Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Usaha Gio Kembali Mendekati Andra


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Andra sedang duduk dikantornya sambil membaca dokumen ditangannya. Perhatiannya sejenak teralihkan setelah terdengar suara ketukan pada pintunya


Tok tok tok


"Masuk!" Andra mengizinkan orang itu masuk tanpa tahu siapa yang mengetuk pintu


"Permisi bu Andra, ada kiriman bunga untuk bu Andra" Ujar office boy dengan membawa sebuah karangan bunga untuk Andra


"Bunga? Siapa pengirimnya?" Andra memicingkan mata penasaran dengan nama pengirim bunga itu


"Ini ada kartu di dalamnya bu" Kata office boy sambil memberikan bunga itu pada Andra


"Baiklah, terimakasih" Andra menerima bunga itu dan melihat kartu didalamnya. Dikartu itu tertulis nama Gio dengan sebuah kata-kata


Untuk yang terkasih, Andra


Bunga ini melambangkan kecantikanmu. Tidak, bahkan kecantikanmu tidak bisa dikalahkan oleh indahnya bunga ini. Aku melakukan kesalahan karena tidak pernah mengungkapkan rasa sayangku padamu. Tapi sekarang aku sadar kalau aku tidak bisa melupakanmu. Aku tidak akan mengganggumu, aku hanya ingin kamu  tahu mengenai perasaanku padamu


Andra mengerutkan dahi menatap dan mengerucutkan bibir saat membaca kartu ucapannya


"Sepertinya Gio memang sudah gila. Bisa-bisanya dia bersikap seperti ini padahal tahu kalau aku sudah menikah" Andrapun melemparkan bunga itu ke dalam tempat sampah di samping mejanya


"Rian, tolong keruangan ku sebentar!" Andra memanggil Rian melalui sambungan telepon


Tak berapa lama terdengar suara Rian yang mengetuk pintu


Tok tok tok


"Bu Andra memanggil saya?" Tanya Rian yang masih berdiri diambang pintu


"Ya, lain kali jika ada kiriman sesutu untukku tolong diperiksa dulu. Jika memang dari orang yang tidak dikenal lebih baik dibuang saja" Pinta Andra dengan sikap yang tenang dan tegas


"Baik, saya mengerti"  Rian langsung berbalik dan pergi kembali ke meja kerjanya


Entah bagaimana Luna bisa tahu mengenai Andra yang mendapatkan bunga dari seseorang. Diapun bertanya pada Office boy yang katanya memberikan bunga itu pada Andra


"Apa benar kamu yang menerima bunga untuk bu Andra? Kamu tahu bunga dari siapa itu?" Luna bertanya dengan antusias pada office boy. Dia terlihat tenang dengan kedua tangan berada diatas meja


"Ya, saya yang menerima bunga untuk bu Andra dari kurir, tapi saya tidak tahu siapa pengirimnya" Office boy itu menjawab dengan kepala tertunduk


"Baiklah. Kmu boleh kembali bekerja" Ujar Luna dengan sikap acuh tak acuh

__ADS_1


"Baik bu"


"Siapa sebenarnya yang mengirim bunga untuk Andra itu? Apa iya Radit?" Luna terus berpikir karena penasaran dengan pengirim bunga Andra


Sementara itu Gio sedang menghubungi toko bunga yang dia pesan untuk mengirim bunga pada Andra


"Bagaimana? Apa bunganya sudah dikirim?" Tanya Gio dengan senyum mengembang


"Sudah pak. Saya sudah kirim pesanan atas nama anda dengan aman. Tapi yang menerimanya bukan Bu Andra, melainkan seseorang office boy" Pekerja toko bunga menjelaskan dengan sopan


"Hemn... besok kirimkan bunga lagi kesana, kali ini kirimkan karangan mawar putih. Kata-katanya nanti saya berikan" Ujar Gio dengan sikap yang terkesan sombong


"Baik pak. Tinggal bapak kirimkan saja ucapannya pada saya. Saya jamin bunga dan kartu ucapannya akan terkirim dengan aman"


"Baiklah. Terimakasih" Gio pun mengakhiri panggilan teleponnya


Sejak hari itu dia mengirim bunga pada Andra setiap hari


"Bu Andra, ada kiriman bunga lagi untuk anda" Office boy mengantarkan karangan bunga untuk Andra


"Bukannya sudah ku katakan padamu sebelumnya untuk membuang bunga yang tidak jelas?" Andra terlihat kesal saat office boy dikantornya membawa sebuah karangan bunga untuknya


"Saya tidak berani kalau harus langsung membuangnya. Jadi saya beritahu ibu dulu baru nanti akan saya buang" Ujar office boy itu dengan ragu


"Baik bu. Kalau begitu saya permisi"


"Hemn" Andra menanggapinya tanpa menoleh dan tetap membaca dokumen ditangannya. Andra mengepal tangannya karena kesal kemudian dia menghubungi Gio


Tuut tuut tuut


Dari ujung telepon Gio tersenyum melihat nama yang tertera dilayar ponselnya


"Akhirnya kamu menghubungiku" Gumam Gio sebelum menerima telepon dari Andra


"Halo, Andra" Gio menjawab dengan nada yang ceria disertai senyum manis dibibirnya


"Gio, apa maksudmu mengirimiku bunga setiap hari?" Andra langsung bertanya pada Gio tanpa basa basi sedikitpun


"Apa kamu menyukainya? Aku ingin mengungkapkan padamu kalau aku benar-benar menyayangimu" Gio menjawab dengan ceria


"Kenapa kamu bersikap seperti ini? Kamu sendiri tahu kalau aku sudah menikah" Dari nada bicaranya terdengar kalau Andra sedang sangat kesal


"Aku tidak memaksamu untuk bercerai. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku menyukaimu" Gio bicara seakan tidak tahu malu

__ADS_1


"Sekarang aku sudah tahu kalau kamu suka padaku. Jadi kuharap kamu tidak menggangguku dengan mengirimkan bunga-bunga ini!" Andra bicara dengan sikap yang dingin pada Gio


"Baiklah, aku tidak akan mengirimkan bunga padamu lagi" Gio bicara dengan senyum tipis dibibirnya. Entah apa yang sedang dia rencanakan saat ini


"Terimakasih kalau begitu" Andra langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Gio


"Aku tidak akan menyerah Andra. Aku memang tidak akan memaksamu bercerai, tapi aku akan membuat Radit menceraikanmu"


Andra yang kesal karena Gio, langsung menghubungi Radit setelah menutup telepon darinya


Tuut tuut tuut


Tak berapa lama terdengar suara Radit dari ujung telepon


"Halo sayang" Suaranya terdengar sangat lembut dan membuat Andra yang kesal seketika merasa tenang


"Halo, kak Radit sedang apa? Apa sangat sibuk?" Andra bertanya dengan nada yang manja


"Aku sedang memikirkanmu. Hanya saja dokumen di hadapanku menggangguku" Ujar Radit dengan nada yang menggoda


Andra pun tersenyum mendengar ucapan Radit


"Sejak kapan kak Radit pintar menggombal?" Tanya Andra dengan dahi berkerut disertai senyum tipis


"Sejak… Aku mencintaimu" Ujar Radit lagi dengan sikap yang tenang


"Sudahlah, aku tidak ingin bercanda dengan kak Radit" Andra bicara dengan nada kesal namun sambil tersenyum


"Apa terjadi sesuatu? Sepertinya kamu sedang kesal?" Radit memicingkan mata curiga saat bertanya pada Andra


"Aku mendapatkan kiriman bunga lagi. Ini sudah kesekian kalinya dan aku juga sudah jelaskan kalau aku sudah menikah" Andra bicara dengan nada yang kesal


"Rupanya istriku sangat mempesona. Meskipun sudah tahu kalau kamu sudah menikah, tetap saja membuat pria terpesona" Radit malah menggoda Andra meskipun dia sedang kesal


"Itu bukan salahku. Aku sudah jelaskan padanya kalau aku sudah menikah. salah dia sendiri yang tidak mengerti" Andra bicara dengan sikap acuh tak acuh


"Hemn… baiklah aku mengerti. Nanti aku akan datang ke kantormu untuk menjemputmu" Ujar Radit dengan sikap yang tenang


"Itu sudah biasa. Tapi aku akan menunggumu datang" Jawab Andra dengan nada bicara yang lembut


"Ya sudah sampai jumpa nanti"


"Ya sampai jumpa kak Radit" Ujar Andra membalas ucapan Radit. Mereka pun menutup panggilan teleponnya

__ADS_1


"Hemn... Berani menggoda istriku. Apa aku harus main-main dengannya? Biarkan saja dulu, aku ingin lihat sejauh mana usahanya mendekati istriku. Aku juga ingin tahu apa yang akan Andra lakukan jika seorang laki-laki mendekatinya. Apa dia bermain manis dengan pria itu, atau dia bermain untuk menjatuhkan pria yang berusaha merusak rumah tangganya?"


__ADS_2