
Andra terlihat bingung dengan ekspresi Radit
"Kenapa kak Radit tersenyum seperti itu?" Tanya Andra dengan memiringkan kepala sambil menahan selimut yang menutupi setengah bagian tubuhnya
"Tidak, aku hanya merasa senang karena ternyata ini juga pertama kalinya untukmu" Ujar Radit dengan nada bicara yang menggoda sambil menunjuk pada bercak darah yang ada di tempat tidur mereka
"Ach, kakak pikir aku sudah berapa kali melakukannya? Aku bukan wanita seperti itu!" Andra langsung merasa malu, wajahnya terlihat merah karena ucapan Radit
"Bukan seperti itu. Aku hanya senang karena ini menjadi pengalaman pertama bagi kita" Radit menjelaskan kalau ini juga pertama kali untuknya
"Maksud kak Radit? Ini juga pertama kali bagi kakak? Bagaimana mungkin? Kakak kan sudah punya Lathan?" Andra memicingkan mata menatap Radit dengan wajah bingung dan penuh curiga
"Pergilah bersihkan dirimu lebih dulu. Nanti kita akan kembali ke kamar. Kasihan Lathan sendiri"
Radit bicara dengan lembut pada Andra disertai senyum lembut di bibirnya
"Baiklah. Aku akan mandi dulu" Andra beranjak dari hadapan Radit dan pergi ke kamar mandi
"Sayang, aku ingin membawamu pergi bertemu dengan orang tuaku. Besok kita akan langsung kerumah mama dan papa dari sini" Radit bicara pada Andra yang sedang mandi. Andra tidak memberikan jawaban namun dia mandi dengan cepat agar bisa bicara dengan langsung pada Radit.
Tak berapa lama Andra pun keluar dengan masih mengenakan jubah mandi
"Kak Radit tadi bilang apa? Kita akan menemui papa dan mama? Besok? Secepat itu?" Andra yang tak percaya langsung bertanya dengan raut wajah penasaran dan mata membelalak. Dia menuntut jawaban yang jelas dari Radit
Radit tersenyum melihat sikap Andra yang menggemaskan karena panik
"Iya, besok kita akan langsung kerumah mama dan papa. Tapi kita akan bereskan dulu urusan disini" Jawab Radit dengan sikap yang tenang
"Baiklah. Tapi, apa orang tua kak Radit akan menerimaku?" Andra terlihat khawatir dengan sikap Leo dan Vio nanti
"Tidak perlu berpikiran macam-macam. Aku akan mandi dulu" Radit mengusap lembut kepala Andra kemudian beranjak pergi untuk mandi
***
Sementara di tempat pesta Danu dan Asya masih berada disana dan membahas masalah yang baru saja terjadi saat di pesta
"Bu, bagaimana ini? Radit pasti tidak akan membiarkan kita begitu saja. Kita harus cari cara untuk bisa membebaskan diri dari cengkeraman Radit. Ibu tahu sendiri kan bagaimana kalau mereka bertindak?" Lulu terlihat panik membayangkan kalau Radit akan membalas dendam atas apa yang mereka lakukan pada Andra
"Kamu tenang saja, ibu sudah punya rencana lain. Sebelum mereka menyerang kita, kita akan menyerang mereka lebih dulu" Asya tersenyum sinis mengingat rencana yang sudah dia siapkan
"Rencana apalagi yang kamu miliki? Mulai sekarang, aku sudah tidak ingin lagi terlibat dengan keluargamu" Danu yang sejak tadi diam dan memperhatikan, kini mulai berbicara dengan nada yang sinis
"Tapi pak, bukannya anda ingin menikahi Andra? Apa sekarang anda sudah tidak ingin memilikinya lagi?" Luna membuka suara agar Danu tetap membantu mereka untuk mengusik Andra
__ADS_1
"Aku sudah tidak tertarik lagi padanya. Daripada perusahaanku hancur, lebih baik aku melupakan dia saja. Masih banyak gadis lain yang tak kalah cantik dari Andra" Danu pun langsung berbalik dan pergi setelah dia selesai bicara
"Bu, sekarang pak Danu juga tidak bisa membantu kita. Apa yang harus kita lakukan?" Luna merengek dengan manja pada sang ibu
"Kamu tenang saja. Kita bisa menghancurkan Andra tanpa bantuan orang lain. Untuk itu, ibu ingin besok kamu melakukan wawancara dengan media" Luna dan Lulu saling menatap bingung dengan apa yang direncanakan sang ibu
***
Andra dan Radit telah selesai mandi dan beranjak pergi meninggalkan kamar
Ceklek
Andra dan Radit masuk kedalam kamar dan berjalan dengan perlahan
"Lathan" Andra mempercepat langkahnya dan mendekati sofa ketika melihat ternyata Lathan menunggu mereka sampai tertidur di sofa
"Kak, sepertinya Lathan menunggu kita sampai ketiduran disini" Ujar Andra kepada Radit yang telah berdiri disampingnya
"Sepertinya begitu. Biar aku pindahkan dia ke tempat tidur"
"Hati-hati kak"
Radit pun menggendong Lathan dan membaringkannya dengan hati-hati
"Mami tidak akan meninggalkan kamu dan juga papi" Bisik Andra kemudian mencium kening Lathan
Radit tersenyum melihat kasih sayang Andra pada Lathan
"Suatu hari nanti aku akan cerita semuanya padamu" Ujar Radit berkata dalam hati
"Istirahatlah, kamu pasti kelelahan" Radit bicara sambil mengusap kepalanya
"Baik" Andra dan Radit pun berganti dengan pakaian tidur dan tidur disamping Lathan
Keesokan paginya, Lathan bangun dengan Andra berada disampingnya
"Selamat pagi mami" Sapa Lathan begitu membuka mata
"Selamat pagi sayang" Andra menjawab dengan senyum lembut meskipun matanya belum benar-benar terbuka semuanya, kemudian dia memeluk Lathan
"Semalam mami pulang jam berapa? Aku menunggu kalian sampai tertidur di sofa" Tanya Lathan yang berada dalam pelukan Andra
"Mami dan papi pulang terlalu larut. Maafkan kami ya?"
__ADS_1
"Iya tidak papa" Lathan membenamkan kepalanya dalam dekapan Andra. Dia sangat menikmati kehangatan yang diberikan ibunya itu
"Kalian mau tidur sampai kapan?" Andra dan Lathan tidak menyadari kalau Radit memperhatikan mereka sambil menikmati kopi paginya
"Papi. Aku kira papi sudah pergi. Biasanya aku tidak pernah melihat papi saat pagi hari seperti ini" Ujar Lathan dengan nada bicara yang manja
"Kamu mengusir papi? Papi hanya akan mengecek keadaan hotel setelah itu kita akan pulang kerumah kakek dan nenekmu" Radit menjawab Lathan sambil berjalan mendekat kearahnya. Kemudian dia duduk di samping Lathan
"kerumah kakek dan nenek buyut lagi?" Tanya Lathan dengan wajah penasaran
"Bukan. Tapi kerumah kakek Leo dan nenek Vio" Lathan seperti terkejut mendengar kalau mereka akan pergi kerumah Leo
"Tapi pih, selama ini papi tidak pernah mengajakku kesana, kenapa sekarang kita harus pergi kesana?"
"Karena papi harus mengenalkan ibumu pada mereka. Lagipula kamu itu cucunya mereka. Pasti kakek dan nenekmu sangat merindukanmu selama ini" Radit memberikan pengertian dengan sangat lembut
"Sekarang kalian mandi dna bersiap. Kita akan sarapan di bawah " Sambung Radit pada anaknya
"Bqik papi" Lathan melompat dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi
"Kak, apa kakak sudah yakin kalau kita akan pergi kesana sekarang? Aku sangat gugup. Apa yang akan kita bawa untuk oleh-oleh dari sini?" Andra bertanya dengaj wajah bingung
"Tidak perlu membawa apapun karena aku sudah membawamu yang sekarang telah jadi menantu mereka" Andra tersenyum mendengar gombalan Radit
"Ternyata kak Radit itu pandai menggombal ya?"
Radit hanya tersenyum mendengar ucapan Andra
Mereka akhirnya keluar dari kamar dan berjalan menuju restoran yang terletak dilantai bawah. Andra, Radit dan Lathan merasa bingung karena tatapan semua orang yang tertuju pada mereka
"Mami kenapa semua orang menatap kita?" Tanya Lathan heran
"Mami juga tidak tahu sayang" Disaat mereka kebingungan, Dita datang menghampiri Radit.
"Selamat pagi pak" Sapa Dita dengan sopan
"Selamat pagi" Radit menjawab dengan sikap yang tenang
"Kita memiliki masalah pak"
"Masalah apa?" Radit memicingkan mata menatap Dita penuh tanya
"Ini pak ada gosip kalau anda sudah menikah dan membuat istri anda yang sebelumnya sangat patuh dan hormat kepada orang tua, kini jadi pembangkang setelah menikah dengan anda" Radit mulai membaca berita di majalah online itu dan tersenyum mencibir
__ADS_1
"Cih, jadi ini cara yang dia gunakan? Kita lihat sejauh mana kamu mengajakku bermain"