Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kebersamaan Andra, Radit dan Lathan


__ADS_3

"Kak Radit, apa yang sedang kamu pikirkan?" Andra mendekati Radit yang sedang berdiri dibalkon sambil memandang kelangit yang penuh dengan bintang. Dia berdiri disampingnya dan menyandarkan kepalanya pada bahu Radit.


Radit melingkarkan sebelah tangannya pada pundak Andra.


"Tidak ada. Hanya saja beban yang selama ini berada dipundakku rasanya terangkat" ujar Radit dengan suara yang lembut.


"Apa maksud Kak Radit … mengenai Lathan?"


"Ya, selama ini aku selalu takut jika Lathan tidak mau menerimaku sebagai ayahnya. Aku takut kalau dia membenciku setelah tahu kalau aku ini bukanlah ayah kandungnya" Radit tersenyum ketir saat dia menceritakan isi hatinya


"Lathan itu cerdas dan dia juga sangat menyayangi Kak Radit, jadi tidak mungkin kalau Lathan akan dengan mudah membenci Kak Radit. Apalagi Kakak yang sudah menyayangi dan membesarkannya selama ini" Andra bicara dengan lembut saat dia membesarkan hati sang suami.


"Ya, mungkin begitu. Ini hanya kekhawatiranku saja. Sayang bagaimana kondisimu? Apa kamu merasakan keluhan sesuatu?"


"Keluhan?Keluhan seperti apa?" Andra terlihat tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Radit.


"Sayang, kamu itu sedang hamil. Biasnya Wanit yang sedang hamil akan merasa mual, pusing atau mungkin menginginkan suatu makanan yang tiba-tiba ingin dimakan" Radit bicara dengan sikap yang sedikit acuh tak acuh.


"Ehm … ku tidak merasakan apapun. Apa mungkin kehamilanku tidak normal ya?" Andra menatap Radit dengan tatapan penuh tanya.


"Jangan bicara sembarangan. Mungkin saja memang kehamilanmu tanpa gejala. Yang aku tahu kehamilan setiap orang itu kan berbeda-beda. Jadi tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak" Radit mengecup pucuk kepala Andra dengan lembut saat dia bicara.


Tok tok tok


Ketenangan pasangan itu terganggu ketika suara pintu diketuk. Radit melepaskan tangannya dari pundak Andra dan berbalik.


Tok tok tok


"Siapa yang mengganggu kita dimalam hari yang indah ini?" Radit bicara sambil menggerutu kesal, namun dia tetap berjalan kearah pintu yang tidak berhenti berbunyi itu.


Tok tok tok


"Ya sebentar" Radit menatap dingin pada seseorang yang ada dibalik pintu itu..


"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini? Bukannya sekarang sudah waktunya untuk tidur?" sambung Radit dengan sikap yang dingin.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur. Aku ingin tidur disini bersama mami dan papi" ujar Lathan dengan sikap yang tenang.


"Ada siapa, Kak?" teriak Andra dari dalam kamar.


"Bukan siapa-siapa. Hanya pengganggu yang lewat" balas Radit yang juga berteriak.


"Sebaiknya kamu kembali kekamarmu. Jangan mengganggu mami dan Papi" ujar Radit dengan sikap yang dingin.


Lathan yang sebelumnya bersikap tenang seketika langsung merubah ekspresi wajahnya.


"Papi tidak kasihan padaku? Aku ini baru keluar dari rumah sakit. Kondisiku juga belum pulih sepenuhnya. Papi tega membiarkan aku tidur sendiri dikamar yang asing ini?" Lathan bicara dengan raut wajah sedih. Namun Radit menanggapinya dengan sikap yang dingin sambil menyilangkan kedua tangan didada dan berdiri diambang pintu.


"Papi tahu kalau kamu berbohong. Kamu sengaja bilang begitu karena tidak ingin tidur sendiri kan?" Radit bertanya pada Lathan dengan nada mencibir.


"Kak, kenapa diam saja dipintu? Memang siapa yang datang?" Andra yang penasaran karena Radit sangat lama, langsung mendekatinya dengan sikap tenang.


"Eh? Lathan, kenapa kamu disini? Ada apa sayang?" Andra membungkukan tubuhnya untuk menyamai tinggi Lathan dan bertanya dengan sangat lembut.


"Mami, aku tidak bisa tidur. Aku tidak ingin tidur sendiri. Bolehkah aku tidur disini dengan Mami?" ujar Lathan dengan tatapan memohon.


"Tentu saja sayang. Kamu …"


"Kak Radit. Lathan kan belum pulih. Apa salahnya jika dia tidur dengan kita? Toh tidak setiap malam ini kan? Ayo sayang"


"Wee". Lathan pun merasa puas ketika Andra membelanya. Tanpa Andra sadari, dia mengejek sang ayah dengan menjulurkan lidahnya pada Radit.


"Dasar bocah. Awas saja kamu ya" gumam Radit mencibir Lathan setelah putranya melewatinya masuk ke kamar.


"Nah Lathan, kamu tidur ditengah ya. Biar Mami dan Papi yang menjagamu dipinggir agar kamu tidak jatuh"


"Iya, Mih" Lathan langsung mengangguk dengan ceria saat Andra memintanya untuk tidur diantara dia dan Radit.


"Sekarang tidurlah! Besok kita akan bermain dengan nenek"


"Selamat malam, Mami, Papi" Lathan langsung berbaring diantara Radit dan Andra

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu tidak tidur dikamarmu saja? Ini bukan pertama kalinya kita menginap disini dan biasanya juga kamu tidur sendiri" Radit berbisik pada Lathan sambil berbaring disebelahnya sehingga Andra tidak tahu kalau mereka sedang bicara.


"Memangnya kenapa, Pih? Mami saja tidak masalah aku tidur disini. Kenapa Papi yang malah sewot?" Lathan pun menanggapi Radit juga dengan berbisik.


"Mami memang tidak masalah, tapi Papi yang merasa kalau ini adalah masalah besar. Kamu mengganggu waktu berharga Mami dan Papi"


"Aku tidak peduli. Pokoknya untuk sekarang ini aku akan lebih sering menghabiskan waktu dengan mami. Papi tidak bisa melarangku"


"Kalian membicarakan apa? Kenapa kalian tidak tidur?" Andra yang baru saja memejamkan mata kembali membuka matanya setelah samar-samar mendengar suara Lathan dan Radit.


"Tidak ada Mih. Papi hanya bilang kalau mulai sekarang aku bisa tidur dengan Mami kapan saja aku mau. Iya kan Pih?" Lathan memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan izin tidur bersama Andra.


Radit yang merasa dijebak langsung menatap Lathan dengan sorot mata yang tajam.


"Kapan Papi mengatakan itu?" ujar Radit kesal.


"Tadi Papi yang bilang begitu" Lathan berusaha meyakinkan Andra kalau apa yang dikatakannya adalah kebenaran.


"Tidak. Papi tidak mengatakan hal itu sama sekali. Lathan, jangan cari-cari kesempatan untuk bisa tidur dengan Mami ya! Papi tidak akan biarkan kamu melakukan itu!"


"Ah! Papi hentikan! Itu geli! Cukup Papi!" Radit yang tidak suka diganggu Lathan akhirnya menggelitik perut Lathan hingga dia terpingkal-pingkal.


Hahaha


"Papi, hentikan!"


"Papi tidak akan berhenti sampai kamu minta ampun pada Papi. Dan bilang kalau kamu tidak akan mengganggu Papi dan Mami lagi!" Radit terus menggelitik Lathan, sementara Andra terbahak melihat ayah dan anak itu.


"Hahaha... Kak Radit, cukup! Kasihan Lathan. Itu tidak bagus untuk lukanya" Andra yang terbahak pun berusaha berhenti tertawa dan juga menghentikan Radit.


"Ya kamu benar. Apa kamu baik-baik saja, Lathan?" Radit pun akhirnya berhenti dan menanyakan keadaan Lathan.


"Iya Pih. Aku baik-baik saja. Apalagi jika Papi mengizinkan aku untuk selalu tidur dengan Mami" Lathan menanggapi Radit dengan napas yang terengah-engah.


"Itu tidak akan Papi biarkan. Mamimu ini hanya untuk Papi. Apalagi kalau malam hari" Radit mengedipkan sebelah mata pada Andra saat dia bicara.

__ADS_1


"Berarti kalau siang hari, mami hanya untukku saja ya Pih?"


"Kalian ini. Memangnya Mami ini barang yang bisa dibagi. Mami ini punya kalian berdua jadi tidak bisa dibagi-bagi, karena Mami hanya ingin kalian berdua"


__ADS_2