Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Keributan Disekolah Ardhan


__ADS_3

Sebelumnya disekolah Ardhan,


"Kamu yakin cukup antar sampai sini saja?" tanya Lathan begitu dia tiba didekat sekolah Ardhan untuk mengantarkannya.


"Ya, jika Kakak mengantarku sampai ke depan gerbang, semua orang akan heboh karena mobil yang Kakak pakai ini".


Ardhan menanggapi dengan sikap yang tenang disertai senyum tipis dibibirnya.


"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?".


Lathan memicingkan mata dengan tatapan yang tajam saat dia bertanya pada sang adik.


"Tidak ada. Aku baik-baik saja" ujar Ardhan menanggapi Lathan.


"Kamu yakin, tidak butuh bantuan dariku?"


Lathan yang masih merasa cemas kembali bertanya pada Ardhan untuk memastikannya.


"Tentu saja. Aku sudah bilang jika aku merasa kesulitan, maka aku akan memberitahu Kak Lathan".


"Benar ya? Kamu harus memberitahukan hal itu langsung padaku jika kamu mengalami kesulitan. Jangan menyimpannya sendiri dalam hatimu".


Lathan kembali mengingatkan Ardhan mengenai apa yang harus dia lakukan.


"Baik, Kakak. Aku mengerti. Ah, ini sudah hampir terlambat. Aku harus segera masuk. Sampai jumpa nanti, Kak".


Ardhan tersenyum ceria saat dia turun dari mobil Lathan dan melambaikan tangan padanya. Tapi begitu dia berjalan sedikit menjauh dari mobil Lathan, sorot matanya berubah tajam.


Begitu aku melewati gerbang itu, maka hidupku dipertaruhkan. Persetan dengan yang namanya sekolah. Aku hanya akan menunjukkan pada mereka kalau aku bukanlah orang yang akan dengan mudah ditindas begitu saja.


Batin Ardhan menggerutu dengan apa yang terjadi di sekolahnya sendiri.


Ardhan pun mulai melewati gerbang sekolah. Dia berjalan dengan tenang dan gagah. sorot matanya tajam dengan ekspresi wajah dingin. Seperti yang Ardhan duga sebelumnya 4 orang senior yang sebelumnya menindas Ardhan, kembali berdiri didepannya dan menghalangi jalan Ardhan.


"Hei anak baru! Kenapa baru datang? Kamu tidak tahu kalau siswa disini harus datang 30 menit sebelum jam belajar dimulai?" ujar senior kemarin yang bersikap sombong pada Ardhan. Dia bernama Bobi.


"Aku baru tahu ada peraturan seperti itu. Karena sekarang tinggal 15 menit lagi sebelum jam belajar dimulai, maka sudah waktunya untukku masuk ke kelas. Permisi"


Ardhan bersikap tenang lalu berjalan melewati 4 orang senior pria yang paling ditakuti disekolah itu.


"Mau pergi kemana? Kami belum memberikan izin padamu untuk pergi kekelas".


Bobi menarik tas Ardhan sehingga langkah kakinya terhenti.


"Aku sama sekali tidak membutuhkan izin darimu" ujar ardhan dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh.


"Berani kamu ya. Dasar anak baru sombong. Ayo bawa dia ke belakang sekolah!".


Bobi meminta teman-temannya untuk membawa Ardhan ke belakang sekolah. Mereka pun menarik paksa Ardhan. Banyak yang melihat kejadian itu namun tidak ada yang berani menahan Bobi atau melaporkan hal itu kepada pihak guru.


Tak berapa lama, mereka pun tiba dibelakang sekolah. Mereka menghempaskan pegangan pada Ardhan hingga dia tersungkur, namun karena pertahanan kaki Ardhan sangat bagus, Ardhan tidak sampai terjatuh.


"Siapa namamu kemarin? Ardhan? Ya, Ardhan. Kamu itu siswa baru disekolah ini. Harusnya kamu tahu diri kalau kamu hanya anak baru. Kamu tidak mungkin tidak tahu kalau kami ini adalah senior yang lebih berkuasa darimu, kan? Kamu harus hormat pada kami".

__ADS_1


Bobi terus saja mengoceh, namun Ardhan menanggapinya dengah sikap tenang dan acuh tak acuh.


"Sebenarnya kamu itu mengerti atau tidak sich dengan apa yang kami katakan?!" sambung Bobi lagi dengan ekspresi wajah yang mulai kesal, namun Ardhan tetap tidak menanggapinya.


"Sepertinya anak baru ini memang harus diberi pelajaran. Roy, maju!"


Hiaaat !!!


"Apa? Dia bisa menghindar?" Bobi sangat terkejut ketika Ardhan berhasil menghindar dari pukulan Roy


Sat set sat set


Bugh


Plak


"Ah!"


Roy terus berusaha memukul Ardhan, namun pukulannya sama sekali tidak ada yang berhasil. Justru malah dia yang dipukul Ardhan hingga jatuh tersungkur.


"Don, maju!"


Kali ini giliran Doni yang maju melawan Ardhan, taoi hasilnya sama. Dia sama sekali tidak berhasil memukul Ardhan malah dia yang dipukul hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah.


"Kurang ajar! Hiyaat!".


Sat set sat set


Bugh!


Ardhan memegang ujung bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah. Setelah itu dia meludahkan darah itu dan menunjukkan seringai tipis dengan tatapan mata yang tajam.


Ardhan pun maju terlebih dahulu melawan Bobi.


Sat set sat set


Bag big bag bug.


Dalam sekali serang dia berhasil menghajar Bobi beberapa kali hingga Bobi terjatuh ke tanah. Temannya berusaha melawan Adrhan agar dia mengalihkan perhatiannya dari Bobi, namun tidak berhasil. Roy, Doni dan Max juga mendapat pukulan dari Ardhan. Satu kali pukulan yang diterima Ardhan dia kembalikan pada mereka lebih dari sekali.


Setelah itu Ardhan berhenti memukul para seniornya itu.


"Ingat, apa yang kalian lakukan padaku, pasti akan ku kembalikan melebihi apa yang aku dapatkan. Ini belum seberapa, jika kalian tidak percaya, silahkan coba lagi dan aku akan buktikan ucapanku".


Ardhan bicara dengan sikap yang dingin pada Bobi dan teman-temannya yang terduduk ditanah dengan wajah babak belur. Setelah itu dia pun meninggalkan mereka dengan seringai dibibirnya.


"Sialan kamu! Akan kami tunjukkan siapa kami sebenarnya. Tunggu saja!".


Bobi yang tidak terima dikalahkan oleh Ardhan berteriak sambil mengancam Ardhan yang kini sudah semakin jauh.


Ardhan kembali melenggang dengan santai menuju kelasnya. Dia menghapus sedikit darah yang ada diujung bibirnya. Ardhan pun berbelok menuju wc untuk melihat luka dipipinya sebelum dia pergi kekelas.


"Haah … gawat. Bagaimana ini? Jika mami dan papi tahu mengenai pipiku, sudah pasti mereka akan membuat keributan disekolah ini. Apa yang harus aku lakukan?".

__ADS_1


Ardhan bicara sendiri saat melihat ada sedikit memar dipipinya. Dia menghela napas panjang sambil membayangkan apa yang akan dilakukan oleh kedua orang tuanya. Tidak, sebelum orang tuanya yang maju, sudah pasti kakaknya yang akan maju duluan.


"Yaah, mau ga mau aku harus cerita pada kak Lathan lebih dulu" gumam Ardhan lagi saat dia mengambil keputusan.


Setelah dirasa cukup, Ardhan kembali ke kelasnya. Dia sedikit terkejut begitu melihat ada guru dikelasnya dan memintanya ikut ke ruang guru.


"Ardhan, ikut saya ke kantor!"ujar guru itu dengan wajah sinis


"Cepat juga mereka".


Ardhan menyeringai sambil berjalan mengikuti pak guru.


Setelah tiba dikantor, terlihat Bobi dan teman-temannya sedang mengeluh kesakitan sambil bercerita mengenai apa yang telah terjadi pada mereka.


"Dia pelakunya. Ya, dia yang memukul kami sampai seperti ini" ujar Bobi sambil menunjuk Ardhan yang baru masuk.


"Ardhan, kita selesaikan ini dikantor kepala sekolah" ujar guru yang menjemput Ardhan tadi, mereka semua pun langsung pergi ke kantor kepala sekolah.


Tok tok tok


"Masuk!" setelah kepala sekolah nemberikan izin, mereka semua pun masuk


"Ada apa ini?" tanya kepala sekolah begitu melihat wajah Bobi dan teman-temannya babak belur.


"Ini ulah anak baru itu Pak. Dia yang sudah membuat kami semua seperti ini". Bobi langsung mengeluh pada kepala sekolah.


"Kenapa kamu memukul mereka? Kamu tidak tahu siapa mereka? Mereka itu seniormu dan orang tua mereka juga donatur tetap disekolah kita" ujar kepala sekolah yang langsung memarahi Ardhan.


"Mereka semua yang menyerangku lebih dulu, dan juga tidak ada urusannya denganku mengenai siapa mereka".


Ardhan menanggapi dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh.


"Kamu ini siswa baru, masih panjang perjalananmu disekolah ini. Harusnya kamu tidak melakukan hal yang akan membuatmu susah kedepannya".


Kepala sekolah memberikan arahan yang justru lebih berpihak pada Bobi dan teman-temannya. Ardhan sedikit melirik Bobi yang tersenyum bangga karena mendapat dukungan dari kepala sekolah.


"Masih ada anda disekolah ini. Kalaupun tidak ada anda, masih banyak para guru yang bisa membantu saya" ujar Ardhan dengan sikap yang tenang.


"Apa maksudmu?" tanya kepala sekolah dengan raut wajah bingung.


Ardhan pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu yang dia temukan sebelumnya pada kepala sekolah.


"Ini... bagaimana kamu bisa mendapatkan ini?!" wajah kepala sekolah mulai pucat saat melihat isi ponsel Ardhan.


"Bukan urusan anda. Sekarang anda tahu kan, apa yang harus anda lakukan?" ujar Ardhan sambil tersenyum manis.


Glek …


Kepala sekolah menelan salifanya sendiri dan menatap Ardhan dengan canggung.


"Ka-kamu boleh kembali kekelasmu. Jangan membuat keributan lagi" ujar kepala sekolah pada Ardhan.


"Terimakasih. Permisi".

__ADS_1


Ardhan tersenyum puas dan menatap Bobi dengan penuh kemenangan. Hal itu membuat Bobi dan teman-temannya terlihat bingung, begitupun dengan guru yang menjemput Ardhan tadi.


"Bagaimana bisa dia lolos begitu saja?"


__ADS_2