Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kekhawatiran Lathan


__ADS_3

Lathan terus saja diam setelah dia pulang dari sekolah. Bahkan saat makan pun Lathan tidak banyak bicara. Dia hanya diam sambil terus mengaduk makanan miliknya. Radit dan Andra pun saling menatap dan berbagi kode isyarat.


"Ada apa dengannya?" tanya Radit pada sang istri


"Aku juga tidak tahu. Sejak pulang sekolah dia tidak banyak bicara" Andra menanggapi Radit dengan kedua bahu terangkat


Radit dan Andra pun semakin bingung dengan apa yang terjadi pada putra mereka.


"Lathan, apa terjadi sesuatu?" tanya Radit dengan penuh perhatian


"Tidak ada apa-apa pih" Lathan menjawab dengan nada malas sambil menggelengkan kepala.


"Lalu, apa kamu marah pada mami dan papi? Apa kami melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai?" Andra pun ikut bertanya karena penasaran


"Tidak, Mih. Aku tidak marah pada kalian" Lagi-lagi Lathan menjawab dengan nada malas.


"Lalu kenapa kamu diam saja? Ceritakan pada Papi, karena anak papi yang tampan tidak pernah merahasiakan apapun dari papi" Radit berusaha membujuk Lathan agar mau cerita padanya.


Lathan kembali menundukkan kepala tanpa sepatah katapun.


"Benar, papi. Aku tidak kenapa-kenapa. Jika ada sesuatu … maka aku pasti akan cerita pada papi semuanya" Lathan pun berusaha meyakinkan Radit dengan senyumnya, namun dia sama sekali tidak menyadari kalau senyum terpaksa yang dia tunjukkan semakin membuat Radit dan Andra penasaran dengan apa yang terjadi pada Lathan.


"Baiklah. Papi harap semua yang kamu katakan itu benar. Jika tidak, maka papi akan cari tahu sendiri kebenarannya" Radit bicara dengan sikap yang dingin dan nada bicara penuh ancaman, membuat Lathan semakin menundukkan kepala karena merasa terintimidasi


"Iya, Papi" jawab Lathan tanpa berani menatap mata Radit


"Ya sudah, sekarang makanlah makananmu dengan benar. Mami sengaja meminta bibi untuk memasak makanan kesukaanmu" Andra bicara dengan lembut sambil mengambilkan makanan untuk Lathan


"Terimakasih, Mami" Lathan pun menikmati makanannya meskipun dengan wajah yang masih terlihat murung


"Mami dan Papi sangat perhatian dan sayang padaku. Apa mereka akan benar-benar berubah jika ada adik bayi?" pikiran Lathan kembali terusik dengan perkataan dari teman-teman sekolahnya. Diapun menatap Andra untuk memastikan apa yang jadi keraguannya. Sementara itu, Radit terus memperhatikan Lathan yang sedang memandangi wajah Andra


"Apa yang Lathan pikirkan? Sebenarnya kesulitan apa yang sedang dia hadapi?" Radit terus memandangi putranya dengan tatapan penuh selidik. Dia sangat yakin kalau Lathan sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Raditpun memutuskan untuk bicara berdua saja setelah mereka selesai makan bersama.

__ADS_1


"Lathan, boleh papi bicara sebentar denganmu?" Radit bertanya pada Lathan setelah mereka meninggalkan meja makan.


"Tentu saja, Pih. Apa yang ingin papi bicarakan denganku? Apa aku melakukan kesalahan, Papi?" Lathan bertanya dengan sedikit ragu-ragu. Dia terlihat gugup dan juga penasaran dengan apa yang akan Radit tanyakan.


"Apa papi tahu kalau tadi aku mendorong temanku sampai jatuh? Papi pasti marah padaku" pikit Lathan dengan kepala tertunduk sambil memainkan jari tangannya sendiri.


"Kenapa kamu terlihat gugup? Apa kamu melakukan sesuatu dibelakang papi?" tanya Radit setelah melihat ekspresi wajah Lathan yang terlihat tegang


Lathan langsung mengangkat kepala dan menatap Radit


"Tidak, Papi. Aku tidak melakukan apa-apa. Tadi itu temanku yang menjelekkan mami lebih dulu, karena itu aku mendorongnya hingga terjatuh" Lathan langsung bicara dengan nada yang cepat karena dia panik dan mengira kalau Radit telah mengetahui kejadian tadi siang saat Lathan mendorong temannya


"Menjelekkan mami? Apa yang mereka katakan tentang mamimu?" Radit pun mengernyitkan dahi karena penasaran dengan apa yang dikatakan teman-temannya Lathan sampai membuat dia marah.


Lathan menganggukkan kepala sebelum bicara


"Mereka bilang kalau semua ibu baru itu jahat dan mami juga sama. Meskipun sekarang mami sangat sayang padaku, bisa saja setelah papi dan mami punya adik bayi... Kalian tidak akan menyayangiku lagi dan malah berbuat jahat padaku karena lebih sayang pada adik bayi" Lathan bicara dengan kepala tertunduk sedih.


Radit ikut sedih saat mendengar ucapan Lathan. Diapun mendekati Lathan dan mengangkatnya duduk dipangkuannya.


"Benarkah, Pih?" Lathan bertanya dengan tatapan penuh harap dan sangat antusias.


"Tentu saja. Mana mungkin Papi bohong padamu". Radit tersenyum meyakinkan Lathan untuk percaya padanya


"Kalau begitu aku tidak perlu takut lagi?" Lathan bertanya menunggu kepastian Radit


"Ya. Kamu tidak perlu khawatir lagi karena kasih sayang mami dan papi tidak akan pernah berubah sedikitpun padamu"


"Asiiikk" Lathan yang sangat bahagia langsung melompat dan memeluk Radit


"Jadi, apa tidak masalah kalau sekarang kita merencanakan punya adik bayi?" ujar Radit kembali bertanya pada Lathan


"Ya, tidak papa. Aku ingin punya adik bayi. Jika aku punya adik, aku pasti akan mengajaknya bermain denganku" Lathan kembali tersenyum ceria setelah Radit meyakinkannya

__ADS_1


"Anak pintar" Radit kembali memeluknya dengan erat


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kelihatannya kalian berdua sangat bahagia sekali"


Radit dan Lathan yang sedang berpelukan langsung melepas pelukannya setelah mendengar suara Andra mendekati mereka


"Mami, kapan Mami punya adik bayi? Aku sudah tidak sabar untuk bermain dengannya" Lathan langsung berlari pada Andra dan bertanya dengan sangat antusias.


Andra yang bingung langsung menoleh pada Radit dan mengerutkan dahi sebagai isyarat tanya "Apa yang terjadi?".


Radit tersenyum kemudian mendekati Lathan dan membuatnya melepaskan pelukannya dari Andra


"Jika kamu ingin cepat punya adik bayi, maka kamu harus tidur lebih cepat dengan begitu Mami dan Papi juga akan berusaha membuat adik bayi untukmu"


"Kak Radit" seketika tangan Radit dipukul oleh Andra yang tersipu malu karena ucapannya pada Lathan


"Apa jika aku tidur lebih cepat maka aku bisa dapat adik secepatnya?" Lathan kembali bertanya dengan polosnya


"Mungkin saja" jawab Radit dengan senyum yang lembut. Andra tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya sendiri melihat apa yang dikatakan sang suami.


"Kalau begitu aku akan tidur sekarang. Mami dan Papi juga harus cepat tidur agar aku bisa cepat punya adik bayi. Selamat malam Papi, Mami" Lathan yang sangat senang langsung berpamitan dan segera berlari kekamarnya


"Kak Radit ... apa yang kakak katakan sampai Lathan meminta adik bayi?" Andra bertanya pada Radit dengan nada yang dingin dan tatapan tajam


"Tidak ada. Aku hanya bilang kalau kasih sayang kita pada Lathan tidak akan berubah meskipun kita punya bayi lagi. Lalu... bagaimana kalau kita mewujudkan keinginan Lathan sekarang?" Radit bertanya dengan nada menggoda disertai senyum dan kedua alis yang diangkat bersamaan.


"Tidak. Aku tidak mau" Andra menjawab dengan tegas sambil berpaling meninggalkan Radit.


"Aach!!"


"Tidak boleh menolak, karena kita tidak boleh mengecewakan Lathan" ujar Radit sambil menggendong Andra layaknya putri


"Cih. Modus. Dasar mesum!"

__ADS_1


"Terimakasih" Alih-alih marah, Radit menanggapi ucapan Andra dengan senyum bangga dan tetap membawanya ke kamar


__ADS_2