel untuk membantu papi. Karena itu aku sedikit terlambat".


Lathan menjelaskan sambil berjalan menuju kelas. Dari wajahnya terlihat kalau dia sangat lelah, namun berusaha untuk tetap kuat.


"Kamu terlihat sangat kacau" ujar Fandy sambil menggelengkan kepala.


"Aku tahu itu dan sekarang aku masih mengantuk".


Lathan langsung duduk dan meletakkan tasnya diatas meja. Lalu dia merebahkan kepalanya diatas meja dan menghadap jendela dengan tas sebagai bantalan. Dia menutup mata perlahan untuk sekedar menghilangkan rasa lelahnya.


"Sepertinya kamu memang sangat lelah" gumam Fandy yang memperhatikan Lathan.


Dari kejauhan, Zara pun memperhatikan apa yang dilakukan Lathan.


"Ada apa dengannya? Tumben sekali dia langsung tidur padahal baru tiba disekolah" pikir Zara sambil memperhatikan Lathan.


Zara terus memperhatikan Lathan dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya dia bertanya pada Fandy untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Fan! Sini!" ujar Zara sambil melambaikan tangan.


Fandy pun berjalan mendekat kearahnya.


"Ada apa dengan dia? Kenapa pagi-pagi begini dia sudah tertidur begitu? Apa dia sedang sakit?". Zara bertanya sambil menunjuk Lathan dengan dagunya, namun nada bicaranya terdengar acuh tak acuh.


Fandy pun menoleh pada arah yang ditunjuk Zara, lalu tersenyum.


"Oh, Lathan? Kamu tidak tahu kalau sedang ada masalah di hotel milik keluarganya? Sepertinya semalam dia tidak tidur karena sedang memikirkan masalah itu".


Fandy menjelaskan dengan singkat mengenai apa yang sedang terjadi pada Lathan. Dia tidak mengatakan dengan jelas kalau itu hanyalah masalah kecil untuk keluarga Lathan.


"Benarkah?" suara Zara terdengar lembut. Dia juga menatap Lathan dengan tatapan khawatir. Fandy hanya tersenyum melihat reaksi Zara.


"Jika kamu khawatir, kenapa tidak kamu dekati saja dia?" ujar Fandy dengan senyum menggoda.


"Apa?! Khawatir?! Siapa juga yang khawatir padanya? A-aku hanya merasa heran saja melihat dia yang tidur sebelum jam pelajaran dimulai".


Ekspresi Zara seketika langsung berubah. Dia yang sebelumnya menatap Lathan dengan tatapan khawatir, kini langsung memalingkan wajahnya dengan nada bicara yang sinis dan terbata-bata.


"Tidak papa jika kamu khawatir padanya. Lagipula dia sudah bilang kan kalau kalian pacaran?". Fandy tidak meninggalkan celah dan terus saja menggoda Zara yang kini terlihat salah tingkah.


"Jangan bicara sembarangan! Sana! Kembali ke tempat dudukmu!". Zara berusaha mengelak dan mendorong tubuh Fandy dengan perlahan. Namun dia tetap memperhatikan Lathan yang sepertinya benar-benar kelelahan.


...****************...

__ADS_1


Sementara itu, Radit kembali memeriksa apa yang didapatkan kedua putranya. Kini dia kembali menyelidiki tentang pria bernama Gerry dan juga wanita yang bernama Sofia Indratama.


"Halo, Candra. Bisa bantu aku menyelidik sesuatu?".


Radit sedang bicara dengan Candra melalui telepon karena dia sedang menghandel perusahaan Nugraha sementara Radit berada dihotel.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Candra menanggapi dengan sikap yang tenang.


"Tolong selidiki pria bernama Gerry dan juga wanita yang bernama Sofia Indratama. Sofia adalah pemilik hotel disekitar sini juga, dia juga mengelola perusahaan milik keluarganya".


Radit bicara dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa.


"Ada apa dengan mereka? Apa mereka terlibat dengan apa yang terjadi dihotelmu?" tanya Candra dengan dahi berkerut.


"Kamu sendiri akan tahu jawabannya nanti. Kuharap kamu segera memberikan hasilnya padaku. Aku beri waktu 2 hari"


"2 hari?! Kamu gila?! Aku …"


"Tut tut tut"


"Halo? Dit? Radit?! Selalu saja ditutup begitu saja. Dasar tidak sopan!".


Candra menatap kesal layar ponselnya sambil menggerutu setelah Radit mematikan sambungan telepon diantara mereka.


"Aku yakin kalau Sofia itu memiliki dendam pribadi. Tidak mungkin dia mengusikku sampai seperti ini hanya karena persaingan bisnis. Aku harus tahu dulu bagaimana duduk permasalahan ini sebenarnya sebelum aku menjatuhkannya kedasar jurang " gumam Radit setelah mengakhiri teleponnya dengan Candra.


...****************...


Hotel Sofia,


"Bagaimana perkembangannya? Apakah semuanya berjalan sesuai dengan rencana kita?" tanya Sofia pada orang kepercayaannya, Gerry.


"Ya, Bu. Semua bukti telah dihilangkan dan jika dalam 2 hari ini masih tidak ada petunjuk, maka kasus ini akan secara resmi ditutup".


Sofia mendengarkan dengan senyum manis dibibirnya. Dia merasa puas dengan kabar yang disampaikan Gerry.


"Kerja bagus. Kamu memang paling bisa diandalkan, Ger"


"Terimkasih bu. Lalu bagaimana dengan kondisi hotel kita?" tanya Sofia lagi yang masih tersenyum manis dan duduk santai.


"Sejauh ini hotel kita mengalami kemajuan karena banyak tamu yang biasanya menginap di hotel pak Radit, kini lebih memilih untuk menginap dihotel kita"


Senyum Sofia semakin lebar mendengar kabar kalau tamu hotel Radit lebih memilih untuk liburan dihotel miliknya.


"Bagus. Kamu harus tetap pertahankan ini. Dengan begitu hotel Radit akan lebih cepat bangkrut dan hotel kita akan diberikan keuntungan besar dari masalah itu semua" ujar Sofia dengan seringai licik dibibirnya.


"Baik, Bu"

__ADS_1


"Radit, tunggu saja. Kehancuranmu tidak akan lama lagi. Hahaha"


__ADS_2