Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Janji Radit Untuk Lathan


__ADS_3

"Papi? Sampai kapan kita akan diam saja dengan pelayan pribadi mami?" Lathan yang mulai tidak sabar datang keruang kerja Radit karena rasa penasaran dan kesalnya.


"Ada apa?" Radit menanggapi dengan sikap yang tenang sambil membaca dokumen ditangannya.


"Dia berusaha menghasutku agar membenci mami. Kenapa tidak langsung kita usir saja dia keluar? Papi juga bilang kalau kita akan kerumah nenek, tapi sampai sekarang kita belum pergi kesana" Lathan terus saja mengeluh pada Radit dengan bibir mengerucut.


"Bersabarlah. Jika kita pergi kerumah nenek sekarang, bukan tidak mungkin kalau Lidia juga akan menggunakan kakek dan nenekmu. Kamu tahu kan kalau kesehatan nenek masih belum stabil?" Radit berusaha memberikan penjelasan pada Lathan agar dia mengerti.


"Jadi maksud Papi, kita akan kesana setelah masalah pelayan pribadi mami ini selesai? Harusnya tidak perlu mencari pelayan pribadi. Aku sendiri bisa menjaga mami" Lathan terus saja menggerutu pada Radit mengenai masalah yang ditimbulkan Lidia.


"Papi hanya ingin mami tidak terlalu lelah dan merasa kesepian saat kita sedang tidak bersama dengan mami. Papi tidak tahu kalau akan ada orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat masalah dengan keluarga kita" Radit menanggapi dengan sikap acuh tak acuhnya.


"Aku ingin Papi menyelesaikan ini dengan cepat agar kita bisa segera bertemu dengan nenek!" Lathan bicara dengan nada merajuk.


"Iya, Papi janji akan segera menyelesaikan masalah ini secepatnya. Untuk itu kamu harus membantu agar rencana mereka bisa cepat selesai"


Lathan memicingkan mata karena bingung dengan apa yang dikatakan Radit


"Apa yang harus aku lakukan, Pih"


"Buatlah jarak dengan ibumu. Jangan terlalu dekat dengannya!". Mata Lathan membelalak tajam mendengar ucapan Radit


"Maksud Papi, aku harus bersikap seperti membenci mami?" tanya Lathan dengan raut wajah sedih dan kecewa.


"Ini hanya sementara saja. Mungkin 2 hari sudah cukup?" Radit berusaha membujuk Lathan, namun ketika dia melihat ekspresi wajah putranya, hati Radit pun terasa sakit


"Sayang, Papi juga akan sedikit memberi jarak dengan ibumu. Setelah lawan kita masuk perangka, kamu bisa melakukan apapun pada mereka? Bukankah kamu ingin mencoba memanipulasi data perusahaan? Kamu bisa melakukannya sampai mereka bangkrut jika dia benar-benar terbukti ingin menjebak kita"


"Papi serius? Papi tidak akan menahanku melakukan apapun yang aku mau?" tanya Lathan dengan antusias.


"Bukankah Papi sudah membiarkanmu membuat mereka sedikit panik? Nanti kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. Papi akan ajarkan semuanya padamu"


"Horeeee... janji ya Pih! Aku akan menagih ini saat semuanya sudah selesai" Lathan berteriak kegirangan karena Radit akan mengajarinya dan juga dia bisa melakukan apapun pada perusahaan Surya

__ADS_1


"Asalkan kamu bisa bekerja sama dengan Papi dan membuat mereka percaya kalau hubungan kita dengan mami terganggu"


"Ya, Pih. Aku mengerti" jawab Lathan disertai anggukkan kepala perlahan


"Baik. Kalau begitu besok kita akan mulai bermain. Ingat untuk tidak terlalu memperdulikan mami"


"Baik, Papi"


***


Keesokan harinya Lathan sedang bersiap untuk pergi ke sekolah dan Radit masih mempelajari jadwal kerjanya hari ini.


"Lathan, apa kamu ingin Mami buatkan bekal makanan?" tanya Andra dengan lembut pada Lathan.


"Tidak perlu, Mih. Aku sudah terkambat. Aku akan makan disekolah saja. Ayo, Pih aku ada kegiatan pagi disekolah" Lathan mengabaikan Andra dan meminta Radit untuk segera mengantarkannya


"Ya ya, Papi akan mengantarkanmu. Aku pergi dulu ya sayang. Jangan terlalu lelah. Ingat untuk menjaga calon anak kita" Radit mengiyakan Lathan lalu berpamitan pada Andra.


"Ada apa dengan Lathan ya? kenapa aku merasa hari ini agak aneh?" gumam Andra yang sedikit bingung dengan sikap Lathan yang sedikit mengabaikannya.


"Mungkin den LathanĀ  memang sedang terburu-buru, Bu. Atau mungkin ... dia tidak suka jika ada anak lain yang akan mencuri perhatian kalian darinya?" Lidia yang berdiri dekat Andra masih berusaha untuk memanas-manasi Andra


Andra tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Lidia. Dia hanya diam dan berpikir


"Bu, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tanya LIdia berusaha membawa Andra keluar.


"Tidak. Aku sedang tidak ingin pergi kemanapun" Andra langsung menolak ajakan Lidia padanya.


"Baiklah, kalau begitu saya akan kembali kebelakang. Jika ibu membutuhkan saya, ibu bisa langsung memanggil saya" ujar Lidia sambil membawa piring kotor ditangannya.


"Hmn ..."


"Apa yang direncanakan kak Radit dan Lathan? Mereka tidak sedang bermain dibelakangku kan?" pikir Andra sambil melirik pada Lidia

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa mendekatkan pak Surya dengan bu Andra? Sekarang saja bu Andra tidak ingin pergi keluar. Tidak mungkin jika aku membawa pak Surya datang kemari, kan?" gumam Lidia sambil mencuci piring.


"Satu-satunya cara adalah aku harus mendekati pak Radit dan membuat bu Andra melihatnya sendiri, dengan begitu dia akan marah dan meninggalkan rumah. Benar seperti itu" gumam Lidia lagi dengan seringai tipis dibibirnya. Dia sudah tidak sabar untuk mulai menjalankan rencananya dan melihat reaksi Andra.


***


DIkantor Radit


"Candra, tolong carikan aku alat penyadap dan kamera pengintai". Candra mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya hampir menyatu


"Untuk apa? Kamu akan main mata-mata lagi?" tanya Candra memastikan tujuan permintaan Radit.


"Ya, aku akan bermain menangkap mata-mata dan membuat mereka menyesal karena berani menjadi penyusup" Radit bicara dengan senyum yang terlihat menyeramkan.


"Ada apa dengan senyummu itu? Rasanya menakutkan. Haah ... baiklah, kali ini siapa teman bermainmu?" tanya Candra yang semakin penasaran.


"Bukan bermain denganku, melainkan dengan anakku"


"Apa?! Kamu mengajarkan Lathan bermain dengan permainanmu diusia dia yang sekarang?! Apa kamu gila! Dia itu masih terlalu kecil untuk menjadi iblis. Apa kamu akan membesarkan dia menjadi raja iblis nantinya?!" Candra sangat terkejut dengan mulut menganga dan mata membelalak mendengar jawaban dari Radit.


"Jika itu diperlukan? Aku tidak akan membiarkan dia jadi malaikan yang lugu dan polos ditengah kehidupan kami yang keras. Tentu kamu tahu bagaimana resikonya jika dia menjadi malaikat dalam keluarga kami?". Candra terdiam mendengar jawaban Radit. Tentu saja dia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Radit setelah apa yang menimpa orang tua Lathan.


"Baiklah, aku tidak akan menahanmu. Tapi aku berharap kalau kamu tidak terlalu keras dalam mendidik Lathan. Aku takut jika dia tidak akan sanggup menerima pelatihan gila darimu itu?"


"Kamu tenang saja. Lathan bukan anak sembarangan. Tidak lama lagi dia pasti akan bisa mengalahkanmui. Dia akan jadi pemimpin hebat nantinya" Radit bicara dengan sangat bangga dan membuat Candra hanya bisa mencibir Radit dengan raut wajah kesal.


"Cih sombong. Kamu pikir hanya kamu saja yang punya anak? Semua orang tua juga selalu yakin kalau anaknya akan jadi pemimpin hebat, tapi itu masih lama dan kita belum bisa menjamin hal itu"


"Tentu saja aku sudah bisa menjamin anakku akan jadi pemimpin yang disegani. Karena aku akan mulai melatihnya dari sekarang"


"Kamu gila! Lathan itu bahkan belum genap beusia 7 tahun. Bagaimana bisa kamu memberikan pelatihan setan padanya?"


"Tentu saja aku tidak akan memulai semua latihannya sekarang. Aku akan memulainya sesuai dengan apa yang diinginkan Lathan. Aku yakin kalau dia akan menguasai semuanya. Mulai dari beladiri, IT dan juga bisnis karena itu adalah dasar dari keluarga Kusuma"

__ADS_1


__ADS_2